Oleh Mariana Amiruddin
Beberapa minggu ini aku bertemu dengan banyak orang. Antara
senang dan lelah bercampur menjadi satu. Ada juga sedikit kehilangan.
Berbincang dari mulai pekerjaan sampai pada bayang-bayang. Aku masih ingin
mengejar mimpi itu. Sebuah negeri asing yang ingin kutinggali. Negeri dengan
langit yang kelam dan mereka yang sering berpakaian gelap. Negeri dimana kita
bisa berjalan kaki, berlari, bersepeda, membaca buku dan menghangatkan diri.
Negeri yang sering dibilas hujan dan melahirkan musisi-musisi dunia.
Karena banyak berbincang-bincang sepanjang hari, kini rahangku
mulai keram. Kini otot rahang mulut kiriku bergerak lambat. Aku sedikit lumpuh.
Otot-otot rahangku terkejut. Pikiran dan ucapan kadang berkejaran dan membuatku
agak kesal. Kini aku banyak tertawa. Orang-orang disekelilingku sangat unik dan
baik. Marah bisa menjadi senang. Berat badanku naik, dan aku tidak kurus lagi. Sebab
bertahun yang lalu aku hanya diam meradang. Aku bicara dengan tuisan, dengan
pikiran. Aku jarang makan. Setahun yang lalu jarang ada orang. Setahun yang
lalu aku meringkuk di bawah meja kerja. Mematikan lampu dan mendengar musik.
Aku tidak tahu apakah kini aku bahagia. Sebab aku mulai merindukan sedih, sebab
pada saat sedih itulah, aku bicara hanya pada imajinasi dan melaluinya akan
tumpah tulisan-tulisan.
Bukan hanya setahun yang lalu. Bertahun yang lalu aku
bertemu orang-orang tertentu saja. Mungkin aku bertemu banyak orang waktu itu,
tapi kameraku tak mudah merekam. Hanya satu persatu saja yang kuingat selalu. Tidak
seramai saat ini yang sering membuatku tergelak. Mereka bilang kini aku bahagia
dan ramah. Bertahun yang lalu lidahku kaku, aku bicara dengan sedikit
terpatah-patah, tetapi aku mampu menulis dengan tanpa melihat, bahkan kadang
sambil tertidur. Aku menuliskan banyak hal seperti sedang memainkan tuts piano.
Waktu itu aku sangat biasa dalam tekanan. Tekanan membuatku berlari kencang,
sebagaimana orang-orang berlari kencang menyelamatkan diri di tengah badai.
Bertahun yang lalu adalah petualangan, dan aku dikelilingi orang-orang yang
diam-diam masuk dalam kesepian. Kehidupan satu persatu. Aku menemukan mereka di
ilalang, di ladang, bahkan kadang di gedung tua tempat tinggal ratusan
kelelawar dan di rel kereta. Mereka adalah orang-orang sendirian. Mereka semua
menyimpan rahasia tentang aku. Barangkali masih tersimpan di memori, atau bisa
jadi mereka lupa tentang aku. Kini kami sama-sama saling meninggalkan itu. Dan
tak berani mengatakannya secara terbuka. Hidup kita dulu adalah hidup yang
tabu. Aku menemukan mereka di perlintasan jalan, dimana aku kesulitan untuk
pulang, merekapun merasa kesulitan pulang, dan memilih untuk tetap di
perlintasan.
Aku masih ingat ladang itu. Yang terhampar di hadapan, dan 3
cangkir kopi melintas di tenggorokan, membincang soal hidup: makna dan pikiran.
Aku masih ingat mata mereka yang menatapku dalam sekali. Bahwa aku bukanlah
manusia, tapi aku adalah hatiku. Kadang kita menertawakan bagaimana kita lebih sering
memikirkan orang lain, tetapi kita kurang perhatian pada pikiran kita sendiri,
mau kemana hidup ini dijalankan, apakah pantas untuk diteruskan, atau kita isi
saja dengan hal-hal biasa. Aku dan mereka tak mau hal-hal biasa, kita mau yang
luar biasa. Tapi percuma karena kita sendirian. Dan kalau hidup ini harus
dihentikan, kita berpikir keras bagaimana caranya agar berhenti dengan tidak
biasa-biasa saja. Kami sering terpanggil dalam kematian. Dalam arti suatu hal
yang kita tak pernah tahu tentang itu. Dimana kita tak perlu pengakuan, tak
harus menjadi yang nomor satu dan berlomba-lomba menjadi yang terpandang. Kita
tak ingin mengubah dunia, tetapi kita ingin hidup di dunia yang kita mau. Aku
dan orang-orang di perlintasan itu kini pergi dan saling meninggalkan. Kalapun
bertemu, kita akan berperilaku seolah-olah kita lupa. Seolah-olah tidak ada
yang pernah terjadi kecuali apa yang ada hari ini.
Kini, aku mencatat kata-kata bagus dari seorang teman. Yang
membuatku teringat tentang lipatan-lipatan yang membuat banyak hal
tersembunyikan, tentang tragedi atau peristiwa-peristiwa keji masa lalu negeri
ini. Ia mengatakan hal yang penting tentang jiwa: “Sakit untuk mengingat, sulit
untuk MELUPAKAN”. Dalam pekerjaanku
kini, aku bertemu mereka yang bertahan hidup dari tragedi masa lalu negeri ini
yang banyak memakan korban, aku bisa melihat bayang-bayang di mata mereka.
Tentang anak-anak mereka yang hilang, diperkosa sampai cacat, bunuh diri, atau
mati terbakar. Aku bisa melihat kerut
mereka yang menandakan berjuang menahan sakit. Dan aku melihat jelas air mata
di ujung kerut kantung matanya. Keringat bercampur air mata, saat mereka
menunjukkan foto-foto darah daging mereka yang mati. Barang-barang buah hati
mereka yang termakan usia. Bayangan-bayangan sepi mereka mengingatkan pada
keadaanku dulu, dan kini aku menemuinya lagi. AKu memotret pandangan sepi
itu, ditengah riuh rendah keadaan sekarang. Aku tak mau mendekat, biar aku bisa
melakukan hal yang melekat.
Tengah malam, teleponku berdering. Aku baru saja menyeduh
kopi. Karena perjalanan dari kantor ke rumah luar biasa melelahkan. Aku butuh
seteguk untuk menenangkan. Telepon terus berdering, dan tanganku kaku untuk
mengangkatnya. Aku sedang tak ingin bicara dengan siapapun. Malam adalah
saatnya rahang mulutku istirahat. Saatnya pikiran kembali menggeliat. Lalu dia
mengirimkan pesan dengan agak marah. Aku tak mengindahkan sebab seteguk lagi
kopi itu adalah kebahagiaan. Aku berjalan ke kamar mandi, menggosok gigi dan
mencuci kaki. Aku mencium satu persatu 16 kucingku yang sudah tidur terlentang saling
melintang di sudut ruangan karena udara yang panas malam itu. Aku kemudian
memasuki kamarku yang hening, masuk ke dalam selimut. Mencoba memejam. Dan
telepon itupun berdering lagi.
Aku mulai gelisah dan akhirnya aku mau mengangkatnya.
Terdengar suara berat di sana. Mar, katanya singkat. Dan terdengar suara angin
dingin. “Aku ingin tanya soal keadaan politik sekarang,” katanya lagi masih
dalam suara berat. Mataku langsung menyala-nyala. Bagaimana bisa di saat waktu
yang larut dan hening ini aku kembali dibangunkan oleh persoalan politik.
Kawanku yang bersuara berat di sana terdengar sedih. Aku mengerti karena dia
hidup bukan di dunia yang manusia tempati. Aku harus berempati. Ia ada di
sebuah planet yang barangkali tak pernah kita lihat sebenar-benarnya. Planet
dimana setiap kali bangun dari tidur kita hanya melihat jeruji dan tembok
tinggi. Aku mengerti keadaan dia yang haus akan kebebasan. Aku tahu itu.
Dia adalah juga orang-orang di perlintasan jalan yang tak
bisa pulang. Bila dulu di ladang-ladang, hutan, rel kereta dan bangunan tua
tempat ratusan kelelawar yang senang dengan kegelapan dan kelembaban, kini
manusia ini hadir dari dalam jeruji.
“Bicaralah. Aku mendengarkan.” Dan kita berbincang tanpa
terasa selama dua jam. Hari itu aku tak tidur sama sekali, dan pagi-pagi aku
harus berangkat ke parlemen. Aku hidup di antara dunia yang tak seimbang. Seandainya
aku Tuhan, aku akan bebaskan dia, dan tak perlu kita bicara lagi di larut
malam. Kita bisa tenggak kopi dimanapun kita mau dan bicara sampai pagi tanpa
gelisah dan ketakutan.
Bayang-bayang. Mereka mulai berdatangan. Seperti yang akan
bangkit dari kuburan. Antara sedih dan senang. Antara gelak dan tangisan. Lidahku
mulai kelu. Biarkan aku berdiam dulu. Sekali lagi.
Cemara, 10 September 2015.
![]() |
Shadow Peopleby cowboypunk |
