Aku hanya seorang Mar, yang mungkin masih terlalu dini untuk memikul beban berat ini sendiri. Tapi aku siap jadi seorang pemikul, lalu menjadi bungkuk, ingin seperti padi yang merunduk. Menyepi, membaca dan bekerja keras sambil berencana sekolah lagi. Itu sudah cukup membuat saya bahagia dan setelah itu mati.
Aku hanya seorang Mar. Yang hidup ditengah orang-orang dewasa yang pintar dan berusia matang. Aku generasi yang sendirian. Karena pada sebaya, aku sudah terlalu tua dan sulit dimengerti buah pikirnya. Pada yang dewasa, aku tetaplah anak kecil. AKu tua sebelum saatnya. Punggungku semakin membungkuk, tanda hormat pada kehidupan. Suatu saat aKu ingin kembali menjadi anak-anak dan menghabiskan waktu di taman, pantai, sungai, bermain kunang-kuang. Tempat yang baik untuk mati sendirian.
Waktu masih mahasiswa S1, tulisan saya pernah dimuat di koran dengan judul "Mahasiswa 90-an, Quo Vadis?" Itu tulisan pertama saya yang dimuat di koran publik. Setelah itu saya bangga reformasi menaikkan kepercayaan masyarakat pada mahasiswa. Tapi sampai sekarang saya juga masih merasa quo vadis. Seperti generasi yang tanggung: antara idealisme sampai mati, atau pilihan lain, yaitu mati sesungguhnya.
Aku cuma seorang anak kecil. Aku bukan doktor, aku bukan lulusan luar negeri, aku hanya anak kecil yang terbawa arus kematangan usia orang lain. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin memeluk kucing-kucingku.
Jatuh cinta pada pohon yang hanya merunduk setelah hujan deras merubuhkan segalanya.
Aku bukan orang pintar nan cerdas. Aku cuma pekerja keras. Mulai dari memaku dinding, mencuci baju, dan menata ruang, sampai meneliti tulisan. Aku masih hidup dengan caraku, sampai punggungku membungkuk.
Hari ini aku bahkan masih belajar menghitung, menambah, mengurang, mengeja bahasa, mana laba, mana rugi, mana hutang, mana indah, mana tenang. Aku senang, karena aku hidup selalu ingin tahu sampai aku benar-benar tahu maka aku akan bahagia.
AKu tidak mengerti filsafat, apalagi politik. Aku cuma mengerti hidup. Hidup sebagai seorang perempuan berusia tigapuluh lima tahun.
Aku bukan aktivis, karena tampaknya aku tidak seperti seorang aktivis. Aku lebih banyak di kamar. Membaca, menulis, menyelesaikan pekerjaan, membenahi ini-itu sebagaimana ibu-ibu rumah tangga. AKu hanya seorang yang rajin, bukan analis, dan cukup mendengarkan orang-orang pintar dan tenar. Aku dalam masa diam yang paling akut. Seperti masa kecilku yang penakut pada keterasingan.
Aku tidak kenal Tan Malaka, mengapa DNA-nya diperiksa. Dimasa keterbukaan ini, aku tak bisa menangkap ideologi kiri atau kanan setiap kali belanja bulanan. Aku cuma kenal Tuan Tan dalam imajiku, itupun setelah mengenal keterasingan hidup. Aku buta sejarah manusia, apalagi Indonesia.
Aku memang sudah jadi arang. Tapi sebentar lagi aku akan jadi bara!
Bukan seorang ibu, bukan seorang anak lagi, bukan seorang tokoh, bukan seorang pengamat, bukan seperti pemimpin. Itulah aku yang selalu dalam wilayah BUKAN. Aku cuma bisa membungkuk, seperti pohon yang hanya merunduk teduh bertetes-tetes air jatuh, setelah hujan menumbangkan segalanya.
Aku tidak sedang membuat disertasi ataupun novel. Aku bukan kreator. Aku hanya penulis di facebook.
Aku dulu seorang remaja yang pendiam, semua pertanyaan aku simpan dan mencari jawabanya diam-diam. Aku terlalu asing sejak kecil, terlalu tidak ingin berteman. Kini aku sudah banyak teman, tapi lagi-lagi aku pergi diam-diam. Kini aku ada di surat kabar dan televisi, tulisanku dibaca banyak orang, tapi aku tidak pernah merasa apakah betul ada aku di sana. Aku hanya sebuah fragmen yang terpotong-potong. Mengertikah maksudku?
Mengertikah yang aku maksud? Akupun tidak.
Januari 2012