Selasa, 05 Maret 2013

Angin


Malam ini saya ditemani angin. 
Yang membisikkan tentang masa lalu.
Tapi angin berbisik tentang debu.
Kota ini sudah bau, tak ada lagi masa lalu.
Kubilang, tolong bawa saya angin yang lain.

Angin bilang, debu yang menamparku adalah masa lalu.
Kubilang, mataku pedih dan aku tidak mau debu.
Angin berhenti sejenak, menatapku dalam.
"Inilah masa lalu yang kubawa kini." 
Tapi aku tidak mau debu! Kataku lebih keras.

Siapakah angin, siapakah debu?
Aku ingin kesegaran, bukan kepenatan.
Aku ingin kemerdekaan, bukan kata dendam.
Aku ingin angin perubahan, bukan kekalahan!
Aku ingin ketenangan, bukan keributan!

Angin berhenti.
Kenapa berhenti?
Angin: akulah temanmu
Aku: Teman untuk apa?
Angin: untuk membawa kabar.
Aku: Kabar apa?

"Tinggalkan masa lalumu. Juga bangsamu!"

Aku berlari kencang. Aku ingin lebih cepat dari angin. Tapi tubuhku hanya beban merusak kecepatan. Aku disusul angin yang teramat kencang. Ia mengangkatku ke angkasa. Tempat gelap tak ada manusia. Lalu menghempaskanku dengan sangat keras, kembali ke tempat semula. Tempat yang setiap jengkalnya ada manusia.

Aku menyerah.
Tinggalkan masa lalu. Juga bangsaku.

6 Februari 2011
Untuk Ibu Umi Sardjono

Mati


Vincent Willem Van Gogh Paint
Aku pernah bermimpi tentangmu ketika kau pergi dan dunia ini kau tinggalkan selamanya. Katamu "aku sudah punya rumah kecil di sini". Kulihat di depanmu meja besar dan kertas lebar tempatmu menggambar dan melukis hidup yang sederhana. Kau mati, tapi visimu tetap hidup di dadaku. 

Begitulah kau pergi dengan mengunci diri dalam kamarmu, kau terduduk bersila, dan tubuhmu terjatuh menyender pada lemari tua itu dengan darah bertumpah dari hidung dan telingamu. Kau yang sudah tak bernyawa dalam duduk sila dan kesendirianmu. Orang-orang menangisi jasadmu, aku menangisi visi dan semangatmu. Hidupmu sudah di batas itu, dengan penyakit yang kau pendam sepanjang tahun, hati yang luka sepanjang hidup. Politik dan kebudayaan ini yang terus mundur dan musnah, menghentikan sekejap aliran darah dan nafasmu, satu persatu.

Betapa keadaan itu kurasa kini, dan rasa sakit menusuk saat hijau dan bau tanah tempatku duduk dan memandang sirna sudah. Dalam waktu bersamaan semua merenggut kekuatanku satu persatu. 

Apakah aku akan sepertimu. Semoga tidak. Aku ada jalan lain yang harus kucapai. Biar sisa-sisa hidupku mampu melanjutkan dan menyembuhkan lukamu atas bangsa ini yang sudah merasuk sampai kamar bisu dan kematian menanti terduduk di situ.

Agustus 2011

Hanya Saya


Aku hanya seorang Mar, yang mungkin masih terlalu dini untuk memikul beban berat ini sendiri. Tapi aku siap jadi seorang pemikul, lalu menjadi bungkuk, ingin seperti padi yang merunduk. Menyepi, membaca dan bekerja keras sambil berencana sekolah lagi. Itu sudah cukup membuat saya bahagia dan setelah itu mati.

Aku hanya seorang Mar. Yang hidup ditengah orang-orang dewasa yang pintar dan berusia matang. Aku generasi yang sendirian. Karena pada sebaya, aku sudah terlalu tua dan sulit dimengerti buah pikirnya. Pada yang dewasa, aku tetaplah anak kecil. AKu tua sebelum saatnya. Punggungku semakin membungkuk, tanda hormat pada kehidupan. Suatu saat aKu ingin kembali menjadi anak-anak dan menghabiskan waktu di taman, pantai, sungai, bermain kunang-kuang. Tempat yang baik untuk mati sendirian.


Waktu masih mahasiswa S1, tulisan saya pernah dimuat di koran dengan judul "Mahasiswa 90-an, Quo Vadis?" Itu tulisan pertama saya yang dimuat di koran publik. Setelah itu saya bangga reformasi menaikkan kepercayaan masyarakat pada mahasiswa. Tapi sampai sekarang saya juga masih merasa quo vadis. Seperti generasi yang tanggung: antara idealisme sampai mati, atau pilihan lain, yaitu mati sesungguhnya.

Aku cuma seorang anak kecil. Aku bukan doktor, aku bukan lulusan luar negeri, aku hanya anak kecil yang terbawa arus kematangan usia orang lain. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin memeluk kucing-kucingku.

Jatuh cinta pada pohon yang hanya merunduk setelah hujan deras merubuhkan segalanya.

Aku bukan orang pintar nan cerdas. Aku cuma pekerja keras. Mulai dari memaku dinding, mencuci baju, dan menata ruang, sampai meneliti tulisan. Aku masih hidup dengan caraku, sampai punggungku membungkuk.

Hari ini aku bahkan masih belajar menghitung, menambah, mengurang, mengeja bahasa, mana laba, mana rugi, mana hutang, mana indah, mana tenang. Aku senang, karena aku hidup selalu ingin tahu sampai aku benar-benar tahu maka aku akan bahagia.

AKu tidak mengerti filsafat, apalagi politik. Aku cuma mengerti hidup. Hidup sebagai seorang perempuan berusia tigapuluh lima tahun.

Aku bukan aktivis, karena tampaknya aku tidak seperti seorang aktivis. Aku lebih banyak di kamar. Membaca, menulis, menyelesaikan pekerjaan, membenahi ini-itu sebagaimana ibu-ibu rumah tangga. AKu hanya seorang yang rajin, bukan analis, dan cukup mendengarkan orang-orang pintar dan tenar. Aku dalam masa diam yang paling akut. Seperti masa kecilku yang penakut pada keterasingan.

Aku tidak kenal Tan Malaka, mengapa DNA-nya diperiksa. Dimasa keterbukaan ini, aku tak bisa menangkap ideologi kiri atau kanan setiap kali belanja bulanan. Aku cuma kenal Tuan Tan dalam imajiku, itupun setelah mengenal keterasingan hidup. Aku buta sejarah manusia, apalagi Indonesia.

Aku memang sudah jadi arang. Tapi sebentar lagi aku akan jadi bara!

Bukan seorang ibu, bukan seorang anak lagi, bukan seorang tokoh, bukan seorang pengamat, bukan seperti pemimpin. Itulah aku yang selalu dalam wilayah BUKAN. Aku cuma bisa membungkuk, seperti pohon yang hanya merunduk teduh bertetes-tetes air jatuh, setelah hujan menumbangkan segalanya.

Aku tidak sedang membuat disertasi ataupun novel. Aku bukan kreator. Aku hanya penulis di facebook.

Aku dulu seorang remaja yang pendiam, semua pertanyaan aku simpan dan mencari jawabanya diam-diam. Aku terlalu asing sejak kecil, terlalu tidak ingin berteman. Kini aku sudah banyak teman, tapi lagi-lagi aku pergi diam-diam. Kini aku ada di surat kabar dan televisi, tulisanku dibaca banyak orang, tapi aku tidak pernah merasa apakah betul ada aku di sana. Aku hanya sebuah fragmen yang terpotong-potong. Mengertikah maksudku?

Mengertikah yang aku maksud? Akupun tidak.

Januari 2012

Cerita Tentang Kaki Kanan

Kota yang sok sibuk ini menelanku bulat-bulat, yang setiap dini hari berseliweran mobil-mobil patroli yang mencari orang-orang mabuk dan orang-orang tidak punya surat-surat. Hari itu aku tak lagi menemukan jiwa tenang dan wajah-wajah damai. Semua orang mengumpat, berteriak, menjerit, dan memaki di depan mukaku. Aku ingin menutup telingaku rapat-rapat. 

Aku menekan gas dalam-dalam, sudah capek dengan makian dan erangan orang-orang. Suasana yang bikin aku frustasi, aku nyetir sendirian, memandang lampu-lampu jalanan dengan mata nanar. Embun sudah turun, tapi di kota itu embun tidak membuat sejuk, ia membuatku ketakutan. Mataku yang semakin cekung, dan wajahku yang semakin pucat. Gas kutekan dalam-dalam meski kaki kananku dipenuhi urat-urat yang mengusut, sakit sekali rasanya. Aku paksa kakiku bekerja dengan baik mengendalikan mobil yang membawaku pulang.

Aspal basah terlindas mobil-mobil yang lewat di depanku. Ku buka jendela lebar-lebar. Dan ku raba dadaku, ada jantung yang berdetak keras sekali. Aku ketakutan sendiri, aku sendirian saja. Aku tak ada teman, aku meraba kakiku saat mobil berhenti menunggu lampu merah. Astaga! Ia tak bisa digunakan lagi... mati aku! Lampu jalan menunjukkan hijau, kaki kananku tak juga mau gerak. Mati aku! Untungnya suasana masih sepi sekali. Aku terduduk dan keringat dingin mulai membulir, satu persatu jatuh dari keningku. 

Aku cari akal, ku setel radio kuat-kuat dan kupukul kakiku keras-keras, dan akhirnya... sampai aku kesakitan sendiri. Dan dari rasa sakit itu kakiku mau bekerja lagi. Aku jadi bersumpah serapah, hari itu aku kena imbas amarah orang-orang yang kini gantian aku marah-marah pada diriku sendiri. ANjiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!! teriakku sampai ke jalanan. beberapa pedagang sayur yang kebetulan lewat membawa gerobak menatapku.

Entahlah hari itu aku ingin sekali ketenangan. Rasa nyaman dan damai. Yang lama sekali tidak kutemukan. Tiba-tiba aku rindu dengan hewan-hewan. Rindu dengan si hitam dan si putih. Mereka ternyata sudah menunggu di depan pintu. Aku terpincang-pincang menapaki halaman rumah. Kubanting pintu mobil sebelumnya. Mereka menyambutku. Dan astaga! ada mahluk yang lebih mungil berbunyi dari pintu belakang. Mahluk lucu dengan bentuk serba segitiga. Kucing mungil berbulu hitam-putih, kusambut dia dengan kasih sayang, kubelai kepalanya, oh lucunya bibir segitiga, telinga segitiga dan wajahnya yang segitiga. Lembut hangat aku dipeluknya. Alam memang memberi kedamaian. 

Masih terpincang-pincang kutapaki bebatuan menuju kamarku, kucing-kucing mengikutiku dari belakang seperti biasanya. Sampai kamar kulihat biolaku bergantung di dinding. Kuraih biola itu, dan segera kumainkan. Suaranya menyapu jiwaku yang redup. Cahayanya hampir mati. Sama dengan matinya nyala jiwaku. Matinya nyala semangatku. Kakiku yang malang, sakitnya tak mau hilang juga. Kumainkan terus biolaku sampai melengking-lengking. Kugesek kuat-kuat talinya, sampai terdengar menjerit suaranya. Tak sadar aku menangis. Tak sadar pula matahari telah mengintip. 

Aku berhenti. Kuhentikan permainan biola. Kucing-kucingku tertidur lelap. Aku hendak berdiri menggantungkan biolaku lagi. Tapi ya Tuhan! aku terjatuh... bersama biola di tanganku. Kepalaku membentur lantai... dan aku tak sadar lagi.


Untuk Mendiang Marianne Katoppo yang ketika hidup selalu menjadi orang yang sendiri.

Jakarta, 8 Maret 2009

Celana Dalam

MANUSIA yang kulihat dari sudut kota ini seperti remah-remah yang ingin kukunyah. Mata mereka aneh. Memelototi aku terus-menerus. Kuludahi mata mereka satu per satu. Aku mengerang. Mata-mata itu semakin melotot padaku. Aku meludah lagi. Kali ini ke tanah.

Begitulah setiap hari. Kerjaku meludahi orang-orang melotot. Aku memang tidak suka mata melotot. Kenapa memangnya? Kenapa memangnya kalau aku begini? Lalu aku melempar celana dalamku ke wajah mereka. Celana dalam terbuat dari besi berikut gemboknya. Aku lemparkan ke mereka, juga beha-beha ukuran kecil dan besar yang kupakai berlapis, berkawat-kawat untuk menopang daging. Seperti melempar jala-jala yang menjaring ikan besar. "Ambillah! Buatlah monumen celana dalam tolol itu di tengah kota!" Aku pergi meninggalkan mereka dengan tubuh menggigil. Aku telanjang.

***

Aku melangkah hati-hati. Jari-jari kakiku mulai koyak. Kulit di punggungku terkelupas dan ditumbuhi jamur-jamur mini, seperti pulau-pulau yang dihidupi hutan-hutan kelam. Gatal. Itulah hal terunik di tubuhku, juga payudaraku. Payudaraku rata. Lalu orang-orang membenci payudaraku. Aneh. Setiap hal yang aku suka, mereka malah membencinya. Padahal waktu kecil aku senang menekannya dengan bantal. Kupikir biar tidak tumbuh terus. Tapi ternyata tetap tumbuh, sakit pula ketika putingnya membesar. Apa enaknya. Lalu aku takut bila tumbuh terus, takut akan pecah terburai. Tapi ternyata tidak. Ia tumbuh segitu saja, kecil. Syukurlah. Aku bisa berlari cepat, tak ada daging bergelantungan di dadaku.

Tapi akhir-akhir ini aku putus asa, hidup dengan orang-orang itu. Mereka seperti remah-remah yang ingin kukunyah. Lalu aku memilih untuk pergi. Tak hanya meninggalkan mereka, tetapi juga pamanku yang sudah mati. Bahkan sebelum kutinggalkan, orang-orang itu membuat larangan-larangan aneh. Aku bahkan tak boleh punya bisul di pantatku. Entah bisulnya atau pantatnya yang mereka benci. Juga tak boleh berjalan maju-mundur. Entah gerakannya atau maju-mundurnya yang mereka benci. Jalanku memang begitu, memajukan dan memundurkan pantat supaya tidak sakit. Habis bagaimana, bisulku terus membesar. Sudah lama pantatku terbebas dari celana dalam besi itu. Ternyata memang bisul-bisul besar sudah lama tumbuh di sana, juga jamur-jamur berwarna kuning.

Pernah suatu hari aku biarkan bisul di pantatku terlihat semua orang. Kulubangi celanaku hingga hampir separuh pantatku kelihatan. Lega rasanya, karena tidak tergesek bahan pakaian. Kalau tidak begitu sakitnya luar biasa. Habis bagaimana, aku harus belanja kebutuhan makan dalam keadaan begitu. Tapi orang-orang meludahiku. Mereka bilang itu pelanggaran. Tapi bagaimana, aku suka begitu karena sakitnya hilang. Aku kesal karena mereka tidak pernah mau mengerti. Aku biarkan bisul besarku memandangi mereka satu per satu. Mereka tampak semakin marah.

Begitulah selama seminggu ternyata bisul di pantatku tak juga sembuh, dan di hari-hari itu pula orang-orang melemparku dengan bebatuan dan tanah. "Perempuan binal! Perempuan binal!" teriak mereka.

Aku sudah biasa mendengar teriakan itu. Untung saja batu-batu itu tidak mengenai aku. Aku memang pelari cepat. Selain payudaraku rata, aku bisa berlari cepat karena sejak kecil sering diusir orang. Banyak hal yang aku langgar, biasanya hal-hal yang aku inginkan tetapi tak mereka inginkan.

Pernah aku memukuli lelaki dewasa yang memaksa memasukkan kelaminnya ke kelaminku. Lalu aku cerita ke paman apa adanya. Pamanku marah besar. Begitu pula orang-orang banyak memarahi aku. Sejak itu aku tidak boleh keluar rumah, tak boleh pula bermain di halaman. Tapi aku tidak mau, aku tetap ingin bermain di luar, dan lagi-lagi lelaki dewasa yang tak kukenal coba-coba memainkan kelaminku ketika aku sedang bermain tanah basah di seberang jalan. Aku menangis keras dan berlarian pulang ke rumah, mengadu pada paman. Pamanku malah bertambah marah, dan segera membuatkanku celana dalam terbuat dari besi berikut gemboknya. "Biar kamu tidak binal!" katanya.

Pamanku seorang pandai besi setelah sebelumnya ia bertani dan membajak tanah dengan kudanya di pekarangan belakang yang luas. Kini ia membuatkanku celana dalam besi supaya aku tidak binal dan supaya aku tidak meninggalkan cap merah di mana-mana. Paman bilang itu namanya menstruasi. Dan menstruasi adalah hal yang paling menjijikkan baginya. Aku disuruh menghentikannya. Tetapi darah terus mengucur dari kelaminku sedikit demi sedikit selama tujuh hari. Aku bingung melihatnya. Aku takut paman marah, apalagi bila darah itu membekas di sofa dan kursi-kursi paman, juga kain dipan tempat alas tidurku. Aku tak punya orang dekat yang mengenalkan proses kerja tubuhku. Aku pun tidak pernah merasakan sekolah dan jarang bermain dengan teman-teman sebaya. Paman, tempatku menyandarkan hidup selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan bermain kartu serta minum-minuman keras setiap malam bersama teman-temannya. Aku sering mengintip mereka dari balik dinding kamar.

Tapi tulang pinggulku sakit rasanya karena harus menopang celana besi itu. Aku takut. Aku meringis kesakitan dan tawa paman keras sekali bila memenangi permainan. Giginya tampak kuning dan besar-besar. Aku merasakan bau mulutnya yang busuk. Aku takut melihatnya. Dan aku tak berani mengadu kalau aku sakit. Aku takut paman akan membuatkan celana dalam yang lebih menyiksa lagi.

Sejak itu aku merasa ada yang salah dengan tubuhku. Terutama kelaminku. Terutama pahaku. Juga lenganku. Punggungku, ketiakku, betisku, pantatku, payudaraku. Banyak sekali orang yang tidak suka tubuhku. Mereka membalut semua tubuhnya dengan kain. Seperti mayat yang akan dikubur. Dan wanita-wanitanya berjalan lambat. Konon mereka dibuatkan pakaian besi di dalamnya. Untuk melindungi tubuh-tubuh mereka. Supaya tidak tampak. Dan kain-kain lebar yang menyelubunginya. Supaya tak teraih. Dan para lelaki yang sering kali melotot bila anak-anak perempuan bermain-main mengibaskan kainnya. Tampak betis-betis mereka berlari-lari kecil. Dan setelah itu para orang tua membuatkan mereka pakaian besi.

Menjadi anak perempuan di sini memang selalu resah. Mereka yang keluar malam sering tak ada yang kembali ke rumah. Mereka hilang begitu saja, aku mengatakan malam telah menelannya. Padahal aku menyukai malam dan ingin sekali aku menyatu dalam kegelapannya.

Namun, aku langsung berhenti menyalahkan malam. Ternyata orang-oranglah yang memusuhi malam. Dan membenci tubuh-tubuh perempuan. Pada akhirnya sering aku disekap karena ketahuan jalan-jalan sendirian di malam hari. "Dasar binal!" teriak mereka bergegas menghampiri sambil menjambak rambutku. Mereka menarik-narik lenganku dan menggiringku seperti kerbau. "Aku bukan kerbau!" kataku gusar. "Kamu memang bukan kerbau! Kau perempuan binal!" Aku merintih dan hatiku penuh dengan risau. Apa yang salah denganku. Apa yang salah dengan malam. Berulang-ulang kejadian itu berlangsung. Aku tak pernah jera. Aku ingin tahu apa yang terjadi di kepala mereka. Namun pada akhirnya aku diam. Sering hanya menatap pagi di balik jeruji. Sejak itu pagi menjadi hari yang menjemukan. Dan malam yang menyimpan luka. Dan tubuh yang hangus. Lalu bertanya pada Tuhan, "Lantas mengapa Kau ciptakan ini semua?"

Hari demi hari aku semakin dewasa dan ternyata sudah lama aku menimbun luka. Luka yang kemudian tumbuh dendam. Aku dendam pada mereka yang tak pernah bisa memakai otaknya. Aku tahu apa itu otak manusia. Bahwa aku mengenal hidup yang tak hanya berlangsung dengan tubuh, tetapi juga pikiran. Mataku menyorot nyala setiap kali melihat mereka. Lalu mereka bilang aku gila.

***

Sehari saja aku lalu dibebaskan dari bui. Meninggalkan jeruji-jeruji tempatku menatap pagi. Paman tak menjemputku bahkan menengokku sebentar seperti biasanya. Ia seperti membiarkan aku merasakan akibatnya. Aku pulang dengan tubuh lelah dan wajah limbung. Tetapi aku tak menemukan paman di sana. Aku melihat rumahnya berantakan. "Paman!" teriakku dan menemukan ia terbujur kaku di atas sofanya. Aku menangis.

***

Satu jam aku menangis di atas tubuh paman. Lalu kubiarkan paman di situ. Aku bangkit dan melewati cerminnya. Kulihat wajahku di sana. Dan tubuhku. Aku tak mengerti, bahwa tubuhku semakin melekuk. Sejak darah-darah itu keluar dari kelaminku dan semua orang membenci malam, tubuhku melekuk seperti dahan pohon yang menari. Lekukan-lekukan ini yang menurut mereka tidak boleh terjadi. Atau tidak boleh tampak. Mereka akan menyebutnya binal. Dan aku tidak tahu apa itu binal. Bagiku kata itu hanya untuk binatang yang kusayangi waktu aku kecil dulu. Kuda paman yang sering kutunggangi. Paman dulu membiarkan aku menemani kudanya berhari-hari. Aku menyukai kuda karena larinya, dan tubuh liat berlekuknya, gagah sekali. Tak sedikit pun aku membenci binatang itu. Binatang binal yang kemudian mati. Aku sangat kehilangan. Paman telah menembaknya. "Kuda pincang. Tak ada gunanya lagi," katanya.

***

Kedewasaan menjadi sesuatu yang mengerikan bagiku. Paman mati. Orang-orang bilang ia mengalami serangan jantung atau dibunuh temannya. Aku melihat darah kental mengering di keningnya dan busa mengalir dari mulutnya. Aku sudah lupa apa yang telah terjadi padanya. Sejak itu aku punya kebiasaan baru. Berulang-ulang kupandangi tubuhku di cermin. Aku telanjang. Tampaklah celana dalam besi itu. Sisi-sisinya berkarat. Aku jadi ingat dulu paman mengingatkanku untuk tidak sekali-kali membukanya. Ada lubang sedikit untuk saluran kencing di bawahnya. Dan saluran tahi di belakangnya. "Jangan sekali-kali kau buka!" katanya bernada mengancam. "Kamu akan tahu akibatnya! Akibat yang menjijikkan seumur hidupmu." Tapi apa? Mengapa hanya aku? Pamanku tak perlu besi-besi di tubuhnya. Aku sering melihat paman telanjang kalau sedang memukuli bara-bara besi di bengkelnya. Kadang aku kagum dengan tubuh paman yang kokoh. Tampak garis tengah dadanya berlekuk. Tempat bulir-bulir keringat mengalir dan jatuh di perutnya yang petak-petak. Ia sering menyekanya dengan baju yang menggantung di pundaknya.

Tapi sebenarnya aku juga membenci paman, sama dengan membenci orang-orang itu. Tapi tak ada orang lain selain paman. Bagiku paman sama seperti orang-orang lainnya. Membenci tubuhku. Apalagi ketika aku dewasa. Suatu hari ia memaksa membuka gembok celana dalamku. Aku malu. Aku merasa hina. Aku melawan dan meludahi matanya berkali-kali. Wajahnya meringis, dan matanya mengerjap, tampak air matanya beruraian. Ludahku memang pedas, karena sering mengunyah cabai dan bawang karena tak ada makanan lain yang dapat kukunyah.

Dengan sepenuh tenaga kulepaskan sendiri celana besi itu, yang sebagian melekat di kulit kelaminku. Aku merasakan gatal luar biasa tetapi situasi membuatku ingin membenturkan celana besi itu ke kepala pamanku. Tampaklah darah mengucur. Waktu itu malam hari, dan aku berlarian ke jalan dengan setengah telanjang. Lariku tak secepat waktu kecil dulu, aku tertatih-tatih menahan sakit tulang pinggulku yang terasa lebam. Dan jemari kaki yang koyak. Aku tak kuasa menahan sakit, dan datanglah kerumunan lelaki yang memelototi aku, sebagian lagi berdatangan menatap sinis padaku. Itulah malam terakhirku meninggalkan paman dan untuk kesekian kalinya aku digiring orang-orang keparat itu karena ketahuan di tempat umum di malam hari.

***

Dan aku pergi. Dengan membawa lelah aku berjalan berkilometer-kilometer mencapai satu kota ke kota lainnya. Dengan perut lapar aku bergumam, semua kota ternyata sama: memelototi aku. Aku muntah. Muntahannya kulemparkan pula pada mereka. Muak rasanya.

Sampai pada sebuah tempat lapang. Jauh menuju pantai. Seperti di ujung sebuah pulau. Aku tak melihat orang di sana. Aku melihat rimbunan pohon dari jauh. Aku melanjutkan langkah, masuk rimbunan itu. Ternyata hutan. Dan hanya hewan-hewan. Ada yang menghampiri, ada yang berlari. Dan sinar matahari yang meredup, tak bisa menembus ke tanah. Tanah yang lembap dan serangga berbagai bentuk. Kera-kera bergelantungan memanggilku. Aku merasakan sejuk. Aku menghirup segar. Aku tak mendengar kata benci. Burung berwarna-warni bertengger di pundakku. Di bawah rindang, tampak tumpukan dedaun yang empuk dan serabut akar di sekelilingnya. Aku berbaring. Menatap langit yang sembunyi di balik dedaunan tinggi. Seekor kucing hutan menghampiri, menjilat keningku lembut sekali. Lalu tupai-tupai sibuk menyelimuti tubuh telanjangku dengan daun-daun kering. Aku tertidur.

Percetakan Negara, 5 Maret 2006

Angsa

DEMI kelelawar dan keledai. Demikian setiap hari perempuan itu berkata. I'm going deeper underground. Ia berkata lagi. Tawanya terdengar usang, tanpa ritmik yang jelas. Tawanya seperti angsa, sendirian di tengah danau. Ia tak peduli burung-burung berteriak di pepohonan. Perempuan itu tertawa lagi. Tawa angsa di tengah danau, burung-burung lelah, mereka lalu terbang menuju kelabu. "Ya, dunia memang hitam dan akan selalu hitam dengan rasa yang kumainkan," katanya. Ia mendayung perahunya ke tengah danau agar seperti angsa. Angin datang dan pepohonan menari, melambai-lambai pada perempuan itu. Perempuan itu tak peduli. "Sampai kini alam tak bereaksi apa-apa. Seperti sedang merangkai hukuman demi hukuman."Ia mendayung lagi, kini lebih bertenaga. Angin bergerak kencang, membuat ombak-ombak kecil di danau. Tapi perempuan itu tak peduli. "Aku tenggelam saja!" katanya membuyar.

Demi kelelawar dan keledai. Ia selalu mengucapkan itu. Ia sedang tidak bersumpah serapah. Dua binatang itu sudah lama menjadi sahabatnya. Ia membenci burung-burung, baginya binatang itu terlalu indah. Ia menyukai kelelawar yang mengepak cepat. Terutama karena makhluk supersonik, punya segala yang tajam. Perempuan itu juga memiliki segala yang tajam. Perasaan dan batinnya. Begitu mudah ia bersedih bahkan tanpa sesuatu hal. Air matanya meleleh tanpa sebab. Ia jilati setiap saat. Ia merasa gelap dan hitam. Ia memang menyukai hitam. Dan keledai yang ia tunggangi setiap malam. Binatang yang dianggap bodoh dan lambat itu justru membuatnya nyaman. Setiap malam perempuan itu tertidur di atas punggungnya. Kemudian pagi datang mengembalikannya pada kehidupan angsa.

Begitulah setiap hari ia mendayung perahunya ke tengah danau dan burung-burung menyorakinya. Senja kemudian mendatangkan kelelawar. Sayap tipis mereka membayang matahari terbenam. Langit jingga seperti diwarnai tubuh-tubuh mereka. Perempuan itu menunjukkan senyumnya. Kelelawar-kelelawar berkeliling di atas kepalanya.

Sudah lama perempuan itu mengasing. Ia menyukai kata pergi. Dunia tak lagi seindah dulu. Ia tak percaya lagi segala wewejang dunia. Ia lelah sebab dunia membuat hidupnya meraba. A dan B tak lagi jelas baginya, ia hanya menggunakan sisi perasaannya: memainkan rasa untuk melawan alam. Ia tahu alam tak mempercayainya lagi sejak kata cinta tak menjelaskan apa pun. Sejak ia mencintai lelaki itu, ia pergi. Lelaki yang mengerti dunia tetapi melawan dirinya sendiri. Tuan Ingkar, demikian ia memanggil lelaki itu. Lelaki yang mengingkari perasaannya sendiri dan tak pernah percaya pada hati. Dunia telah membentuknya pada satu alam: alam rasio yang menganggap cinta hanyalah mitos yang dibuat manusia dengan tekstur renta dan warna yang tawar. Perempuan itu marah. Ia tahu betapa lelaki itu mencintainya. Ia pun mencintai lelaki itu seperti mencintai dirinya sendiri. "Maaf, tetapi aku tidak bisa mencintaimu...," kata lelaki itu padanya dengan tatapan cinta. Demikian akhir pertemuan mereka dan perempuan itu marah. "Betapa paradoks, kamu mengingkari cinta tetapi dari matamu panah-panah cinta berpentalan melukai dadaku," katanya dengan mata menyala.

Perempuan itu berlari. Hatinya patah. Perasaannya tajam seperti mata kelelawar dan merasa bodoh terbakar perasaan seperti keledai yang kelelahan membawa beban. Ia mencari dunia yang tak pernah ia kenal. Perempuan yang lahir di perkotaan dan sangat sedikit berkenalan dengan alam. Perempuan yang sejak itu pergi mencari dunia yang tak pernah ia kenal. Dunia angsa dan di sana hidupnya hanya berenang dari pagi hingga siang hari, dan bermain bersama kelelawar dan keledai di malam hari. Ia memunguti bebatuan di pinggir danau. Batu-batu berwarna merah dan biru dan kelelawar menatanya menjadi ruang. Ruang yang menjadi tempat bermain mereka dan keledai dengan setia mendampingi sambil memakan rerumputan. Perempuan itu mengisi permainannya hanya menatap batu dan kelelawar menari-nari di atasnya.

Sejak itu burung-burung menamainya angsa. Pepohonan menamainya angsa yang anggun. Binatang anggun yang dalam berenangnya membawa wajah sendu. Perempuan itu memang berwajah sendu dan matanya berkelebat rindu. Ia masih dibayangi mata cinta lelaki itu, dan merasa alam telah menghukumnya. I'm going deeper underground. Ia berbisik dalam bahasa asing. Ia ingin menyatu dalam tanah yang paling dalam. Dalam dunia kelam yang tak perlu ruang. Ia menginginkan mati. Mati di mana ia menemukan segala yang berbeda. Dan mungkin cinta yang berbeda. Ketika menjadi angsa ia ingin tenggelam. Ketika menjadi kelelawar ia ingin bermain senja dan takkan kembali pada fajar. Ketika menjadi keledai ia ingin menjadi bodoh dan melupakan semua perasaan. Perempuan itu lunglai dan hatinya dihabisi tanya. "Menjadi angsa, berenang, lalu tenggelam." Tetapi tak ada angsa tenggelam kecuali bila menjadi bangkai. "Aku ingin menjadi bangkai supaya bisa tenggelam." Tetapi buaya, binatang buas di danau itu tak pernah mau memangsanya. Angsa itu terlalu sendu untuk dimangsa. Terlalu sedih untuk ditelan. Buaya sama seperti burung, ia terjaga menyaksikan perempuan itu. Mereka memandang saja dari jauh, mengamati gerak-geriknya. Mereka takkan melukainya, apalagi memangsanya.

Perempuan itu telah kehilangan semangat hidupnya. Ia tidak seperti itu sebelumnya. Perempuan yang gerak tubuhnya lentur dan menari setiap kali tersentuh musik. Setiap jenis musik ia akan bergerak lain. Ia membuat berbagai macam gerak supaya tidak bosan. Bila musik berhenti tubuhnya pun berhenti. Sebelumnya perempuan itu berwajah riang, ia menebar tawa pada semua orang, semua lelaki. Seperti ratu lebah ia dikagumi banyak lelaki karena perasaannya yang terbuka. Ia menerima siapa saja dan baginya siapa pun adalah menyenangkan. Siapa pun baginya adalah manusia yang membutuhkan rasa nyaman, dan kebahagiaan yang tak mudah dilupakan. Tetapi sesungguhnya waktu itu ia belum mengenal cinta. Sampai suatu hari ia bertemu lelaki yang setia dalam diamnya. Dalam suka ria di mana setiap orang menari dan bercerita, tertawa bahagia, lelaki itu setia dalam diamnya. Ia hanya bicara dengan matanya. Perempuan itu juga bicara dengan matanya. Lalu ke hati, hati mereka menjadi irama panjang, dansa dalam sunyi. Suara-suara tak terdengar, perempuan itu hanya melihat sepasang mata lembut lelaki yang sedang bicara. "Aku mencintaimu," mata lelaki itu berkata. "Aku pun begitu," perempuan itu berkata. Mereka tak berdekap, tak saling mendekat, tak bicara sepatah kata. Sejak itu mereka berdua mengenal cinta, entah siapa yang memberitahunya. Dan mata lelaki itu terus bicara meski tak ada di hadapannya. Mata lelaki itu datang dalam mimpinya yang akan segera berakhir dan terbangun tanpa siapa pun di sampingnya. Sepasang mata Tuan Ingkar yang tak percaya perasaannya sendiri. Lelaki yang punya kekuatan hati dan mengenal dunia tetapi tak mau mengakui perasaannya sendiri.

Suatu hari perempuan itu ingin menari, tetapi musik telah mati. Dunia pun berhenti. Tak ada alasan baginya untuk menari. Begitulah perasaannya kini. Ia memilih menjadi angsa yang setiap pagi hingga siang berenang ke tengah danau. Setiap hari perempuan itu berimaji menjadi angsa dengan sampan kecil dan dayung seadanya. Perempuan berwajah sendu dan bernama Angsa itu sudah lama menjadi tontonan binatang-binatang dan pepohonan danau yang setiap malam mereka dapati tubuhnya yang kaku menatap batu.

Sampai suatu hari perempuan itu benar-benar menjadi angsa. Ia mengepakkan sayap anggunnya ke tengah danau dan mendarat di atas air. Ikan-ikan berwarna-warni yang bergumul di tengah danau berlarian karenanya. Angsa itu mengatup sayapnya, lehernya jenjang dan kepalanya merunduk. Binatang bersahaja itu memejamkan matanya seperti sedang berdoa dan menyapa Tuhan. "Aku tenggelam saja," demikian doanya. Tubuh angsa itu mengapung berayun-ayun memecah lembutnya air danau berwarna hijau.

Tiba-tiba air danau bergelombang. Seperti digerakkan dari pinggir danau. Arusnya membesar hingga ke tengah. Angsa itu tak peduli. Ia terus saja dalam ayunan gelombang memejam sambil berdoa, "Aku tenggelam saja." Buaya-buaya ternyata menceburkan diri ke dalam danau dan mereka menuju ke tengah, tempat angsa itu membiarkan tubuhnya sendirian. Mata buaya-buaya itu lain. Mereka seperti menatap mangsa yang sudah lama mereka buru. Angsa tetap tak peduli, ia tahu tetapi ia tak peduli. Ia hanya mau berdoa dan kini dalam tawanya yang usang ia bergumam, "Sudah saatnya aku tenggelam." Buaya-buaya dengan mudah mendekatinya dari segala sisi, hidung mereka mendengus. Air-air bercipratan dari hidung mereka. Angsa tetap diam dengan anggun, ia sudah menjadi bangkai sebelumnya, menutup segala perasaannya. Tak hanya pada lelaki itu, tetapi juga pada dunia yang membuat cinta tak menjelaskan apapun.

Jakarta, 23 Maret 2005

Kami Ingat, Markiyem..

Mereka menebangnya. Daun-daun itu kini berongga. Matahari melaluinya. Menusuk mataku. Aku tak beranjak. Timpalah semua cahayamu ke mataku. Agar aku tak melihat siapapun...

Matahari pagi menjelang siang memang ganas. Markiyem memasang kaca mata hitamnya. Setelah koran pagi itu diletakkan di meja teras. Mulutnya menggeram. Perempuan lanjut usia itu mengambil sebatang rokok yang terselip di kainnya. Ia meraih pemantik, api membakar ujung batangnya. Markiyem mendorong asap dengan mulutnya, jauh. Menimpa wajah cucunya, Rara, yang sedang membawakan teh tubruk panas. Aduh Mbah, jangan merokok terus, katanya sambil meletakkan teh. Ayo diminum Mbah. Sepertinya sedang muram pagi ini.

Lihat ini Ra, baca koran halaman depan. Rara meraih koran dari meja. Ia membacanya. “Aksi Mantan Pelacur”. Aduh Mbah. Sudahlah jangan dipikirkan. Markiyem menjentik rokoknya, abu yang panjang jatuh tepat di atas asbak. Ia kembali menghisapnya dalam-dalam sampai ke pangkal. Asap dikebulkan lagi. “Kamu lihat kan? Bahkan sudah tua begini, julukan itu masih saja muncul.” Rara menghela nafas. “mereka tidak mengerti Mbah.” “Mereka harus mengerti, kalau masih mau dianggap manusia!” Suara Markiyem berat dan lantang. Rara duduk di sampingnya dengan muka masam. Ia tahu betul masa lalu neneknya.

***
Markiyem. Lahir tahun 1929. Waktu kecil ia suka bermain sandiwara. Suatu hari negeri ini di datangi Japun. Mereka datang sampai ke desa. Semua gembira, “kita tertolong, kita tertolong,” begitu teriakan orang sekampung. Orang-orang sudah jenuh miskin. Japun datang dengan senyum. Japun membawa kabar gembira. Markiyem, gadis kecil yang sebentar lagi dewasa itu ditanya dengan manis, “Adik hobinya apa?” Markiyem jawab, “Aku suka sekali bermain sandiwara.” Japun mengelus kepalanya, “Adik bisa ikut saya, belajar jadi aktor di sana.” Markiyem terbakar gembira. Ia dibawa mereka. Ayah ibu menciumnya dengan cinta. Melambaikan sayang dari jauh. Markiyem menitikkan air mata, berharap kembali dengan sukses. 
Ternyata Markiyem dibawa ke seberang pulau. Selanjutnya sebuah tempat yang lebih mirip barak. Japun bilang itu asrama sekolah. Katanya ia bersama gadis-gadis lain akan dilatih di situ. Markiyem takut. Malam itu seorang lelaki Japun memaksanya, menindihnya, lalu ia melawan sekuat tenaga. Tapi badannya diangkat naik ke ujung dipan, dan dibanting serta terdorong ke dinding. Belum selesai, datang dua, tiga dan seterusnya bahkan semakin hari semakin banyak lelaki Japun menghabisinya. 

Markiyem bangun dan pergi ke kamar mandi, darah mengucur dari kelamin. Markiyem teriak sekeras-kerasnya. Penjaga datang. Markiyem ditahan dan kepalanya malah dibenturkan ke dinding. 

Setiap hari selanjutnya Markiyem harus melayani sepuluh lebih orang Japun sekaligus. Akhirnya ia hamil, tapi mereka memaksanya menggugurkannya. Perutnya diurut paksa. Selanjutnya terus begitu. Dan dalam paksaan itu Markiyem dipukuli dan ditendangi sepatu lars kalau mereka tak puas.

***
Rara masih diam. “Kamu bukan cucuku,” tiba-tiba Markiyem bilang. Tidak ada ibumu. Juga bapakmu. Tidak juga ada yang bisa keluar dari rahim saya. Semuanya rusak. Rusak oleh peristiwa itu. Tapi tak ada yang patut disedihkan. Sudah terlalu dalam bekasnya. Sekedar kamu tahu, saya capek dicemooh. Markiyem membuang ludah. Saya ingin semua orang terutama generasi muda seperti kamu tahu seluruhnya, tidak sepotong-sepotong. Agar semua tahu apa itu perbudakan seks. Apa itu pelacur. Kenapa tubuh remaja perempuan sepertimu jadi sasaran, dengan tipuan mendapatkan pekerjaan. Itu sudah ada sejak dulu. Sekarangpun masih ada. Kamu harus hati-hati. Bangsa penjajah, mental penjajah,” katanya dengan nada yang serak. Dengar, ternyata sampai hari inipun, mereka tak mengakuinya. Cuih! Markiyem meludah. Ia meludahi matahari.

Tenang Mbah. Bukan begini caranya, nanti Mbah sakit, ujar Rara. Markiyem terbatuk-batuk. Ia menyeruput tehnya. Dan batuknya semakin hebat, dari mulutnya keluar bercak darah. Ia muntah. Rara menahan tubuhnya yang setelah itu terkulai. Markiyem tak sadarkan diri, ia dibawa ke rumah sakit.

***
Rara terdiam di pojok. Markiyem sudah tiada. Ia meninggal di rumah sakit. Rara merenung sendirian, lama ia tinggal dengan Markiyem. Ayah Ibunya sudah tiada. Markiyem dianggap neneknya sendiri. Rara masih terdiam. Pikirannya jauh sekali, jauh ke tahun 1945. Saat Markiyem terlepas dari siksaan itu. Setelah beberapa puluh tahun lamanya, seminggu yang lalu Pemimpin Japun menyatakan tidak pernah ada perbudakan seks waktu itu. Pantas Markiyem ngamuk. Ia terpeleset di kamar mandi berkali-kali, pikirannya kacau. Merokoknya semakin kuat, Rara dibuat kewalahan. Tiga hari yang lalu Markiyem bersikeras ikut aksi ke Kantor Perwakilan Japun, memprotes pernyataan Pemimpin Japun. Usianya sudah tua sekali, tetapi dengan kain yang melilit tubuh dan kakinya, serta kebaya lusuh yang dikenakannya, Markiyem masih bisa bangkit berdiri dan naik di atas podium, orasi. Kata-katanya sudah tidak jelas. Tapi matanya berapi-api. Rara hanya bisa menjaganya dari jauh. Dari ujung jalan, Markiyem kelihatan tegap dan lantang di atas sana. Beberapa perempuan lanjut usia juga ikut, meskipun tubuhnya sudah bungkuk. Berjalan perlahan dengan kerudungnya yang menjuntai. Dipayungi oleh orang-orang muda karena siang itu panas sekali. Aksi itu ternyata tidak hanya di negeri ini. Dimana-mana, tempat Japun dulu datang dan menjajah. Manusia-manusia yang sudah diujung hidupnya, masih semangat mencari keadilan.
***
Pagi sebelum kepergiannya Markiyem berteriak memanggil-manggil Rara. Ia begitu marah membaca halaman depan surat kabar pagi, yang bertuliskan “Aksi Mantan Pelacur”, Markiyem tampak terbatuk-batuk, dan membiarkan matahari siang memandikan tubuhnya. Sebelumnya ia meminta para tukang menebangi beberapa batang pohon rindang di halaman rumahnya supaya matahari bisa masuk. 

Markiyem memang tak seperti biasanya pagi itu, ia duduk tak mau beranjak, dan matanya menatap matahari. Ia menantang cahaya. Meski kemudian kacamata hitam itu dipakainya. Rara hanya bisa murung, tak menyangka hari itu adalah hari terakhir kepergiannya. Rara memunguti surat kabar yang menjadi amarah Markiyem. Tampak beberapa bercak darah yang terpental dari batuk Markiyem pagi tadi. Rara menangis. Ia mengelus surat kabar itu, tepat di foto nenek angkatnya, Markiyem. Foto besar pagi itu di halaman depan. Markiyem orasi, dengan kain kebaya dan sanggulnya yang sederhana. Dan matanya yang berapi-api. Dan mulutnya yang menganga, dan tangannya yang menunjuk ke langit. 

Ah, Markiyem. Rara menghapus air matanya. Ia menggunting foto surat kabar itu. Tentu dengan membuang kalimat “Aksi Mantan Pelacur”. Mengerikan! Rara merobek-robek kata itu dan membuangnya ke tong sampah. Tong sampah itu diliriknya lagi. Ia mengambil kembali sobekan itu, ia bawa ke tengah hamparan daun kering, lalu diambilnya pemantik, api membakar sobekan itu sampai menggunung. Asap mengepul. Ia melempar minyak tanah ke tengah. Api menjulang sampai ke ujung tiang. Rara menatap ujung api dan asap, jauh ke atas langit, seperti menatap Tuhan. Ia melambaikan tangan, “kami akan ingat itu, Markiyem.”

Rara berjalan mencapai teras rumah. Ia menemukan selembar kertas kusam, beberapa lembar. Ada tulisan latin di situ. Ia membacanya.

Mereka menebangnya. Daun-daun itu kini berongga. Matahari melaluinya. Menusuk mataku. Aku tak beranjak. Timpalah semua cahayamu ke mataku. Agar aku tak melihat siapapun... Semua orang sudah buta. Jaman perang siapa yang paling sengsara? Laki-laki pada angkat senjata. Perempuan yang diperkosa. Dipaksa melayani dulu, dirusak tubuhnya, rahimnya, payudaranya. Mati perlahan-lahan. Lalu orang-orang memanggilnya pelacur. Aku sudah biasa mendengarnya. Aku tertawa saja. Mereka tidak peduli dengan hinaan. Mereka bukan perempuan. Mereka lebih peduli pada laki-laki yang angkat senjata, dan memberinya gelar pahlawan. Siapakah aku? Markiyem. Mantan pelacur Japun. Menjijikan. Ayo matahari! Hanya cahayamu yang kutunggu. Aku mau pergi.


Percetakan Negara, April 2007

Laki-Laki dan Kampret

Berhari-hari aku harus menimba air sumur untuk mandi temanku. Aku tak punya keluarga, teman dan sanak saudara, kecuali kawanku itu. Menumpang di rumahnya seperti mendengar banyak cerita. Ia sudah bersuami. Suaminya seekor kampret busuk yang busuk juga bau mulut dan ketiaknya. Aku memilih menimba air sumur daripada harus berdekatan dengan suaminya. Tak kuat aku mencium baunya. Suatu hari ia bercerita, suaminya, laki-laki kampret itu setiap malam minta jatah. Kawanku suka mengeluh. ”Buat apa seks kalau aku tidak menikmatinya, aku terbentang di atas tempat tidur lembab yang penuh kutu busuk, menjemurnya pun ia tak mau! Aku persis seperti kasur busuknya itu. Kampret!” katanya sambil meludah, hampir saja mengenai kakiku. Dan ia cerita bila selesai bermain seks si kampret selalu tertidur lelap dan membalikkan badannya, memunggungi dia. ”Dipegangpun ia tak mau, dilemparkannya tanganku. Padahal ia yang busuk!” katanya lagi. Bahkan ketika matahari muncul dari balik bumi, si kampret terus-terusan mendengkur. Di sela-sela dengkurannya, ia sering berteriak lapar. Suaranya memecah sel-sel hidup yang ada di sekelilingnya, termasuk gendang telinganya. 

Kawanku sudah lama dijadikan alat seks oleh si kampret busuk itu. IStri buat si kampret memang hanya bertugas untuk itu. Istri tak boleh minta, suami yang boleh, dan istri harus mau. Kalau tidak, bisa lebam wajahnya. Atau ditinggalkan. Atau dicaci maki. Atau melayang nyawanya. Seks bagi si kampret seperti memesan bakso ke pedagang kaki lima di pinggir jalan salemba. ”Dua mangkok bang! Sambalnya yang banyak!” Seperti itulah. Aku berpikir, mengapa hampir semua laki-laki berubah menjadi kampret busuk? Karena tak hanya kawanku saja yang bercerita begitu, kawan-kawanku dulu juga bercerita hal yang sama. Kebanyakan laki-laki kampret memuntahkan air susu mereka ke perut, dada, atau lumbung kawan-kawan perempuanku. ”Buat apa?” tanyaku terheran-heran sambil terus menimba air dan menyiramnya ke tubuhku sendiri untuk menghilangkan rasa jijik. ”Mungkin mereka diciptakan begitu ” kata mereka dengan lugunya. ”Mampus aku. Susu macam apa itu?” Aku tak habis pikir, kata itu yang banyak meresahkan para istri yang bersuami kampret. Aku meludah terus berkali-kali sampai-sampai kawanku itu menamparku. ”Sialan kau. Biar bagaimana dia juga suamiku.” katanya. ”Kampret lu!!” kataku. Aku membuang ember penimba air, melemparkannya ke dalam sumur. Terdengar suara tali dan kerek menderit-derit, melukai segala jiwaku. Aku pergi meninggalkan kawanku, kembali ke tempat tinggalku yang lama kutinggalkan. Tempat yang hanya sepetak saja. Bagusnya, tanpa kampret dan tanpa laki-laki. Tiba-tiba perutku berbunyi cembung.

”Bakso! Bakso!” kupanggil pedagang bakso dorong yang lewat. ”Setengah mangkok bang! Sambalnya jangan banyak-banyak!” kataku dari dalam sambil merogoh saku, barangkali masih ada sisa receh. Kujentikkan rokok sisa malam itu, dan kubakar ujungnya. Ketika tukang bakso itu datang membawa mangkok, sempat kulihat matanya. Astaga! Mata kampret! Kataku meludah lagi. Seluruh isi mangkok tumpah karenanya.



Jakarta, 14 Maret 2009


"Untuk sahabat-sahabat perempuanku tersayang di hari ultahku."

Angin


Malam ini saya ditemani angin. 
Yang membisikkan tentang masa lalu.
Tapi angin berbisik tentang debu.
Kota ini sudah bau, tak ada lagi masa lalu.
Kubilang, tolong bawa saya angin yang lain.

Angin bilang, debu yang menamparku adalah masa lalu.
Kubilang, mataku pedih dan aku tidak mau debu.
Angin berhenti sejenak, menatapku dalam.
"Inilah masa lalu yang kubawa kini." 
Tapi aku tidak mau debu! Kataku lebih keras.

Siapakah angin, siapakah debu?
Aku ingin kesegaran, bukan kepenatan.
Aku ingin kemerdekaan, bukan kata dendam.
Aku ingin angin perubahan, bukan kekalahan!
Aku ingin ketenangan, bukan keributan!

Angin berhenti.
Kenapa berhenti?
Angin: akulah temanmu
Aku: Teman untuk apa?
Angin: untuk membawa kabar.
Aku: Kabar apa?

"Tinggalkan masa lalumu. Juga bangsamu!"

Aku berlari kencang. Aku ingin lebih cepat dari angin. Tapi tubuhku hanya beban merusak kecepatan. Aku disusul angin yang teramat kencang. Ia mengangkatku ke angkasa. Tempat gelap tak ada manusia. Lalu menghempaskanku dengan sangat keras, kembali ke tempat semula. Tempat yang setiap jengkalnya ada manusia.

Aku menyerah.
Tinggalkan masa lalu. Juga bangsaku.

Percetakan Negara, 6 Februari 2011
Untuk Ibu Umi Sardjono

Cantik itu Mati Berdiri



“Sepertinya ada yang salah di mataku, sesuatu yang terselip…” kata Asfin sambil berjalan di mall besar Jakarta dan menenteng beberapa pakaian. Bulu matanya tiba-tiba menjadi lentik melengkung ke atas. Aku meledeknya, “Seperti artis bollywood,” lalu Asfin meronta-ronta karena ia paling tidak suka dibilang seperti orang India. Sementara Valen sibuk mengusap wajahnya yang berminyak dengan kertas penyerap minyak. Dan Resta dengan rambut pendeknya yang baru, diam saja sambil berjalan dengan kalung besar berbahan kayu melingkar di lehernya.

Hari ini adalah hari yang sangat tidak biasa. Siang itu Asfin harus meninggalkan rapat dan menebar janji-janji palsu pada teman-teman kerjanya bahwa ia diundang seminar bertema tentang Munir, yang sebenarnya ia menuju kantor sebuah majalah fashion terkemuka untuk segera di “make over”. Aku bisa melihat wajahnya yang sangat terpaksa, datang dengan tertatih-tatih dengan kemeja batik sederhana. Di balik kacamatanya yang tebal, ia mendelik dan memasang kuping ke arahku, mengamati perias yang sibuk melukis wajahku, dengan warna-warna pelangi, dan kuas-kuas serta bahan-bahan penutup noda-noda hitam bekas jerawat di wajahku. “Hai Asfin.. ,” sahutku sambil sedikit meledek. Asfin menyeringai dan mencibir ke arahku. Ia harus mau untuk segera di poles. Wajah polosnya yang khas itu akhirnya harus dibentangkan di depan cermin. Terlihat wajahnya yang mengantuk dan lelah. “Mau diapain aku ini, dalam hatinya.”

“Hati-hati mas!” sanggahku pada si perias karena kuasnya nyaris mencolok mataku. Lalu disobeknya sebuah kemasan berisi bulu mata. Aku berpikir, siapa yang menciptakan bulu mata palsu yang sudah siap lentik itu dan akan segera ditempel ke kelopak mataku. “Kurang lentik…” kata sang perias gusar… lalu diambilnya lagi dua bulu mata dan berlapis-lapis di tempelnya lagi ke kelopak mataku. Sekejap mataku berair, merasakan pedas benda dingin yang merekat, dan aku dilarang berkedip. Dan sebuah alat pengungkit menuju ke arahku, siap menarik bulu-bulu mata palsu itu supaya lebih mencuat ke atas. Aku bergumam kepedihan, dan si perias tertawa-tawa mendengar keluhanku. Kuas-kuas lain melukis-lukis mataku dengan warna bayangan dan warna yang memberi kesan cerah. Hari itu wajahku memang kuyu karena belum tidur, tetapi berkat warna-warna kamuflase itu, wajahku kelihatan cerah sekali.

Ponselku berdering berkali-kali. “Siapa pula ini…” dalam hatiku kesal, karena sulit meletakkan ponsel di telingaku, si perias sedang menarik-narik rambutku dengan sisir bundar besar dan pengering rambut supaya rambutku berbentuk gulungan. Kulihat ponselku ternyata Valent yang memanggil, terang saja ku angkat, karena ia sudah selesai dirias sejak tadi. Terdengar suara Valent yang cerewet di ujung telpon, “Hey! Kita ini orang biasa… tak perlu dirias-rias terlalu lama! Bilangin tuh.. kita bukan model!” katanya ngomel. Aku tertawa-tawa saja, dan kuminta dia bersabar.
Wajah kami seperti kanvas, satu jam sudah riasan akhirnya selesai, jadilah kami boneka berwajah cerah, berbibir mengkilat, bermata binar dan berbulu mata lentik. Wajah-wajah cantik yang canggung. “Seperti ada serangga di mataku…” kata Asfin sedikit menjerit. “Bukan serangga Fin, itu kulit buatan untuk membantu merekat bulu mata palsu ke bulu mata kita yang pendek… masih untung bukan gigi palsu yang mereka tempel…” kataku sengit. Terdengar Valen dan Resta terpingkal-pingkal mendengar kata-kataku.

Seorang pengarah gaya menghampiri kami, dan seorang lagi yang menyiapkan beberapa busana untuk kami. Seorang laki-laki yang ternyata fotografer membawa kamera besar dan seorang penata lampu menjinjing lampu-lampu besar dan tiang-tiang penyangga lampu. Sibuk sekali kami saat itu. Bahkan kami kasihan melihat mereka yang membawa barang-barang berat sendirian, kami segera membantu mereka untuk membawa barang-barang banyak itu. Perilaku atau kebiasaan kami memang tidak bisa dihilangkan, terutama saat-saat kami demonstrasi, sangat biasa untuk saling membantu di lapangan membawa poster-poster dan spanduk unjuk rasa, atau bergantian orasi, dan waspada terhadap provokasi. Lucu juga, saat itu kami bukan sedang berdemo, melainkan membawa peralatan lampu, kamera, dan busana-busana cantik yang akan kami pakai nantinya.
Asfin terperanjat ketika si pengarah gaya memberi sepatu berhak tinggi dan meminta kami untuk memakainya, “seperti sedang menaiki dua jenjang tangga..” kata Asfin yang sekali lagi membuat kami terpingkal-pingkal. Memang luar biasa tingginya sepatu itu, kami seperti akan melompat tinggi dan terbang ke langit. Dengan busana mahal yang kami kenakan, kaos, kemeja, jas, dan rok pendek, serta baju terusan, kalung-kalung ajaib, kami harus berpose di sebuah kafe malam yang luar biasa luas dan sempat membuat kami tersesat. Kami berduyun-duyun menuju toilet untuk berganti busana di sesi pemotretan berikutnya. Toilet yang membuat kami terantuk karena semua dindingnya berkaca, lagi-lagi untuk ke toilet saja kami harus tersesat.

Akhirnya, berbagai pose harus kami peragakan. Kaki yang dilipat, sesekali bertolak pinggang, pinggul dibelokan, dan kaki memperlihatkan sepatu tinggi yang mahal dan kaki yang jenjang, senyumpun harus selalu cemerlang. Valent adalah yang sering membangkang, ia selalu ingin bertolak pinggang. Tetapi tidak bisa selalu bertolak pinggang, kurang variasi, demikian kata sang pengarah gaya. Juga Asfin yang tertekan ketika harus melipat kakinya, dan Resta yang kurang nyaman dengan baju terusan, dan kami harus memotivasi dia untuk terus percaya diri dan berkali-kali melontarkan kata padanya,”gak apa-apa, bagus kok! Kamu cantik…” dan seterusnya, dan seterusnya. Juga Asfin yang tercetus kata-kata “aduh warna ungu… girly sekali…” katanya dengan hidung yang naik dan kembang kempis… Kami tertawa-tawa saja melihat keadaan kami yang serba canggung. Dan jari-jari kami yang seperti ceker ayam, bahkan tangan saja harus terlihat lenting, “Sulit sekali jadi model!” kata Valent menghardik sambil mendorongku hingga nyaris terjungkal… 

Pemotretan selesai, Asfin, aku, Valent dan Resta berlari-lari ke toilet untuk kembali menjadi diri sendiri, memakai pakaian yang kami suka, dan sandal datar yang bisa kami ajak berlari. Tinggal bulu mata tebal yang kami biarkan menempel, karena untuk mencopotnya, kami harus melakukannya di rumah masing-masing. Aduh, apakah memang cantik namanya bila harus menderita…
Untuk Valent, Asfin dan Resta, yang polos dan harus gelisah ketika wajah mereka di poles… hahahaha…

Jakarta, 2 April 2009