Minggu, 07 September 2014

Surat Cinta Untuk Tan

Oleh: Mariana Amiruddin

Aku punya janji membuat surat cinta ini untuk seorang teman yang sudah belasan tahun tak aku temui. Seorang sahabat yang sangat singkat. Pertemanan itu terjadi dengan tiba-tiba, saat kami masih sama-sama belajar dan meraba cita-cita. Karena setelah itu dia pergi, untuk selama-lamanya. Seorang yang pertama kali bertemu dan begitu banyak kecocokan (bukan kesamaan). Setiap bertemu kami selalu punya visi, punya privasi, duduk berdua di tempat yang kami suka, munum anggur dan menghembus asap yang menyelimuti wajah kami, orang lain tidak perlu tahu, hanya kami yang tahu. Waktu itu tempat tinggal kami berdekatan, di daerah yang selalu terkena banjir. Hanya waktu itu belum terlalu parah, rumah kami belum sampai tertelan. Setiap kali janjian, kami gantian menjemput atau mengantar. Seperti anak sekolah. Kami gadis-gadis penyendiri yang bertemu dalam sebuah pikiran dan gelombang yang pas, yang tidak populer di kalangan usia kami waktu itu. Kami sama-sama merasa terasing, dan perbincangan kami nyaris tidak dimengerti oleh teman-teman lain, hanya kami yang mengerti perbincangan kami.

Dari puluhan tahun aku hidup, aku baru pertama kali menemukan seorang sahabat di masa itu. AKu jadi mengerti arti persahabatan, sebab aku hampir tidak pernah punya sahabat. Sejak kecil hidupku berpindah-pindah. Setiap kali punya sahabat erat dan aku sedang bahagia-bahagianya, saat itupula aku  harus pindah ke daerah lain dan kami belum punya tradisi surat menyurat karena usia kami masih kecil sekali. Aku tidak punya sahabat, sebaliknya, aku punya banyak musuh. Musuh dalam arti, orang-orang yang tidak bisa mencapai apa yang aku maksud, artinya, bagaimana kedalaman yang abstrak itu terlampaui sehingga membuatku bahagia bila berbincang dengan seseorang. Artinya, musuh itu adalah bagaimana mereka menganggap aku orang aneh. Artinya, musuh itu adalah dalam jarak sekian aku sudah merasa tidak nyaman dan ingin pergi begitu jauh dari mereka.

Tan, adalah sahabatku, karena dia bisa menggali kedalaman liang jiwa dan pikiranku, seperti lorong panjang gelap yang sulit menemukan cahaya. Tan bisa mencapai cahayaku. Kami masih sangat belia waktu itu, masih belajar hidup, masih menganggap orang lain itu membingungkan, masih melihat laki-laki itu melelahkan. Tetapi aku mengakui bahwa Tan lebih dewasa daripada aku, aku adalah anak perempuan yang begitu dilindungi, Tan adalah anak perempuan yang dididik kuat, ia lahir dari sejarah perbincangan dunia, tentang kanan dan kiri, tentang buku dan ideologi, tentang sastra dan tulisan. Ia begitu terbuka. Ia kagum pada ayahnya yang mengenalkannya banyak bacaan dan sejarah kelam bangsanya. Aku, lahir dari keluarga yang sangat melindungi segala kekejian di luar rumah, aku tidak tahu apa-apa, aku bahkan dilarang bertemu laki-laki, aku dipingit, aku tak boleh genit, tak boleh bersolek, aku tumbuh sebagai anak baik-baik yang tidak pernah bergaul. Aku tumbuh besar tetapi tetap seperti kanak-kanak, yang hidup di lingkungan yang sangat nyaman. Untungnya aku tidak dilarang untuk berimajinasi seluas-luasnya. Aku kemudian sering “mengurung diri dalam kamar” menulis dan menggambar berjam-jam. Aku menulis tentang diriku sendiri dan hari-hariku di sekolah, kampus, tempat kerja, atau di terminal. Aku sering menggambar ekspresi-ekspresi tak lazim di majalah-majalah atau potret kecilku sendiri, dan sesekali kupamerkan ke orangtuaku. Tetapi tulisan itu, sama sekali tidak aku pamerkan, tetapi ibu sering mengintipnya diam-diam. Semua tulisanku itu seperti kotak pandora. Sekali dibuka dan mengetahu isinya, barangkali ibuku bisa pingsan bahwa anaknya adalah seorang perempuan berambut ular. AKu adalah medusa yang mungkin akan dianggap pendosa, yang sebetulnya meskipun di dalam kamar berjam-jam, telah banyak pengetahuan yang kumiliki karena tertolong oleh imajinasi yang tinggi.

Tan, adalah representasi dari imajinasiku tentang seseorang yang menjadi pengganti catatan harianku. Tan adalah penyeimbangku kala berbincang dan bertukar pikiran. Tan dan aku bicara apa saja, dan kata-kata yang dikeluarkannya seperti obat bagiku. Atau kata-kata yang aku keluarkan lalu bagaimana kami saling menanggapi dan perbincangan terus melesat bagai kilau cahaya bulan. Kalau ditanya apakah aku memilih seorang kekasih atau sahabat, aku jujur mengatakan bahwa aku lebih baik memiliki seorang sahabat seperti Tan daripada punya kekasih seperti Ben. Aku sama sekali tidak tertarik untuk pacaran di usia yang matang itu, dan aku bahagia punya sahabat satu-satunya yang bisa mengimbangi segala  kesendirianku di dalam kamar. Hal lainnya adalah, aku tidak perlu  khawatir karena hidupku sudah tak berpindah-pindah lagi. Selain rumah kami berdekatan, kami juga punya kendaraan, catatan-catatan tulisan, dan buku-buku kesukaan.

Tetapi apa yang terjadi setelah itu? Dalam ujung diskusi yang panjang itu, Tan akhirnya membuka rahasia bahwa ia sebetulnya tidak betah tinggal di negara ini, ia punya daftar keburukan bangsa ini yang tak mungkin lagi diubah, dan tidak adanya masa depan baginya sehingga itu membuatnya bersikeras untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Diskusi politik, sejarah, waktu itu memenuhi perbincangan kami, berbagai alasan bahwa Tan tidak mau lagi tinggal di sini. Tentu saja aku sedih sekali. AKu lagi-lagi sedih sekali. Mengapa Tuhan tidak bisa memberiku usia persahabatan yang panjang? Mengapa Tuhan terus membiarkan aku sendiri?

Sampai di bibir waktu menjelang kepergiannya, kami berdua berkeliling saat malam takbiran dimana keadaan jalan begitu macetnya, begitu bisingnya. Kami banyak berhenti di tengah-tengah keramaian itu. Hujan deras tiba-tiba datang. Dalam kemacetan, semua kendaraan berhenti. Lalu apa yang kami lakukan, kami memutar lagu tentang perpisahan, tentang jarak yang begitu jauh, jarak yang akan dihabiskan oleh musim. Dan, lepas kepergiannya, benar bahwa pergantian musim membuatku lelah menantinya pulang. Ia bertemu belahan jiwanya di sana, seorang laki-laki tampan pintar yang setia dan menyukai hewan, seperti pangeran yang dengan cepat ditemukannya. Ah, Tan. Kupikir itu hanya mitos di film Cinderella, tetapi nyatanya ada. Tapi kupikir tentu saja itu setimpal untukmu Tan, karena sebelumnya penderitaanmu begitu panjang dan kau begitu sabar. Dan perbincangan kita waktu itu jadi banyak hal soal relasi dengan orang yang kita kasihi. Aku memberinya semangat supaya ia pergi dan tak mengingat orang itu lagi, mencari kehidupan baru, melanjutkan sekolah, ah, irinya aku sekarang melihat bagaimana ia bahagianya sekarang. Irinya aku bahwa ternyata aku tak mampu melakukan itu, melompat ke dunia yang sama sekali lain. AKu masih dihantui oleh jejak-jejakku terdahulu yang begitu terlindungi namun disisi lain penuh petualangan. AKu ingin seperti kamu belasan tahun yang lalu, Tan.  AKu ingin pergi sejauh-jauhnya dan hanya bintang yang bisa kita lihat.

Dulu kau selalu mengagumiku karena kuat, selalu berjuang, selalu kritis, selalu gelisah, selalu marah, dan melawan dalam keadaan apapun. Tan kagum padaku katanya keberanianku tak pernah habis. Benar Tan, itu benar, keberanianku ada tetapi keberanian apa bila hidupmu kosong belaka, hidupmu hanya menjumpai hal-hal yang sama. Atau hidupmu terjebak dalam perangkap-perangkap budaya dan manusia yang serupa. Keberanian apa yang bisa aku hadirkan saat hidup ini mulai terasa bosan?

Aku masih menyimpan suratmu yang dulu itu Tan, pertama kali kau menginjak negeri orang. Waktu itu aku sedang membuat Novel sejarah Tuan Tan-Malaka. Kamu begitu ingin tahu, kamu selalu menghubungiku. Sudah lama sekali. Semoga kamu masih ingat. Tapi kemudian semuanya hilang saat negeri ini banyak bencana alam, bencana politik, bencana manusia. Aku terhempas bersama catatan-catatan novelku, aku kehabisan tenaga untuk melanjutkannya. Masih ingatkah kamu Tan? Aku menyuguhkan kembali di bawah ini suratmu dulu itu.

Dear May,

Menuliskan sesuatu untukmu tidak pernah sulit. Sama halnya seperti kesal bersamamu. Bukankah itu yang selalu terjadi? Kita berbincang ketika kesal, ketika gelisah, ketika marah? Jarang kita bersama ketika kita terbahak-bahak. Tawa yang akrab adalah seringai sinis.  

Aku merindukan kehadiran dan kemarahanmu. Hembusan asap rokok dari mulutmu yang tidak pernah habis. Gambaran yang terlalu lengket di kepalaku. Mungkin kau sudah berubah. Semakin cantik atau sedikit tenang. Tapi itulah kau di mataku: perokok yang omelannya tak pernah pudar dari kupingku. Mungkin diam-diam aku mengharapkan kita masih saja sama. Sama-sama pemarah yang suka menghisap darah. Apalah artinya teman tanpa ingatan akan yang dulu? 

Kau kecewa pada negeri. Berlindung pada harapan akan kebangkitan seorang Tuan yang kau kagumi. Tuan yang tersingkirkan. Tuan yang tak bisa kau jelaskan dengan deskripsi. Tuan yang hanya pantas kau uraikan dalam narasi, katamu. Aku tak kenal Tuan ini. Tapi aku mengenalmu. Setidaknya aku berpikir begitu. Seorang Nona bermata sipit yang akan bernarasi dalam sentuhan-sentuhan gairah yang diselimuti kegelisahan. 

Kalau kau kecewa pada negeri, aku kecewa pada nurani. Kemanakah nurani membawa kita pergi? Ke got-got memori, mungkin. Atau ke panasnya matahari. Yang membakar semua sisa-sisa optimisme akan hilangnya kedangkalan – kedangkalan yang akut, mengutipmu. Atau kesenjangan yang berakar, menurutku. Kadang kekecewaan itu berujung pada jalan buntu. Pada rasa lelah yang menyeluruh. Letih yang terus-menerus mengunyah badanku sampai habis. 

Bagaimanakah seharusnya manusia berpikir, Nona? Bagaimana caranya menyingkirkan mitos-mitos yang tertanam di benak? Bukan hanya mitos mengenai perempuan, laki-laki, dan penciptaan manusia. Bukan hanya mitos mengenai hakikat baik dan buruk. Bukan hanya mitos mengenai kesucian akhirat – tapi juga mitos mengenai keagungan dunia: mengenai emas, permata, dan kejayaan para kaisar. Mengenai tangga-tangga yang dapat dipanjat dengan usaha keras. Mengenai lapangan bermahkotakan kesempatan yang terbuka lebar bagi mata-mata jeli. Mengenai pikiran positif dan rasa syukur yang membawa manusia pada kebahagiaan. 

Kadang aku sendiri tak lagi bisa berpikir. Lupa bagaimana caranya berpikir. Aku hanya bisa melihat dan menduga-duga. Mendengar dan mendengar berulang kali. Mengutuk tanpa tujuan.  Maka biarkan aku mendengarmu. Membayangkan kau melewati bangkai-bangkai hewan dan melaju menuju sebuah lembah sunyi. Merangkul marah dan gelisahmu. 

Biarkan aku mengamati gerak-gerikmu. Menduga-duga apa yang ada di benakmu. Menikmati cerita-ceritamu dan mengutuk bersamamu. 

Kutunggu. 

Salam hangat, Tan  


Lihatlah Tan, begitu bercahayanya kata-katamu, amarahku yang kau tangkap, membuatnya padam. Membuatku tenang. Aku rindu setengah mati padamu. Bumi semakin tua. Kita pun begitu. Apakah masih ada waktu bagiku untuk lebih dahulu pergi sejauh-jauhnya? Apakah masih cukup bagiku untuk melanjutkan hidup dan cita-cita? Aku tidak tahu Tan, aku hanya tahu masa lalu. Aku tidak tahu kemana lagi setelah ini, kecuali mengingat hari-hariku bersamamu, dalam dunia yang sepi, dan akan terus membekas di relung jiwa, tulang dan darahku.

Salam hangat,
Di bawah Purnama, 8 September 2014


Selasa, 02 September 2014

Gua

Oleh: Mariana Amiruddin

Dadaku seperti berlubang. Dingin telah melubangi dadaku. Dingin membiarkan tungkaiku menggigil. Ini gua paling ideal. Gua vertikal ketika kau harus menuruni batu dan jenjang curam sekitar duapuluh meter untuk menuju dasar, dan kau hanya melihat gelap dan lembab. Tetapi di dasar itu kau akan menyaksikan keindahan bukan kepalang, dan itu bukan dengan matamu, melainkan bulu kuduk dan gendang telingamu. Bulu-bulu kudukmu akan menjadi ribuan mata dan dan telingamu berdendang saat kau temukan air menetes nyaring jatuh satu persatu dari langit-langit gua. Kau tidak perlu menggunakan matamu. Kau harus berlatih menjadi buta. Tapi bukan buta rasa. Kau akan mencium bau kotoran dan tubuh kelelawar yang berdansa bahagia. Sentuhlah dengan jari-jarimu ke dinding gua, kau akan merasakan lekuk dinding-dinding yang penuh hasrat dan cinta. Kau akan bertemu ikan-ikan kecil dalam genangan jernih, mereka akan mencium kaki-kakimu.
Aku, manusia dengan dada yang berlubang, terkikis dingin siang dan malam dan angin keji yang menyusup dari lubang-lubang misteri gua yang kutempati. Aku memang hidup di dalam gua, kedap suara, kau akan bicara dengan berbisik, sebab suaramu akan terpantul tak ada habisnya dan akan menimbulkan suasana yang berisik. Jangan kau bayangkan suara jangkrik dan katak yang nyaring. Bicaralah pelan sekali, bila kau kencangkan sedikit, kau akan membubarkan kelelawar yang lelap dan merobohkan dinding-dinding gua yang rapuh. Pagi hari ketika matahari mencuri pandang cahayanya ke dalam mulut gua, saat itu hanya ada burung-burung yang boleh berkicau dan terbang menyambutnya. Kelelawar akan segera terlelap bersamaku. Aku akan tergolek lemah di bawah tetesan air, yang ikut melubangi dadaku.

Malam ini adalah bulan keempat sejak aku meninggalkan keramaian. Aku menghitung bulan melalui jadwal menstruasiku. Semua petunjuk waktu sudah kubuang. Aku memutuskan untuk mundur dari suara tawa dan tangis orang-orang dan memutuskan untuk hidup di dalam gua. Gua-gua ingatan, gua-gua masa lampau yang kusimpan sampai kenyang. Di gua ini aku menyimpan memori kebahagiaan dan kesedihan. Yang kebahagiaan menjadi yang paling buruk, dan yang buruk menjadi yang terlupakan. Yang kebahagiaan menjadi buruk karena aku tahu itu tak akan terulang lagi, tidak ada yang akan terulang kecuali kesalahan. Tidak ada yang terulang kecuali kesengajaan. Kebahagiaan bukan kesengajaan, ia ditemukan, dirasakan. Kini aku menemukan ketiadaan. Tiada bahagia, tiadapula sedih. Aku dalam posisi nol. Posisi yang membuat tubuhku melayang menolak gravitasi. Dan dadaku berlubang, dengan kulit yang bersisik. Kulitku di bagian lain mulai licin seperti ikan dan katak. Suaraku bahkan mulai terdengar seperti denging lumba-lumba di dalam air. Sudah lama aku tak melihat cahaya, atau gigi-gigi bersih dan rapi saat pemuda-pemuda tampan melempar senyumnya kepadaku, atau pemudi-pemudi cantik yang menyembunyikan perasaannya tentang keinginan yang tertunda.

Dadaku berlubang. Sebelumnya aku merasakan panas, terutama saat hari kira-kira lewat jam dua malam. Aku memeriksa isi dadaku, tak ada lagi jantung dan hati di sana. Aku tak punya jantung-hati. Aku hanya punya paru-paru. Aku kehilangan denyut-denyut itu sejak tinggal di dalam gua. Aku merasakan ada yang tumbuh di dadaku yang berlubang, barangkali itu seperti insang yang bergerigi, yang dilekat oleh darah dan daging, menempel pada garis-garis tulangku. Aku mulai lupa bahasa tubuh manusia, bagaimana saat mereka senang atau sedih, saat mereka terkejut atau marah, saat jatuh cinta atau patah hati, atau saat mereka terpingkal-pingkal atau menjerit-jerit sakit. Aku benar-benar belum ingin ke sana untuk menemui mereka. Aku pernah mencobanya berkali-kali tapi aku tidak kuat. Aku sering menggelepar seperti ikan kehabisan air saat bertemu keramaian manusia dengan segala rutinitasnya. Aku seperti meleleh di panas matahari. Aku tidak mengerti perbincangan mereka, aku tak bisa menghayatinya. Bahkan untuk berkata bahwa aku sakit dan lapar saja aku tidak bisa. Mereka punya telinga tetapi sepertinya tidak berfungsi. Mereka sulit sekali untuk mendengarkan. Bahkan untuk mendengarkan sedikit saja nada halus dan lembut yang melintas. Mereka hanya mendengarkan diri mereka sendiri. Sementara, gendang telingaku terlalu sensitif, aku akan terpental seribu meter bila mendengar mereka bicara keras-keras.

Apa yang kulakukan setiap hari saat di gua? Aku tidak melakukan apa-apa kecuali aku punya pena dan kertas-kertas yang kupungut dari sisa-sisa kebudayaan mereka. Aku akan mengisi kertas-kertas itu dengan catatan-catatanku. Kadang aku diam-diam mencuri tahu sedang apa mereka di sana, aku berjingkat-jingkat memperhatikan kehidupan mereka. Dan aku akan menulis saat pulang ke gua. Di situlah aku bisa begitu cepat merakit alur-alur hidup mereka, tabarakan-tabarakan kepentingan dan keinginan yang mereka lakukan, tipu muslihat dan gunjingan yang membangkitkan gairah hidup mereka, permusuhan sekaligus persahabatan, kepura-puraan, persembunyian antara hati dan ekspresi wajah mereka. Aku mempelajarinya hingga detil. Aku mengamati teks-teks gerakan mereka, air wajah sampai gerakan otot mereka yang membuat aku tahu persis kapan mereka bohong atau jujur, kapan mereka gombal atau tidak, kapan mereka luka atau kecewa, kapan mereka manipulatif atau tidak, kapan mereka menusuk dari belakang atau dari depan, kapan mereka akan tiba-tiba menemukanku yang sedang mengintip. Aku akan lari terbirit-birit dan nafasku sesak seperti ikan yang kehilangan air. Aku akan lari sejauh mungkin kira-kira sampai nafasku yang paling akhir sudah tiba di mulut gua dan aku akan terjun ke dalam genangan di dasar gua.

Tapi gua apa yang bisa membuatmu seperti ikan dan katak? Gua tempatmu akan banyak berbincang dengan dirimu sendiri, akan banyak berkata dalam hati dan pikiranmu sendiri, akan cepat menghayati kehidupan itu sendiri. Tapi tahukah bahwa akhirnya orang-orang yang aku amati itu mengetahui kediamanku, mereka memohon pertolonganku, mereka menyembah-nyembah di mulut gua, menyalakan api dan memanggang ayam di atasnya. Mereka menunggu aku keluar, aku dianggapnya orang sakti. Kalau dulu orang mengatakannya sundal bolong, perempuan yang punggungnya bolong, aku adalah merk baru dalam kepala mereka tentang sosok yang sakti. Aku adalah si dada bolong itu, dengan kulit bersisik dan licin. Mataku mulai keluar membulat seperti katak atau ikan, berlendir dan menjijikan. Untungnya bagi mereka aku adalah orang sakti. Kata mereka, setiap doa-doa yang mereka ucapkan di mulut gua, mereka akan mendapatkan mimpi-mimpi yang baik. Mereka akan mendapat petunjuk-petunjuk yang menjadi kenyataan. Aku tidak mengerti apakah benar aku sesakti itu. Aku sendiri sudah lama tidak mengenal mimpi karena setiap malam aku bangun dan pagi aku tidur, hanya mendengar suara tetes air.

Suatu hari aku kehilangan kertas-kertas, dan aku tak bisa memilikinya lagi. Aku tak bisa mengambilnya lagi dari tempat-tempat mereka membuang kertas. Penaku bahkan sudah kehabisan tinta. Aku mencari akal dan kemudian kuasah batu yang kudapatkan di dalam gua dan membuatnya menjadi tajam. Aku menyayat tubuhku dan keluar darah kental mengalir deras,  dan sekejap berhenti. Aku menampungnya di sebuah wadah, dan kujadikan tinta. Darah-darah ini kujadikan tinta, dengan jariku yang licin seperti katak aku menuliskan banyak hal di dinding gua. Aku menuliskan banyak kata di kegelapan yang akupun tak bisa melihatnya, aku hanya menorehkan huruf-huruf yang aku maksud. Aku mau tanda-tanda itu menjadi catatan hidupku. Sampai akhirnya aku kehabisan darahku sendiri yang berhari-hari kujadikan tinta menulisku di dinding gua. Dan dadaku yang berlubang sudah tak mampu lagi meneruskan nafasku, aku mulai merasakan lemas yang luar biasa, pandanganku gelap, lebih gelap dari keadaan dasar gua, aku dengar sayup-sayup dansa keleleawar dan percikan ikan yang melompat, sampai akhirnya suara mereka tidak ada lagi. Dan segalanya menjadi benar-benar gelap, benar-benar sunyi. Aku tidak tahu lagi, bahkan aku tidak merasakan apa-apa lagi, kecuali satu kata yang pernah kutuliskan di dinding gua: “semua sudah berakhir”.


Tambun, 3 September 2014



  




Minggu, 31 Agustus 2014

Burung Tanpa Sayap


Oleh: Mariana Amiruddin


Kuletakkan kakiku sore itu di pinggir danau. Kutebar doa dalam tunduk, aku menerjunkan diri ke dasar danau. Gelap gulita dan lembut daun-daun menyentuh jariku. Mata kupejam, doa-doa masih bertutur. Mengambil nafas panjang di udara, tampak wajah seorang lelaki duduk di pinggir danau. Siapakah dia, aku tidak tahu. Aku kembali menyelam, aku tak peduli. Berjam-jam dalam air seperti hidup telah kembali.

Lelaki itu memandangku lekat sekali. Ia duduk dipinggir danau. Aku tak peduli. Aku menyelam kembali. Tetapi siapa yang mengira ia adalah lelaki yang akan hidup bersamaku sebentar lagi. Awalnya ia berkata, ingin kubiarkan gadis ini terus berenang tanpa aku menyentuhnya, dan biarkan aku memandangnya dari jauh. Tapi bukan begitu kenyataannya, sebab beberapa bulan yang lalu kami sudah bertemu tanpa tahu siapa sebenarnya diantara kita. Dan bulan kembali mempertemukan kita di danau itu, apakah benar oleh suatu keinginan, tentang hidup yang sunyi, diantara keramaian orang yang cinta harta dan raga. Kami tak saling kenal, dan tak peduli siapa sebetulnya diantara kami. Kami bukan siapa-siapa kecuali berjam-jam dalam genangan. Kami hanya manusia yang lahir di bumi dan hidup dalam garis takdir yang tak sama lalu berjumpa seolah baru saja bangkit dari kematian.

Sejak itu kubawa laki-laki itu hidup bersamaku. Ia kagum pada kebebasanku. Ia melamarku dengan lembut sekali. Hanya mata dan kulit kami yang mengungkapkan itu, dan nafas hangat berkeringat, seperti api yang berpijar tak pernah mau padam. Sejak itu dunia hanya milik kami, kami tak perlu makan dan minum, tak istirahat, tak pernah pejam. Kami berlari dengan gembira menuju surga, tempat siapapun tidak perlu bertarung dan segalanya hanya diisi dengan cinta. Tetapi belum sampai dua tahun kami terbangun bahwa kami masih hidup di dunia, tempat orang bekerja dan makan, sekolah dan meraih cita-cita, cinta menjadi bentuk yang paling kelabu dalam hidup kami, kemiskinan menjadi layar besar yang kami tonton sepanjang malam, dan kami harus berpisah karenanya. Lelaki itu terserang kemiskinan akut dan ia harus pergi begitu saja, kembali ke dunia, menjadi seorang buruh dengan gaji beberapa perak saja, dangan ibu yang lumpuh, kakak yang gila, dan anak-anak yang kelaparan. Siapakah aku kini, aku tidak tahu karena aku hidup dimana tak seorangpun menggantungkan hidupnya padaku. Aku bukan tulang punggung sepertinya. Aku hanya tulang-tulang berserakan saat ditinggalkannya.

Vincent, namanya. Maria namaku. Menurutnya, nama Vincent adalah nama orang-orang yang sering terkena sial. Mancung sekali hidungnya. Pipih wajahnya, kokoh rahangnya. Aku jadi ingat perbincangan awal kita tentang mimpi dan mitos. Pada sebuah zaman dimana belum ada teknologi yang memanjakan manusia, dimana peradaban masih ditulis dengan tangan dan kendaraan adalah kuda-kuda yang gagah, penjajahan dan perang selalu terjadi demi merebut atau mempertahankan tanah subur dan hasil-hasil bumi.

Kau bilang bahwa pada masa itu namaku adalah Mulan, seorang putri bangsa Mongol, yang gemar berkuda. Aku adalah pemimpin perang yang berkuda memimpin pasukan, dengan senjata pedang, di tangan kananku, dan busur serta panah dipunggungku. Aku adalah Putri Mongol, putri seorang Raja yang berkharisma yang disegani dan tempat tumpuan rakyatnya. Aku pemimpin perang dengan rambut panjang tersapu angin, bermata tajam dan tegar tak tergoyahkan. Dan kau, siapakah kau? Kau adalah putra raja dari Eropa yang menjajah bangsaku, Raja Albert, tetapi kemudian kerajaanmu jatuh miskin karena kalah perang. Raja Albert yang menikah dengan Ratu Tin Yi, perempuan yang pernah lahir di tanah bangsaku. Harta bendamu kami rebut. Kau adalah musuhku, pangeran yang berjalan tanpa kuda dan tanpa pedang. Kau adalah lelaki berdarah biru yang hidup dalam keadaan compang-camping mengais kotoran dan sampah untuk makananmu, mencari gua-gua kosong untuk tempat tinggalmu. Kau adalah lelaki berdarah biru yang miskin dengan nasib yang sangat tak beruntung, dengan kaki bekas luka pertempuran dan jalanmu setengah pincang seperti seorang yang kehilangan daya.

Saat itu kau tahu bahwa aku adalah Putri dari Bangsa Mongolia yang kali ini berlari kencang bersama kudanya dengan berurai air mata. Zaman menetapkan bahwa beberapa orang mengkhianati sang putri dan menyebar berita-berita bohong tentangnya. Raja sudah mati, dan Sang Putri nyaris tak punya kekuatan lagi, ia berlari dan berlari bersama kudanya, dalam perjalanan itu ia membuang pedangnya. Ia memutuskan untuk mundur dan lari dari segalanya. Tangisannya hampir sama dengan amarahnya. Ia tak mau melawan kerajaan dan bangsanya sendiri. Dalam kecepatan diambang batas kematian itu, sang kuda tersandung tali jerat yang dipasang musuh, dan dengan segera sang Putri jatuh berguling bermeter-meter, sampai berhenti di bibir jurang. Ia menemukan kakinya patah dan hampir tak bisa bangun kembali. Ia jalan dengan menyeret tubuhnya menghindar jurang yang dalam sedalam luka di lengan dan kakinya.

Pada saat itulah sang pangeran miskin dan compang-camping mengamati kejatuhan Sang Putri, ia lekas berlari menolong dan cemas yang terlihat di wajahnya. Sang pangeran compang-camping membantu sang putri mengangkat tubuhnya hingga berdiri. Mereka berdua berjalan menjauhi jurang, mendaki bukit batu yang curam, mencari gua-gua aman dengan kaki terseret dan terpincang-pincang. Sejak itulah dalam jatuh dan luka mereka bercinta, berbagi, bersahabat, berdekap. Mereka adalah anak-anak dari kerajaan dan negeri yang saling bertempur. Dan setiap malam mereka menatap bintang yang berserak sambil melempar harapan, menyalakan api unggun mengatasi dingin, tetapi keadaan menjadi lain ketika Sang Putri ditemukan oleh pengawal-pengawal kerajaan yang berpihak padanya, diminta kembali untuk memimpin. Sang Putri menggeleng sambil mengenggengam tangan pangeran compang-camping dan berkata bahwa ia ingin hidup seperti jelata, ia ingin seperti manusia biasa. Sang Putri kehilangan kepercayaan, pengkhianatan adalah luka dalam yang sulit disembuhkan, apalagi oleh bangsanya sendiri. Ia bahkan sudah membuang pedangnya. Tetapi Sang pangeran tidak setuju dengan sikapnya. Ia menoleh padanya, melepaskan genggaman tangan Sang Putri sambil berkata “Aku masih menyimpan pedang itu, pedang yang kau buang. Asahlah kembali pedangmu, kau adalah pemimpin rakyatmu yang sadar bahwa pengkhianat itulah penyebab perpecahan kerajaanmu.” Tapi sang putri menggeleng dengan kencang dan berkata bahwa ia tidak lagi mau hidup sebagai putri, ia mau hidup bersama Vincent, pangeran jelata. Pangeran jelata compang-camping itu menggeleng, kau tak pernah tahu bagaimana menjadi orang miskin dan penderitaan bukan seperti caramu bertempur dalam perang, kau akan menjadi sangat tidak berdaya. Ia berkata lagi bahwa kebangsawanan tidak membuatnya hidup lebih baik. Ia sudah tidak punya keinginan, ia ingin putri pergi kembali dengan kepala tegak memimpin perjuangan.

Pelan-pelan Vincent, pangeran jelata itu melangkah mundur, sambil memberikan pedang itu kepada Sang Putri. Ia pergi hanya dengan menoleh sekali. Ia benar-benar pergi dan Sang Putri kembali menahan tangis. Luka dihatinya tak seluka pengkhianatan yang terjadi di dalam kerajaannya. Ini luka ketiga yang lebih dalam lagi. Ia menjerit panjang, yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Jeritannya terdengar sampai membelah gua. Ia terduduk dan menghempaskan dirinya ke tanah. Pengawal-pengawal masih berdiri di dekatnya dan menepuk lembut punggung putri itu sambil berkata, “Tuan Putri, asah pedangmu, kau harus kembali memimpin perjuangan, demi rakyatmu, demi ayahmu. Kau harus kembali.” Sang putri berjalan lesu dan kakinya masih pincang, ia mengasah pedangnya tanpa semangat, ia mengasahnya pelan-pelan. Ia mengasahnya, dan kemudian menghunuskan pedang itu ke dadanya.

Cerita panjang itu memang seperti keadaan kami. Vincent dan Maria. Dua nama suci yang terjebak pada cinta kelabu. Vincent pergi dalam tangisan dan pelukan erat yang panjang. Perpisahan yang tidak pernah kami inginkan.

Kau tahu, Vincent, aku ingin kembali ke danau itu tetapi kau tahu semua sudah rata dengan tanah, dibangun oleh super-super gedung tempat orang mendulang uang. Vincent sudah menghilang dibalik kabut, aku tak melihatnya lagi. Aku kehilangan tempat sunyiku dan lelaki itu tak mengembalikanku hidup dalam keadaan semula, berenang dalam gelap. Ia menyisakan perangkap-perangkap hidup dimana rindu menjalin tali kematianku dalam sebuah penantian yang takkan pernah mengembalikanmu padaku. Lelaki itu berkata, biarkan gadisku terbang bebas seperti semula, tanpa siapapun disampingnya seperti semula, gadis pintar, berani, yang penuh imaji, yang bisa menentukan kemana arah kebebasannya, mencapai keinginan-keinginannya. Tetapi lelaki itu lupa, burung itu kini tak bersayap. Sebab sayap-sayapku telah kau gantikan dengan cinta, kau ambil keduanya sehingga tak ada lagi di lenganku. Kau lupa bahwa sayap-sayap itu telah kuberikan seluruhnya untukmu saat kita terbang bersama. Kau lupa bahwa tanpamu adalah aku, seekor burung tanpa sayap yang tak akan pernah bisa terbang kemanapun kusuka.

Maria tidak pernah menyukai lelaki manapun kecuali Vincent, lelaki di danau itu. Hanya dengan duduknya yang diam aku terpanggil. Aku keluar dari danau dan menghampirimu seolah kau menarik benang dari hatiku. Aku tak pernah menyukai apapun kecuali diriku sendiri dan sayap yang kupunya, tetapi lelaki yang duduk di pinggir danau itu mematahkan sayapku dan pergi selamanya. Ia takkan pernah kembali padaku karena dunia tidak seindah danau gelap itu.  

Kembalikan sayap-sayapku, Vincent! Kau boleh bilang kemiskinan menjadi hantu yang mengikutimu setiap malam tetapi bagaimana dengan aku, tanpa sayap itu sama saja kau membunuhku. Samar-samar suara Vincent turun dari langit, Maria, kau tidak pernah tahu keadaanku. Aku punya ibu yang lumpuh, saudara yang gila, dengan anak-anak yang kelaparan, kau jauh lebih merdeka dibandingkan keadaanku. Aku harus mengurus mereka semua, sementara kau hanya mengurus dirimu sendiri.

Vincent, kau tidak adil, seharusnya kau tak duduk di danau itu. Penantian panjang ini membuat hidupku sia-sia, penantian tak berakhir, dan tak tergantikan. Aku hidup dalam perangkap, dan aku tak bisa terbang tanpa sayap. Vincent, mengapa kau rebut kembali cinta yang sudah kita tanamkan, dan kini aku tak tahu kepada siapa aku harus memberikan cinta ini. Seharusnya kau kembalikan cinta ini untuk diriku sendiri saja. Bila hidup yang kelabu adalah sang pemilik cinta, sungguh aku menyesal mengapa aku mencicipinya dengan hasrat dan kebahagiaan. Aku menyesal bahwa cinta adalah tipuan, muslihat, bius yang berbahaya dan aku tak siap untuk kehilangan.

Vincent, sayapku sudah tak ada lagi, mengapa tak kau bunuh saja burung tanpa sayap ini sehingga ia tak perlu menjalani hidup lagi. Mengapa tak kau selesaikan saja gadismu ini dengan kematian yang sesungguhnya. Seharusnya kau biarkan saja tubuhku menyelam di danau itu dan tak melihatmu duduk bersandar pohon memandangku. Seharusnya kau biarkan aku mencintai sunyi dan diriku sendiri, seharusnya kau tidak ada dalam hidupku. Seharusnya kau peluk saja kenyataanmu itu dan jangan pernah menyentuhku. Aku luka, luka yang tak pernah kurasakan sepanjang hidup. Aku tak pernah mencintai siapapun sebelumnya, hidupku hanya bertempur dan berlaga. Aku tak pernah jatuh cinta pada siapapun. Aku hidup senang ketika tidak mengenal cinta, aku hidup bahagia saat banyak lelaki mendekatiku tapi aku tak merasakan apa-apa kecuali permainan demi permainan membunuh kesunyian. Aku tak pernah kehilangan mereka. Aku menertawakan mereka. Semua lelaki tampan dan gagah datang satu persatu meminta cintaku tetapi aku tak pernah bisa memberikannya untuk mereka. Aku memegang teguh sayap-sayapku dan tak seorangpun bisa mengambilnya. Saat mereka pergi atau aku yang pergi, tak ada luka sama sekali, mereka hanya bayangan-bayangan kosong.

Tapi lelaki di danau itu, kau satu-satunya yang bisa membuatku hidup sekaligus mati dalam keadaan sesungguhnya. Kau adalah orang paling kejam yang pernah aku temukan sekaligus orang yang paling aku cintai. Kau adalah iblis, yang menukarkan cinta dengan kemiskinan dan mematahkan sayap-sayap kemerdekaanku. Aku membencinya sekaligus merindukannya. Aku tersiksa oleh kombinasi itu.

Tambun, 31 Agustus 2014






Rabu, 27 Agustus 2014

Pasar Uang dan Perkawinan



Oleh: Mariana Amiruddin

Hari ini kami seharian  di kantor perusahaan pengelola investasi, untuk melakukan update  data pribadi. Kami hanya invest beberapa rupiah saja dari ketekunan ayah saya berhemat dan menabung berpuluh-puluh tahun sampai sofanya dan celananya sobek-sobek yang juga tidak pernah ditukar selama puluhan tahun. Zaman orang tua kita dulu yang lahir di era pra kemerdekaan, masih memegang pribahasa “hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai”. Peribahasa itu dipegang kuat-kuat sebagai prinsip hidup ayah saya untuk mencapai kemajuan. Kalau kita hemat, kalau kita menabung, maka kita akan hidup berkecukupan. Kalau kita rajin belajar, maka kita akan pandai. Dan kalau kita pandai, maka hidup kita terjamin.  Ayahku mengajarkan kami untuk tidak pernah berhutang, karena itu dia anti kartu kredit. Tapi ayahku tidak mengikuti zaman bahwa itu tidak berlaku lagi zaman sekarang, dan prinsip hidup itu akan ditertawakan oleh para pedagang pasar modal.

Saya melihat wajah mereka tidak percaya pada kami, dan kami adalah mahluk yang sulit digambarkan. Mereka bisik-bisik ke saya, apakah ayamu seorang mantan TNI? Karena postur ayah saya tidak gemuk, tidak kurus, karena dulu rajin bahkan gila olahraga. Saya bilang bukan, dia orang sipil. Bapak dapat uang dari mana, bukankah dia pensiunan? Saya jawab, dia rajin menabung dan hampir tidak pernah belanja barang kecuali kendaraan, tempat tinggal dan makanan.  Semua yang ditabung kebanyakan diintevtasikannya dan keuntungan dari hasil investasi itu akan dia investasikan lagi. Semua biaya ketekunannya mengelola keuangan keluarga itu membuat anak-anaknya bisa kuliah. Mereka, para pegawai perusahaan itu mengerutkan kening. Tidak percaya bahwa masa kini masih ada yang seperti kami. Barangkali kami hewan langka yang seharusnya sudah punah di abad 21 yang aneh ini.

Kami bukan seperti milyarder tetapi jasa yang kami terima dari perusahaan itu lumayan untuk kebutuhan sehari-hari, untuk biaya rumah sakit ayah saya yang fungsi ginjalnya tinggal 20 persen dan sekarang punya masalah katarak mata, dia tidak bisa menyetir lagi, dia ingin sekali operasi matanya. Atau biaya untuk memberi makan siang saya karena saya kadang harus menemani mereka. Tapi hari itu adalah hari yang buruk bagi saya saat mengisi ulang administrasi insvestasi saya (modal tabungan dari orang tua selama tahunan dari saya kecil) yang cuma berapa perak itu, dan seumur hidup tidak pernah saya gunakan untuk saya cairkan ataupun beli apapun dari jasa investasi itu. Di salah satu kolom administrasi yang harus kami isi, ternyata ada kaitannya soal warisan, soal harta benda saya, penghasilan,  soal kepemilikan rumah, soal kawin, soal pasangan, soal bagaimana kalau saya mati, harta akan jatuh pada siapa. Saya ditanya soal anak, suami, dan semua hal itu saya hanya menggeleng dan saya bilang, hanya ada diri saya sendiri. Rumah atas nama saya sendiri, hidup saya sendiri, semua biaya saya sendiri (kecuali menumpang makan di orang tua sekalian menemani orang tua). Mereka terdiam, dan bertanya yang seolah menyimpulkan dengan sesat asumsi seperti ini: mana ada perempuan punya rumah atas nama sendiri, hidup sendiri,  tidak ada anak, tidak ada suami, padahal sudah menikah, jadi bagaimana mereka menemukan jenis masyarakat seperti saya adalah dianggap tidak mungkin. Saya dipaksa mengisi kolom itu sesuai yang mereka mau. Saya jawab, saya tidak bisa mengisi kolom itu karena tidak bisa saya isi, semua pertanyaannya tidak bisa dijawab. “Mba, katanya. Ini hanya formalitas saja, isi saja seadanya.” Saya langsung jawab, ini perusahaan pengelola investasi masa buat data hanya formalitas saja, saya anggap setiap data itu penting dan akan digunakan.

Dimanakah asal muasal kekacauan ini kalau bukan dari UU Perkawinan tentang keluarga, kepala keluarga dan anggota keluarga? Kalau saya mati duluan, saya memilih penerima warisan dari saya adalah Ibu saya. Saya contreng nama Ibu saya. Mereka bingung. Harusnya suami atau anak, karena menikah berarti orang tua lepas bukan lagi keluarga inti. Saya bilang  mereka masih darah daging saya, bapak menyekolahkan saya dan ibu melahirkan saya. Lagipula bagi mereka investor seharusnya adalah kepala rumah tangga, memiliki gaji lebih dari 25 juta, dan jelas bekerja di perusahaan tertentu. Lalu mereka diam-diam mengorek soal kehidupan pribadi saya, dimana saya bekerja, sudah menikah tapi suaminya kok nggak ada. Soal suami biarlah itu jadi urusan saya, tidak semua orang punya relasi harmoni dan normatif seperti film cinderella, anda tidak perlu ikut campur dan saya bukan penjahat yang patut anda curigai. Saya juga bilang saya tidak bekerja di perusahaan apapun, saya bekerja sendiri part time dan bisa dimana saja, dan kebanyakan membantu orang. Mereka bilang ditulis saja salah satunya. Saya bilang tidak bisa karena saya bukan pegawai mereka. Mereka memaksa, saya tidak mau. Saya jadi kesal, dan saya katakan, tolong berikan saya alternatif! Akhirnya mereka meminta saya membuat pernyataan apa yang ingin saya nyatakan di kolom itu dan saya mengisi semacam deskripsi tentang siapa saya, yang tidak lazim dengan karakter masyarakat umumnya, apa yang disebut “keluarga”.

Percayakah bahwa harta benda perempuan itu akan jatuh pada laki-laki karena dia adalah pengendali dan penguasa uang dan ekonomi? Untungnya ayah saya mau berbagi meski semua dikendalikan olehnya, dia percaya bahwa laki-laki sejati adalah laki-laki yang bertanggungjawab pada keluarganya dan harus dilakukan dengan sangat sempurna. Begitulah dunia masa kini, masih saja keringat dan banting tulang seseorang berjenis kelamin perempuan itu masih tidak dihargai. Perempuan masih harus bergantung 100 persen pada laki-laki dan bila tidak demikian keadaannya, mereka menganggap kita tidak ada. Kolom-kolom dan pertanyaan yang mereka buat dalam hal administrasi menunjukkan hal itu.
Mereka lalu bertanya, kalau mba nanti meninggal, dan harta benda ini ada pada kami, kepada siapa kami harus menghubungi kalau bukan pada suami atau anak? Akhirnya saya jawab, ke rumah sakit jiwa saja mas! Sumbangkan untuk pasien-pasien mereka!
Lalu soal alamat email saya amiruddinmariana@gmail.com, saya ditanya Amiruddin itu suami mbak? Bukan, itu ayah saya. Mereka bingung, lalu siapa AMiruddin itu? Saya bilang lagi itu ayah saya, ituloh di depan matamu, itu nama dia yang punya modal investasi untuk perusahaan tempat anda bekerja. Lalu apa hubungannya antara email dengan urusan perkawinan saya? Lalu dia diam. Oh, mantan suami mbak bekerja dimana sekarang? Saya jawab, tidak ada urusan perkawinan dan perceraian dalam hal investasi, yang ada hanyalah uang ayah saya, saya, dan ibu saya, kami semua punya kartu identitas, NPWP, dan itu yang dibutuhkan, bukan buku kawin. Saya full hidup dan dibesarkan oleh mereka, bukan orang lain. Suasana jadi kaku dan tegang.

Perbincangan soal administrasi investasi itu sempat berhenti beberapa menit. Ayah dan ibu saya ikut diam tapi senyum-senyum, mungkin lihat saya galak sekali itu bagi mereka hal yang lucu, karena sejak kecil saya memang sangat pendiam, melirik dan mentap tajam, ada orang asing dekat akan saya cakar. Saya agresif kalau marah, seperti kucing peliharaan saya. Saya sering menghilang, pernah waktu terjebak di lift sendirian saya menangis sekuat-kuatnya tidak ada yang mendengar, dan seluruh manusia mencari saya. Waktu itu umur saya  baru 3 tahun. Dari keenam anak, saya anak bontot yang sering menghilang sendirian, dengan mata galak dan jarang tersenyum, tetapi entah mengapa bagi mereka justru disitulah letak kelucuan saya dan membuat mereka gemas luar biasa dengan saya sampai sekarang.

Perbincangan kembali soal perkawinan, ayah ibu saya cerita usia perkawinan mereka begitu awet dan panjang, tiba-tiba mereka menyalami bapak ibu saya dan mereka melirik saya sambil bilang “kamu nggak iri sama orangtuamu yang perkawinannya awet mbak?” Saya jengkel dan menjawab, saya bersyukur karena mereka membebaskan saya mau jadi apa, bukan menjadi seperti mereka. Terlintas di pikiranku bahwa mereka, para laki-laki pegawai perusahaan investasi ini terganggu dengan pernyataan-pernyataan saya tentang eksistensi saya sebagai diri, sebagai perempuan, tentang harta yang saya miliki yang tidak ingin saya kaitkan dengan orang lain. Mereka terganggu sekali. Mungkin mereka membayangkan dengan penuh ketakutan, bagaimana kalau istri-istri yang barangkali menurut mereka bakalan “kurang ajar” seperti saya.
Saya juga tidak mengerti mengapa ibu saya betah berjalan berdua dengan saya, karena setiap waktu di ruang-ruang publik itu adalah saya yang protes berkali-kali. Mulai pesan lontong cap gomeh tapi disajikan seperti semur yang belum matang, dengan harga mahal di mall-mall pinggiran Jakarta, sampai struk yang salah hitung belanjaan kami, dan protes saya pada pelayanan tempat saji an makanan dimana saya bertanya “berapa lama makanan siap?” lalu merkea jawab “nggak tahu, memangnya tadi siapa pelayannya?” dan saya memutuskan meninggalkan tempat makan itu meskipun kami kelaparan. Ibu saya selalu menurut dengan saya, dia tidak mengatur saya kecuali hal-hal rumah tangga seperti memasang gas dan kompor, menanak nasi, masakan dan lain-lain dan sekarang saya mulai ahli. Mungkin ayah saya sesekali menimpali saya dengan pernyataan kritik atas kelakuan saya itu, tetapi kami bisa diskusi dan akhirnya ayah saya diam. Ayah saya juga berharap saya jadi pegawai negeri, tapi saya jawab kalau semua orang ingin jadi pegawai negeri, negara ini runtuh karena nggak ada ahli-ahli dibidang lain. Saya berada di jalur pekerja sosial.

Begitulah, saya kadang-kadang putus asa dengan keadaan, bahkan hanya saat saya ingin beli makan, saat kami ingin invest uang, saat kami ingin punya keuntungan kecil dari jerih payah kami. Saat pakaian dan sepatu kami sobek-sobek tapi bisa punya rumah mungil, mobil murah dan dua sepeda keren. Tidak bisakah kita membuat hidup ini lebih sederhana wahai para pedagang pasar uang? Bukankah kami tidak pernah menyakiti dan merugikan hidup anda? Mereka mengangkat bahu dan menjawab “begitulah cara kami bekerja.” Selesai sudah semua data dan dokumen dengan perdebatan yang panjang itu, kami beranjak makan siang dan itupun harus menaiki tangga setinggi-tingginya dimana ayah dan ibu saya sudah sulit melakukannya, saya harus menggandeng ibu saya dan mengawasi ayah saya yang lansia naik dan turun tangga supaya tidak jatuh, hampir 15 menit sendiri karena begitu hati-hatinya.

Sederhana itu tidak lazim, saudara-saudara. Kalau kamu bukan orang kaya, seharusnya kamu orang miskin, atau sebaliknya. Kamu harusnya kawin, atau cerai, atau tidak kawin dan tidak cerai, tidak boleh jadi diri sendiri. Tidak ada yang boleh biasa-biasa saja, cukup-cukup saja, dan kamu salah karenanya, kamu tidak dalam kategori apapun. Kamu harus jadi anak seumur hidup, atau kamu harus punya suami, anak, rumah milik suamimu, kendaraan milik suamimu, dan kalau tidak begitu semua salah. Nah, kemudian mereka mulai menemukan bahwa saya seorang aktivis, lalu mulailah mereka bicara soal politik dan peristiwa 98, ternyata salah satu diantara mereka ada yang angkatan 90-an dan sama-sama mahasiswa pada masa itu. Disitulah kami mulai mencair, dan barangkali itu titik temu yang paling ideal diantara tema-tema lainnya seputar penghasilan dan keluarga. Mereka agak prihatin ketika saya mengisi kolom penghasilan, saya contreng di bawah 5 juta dengan postur orang kaya yang putih bersih dan angkuh dan keras kepala ini, akhirnya bisa tertawa-tawa dengan kami disertai jabat tangan yang hangat.

Tambun, 27 Agustus 2014.





Kamis, 21 Agustus 2014

WAKTU dan UDARA



Oleh: Mariana Amiruddin

Pukul 2 sampai 5 pagi adalah jam-jam kreatif, jam-jam imajinasi hadir menggantikan mimpi. Waktu dimana aku bisa keluar dari realitas yang bertabrakan. Waktu dimana aku mabuk pada sepi yang begitu aku cintai. Atau waktu bagi para pertapa gagal sepertiku karena masih mengintip keadaan dunia. Waktu yang tidak pernah kutempatkan sebagai tidur atau beristirahatnya segala metabolisme. Ini adalah waktu dimana kepalaku menyala-nyala untuk menuliskan segala-galanya. Tapi esok adalah terang benderang dan semua terlihat buruk, waktu yang sangat nyata, dan hingga dini hari ini aku perlu begitu banyak persiapan. Tetapi persiapan apa yang kulakukan? Tidak ada. Aku ingin imajinasi bisa berlaku untuk sebuah kenyataan. Tetapi segala yang terstruktur esok menciptakan tembok-tembok penghalang imajinasi. Tetapi realitasku esok butuh imajinasiku. Tapi mengapa imajinasi dan nyata menjadi tabrak menabrak dan terbelah-belah? Barangkali karena sebetulnya hatiku tidak mau tapi pikiranku mau. Tapi apa bedanya pikiran dengan hati, bukankah semuanya ada di dalam kepala?

Pernahkah anda merasakan segala yang terbelah dalam dirimu. Yang satu berkata berseberangan dengan yang lainnya. Segala yang terbelah jadi dua ini membuat anda berhenti di tengah waktu. Lalu rasa lapar datang, lalu anda akan membuka dan menutup kulkas berkali-kali dan akhirnya hanya menemukan wortel, cabai dan sawi. Lalu anda akan mengunyah ketiganya tanpa sadar sambil menonton televisi yang penuh dengan urusan-urusan orang lain, yang tidak ada hubungannya dengan urusan-urusan anda sendiri, ketawa-ketawa, joget-joget dan jualan produk. Bila anda bosan anda segera beralih menatap berjam-jam dengkur mahluk berbulu halus dan saat mereka menguap anda bisa melihat taring-taring tajamnya dan kuku-kuku yang keluar dari buku-buku jarinya.

Waktu seperti berhenti, tetapi sesungguhnya akulah yang berhenti. Tapi aku juga gemar bergerak bolak-balik dari ruang kerja ke ruang televisi. Aku juga duduk dan bangun dan setelah itu duduk lagi. Apakah aku mengalami absurditas, atau memang absurditas adalah takdir?  Apa yang mau aku tuju dan apakah aku punya sesuatu untuk dituju? Atau sekali-sekali aku ingin menujumu, tetapi  aku tidak tahu siapa kamu yang mau aku tuju. Mungkin bayangan, atau ilalang, atau cermin, atau daun jatuh, atau tikus mati.
Katakanlah aku habis pulang dari pusat kota dalam berjam-jam percakapan yang begitu bergairah dan semangat,  dan selama perjalanan pulang pikiranku begitu lincah dan meletup-letup mencari celah untuk keluar dalam bentuk tulisan, tetapi sampai rumah, struktur pikiranku pecah berkeping-keping, sampai rumah aku hanya ingin menulis segala-galanya yang tidak kurencanakan, yang tidak aku kerangkakan, yang tidak membuatku mengutip atau menyadur, yang tidak membuatku kagum pada apapun atau memuja pada siapapun. Atau bahkan kagum dan memuja diri sendiri, atau tergila-gila pada kekaguman orang padaku, atau pada nilai-nilai yang anda pegang erat-erat, atau pada cinta khayalan sekalipun. Lalu dimanakah anda, dimanakah aku? Kita sedang bediri di sebelah mana? Barangkali di luar angkasa, dimana kita hanya mengambang terbuang, terlempar dan berputar-putar dalam gerakan yang sangat lamban, diantara bumi dan mars, diantara venus dan merkurius, atau keluar melesat dari bima sakti, menunggu sampai grafitasi kembali menarik kita, terdorong oleh dentuman ledakan bintang, atau sampai lubang hitam menghisap kita pindah pada waktu dan kehidupan yang lain. Dan setelah itu gravitasi menyadarkan kita, tentang apa yang disebut nyata. Kita? Bukankah hanya ada aku, atau hanya ada anda? APakah kita pernah bertemu? Anggap saja tidak. Tidak sekalipun. Tidak ada siapapun. Aku hanya berbicara pada diri sendiri, atau barangkali nyamuk sedikit mengerti kekacauan pikiranku saat mereka menghisap darah segarku, darah mengalir dan detak jantung yang dinyatakan sebagai hidup.

Atau pertanyaan-pertanyaan kecil yang melintas saat anda bolak-balik membuka kulkas, seperti apa sebetulnya yang membuat anda sedih atau senang? Aku punya seribu daftar kesedihan dan seribu daftar kesenangan, keduanya seimbang, tetapi jumlah yang terlalu banyak itu membingungkanku, dan membuatku memutuskan untuk membuang keduanya, membuang kesedihan dan membuang kesenangan. Titik apakah yang bisa kita katakan saat tak ada kesedihan ataupun kesenangan? Titik-titik dalam urat nadimu sendiri, yang terdeteksi alat pengecek tensi, dan terdengar jantungmu melambat, berdetak menuju berhentinya waktu. Dan nafas halus, nafas hangatmu akan berganti sesak, dan sebentar lagi hanya seonggok jasad dengan mata mendelik dan rupa berwarna ungu. Oh anggap saja karena kita sudah terlalu lama di ruang angkasa dan lupa bahwa bumi berwarna biru dengan sedikit kue-kue coklat kehijauan mengapung di atasnya. Aku bisa melihat bumi dari sini dengan wajahku yang ungu, aku tak bernafas, tak ada darah mengalir, tak ada tatapan yang hangat. Aku bisa melihat bumi tanpa syarat-syarat yang anda bilang sebagai hidup.

Sampai akhirnya aku tahu bahwa aku menujumu, menuju ruang hampa. Aku dalam kehidupan tanpa udara, tanpa butir-butir air yang berdesakan di udara. Tanpa lendir atau kotoran mata dan hidung atau yang keluar dari anusmu. Tidak ada bakteri-bakteri yang hidup dalam tubuhku, tidak ada anak-anak lalat  sebesar butir nasi memakan bangkaiku. Aku akan terus mengambang tanpa harus menjadi busuk dan berkeliling di ruang angkasa dengan hitungan kecepatan cahaya, aku tak lagi mengenal satu hari adalah 24 jam. Disitulah anda akan tahu bahwa kadang kematian adalah indah dalam imajinasimu dan kehidupan adalah kematian dalam imajinasimu, dan ruang hampa akan menyelamatkanmu dari segala terjemahan dan penjelasan keduanya.

Tambun, 22 Agustus 2014




Minggu, 17 Agustus 2014

Bunyi


Oleh Mariana Amiruddin

Apakah anda pernah merasakan setiap harinya hanya bicara dengan hewan, pohon, televisi, komputer, buku, kertas, pulpen, piring, kompor, lantai, obat pel dan sapu? Kalaupun anda berbincang dengan manusia, anda hanya perlu jari yang lincah seperti saya ini. Rasakan betapa dahsyatnya hidup saat mulut hanya anda gunakan untuk makan, bersiul atau bernyanyi kecil sambil bermain biola. Pita suara anda akan sangat kurang kerjaan. Rawatlah jari-jari anda supaya tetap kuat dan lincah untuk berkomunikasi dengan manusia, untuk menjentik tali-talli senar anda, jangan seperti saya yang terkilir hanya karena mengangkat ember dan salah meletakkan pisau di rak piring. Anda akan merasakan betapa debu-debu tipis di lantai akan menganggu anda, bulu-bulu kucing yang masih bertengger di sofa anda, dan anda tak perlu bicara karena itu, anda tinggal mengambil sapu, lap basah atau mengepel lantai. Atau saat hewan peliharaan anda berkata miaw, anda tinggal jawab dengan bahasa yang sama, menggoreng ikan, menanak nasi, dan mencampurnya untuk makanan mereka, dan rasa bahagia saat mereka makan dengan lahap.

Pernahkan anda merasakan hidup berhari-hari di dalam rumah dan anda hanya keluar untuk membeli makanan, membayar listrik, pulsa, internet, pajak, hanya lewat mesin ATM, lalu kembali pulang? Anda akan merasa aman luar biasa dan tiba-tiba terserang panik saat orang datang atau sekedar lewat melangkah, atau tukang sayur dan somay yang melintas di depan rumah anda lalu tiba-tiba meminta air ledeng di halaman anda dan meminjam sapu lidi? Seperti yang kurasakan, aku lebih senang mendengar kelelawar atau mahluk lain mengintip aktivitasku daripada rombongan manusia. Ya, itulah kehidupan yang sunyi tetapi tetap saja ramai dengan benda-benda mati maupun hidup. Saat menulis kata-kata ini anda bisa mendengar suara kipas angin kecil dan jari-jari anda terdengar lincah memainkan keyboard komputer sambil mendengarkan musik klasik. Dan suara kipas angin menjadi seperti suara hujan yang tidak pernah reda. Atau anak-anak burung yang mencicit manja di lubang angin rumah anda. Dan tiba-tiba ayam berkokok, burung-burung peliharaan mulai berkicau, anda segera menyadari bahwa matahari sebentar lagi terbit dan orang-orang mulai menyalakan mesin kendaraan untuk berangkat bekerja, ibu-ibu rumah tangga atau pembantu menyiapkan sarapan dan anak-anak menjerit. Menyusul suara sepeda melintas, dan tukang roti yang datang dari jauh menyambut pembeli.

Pernahkah dalam kehidupan hari-hari sendiri itu tiba-tiba anda terserang flu, demam, menggigil dan tak seorangpun ada di situ? Apakah anda akan telpon teman atau keluarga, atau dokter yang bisa dipanggil misalnya? Tidak. Ternyata daya survive kita luar biasa, aku segera minum air putih berliter-liter dan menelan obat, sebelumnya makan makanan yang tersedia di meja dan kuolah sendiri. Anda akan mampu melakukannya sendiri. Dan ketika anda tidur tak seorangpun membangunkanmu, dan ketika bangun anda hanya melihat matahari sudah tinggi hampir menimpa wajahmu dan kucing-kucing tergeletak di lantai kepanasan, tertidur lelap. Rumahmu akan terlihat bersih dan mengkilat, meskipun lupa kamu akan lupa membersihkan diri sendiri, dan tiba-tiba melihat kukukumu hitam dan wajah dan rambutmu serempak berminyak. Tapi rumput-rumput di halaman depan rumah itu lebih penting karena sudah mulai tinggi perlu segera anda potong dengan tangan anda sendiri sampai kapalan. Dan ketika kembali ke dalam rumah, anda akan terganggu melihat jejak kaki anda sendiri, dan segera anda membersihkannya. Pernahkah anda melihat bahwa betapa pentingnya pakaian bersih? Tumpukan baju kotor itu kita sendiri yang mencucinya, jumlahnya pastilah sangat sedikit, termasuk pakaian dalam, dan sebelum matahari datang kita sudah menjemurnya sambil bersiul, dan kucing-kucing akan bermain-main di bawah kakimu, dan hanya dalam beberapa jam saja pakaian anda sudah kering.

Bukankah hidup begitu simpel dan tetek bengek itu tidak membuat kita mengeluh? Bukankah kita tidak selalu harus menjadikan kata-kata seperti sampah makanan yang tak jelas akan dibuang kemana? Dan orang-orang yang berebut bicara untuk memperlihatkan diri masing-masing? Bukankah sunyi itu membuatmu lebih peka mendengar bunyi, bahkan bunyi jantung dan hatimu sendiri? BIla pita suara di tenggorokanku ini bisa kuberikan untuk tali-tali senar biolaku untuk menjadikannya lebih nyaring tentu aku mau, asal aku siap untuk tidak pernah bicara atau presentasi tentang negara.

Kelima kucingku kadang-kadang bicara cukup dengan sorot matanya saja. Lapar, mengantuk, ingin kencing atau pup, aku sudah tahu kode-kode mereka. Atau bahkan bilang ingin dimanja, aku segera menggendong dan memeluk mereka sekaligus dan terdengar suara dengkur dan merasakan hangat tubuh mereka. Atau anda bisa membayangkan seandainya dunia ini hancur dan anda hidup sendirian, dalam arti tidak ada orang di sekitar anda yang selamat, anda sudah terbiasa.

Tentu, hidup dalam rumah sunyi ini pasti lebih baik dari hidup di penjara. Penjara ataupun di luar penjara anda hanya menemukan kegaduhan, bising, dan tumpukan bunyi yang saling beradu, atau orang-orang yang bercakap-cakap tertawa gelak untuk hal yang tidak perlu. Satu-satunya kebisingan di rumah sunyi ini apabila datang petir dan badai angin dan hujan. Aku akan menutup seluruh pintu rapat-rapat dan menyelamatkan kucing-kucingku yang sedang asik bermain di halaman belakang yang lembab. Aku akan menutup telingaku dan segera mengambil berselimut tebal bersama kucing-kucingku yang ketakutan, aku akan memeluk mereka dengan sangat erat hingga mereka mendengkur saling menghangatkan.

Kegaduhan yang diciptakan manusia lebih mengerikan dari suara petir yang mengantarku pada tangisan. Kegaduhan yang dihadirkan manusia membuatku pecah berantakan. Aku yang disana, diantara mereka, akan menangkapnya sebagai bunyi. Aku akan kembali menyusuri jalan, mengikuti cahaya bulan, menuju pulang sambil meraba satu demi satu bagaimana kehidupan terlihat hampir seragam, dan aku hidup dengan ritme yang terbalik. Dalam perjalanan pulang itu, lagi-lagi bunyi musik yang terdengar dari radio, dan itu sudah cukup menjadi teman perjalanan.

Oh, dunia. Mengapa kau bernama dunia. Aku tak lagi kenal apa itu kelam, apa itu terang. Apa itu hidup, apa itu mati. Keduanya adalah kehidupan sekaligus kematian. Aku tak lagi kenal apa itu sedih apa itu bahagia. Aku menyatukannya sekaligus dalam arti sendiri, dan dunia menjadi miliku sendiri.  
Apakah ini terdengar egois? Bukankah aku tidak menganggu hidup orang lain? Bukankah aku tidak melakukan kejahatan? Bukankah aku tidak merebut pacar orang, istri orang? Bukankah aku tidak ikut-ikutan menggosip kejelekan orang? Tentulah aku tidak egois karena aku tidak menganggu siapapun. Tetaplah aman bersamaku, meskipun dari jauh. AKu akan melihat semua dari jauh, sejauh jarak matahari dan bumi yang kita bisa saling melihat kecuali hujan datang. Dan memang hujan selalu datang sehingga sekali-sekali aku tak bisa melihatnya.

Satu jam lagi ayam akan berkokok. Kadang aku ingin ikut berkokok, tetapi suaraku belum separau ayam-ayam itu. AKu jarang menggunakannya. AKu berkicau saja, tapi aku tidak bisa setinggi itu bila berkicau, suaraku akan terdengar seperti serigala melolong.. Tapi katakan sebenarnya, seperti apakah mulut dan suara manusia itu? Aku hampir saja lupa.

Tambun, 18 Agustus 2014






Hari Kemerdekaan dan Lelaki yang Tersesat

Oleh Mariana Amiruddin

Malam menjelang pesta kemerdekaan Indonesia, kami mengadakan rapat kecil bersama teman-teman tentang kondisi pasca pemilu presiden di kediaman seorang aktivis yang jauh dari usia kami, usia berkepala delapan. Hubungan yang sangat awet, tidak ada hambatan apapun dalam hal usia dan latar belakang kami untuk satu tujuan perjuangan yang sama. Lepas dari rapat kecil itu, dengan kepala penat dan rasa lapar, kami mampir ke Blok M, makan ayam bakar Gantari. Setelah kenyang, kami menuju Kota Tua untuk melihat berbagai kegiatan menjelang perayaan kemerdekaan. Tetapi kami lupa ini malam minggu dan pantas saja kami terjebak macet. Melelahkan sekali, bukan ini yang kami mau, sehingga kami berputar balik untuk mencari tempat ruang yang luas terbuka dan sepi untuk sekedar duduk, minum kopi dan melihat langit.

Karena saya yang nyetir, segera saya putuskan menuju ke Lapangan Banteng. Teman-teman sempat terdiam. Mengapa Lapangan Banteng? Barangkali ada hal aneh di pikiran mereka. Saya tidak peduli dan terus menancap gas.  Saya cerita sedikit tentang masa remaja saya yang penuh risiko. Tidur di jalanan berhari-hari, tidur di Mesjid, tidur di TIM Cikini, berlari sejauh mungkin sampai ke puncak gunung atau tertidur di bibir samudra hanya membawa uang limapuluh ribu perak dan segembol tas, mengamen, menelusuri tempat-tempat kumuh dan sesak.  Untuk apa? Untuk merasakan bagaimana menjadi seorang gelandangan, merasakan hidup menjadi orang lain yang tidak seberuntung saya. Dari situlah kepedulian saya pada orang lain mulai muncul. Bagaimana menjadi seorang diri tanpa keluarga atau sanak saudara. Bagaimana menghayati kesusahan, ketidakstabilan ekonomi, ketiadaan tempat untuk tinggal. Banyak orang bilang apa yang saya lakukan itu aneh dan berbahaya, apalagi saya perempuan, orang-orang yang melihat saya bahkan mengatakan, untuk apa orang kaya turun ke bawah, sudah baik hidupnya malah mencari masalah. Dan kata orang, tampang saya tampang orang kota, orang kaya, kelas menengah. Saya terlalu bersih untuk tidur di jalanan dan mengamen mencari uang. Waktu itu saya masih mahasiswa S1. Saya tak mengerti soal kelas-kelas itu dan yang saya inginkan hanya menghayati kehidupan orang lain.

Sampai di Lapangan Banteng, tampak Patung Pembebasan karya era presiden Soekarno menjulang di langit. Kami parkir kendaraan di dekat pedagang kaki lima penjual rokok dan ketoprak. Kami duduk tenang di sana, tempat yang luas dan nyaman. Kami memesan teh panas dan saya lapar segera membeli makanan. Diskusi rupanya belum selesai tentang arsitektur kabinet yang kami inginkan. Memang sulit merancang struktur pemerintahan, memang sulit mengurus organisasi besar bernama negara, tetapi kami memang perlu ambil bagian. Mencari model-model struktur pemerintahan negara yang efektif dan bisa mencapai target-target keadilan dan kesejahteraan, terutama untuk kaum perempuan.
Saat kami berdiskusi, membuka buku dan mencoret-coret rancangan di Lapangan Banteng, di bawah langit dan bulan yang hanya separuh, serta pedagang kaki lima, datang seorang anak muda dengan wajah pucat duduk di dekat kami, memesan segelas kopi dari pedagang. Dia terus menatap kami. Dia bertanya pada pedagang itu tetapi ternyata dia tidak bisa bahasa Indonesia, dan tukang ketoprak meminta kami untuk membantu bicara dalam bahasa Inggris. Saya melihat wajah pucat dingin lelaki itu putus harapan. Ia hanya membawa ransel dan sebuah ponsel di tangannya. Dia orang asing, orang dari negara lain yang terdampar di Jakarta, dan menceritakan pengalamannya bagaimana bisa sampai di Lapangan Banteng. Saya sempat menebak-nebak dari mana asal orang ini, seperti orang dari Eropa Timur tetapi dia mengaku tinggal di Nepal, India. Saya tidak percaya sebab logatnya tidak seperti orang India, tetapi seperti orang Eropa Timur. Kami terus bertanya apa yang hendak dia lakukan disini, dia menjawab, “Saya ingin ikut merayakan hari kemerdekaan Indonesia esok pagi.” Saya terperanjat dan tersenyum, kenapa kamu mau ikut merayakan kemerdekaan bangsa kami? Dari hasil percakapan tersebut kemudian dia mengaku bahwa dia tidak punya keluarga, dia keturunan dari Afghanistan dan ingin mencari pekerjaan di Jakarta, dan ingin menemukan kehidupan di negara ini. Kami melongo dan masih tidak mengerti. Dia seperti orang yang putus asa dan pergi tanpa tujuan. Bola matanya yang coklat menatapku, agak berkaca-kaca dan memerah. Saya berpikir sekilas, wajah lelaki manis seperti ini bagaimana bisa ada disini? Pikir saya dengan penuh stereotipe. Saya agak kasihan, tetapi saya khawatir orang ini sebenarnya imigran gelap, atau ingin melakukan kejahatan pada kami. Teman-teman saya berpikiran sama. Tapi anak muda ini masih terlalu muda dan wajahnya yang manis tampak bukan orang jahat. Tapi kami sebagai orang yang selalu waspada tidak bisa percaya padanya begitu saja.

“Saya naik mobil sewa di bandara Soekarno Hatta dan meminta supir mengantar saya ke pusat kota Jakarta, tetapi kemudian saya diturunkan di tengah jalan besar dan barang-barang saya diambil, termasuk paspor saya dan segala uang saya. Saya tak punya uang untuk kemana-mana, saya tidak ada teman ataupun keluarga disini.” Tetapi kami melihat dompet yang dipegangnya dan juga ponsel, kami makin ragu. Begitu juga ransel di punggungnya. Anak muda tinggi pucat dan kurus ini bicara dalam bahasa Inggris yang lancar dan logat seperti orang Eropa Timur bekas jajahan Rusia, sama sekali tak terdengar logat Nepal, apalagi Afghanistan. Dia bertanya tentang apakah bisa tidur di Lapangan Banteng, apakah aman? Kami bingung sekali karena tentu saja tidak aman. Teman saya mengusulkan dia lapor polisi dan istirahat di sana, tetapi dia tidak mau. Dari perbincangan itu, terlihat sekali kami tidak percaya padanya, dan wajahnya semakin pucat. Akhirnya dia membayar kopinya dan pamit kepada kami, dan mengatakan ingin keliling-keliling di sekitar Lapangan Banteng sampai pagi.

Anak muda berwajah pucat manis itu membuat kami terdiam, kami ingin membantu tetapi kami takut. Apakah kami salah? “Saya hanya ingin ikut hari kemerdekaan Indonesia besok pagi,” katanya. Apakah ia ingin meminta swaka? Apakah dia seorang dari Ukraina, Kroasia, Bosnia, Uzbekistan, Afghanistan atau entahlah, yang datang dengan ilegal dan ingin melanjutkan perjalanan ke Australia? Kami tidak tahu karena kami takut. Setelah pamit dan menaikkan jempolnya pada kami, dia melangkah dengan wajah tertunduk. Kami kasihan tapi kami takut.

Malam semakin larut dan kami pindah tempat menuju taman di tengah Lapangan Banteng di kaki Patung Pembebasan. Tidak ada yang pacaran, semua hanya laki-laki muda yang hilir mudik di sana dengan pakaian yang kumuh dan berwajah manis. Mereka tidak jahat dan sering melempar senyum pada kami yang ketakutan tetapi tetap nakal duduk-duduk di sana. Setelah itu, kami memutuskan pulang, tetapi ada rasa bersalah dalam hati kami. Bagaimana kalau anak muda asing itu orang baik dan betul-betul membutuhkan pertolongan? Tidak ada senyum sedikitpun di ujung bibirnya. Apakah dia berbohong? Apakah dia jahat dan ingin melakukan tindakan kriminal? Apakah dia imigran gelap? Apakah dia putus asa dan ingin pindah dari negaranya yang banyak konflik? Kami tidak tahu. Kami tidak percaya. Tetapi kami terpanggil untuk kembali mencari laki-laki muda asing itu. Saya menancapkan gas memutar kembali seluruh sisi di Lapangan Banteng. Sebab sebelumnya kami juga melihat samar-samar ada lelaki asing duduk di kegelapan dengan wajah putus asa, ya lelaki yang menghampiri kami itu. Tapi kami tidak menemukannya, entah kemana perginya. Laki-laki Uraina, demikian kami sembarangan mengatakannya sambil tersenyum cemas, dan kami lupa bahwa malam itu adalah malam menjelang hari kemerdekaan. Apakah dia iblis atau malaikat yang tiba-tiba menghampiri untuk menguji kami dan sekejap hilang lenyap? Apakah dia benar-benar tersesat dan hidup tanpa tujuan? Apakah dia penjahat yang berbahaya? Bagaimana kalau dia bunuh diri? Seandainya saya percaya, saya akan memberi tumpangan dan mengajaknya tinggal sementara di rumah dan memberinya pekerjaan kecil untuk membantu saya sehari-hari. Tapi saya pernah berpetualang dan menemukan banyak risiko yang membahayakan nyawa saya sehingga saya mengurungkan niat itu.

Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu kami simpan, dan memutuskan berangkat ke Taman Ismail Marzuki lagi-lagi sekedar duduk di bawah langit.

Di malam hari Kemerdekaan itu, kami didatangkan lelaki Ukraina, demikian yang kami sebut dengan cara sembarangan, yang tersesat dan berjalan tanpa tujuan. Apakah kami mengalami cerita fiksi Anton Chekov atau Slavomir atau Dostoyevsky? Atau hidup macam apa yang kami temui? Bukankah setiap orang memiliki motif dan tujuan? Bagaimana kalau tidak? Tidak tahu. Yang saya tahu dan tangkap dari ceritanya, ia hanya ingin ikut merayakan hari kemerdekaan kita. Oh lelaki asing, apakah kamu benar-benar ingin kemerdekaan? Mungkin kamu salah menemui kami yang selalu waspada para orang asing yang tidak jelas asal usulnya. Kami terlalu terbiasa dengan keadaan yang sudah pasti dan jelas. 

Maafkan kami lelaki asing, semoga kamu menemukan kemerdekaan yang dimaksud.

Minggu, 17 Agustus 2014