Sabtu, 15 Februari 2014

Cincin Api

CINCIN API

Oleh Mariana Amiruddin

Dinyatakan oleh PBB bahwa Indonesia adalah wilayah yang paling banyak mengalami bencana karena letak geografi/geologi di atas cincin api. Sayangnya, infrastruktur Badan Geologi kita masih tak ada bedanya dgn 20 tahun yg lalu. Negara kurang perhatian terhadap bumi tempat kita hidup. Karena kurang perhatian pada bumi tempat kita hidup ini, maka cincin api dianggap sepele.

Kantor-kantor badan geologi seperti kantor camat. Mengabaikan alam membuat negara tidak tahu apa yang harus dilakukan, bencana menjadi menelan manusia Indonesia, tak bedanya dgn abad 20. Selama 1 abad, infrastruktur Indonesia tak disiapkan menyesuaikan diri dengan kondisi bumi dan alamnya.

Tan Malaka dalam catatannya pernah menyebut-nyebut letusan Krakatau membuat Nusantara dikenal di seluruh dunia. Dampaknya mengubah iklim global. Menurut Tan Malaka, Hirosima dan Nagasaki itu tak ada apa2nya dengan letusan Krakatau yang abunya menyelimuti 1/8 bumi. Membaca kembali Indonesia, perlu seperti cara Tan Malaka, seluruhnya perlu dipelajari, alamnya, kabutnya, batu dan gunung2nya.

Tan Malaka seorang Moksa, dalam Hindu dan Budha sebagai seorang yang melepaskan diri dari ikatan duniawi utk mempelajari dunia. Tan Malaka sengaja tidak menikah karena menurutnya akan membelokkan dirinya dari tujuan perjuangan. Seorang Moksa memang demikian.

Tan Malaka terapkan ilmunya ibarat sampai chakra ke tujuh yg bisa menjadikan dirinya ada di berbagai tempat di waktu yang sama, Tan Malaka memang tak setuju dgn logika mistika, tetapi dia menerapkan melalui dialektika dan logika. Luar biasa kontrasnya orang ini.

Intinya, Tan Malaka tidak memisahkan antara alam dan bumi Indonesia dengan strategi politik yg dia canangkan. Ia ungkap itu dalam gerpolek.

Seandainya bangsa ini mau belajar dari leluhur dan pejuangnya terdahulu, tak akan ada itu ketakutan pada komunisdan sebagainya itu. Indonesia jalan terus dan program-program kemerdekaannya dijalankan. Pembangunan akan diterjemahkan lain, yaitu yang menyesuaikan alam dan keberagaman masyarakatnya.

Dalam hal ini saya mengatakan, dosa-dosa Orde Baru bukan kepalang, hingga pendidikan tak ada benar-benar membuka sejarah leluhur dan kekayaan alamnya, seluruh tokoh-tokoh pejuannya, sehingga tak ada lagi pepatah "dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung".

Orde Baru telah memisahkan anak-anaknya dari Ibu Pertiwi. Ibu yang dibuang tak sedikitpun diperhatikan, untuk sebuah kekuasaan dan kekayaan abadi. Mulailah mengenal Indonesia dari sekarang, seluruhnya. Benar-benar seluruhnya.

Tengah Malam, 16 Februari 2014