Oleh: Mariana
Amiruddin
Tulisan ini adalah bagaimana cara saya membaca The Second Sex karya Simone de Beauvoir.
Saya membaca dengan pikiran saya, dengan keahlian dan pengetahuan saya sebagai
Magister Humoniora Pasca Sarjana Kajian Wanita di Universitas Indonesia,
sebagai perempuan yang mengalami menstruasi, sebagai anak perempuan yang kehilangan
ibunya, sebagai anak perempuan yang memiliki Ayah yang sangat keras dan kuat,
sebagai perempuan yang bekerja di lembaga untuk menghentikan kekerasan terhadap
perempuan di Komnas Perempuan. Sebagai perempuan yang pernah bekerja menjadi
seorang jurnalis, penulis, sekaligus Pemimpin Redaksi dan Direktur di Jurnal
Perempuan. Buku ini memaksa menarik kembali memori-memori saya yang sudah lama
beterbangan oleh hiruk pikuk kasus, peristiwa, dan sosial media yang
kecepatannya melebihi ingatan kita sendiri.
Tulisan ini saya berikan untuk perempuan yang ingin bahagia,
dimulai dari mengenal dirinya sendiri (atas diri dan kehidupannya) bagaimana
perempuan sepanjang abad mengalami kekerasan. Dan pengetahuan bagi laki-laki
(atas diri, kekasih, istri, ibu dan saudaranya
sendiri yang perempuan) bahwa mereka semua telah lama terkubur hidup-hidup
dalam dongeng superioritas laki-laki yang justru membuat pria terjengkang dalam
ketidakberdayaannya sendiri (baca: ketika perempuan tidak ada di dekatnya).
Baiklah saya mulai.
TAKDIR
-DATA BIOLOGI-
Simone De Beauvoir memulainya dengan makna kata Betina.
Perempuan? Tanya beliau dalam bukunya. Ia sebuah Rahim,
sebuah indung telur; ia betina--- katanya.
Di pikiran laki-laki betina itu tidak lebih baik dari
jantan. Naluri kebinatangan pada jantan lebih dibanggakan, sementara betina
menjadi memenjarakan kebinatangan perempuan yang sering disebut perempuan
jalang, ganas, sebaliknya pula para betina yang dianggap lamban, tak sabaran,
licik, tolol, tak berperasaan, penuh nafsu, buas, hina, dan kemudian atas
situasi ini Beauvoir melempar dua pertanyaan biologi: Apa peran betina dalam
kerajaan binatang? dan Betina seperti apakah yang termanifestasikan dalam diri
perempuan?
De Beauvoir membuat kesimpulan sementara yang mengejutkan dari
uraian panjang awalnya soal Betina bahwa: kelangsungan kehidupan spesies tidak
memerlukan pembedaan seksual (maksudnya tidak harus terdiri dari dua jenis
kelamin). De Beauvoir kemudian memberi contoh-contoh mahluk hidup secara
seksual, membahas tentang berbagai jenis perkembangbiakan mulai dari mahluk bersel
satu, moluska, cacing laut, hingga soal mahluk seksual, aseksual dan hemaprodit.
Demikian juga soal kromosom X dan Y yang kalau dibuahi dan membuahi akan
menjadi XX dan XY. Sementara pada burung-burung dan kupu-kupu keadaannya
berlawanan, meski prinsip dasarnya sama.
Lepas dari soal perbedaan kromosom tersebut, ia mengatakan bahwa sel
telur dan sperma mengandung satu set kesamaan dari tubuh-tubuh manusia yang
menunjukkan ayah dan ibu memainkan peran yang sama dengan cara yang beda (Hukum
Mendel). Perbedaan hanyalah merupakan
karakteristik eksistensi yang sedemikian luas sehingga ia menjadi milik setiap
definisi realistik dari eksistensi itu sendiri.
Determinasi Biologi
Pasif-Aktif: Sel Telur versus Sperma dalam Imajinasi Filsuf
Dalam masyarakat primitif matriarkal diyakini bahwa seorang
ayah tidak mempunyai peran dalam proses pembuahan. Sementara dengan munculnya
institusi-institusi patriarkal, laki-laki menegaskan klaim atas anak keturunannya.
Misalnya nama saya Mariana Amiruddin, ketika saya membeli tiket pesawat, maka
tercantum di tiket nama saya Amiruddin, lalu Mariana (nama bapak/laki-laki ditulis
terlebih dahulu kemudian nama kita sendiri). Hal tersebut untuk memberi alasan bahwa
perempuan membutuhkan laki-laki untuk menjaga peran perempuan dalam proses
perkembangbiakan. Dan perempuan dianggap hanya menyediakan hal yang pasif (sel
telur yang diam bersarang di Rahim). Sementara sperma berfungsi membuahi,
bergerak cepat, menyerang, yang
melambangkan produktivitas, aktivitas, kehidupan (Aristoteles).
Simone de Beauvoir kemudian membahas bagaimana para filsuf
menyimpulkan fungsi-fungsi seksual laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang
diartikan sebagai pasif dan aktif. Pasif adalah perempuan dan aktif adalah
laki-laki. Meskipun kemudian ditemukan bahwa sel telur ternyata memiliki
prinsip reproduksi aktif (bekerja seperti mesin perkembangbiakkan), sel telur
tidak berdiri diam saja di Rahim. Ia mesin yang menciptakan embrio dan manusia
kecil yang siap bergerak dan bernyawa sebelum diluncurkan ke dunia. Sayangnya
dalam temuan-temuan sains biologi itu kaum laki-laki tetap menganggap bahwa sel
telur itu tetap diam dibandingkan dengan pergerakan hidup sperma. Beauvoir
beragumentasi, padahal dalam temuan spesies tertentu (parthenogenesis atau perkembangbiakan aseksual), hanya dengan
stimulus asam bahkan stimulus tusukan jarum ke sel telur sudah cukup untuk
melakukan perkembangbiakan (kata lain dari – ia bisa berkembang biak tanpa
sperma) dengan menjadi pembelahan telur dan perkembangan embrio. Artinya telah
diperlihatkan bahwa sel kelamin jantan (sperma) tidak dibutuhkan untuk
reproduksi, yang beraksi hampir sama seperti ragi, bahkan lambat laun peran
jantan tidak dibutuhkan lagi dalam prokreasi!
De Bauvoir menambahkan kata-katanya: “Tampaknya, itulah
jawaban bagi banyak doa perempuan.”
Partenogenesis adalah
contoh cara kerja biologi yaitu pertumbuhan dan perkembangan embrio atau biji
tanpa fertilisasi oleh pejantan. Partenogenesis terjadi secara alami pada
beberapa spesies, termasuk tumbuhan tingkat rendah, invertebrata (contoh kutu
air, kutu daun, dan beberapa lebah), dan vertebrata (contoh beberapa reptil,
ikan, dan, sangat langka, burung, dan hiu).
Pasivitas betina ternyata terbantahkan oleh kenyataan biologi
pada spesies lain bahwa; tanda kehidupan bukan secara ekslusif milik salah satu
gamet. Nukleus telur yang merupakan pusat aktivitas utama betul-betul simetris
dengan nucleus sperma. Oleh karena itu menurutnya hal tersebut merupakan efek
kelangsungan hidup spesies ditentukan oleh betina, sementara jantan mempunyai
sifat alami yang eksplosif dan tidak berlangsung lama.
Para filsuf maupun intelektual lainnya seperti berusaha
melakukan konfirmasi berulang-ulang termasuk dalam ilmu biologi tentang
“kebenaran patriarkhi” bahwa perempuan adalah mahluk kedua. Imajinasi kepasifan
melalui penerjemahan biologi tersebut menguatkan kebenaran yang mereka
bayangkan, namun De Bauvoir bekerja keras untuk membutktikan bahwa -- bahkan
biologi menunjukkan pasivitas betina itu adalah cara membaca yang salah.
Klaim Soal Menstruasi
dan Alienasi
Beauvoir kemudian mengurai soal perkembangan laki-laki dan
perempuan. Pada laki-laki perkembangannya lebih sederhana dimana dimasa remaja
mengalami spermatogenesis dan berlanjut sampai tua dengan hormone-hormon yang diproduksi
membentuk tubuh yang maskulin dan proses ini disebut Beauvoir sebagai --- ia adalah tubuhnya (laki-laki memiliki
tubuhnya).
Sementara kisah perkembangan perempuan jauh lebih rumit.
Mari kita eksplore soal indung telur terlebih dahulu.
Indung telur berisi sekitar 40.000 telur yang belum matang,
yang barangkali hanya 400-an yang akan mencapai kematangannya. Saat perempuan
mengalami puberitas, sistem genitalnya tak berubah, tetapi spesiesnya menegaskan
klaimnya. Akibat dari sel telur, indung telurnya menerima darah lebih banyak
dan tumbuh lebih besar, ovulasi terjadi dan masa menstruasi pun dimulai; tubuh
menjadi feminine, dan tercipta keseimbangan kelenjar endokrinnya. Keseluruhan
peristiwa perkembangan ini memiliki aspek krisis.
Bawha pada periode perempuan mulai puberitas sampai
monopouse, De Beauvoir menggambarkannya sebagai sebuah panggung permainan yang
terbentang, dimana di dalam dirinya (perempuan) tidak terlalu diperhatikan
secara personal. Proses yang rumit pada perempuan ini, yang detilnya menurut
Beauvoir masih misterius, melibatkan keseluruhan organisme perempuan, karena
ada berbagai reaksi hormonal antara indung telur dan organ-organ kelenjar
lainnya, seperti kelenjar di bawah otak, kelenjar gondok, dan adrenal, yang
mempengaruhi sistem syaraf pusat, sistem saraf simpatetik dan berakibat pada
organ-organ besar tubuh lainnya.
Dampaknya, (seperti yang sering terjadi pada saya, dan bahkan perempuan
lainnya) tekanan darah menjadi meningkat,
denyut nadi dan temperature meningkat, demam bisa terjadi, perut terasa sakit,
cenderung sembelit yang diikuti diare, membengkaknya hati, dan albuminuria
bahkan ada yang kesulitan mendengar dan melihat. Darah merah menurun. Darah
yang berisi garam kalsium, zat-zat penting yang menumpang di situ, yang
mempengaruhi kelenjar-kelenjar penting. Ketidakstabilan kelenjar ini berakibat
ketidakstabilan saraf yang berat. Sistem simpatetik menjadi berlebihan, kontrol
bawah sadar melalui sistem pusat berkurang, menjadi lebih emosional, nervous, gampang marah, bahkan gangguan
psikis yang serius.
Perempuan, seperti
halnya laki-laki, adalah tubuhnya, namun, tubuhnya adalah sesuatu yang lain
dari dirinya sendiri.
Itu baru soal menstruasi. Pengalaman kehamilan lebih rumit
lagi. Kehamilan adalah tugas melelahkan yang tidak memberikan keuntungan
individual perempuan, melainkan menuntut adanya pengorbanan yang sangat besar.
Fosfor, kalsium, zat besi hilang. Melahirkan itu sendiri menyakitkan dan
berbahaya. Inilah krisis hidup fase berat yang dialami perempuan. Sebagai bukti
paling nyata bahwa tubuh tidak selalu bekerja untuk kebaikan spesies dan
individual sekaligus, ditempatkan pada beberapa risiko yang dilematis, yaitu
janin yang mati, atau ibu yang mati, atau keduanya mati.
Ada hal lainnya pada masa kehamilan yaitu soal hormone prolactin, pelepasan susu di
kelenjar payudara, rasa nyeri dan sering membuat demam. Bayangkan, ibu menyusui
bayi berasal dari vitalitasnya sendiri. Tubuh secara feminin menjadi lemah,
karena perempuan memiliki elemen tubuh yang antagonistic,
yaitu spesies (janin) yang menggerogoti organ vital mereka. Penyakit yang bukan
disebabkan oleh infeksi dari luar melainkan ketidakmampuan menyesuaikan diri
internal (yang disebut peranakan).
Aksi-aksi hormonal perempuan di rentang fase seperti ini
mengakibatkan perempuan lebih pendek dan lebih lemah dari laki-laki, tulangnya
lebih rapuh, dan tulang pinggulnya lebih besar (penyesuaian terhadap
fungsi-fungsi kehamilan dan melahirkan) dan karenanya jaringan-jaringan
kolektifnya membuat timbunan lemak dan membuat tubuhnya lebih bulat daripada
laki-laki. Kapasitas pernapasannya lebih rendah, paru-paru dan batang
tenggorokannya lebih kecil dank arena itu suara perempuan jadi lebih tinggi.
Hemaglobinnya lebh sedikit dan gravitas spesifik darahnya lebih rendah, dan
karenanya perempuan kalah tegap dan lebih cenderung kena anemia ketimbang
laki-laki. Urat nadi mereka pun berdenyut lebih cepat, sistem pembuluh darahnya
kurang stabil, serta metabolism kalsiumnya yang tidak sebesar laki-laki.
Perempuan banyak kehilangan kalsium karena masa menstruasi dan kehamilan.
Kalsium berkaitan dengan indung telur yang dapat mengakibatkan ketidakstabilan
yang membawa kesukaran-kesukaran termasuk pada kelenjar gondok serta
ketidakteraturan dalam pelepasan endokkrinterhadap sistem saraf simpatetik, dan
control saraf serta control otot menjadi tidak menentu.
Karena itulah atas dasar pertimbangan biologi kaum perempuan
menjadi subyek atas berbagai agitasi seperti air mata, tawa histeris, dan
krisis saraf.
Di rentang akhir fase biologinya, perempuan kemudian
mengalami monopouse. Mengakhiri segala kesakitan. Perempuan melepaskan diri
dari cengkeraman besi spesiesnya melalui krisis menopause, kebalikan dari
pubertas, yang muncul pada usia antara emput puluh lima dan lima puluh tahun.Ovarium
berkurang aktivitasnya, bahkan kemudian lenyap akibat berkurangnya
kekuatan-kekuatan vital individu perempuan. Pada masa itu terjadi tanda-tanda
perubahan kehidupan dan eksistensi, mulai muncul tekanan darah tingg, kilatan
panas, gugup, dan terkadang seksualitas meningkat. Sebagian perempuan lagi pada
masa ini tubuhnya membesar atau biasa disebut gemuk, dan sebagian lainnya
menjadi kelaki-lakian. Kabar gembiranya, perempuan dapat pension dari beban
sifat femininnya, tetapi tidak dapat disebut sebagai “orang kasim” atau
laki-laki yang dikebiri. Karena justru vialitas perempuan di masa ini tak lagi
terhalangi, kerja biologinya tidak lagi mengalienasi dirinya, melainkan menjadi
dirinya sendiri, perempuan dan tubuhnya menjadi satu. Bahkan di usia tertentu
dapat berubah menjadi “seks ketiga”,
jadi selain dia bukan laki-laki, dia juga bukan lagi perempuan. Pelepasan
fisiologi dari masa Monopause ini justru membuat perempuan dapat
mengekspresikan kesehatan, keseimbangan, dan kekuatan yang sebelumnya tidak
mereka miliki.
Fakta-fakta biologi ini jelas disebabkan perempuan mengalami
subordinasi pada spesiesnya, dan dalam segala mamalia betina, memang
perempuanlah yang paling teralienasi (dimana biologinya dapat menjadi mangsa
kekuatan-kekuatan luar): krisis pubertas, kutukan bulanan menstruasi, masa
kehamilan yang panjang dan sering menyulitkan, bahkan membahayakan pada saat
melahirkan, serta gejala dan komplikasi yang tidak diharapkan.
Kelihatannya, laki-laki tampak lebih diuntungkan… kehidupan
seksualnya tidak bertentangan dengan eksistensi peribadinya, dan secara
biologis hal itu berjalan datar saja tanpa krisis, tanpa risiko. Namun, bukan
berarti fakta biologi ini signifikan dengan berat otak dan tingkat kecerdasan
perempuan dan laki-laki.
Atas pernyataan ini, Merleau-Ponty bahkan mengatakan: laki-laki bukanlah spesies alami: ia adalah
sebuah pemikiran historis. Perspektif Heidegger, Sartre dan Ponty juga
mengatakan, tubuh itu bukan semata-mata sebuah benda, -- De Beauvoir mengambil
perspektif ini, sebab biologi tidak dapat melampaui dunia, hanya instrument yang
terbatas dalam melihat kehidupan dunia dan proyeksi mahluk manusia. Bagi
Beauvoir, menerjemahkan eksistensi manusia semata-mata berdasarkan biologi maka ilmu pengetahuan menjadi abstrak. Sebab
kekuatan otot tidak dapat menjadi dasar dominasi dan superioritas.
Beauvoir menggarisbawahi bahwa eksistensi manusia bukan
dilihat berdasarkan biologi, melainkan ekonomi dan moral. Perempuan mengalami
krisis hormonal tetapi dengan meningkatnya kesejahteraan ekonomi dan
nilai-nilai yang mendukung kondisi biologinya, perempuan bukan lagi lemah.
Dalam spesies manusia, banyak kemungkinan bahwa individual berkembang
tergantung pada situasi ekonomi dan sosialnya. Spesies manusia berulang-ulang
mengevaluasi dirinya, karena spesies ini memiliki proyeksi tentang hidup di
masa depan. Agresifitas seksualitas jantan tidak dapat diterapkan pada spesies
manusia laki-laki ketika adat istiadat keluargnya memilihkan perempuan sebagai
pasangannya.
Ilmu biologi menurutnya menjadikan tubuh sebagai obyek,
padahal bila tubuh sebagai subyek, kaitan dengan factor-faktor lainnya (selain
biologi) akan dapat ditemukan.
Tetapi menelusuri eksistensi perempuan tetap diperlukan
berangkat dari esensial biologinya. Namun fakta-fakta biologi perlu melihat
sudut ontologi, ekonomi, osial dan psikologi. Beauvoir melihat tubuh itu
sendiri belum cukup untuk mendefinisikan perempuan, karena itu perlu melihat
kesadaran individual perempuan diri dan kehidupan di dunia.
Fakta-fakta biologi adalah memahami dan mencari jawaban atas
berbagai pertanyaan tentang perempuan, terutama menganggap perempuan menjadi
“sosok yang lain”; dan membuat perempuan menjadi terpuruk, tersubordinat
selamanya.
1.
SUDUT PANDANG PSIKOANALISIS
Pada bagian kedua dalam Bab Takdir
ini Beauvoir memperhatikan bahwa kondisi perempuan bukan semata-mata
biologinya, melainkan seluruh pengalamannya.
Perempuan adalah
seorang perempuan pada tingkatan ketika ia merasakan dirinya yang nyata dan memiliki
pengalaman.
Ia mengatakan, bukan
alam yang mendefinisikan perempuan, tetapi dirinya sendiri, -- dengan mengaitkan alam dan lingkungan atas dasar pertimbangannya
sendiri, dalam kehidupan emosionalnya.
Pada bagian psikoanalisis ini Bauvoir mengkritik Freud dan sintesis
dari Adler serta para psikoanalis lainnya yang menjadi Freudian dan Adlerian. Freud
mengatakan anatomy is destiny (anatomi
adalah takdir) – ia menegaskan, Freud tidak pernah peduli dengan takdir
perempuan (anatomi perempuan). Freud mengadaptasi pendapatnya terhadap takdir
perempuan dari sudut pandang takdir laki-laki, dengan sedikit modifikasi. Freud
memang tidak se-ekstrim seksolog Maranon yang mengatakan “libido merupakan
kekuatan dari sifat jantan, hal yang sama mengenai orgasme”, dan menyebut
perempuan yang mencapai orgasme berarti adalah perempuan yang kejantan-jantanan,
dan perempuan hanya menempuh setengah jalan dalam mencapainya. Freud memang
tidak seperti Maranon seksolog itu, ia menganggap hasrat seksual laki-laki dan
perempuan sama, tetapi sayangnya Freud tidak pernah mempelajari kesamaan itu secara
khusus. Freud ambigu, ia tetap mengatakan “lelaki adalah pemilik libido”, meskipun
laki-laki dan perempuan sama-sama memilikinya. Freud tidak mengakui adanya libido
feminin dengan sifat alaminya, sebab menurutnya tampak menyimpang dari libido manusia
secara umum.
Oedipus dan Electra Complex:
Bukan Pelarian atas Alienasi melainkan Pencarian Diri
Freud menjelaskannya dalam tahapan fase oral pada bayi, dan
fasa anal dan genital pada kanak-kanak yang kemudian dikritik Beauvoir. Fase
oral: bayi laki-laki maupun perempuan sama-sama mengalami perasaan nyaman dalam
pelukan payudara sang ibu. Fase anal dan fase genital kemudian membedakan libido
laki-laki dan perempuan. Erotisme maskulin tepatnya pada penis, sementara
perempuan tepatnya pada klitoris pada masa kanak-kanak dan pada masa pubertas pada
vagina. Anak laki-laki memiliki fase genital evolusinya yang langsung sempurna,
bersifat subjektif, dan mengalami heteroerotik yang memerlukan obyek, dan
umumnya obyeknya adalah perempuan. Sementara fase perempuan memerlukan dua tahapan
dan jauh lebih kompleks, klitoral terlebih dahulu, dan kemudian vaginal. Freud
mengatakan bahwa laki-laki mendapatkan kenikmatan hanya dalam satu tingkatan
yaitu penis, sementara perempuan memerlukan dua tahapan, yaitu klitoral dan
vaginal. Dua tahapan perempuan dalam mencapai kenikmatan disebut Freud sebagai kegagalan
evolusi seksual, dan karena itu membuat perempuan menjadi neurosis.
Teori freud menyampaikan perbedaan pembentukan superego pada
anak perempuan dan anak laki-laki dalam narasi Oedipus dan Electra Complex, Oedipus
menceritakan begitu cintanya si anak lelaki pada ibunya dan ketakutan dikastrasi
penisnya oleh Ayah yang memiliki otoritas dalam keluarga. Sementara sang gadis
kecil awalnya begitu mencintai ibunya, tetapi begitu melihat sang ayah ia
mencoba mengidentifikasi tetapi tidak sama, padahal ia begitu mencintainya
Ayah. Kecintaannya pada Ayah adalah pelarian dirinya karena tidak memiliki
penis (ia merasa perempuan adalah laki-laki yang termutilasi), dan dari narasi
erotisme pada sang Ayah inilah superego perempuan terbentuk menjadi “kejantan-jantanan”
agar sama dengan Ayahnya yang menandai inferioritas dirinya. Fase ini dianggap
hanya sampai fase klitoral, gagal pada fase vaginal (kesempurnaan). Ketika
dewasa perempuan mengambil eksistensinya dari orang lain (laki-laki), dan bila memilih
kekasih atau suami cenderung yang mirip dengan Ayahnya adalah suatu simbol
kastrasi.
Di sisi lain, Beauvoir menjelaskan teori Freud yang menggambarkan
anak laki-laki memperoleh pengalaman hidup yang menjadikan penis sebagai obyek
kebanggaan dirinya; batang daging kecil lemah yang dalam tubuhnya dapat
menginspirasi mereka, membuat laki-laki merasa eksis dan menimbulkan kecemburuan
si gadis kecil (penis envy). Beauvoir
lalu mengkritik, bila Freud begitu panjang lebar menjelaskan anak laki-laki
dengan penisnya dalam Oedipus Complex, Freud tidak memiliki konsep yang jelas
dalam Elctra kompleks, karena tidak didukung oleh deskripsi dasar tentang
libido feminin.
Bagi Beauvoir, kekuasaan (otoritas sang Ayah) merupakan
kenyataan asal-usul sosial, yang seharusnya dipertimbangkan oleh Freud, --
dalam sejarah budaya manusia sang ayah harus didahulukan daripada sang ibu.
Freud menolak bahwa itu adalah otoritas patriarkal, menurutnya itu memang sudah
menjadi beban sang Ayah.
Intinya bahwa Freud melihat bahwa semua perilaku manusia
berangkat dari birahi (dorongan seksual) atau upaya mencari kenikmatan, tetapi
Adler, psikoanalis yang mendebatnya mengatakan bahwa perilaku manusia berangkat
dari motif untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, bukan dari dorongan seksual. Adler
menggarisbawahi bahwa perilaku manusia berangkat dari motif, kehendak, dan
tujuan, dan berawal dari kecerdasan, sementara seksualitas hanyalah sesuatu
yang simbolik. Deskripsi Adler tentang kehendak adalah keinginan untuk berkuasa
yang disertai dengan inferioritas complex, dan sang individu akan melakukan
banyak tipu daya dalam suatu “pelarian dari realitas” Adler melihat bahwa bila
si gadis kecil iri pada penis, itu hanyalah simbol hak-hak istimewa yang
dinikmati anak laki-laki: superioritas ayah dalam keluarga dan laki-laki secara
umum, adalah tentang superioritas maskulin. Dan ketika berhubungan seksual,
perempuan mendapatkan posisi dibawah laki-laki. Karena itu perempuan melakukan “protes
maskulin” dengan cara berusaha keras memaskulinkan dirinya, atau bahkan ia
bertarung dengan dirinya sendiri jauh lebih mendalam ketimbang bertarung dengan
laki-laki.
Deskripsi Beauvoir bahwa laki-laki dapat menggabungkan
individualitas subjektifnya dengan kehidupan yang mengalir darinya: tentang panjangnya
penis, daya pancur air seni mereka, kekuatan ereksi dan ejakulasi bagi
laki-laki adalah harga dirinya, yang adalah alter egonya. Sementara si gadis
kecil tidak memiliki alter ego, dan membentuk dirinya menjadi “Yang Lain”. Bagi
Beauvoir, phallus disini bukanlah
takdir seperti yang dikatakan Freud, melainkan mengemban nilai, simbol
dominasi. Ia menyimpulkan bahwa para psikoanalis gagal menjelaskan mengapa
perempuan adalah “Yang Lain”. Para psikoanalis bahkan tidak mempelajarinya
secara langsung, mereka hanya bertitik tolak pada libido laki-laki.
Beauvoir kemudian mengajukan takdir feminin dengan cara yang
berbeda, yaitu menempatkan perempuan
dalam dunia nilai, dan perilakunya sebagai suatu dimensi kebebasan. Ia
menyampaikan, jelas bagi perempuan,
berperan sebagai laki-laki akan menjadi sumber frustrasi baginya; namun
berperan sebagai perempuan juga suatu delusi: menjadi perempuan berarti menjadi
obyek, menjadi Yang Lain.
Atas situasi tersebut masalah perempuan adalah, menolak
pelarian dari realitas dan justru berusaha mencari pemenuhan diri sendiri dalam
transendensi. Ia kemudian mengkritik bagaimana baik psikoanalis laki-laki
maupun perempuan tidak melihat dari titik tolak tersebut: laki-laki didefinisikan sebagai manusia, dan perempuan sebagai betina—kapanpun
perempuan berpirlaku sebagai manusia, ia dikatakan meniru laki-laki.
Beauvoir melihat psikoanalisa dari titik tolak pengalaman perempuan,
libido feminin, seharusnya didefinisikan sebagai sosok manusia yang tengah
mencari nilai-nilai di dunia, yang mempelajari perempuan dalam sebuah
perspektif eksistensial.
