Senin, 25 November 2013

Sekilas Tentang “Orang-orang Bawah Tangga


“Orang-orang bawah tangga”, adalah simbol individu-individu seniman yang mengeksplorasi ruang-ruang publik sebagai tempat berkesenian, yang memungkinkan seorang seniman memiliki ruang untuk meneliti kembali identitasnya, eksistensinya. Kesenian dalam hal ini diperlakukan secara inklusif, bukan eksklusif. Seni sebagai milik publik, milik rakyat, milik seniman. Seni publik adalah seni yang lahir di luar jangkauan industri, gedung-gedung yang tertutup, ikatan institusi.

“Orang-orang bawah tangga” adalah sebuah ruang produksi yang bebas dalam maknanya masing-masing, adalah sebuah laboratorium seniman untuk menelurkan karyanya melalui proses interaksi antar-seniman, melakukan uji coba kepada publik, meneliti ulang aksi-reaksi antara karya dan publik. Laboratorium ini seperti sebuah studio lukis, bilik menulis,  yang memberi tempat seniman untuk berproses, merenung, berimajinasi, berinspirasi, menambah wawasan, menghargai dirinya sendiri, menaikkan kapasitas dirinya sebagai seniman.

Adapun laboratorium ini akan membantu seniman menjadi lebih berdaya dan mandiri, tanpa tergantung dengan trend, pasar dan bisnis seni, namun menjadi karya-karya yang lahir dan akhirnya dihargai.
Pemikiran tentang “orang-orang bawah tangga” ini terinspirasi dari pergulatan Van Gogh dalam ide dan pemikirannya tentang The Yellow House, atau Romo Mangun yang merespon Kali Code, namun Orang-orang Bawah Tangga ini lebih merespon kondisi sosial di lingkungannya. Ini tentu saja bukan sesuatu yang baru, namun akan sangat berarti untuk memberdayakan seniman menjadi lebih produktif bila dijalankan secara konsisten.

Dimanakah tempat “Orang-orang Bawah Tangga”? Adalah di ruang-ruang publik, dimana mereka bisa saling berdiskusi, memaknai, merenung dan membantu mereka mendapatkan inspirasi dan menelurkan karya. Konteks “Orang-Orang Bawah Tangga” adalah seniman-seniman yang saling mendukung, tanpa mencampuri imajinasi satu dengan lainnya. Sebuah kolaborasi yang alami dan spontan, namun bukan tanpa konsep.



Salam budaya!
Mariana Amiruddin dan Yenti Nurhidayat

Senin, 25 November 2013
Taman Ismail Marzuki