Sabtu, 10 Februari 2018

The Second Sex: Menjabarkan ALIENASI BETINA



 Oleh: Mariana Amiruddin

Tulisan ini adalah bagaimana cara saya membaca The Second Sex karya Simone de Beauvoir. Saya membaca dengan pikiran saya, dengan keahlian dan pengetahuan saya sebagai Magister Humoniora Pasca Sarjana Kajian Wanita di Universitas Indonesia, sebagai perempuan yang mengalami menstruasi, sebagai anak perempuan yang kehilangan ibunya, sebagai anak perempuan yang memiliki Ayah yang sangat keras dan kuat, sebagai perempuan yang bekerja di lembaga untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan di Komnas Perempuan. Sebagai perempuan yang pernah bekerja menjadi seorang jurnalis, penulis, sekaligus Pemimpin Redaksi dan Direktur di Jurnal Perempuan. Buku ini memaksa menarik kembali memori-memori saya yang sudah lama beterbangan oleh hiruk pikuk kasus, peristiwa, dan sosial media yang kecepatannya melebihi ingatan kita sendiri.
Tulisan ini saya berikan untuk perempuan yang ingin bahagia, dimulai dari mengenal dirinya sendiri (atas diri dan kehidupannya) bagaimana perempuan sepanjang abad mengalami kekerasan. Dan pengetahuan bagi laki-laki (atas diri, kekasih, istri, ibu  dan saudaranya sendiri yang perempuan) bahwa mereka semua telah lama terkubur hidup-hidup dalam dongeng superioritas laki-laki yang justru membuat pria terjengkang dalam ketidakberdayaannya sendiri (baca: ketika perempuan tidak ada di dekatnya).

Baiklah saya mulai.

TAKDIR
-DATA BIOLOGI-

Simone De Beauvoir memulainya dengan makna kata Betina.
Perempuan? Tanya beliau dalam bukunya. Ia sebuah Rahim, sebuah indung telur; ia betina--- katanya.
Di pikiran laki-laki betina itu tidak lebih baik dari jantan. Naluri kebinatangan pada jantan lebih dibanggakan, sementara betina menjadi memenjarakan kebinatangan perempuan yang sering disebut perempuan jalang, ganas, sebaliknya pula para betina yang dianggap lamban, tak sabaran, licik, tolol, tak berperasaan, penuh nafsu, buas, hina, dan kemudian atas situasi ini Beauvoir melempar dua pertanyaan biologi: Apa peran betina dalam kerajaan binatang? dan Betina seperti apakah yang termanifestasikan dalam diri perempuan?
De Beauvoir membuat kesimpulan sementara yang mengejutkan dari uraian panjang awalnya soal Betina bahwa: kelangsungan kehidupan spesies tidak memerlukan pembedaan seksual (maksudnya tidak harus terdiri dari dua jenis kelamin). De Beauvoir kemudian memberi contoh-contoh mahluk hidup secara seksual, membahas tentang berbagai jenis perkembangbiakan mulai dari mahluk bersel satu, moluska, cacing laut, hingga soal mahluk seksual, aseksual dan hemaprodit. Demikian juga soal kromosom X dan Y yang kalau dibuahi dan membuahi akan menjadi XX dan XY. Sementara pada burung-burung dan kupu-kupu keadaannya berlawanan, meski prinsip dasarnya sama.  Lepas dari soal perbedaan kromosom tersebut, ia mengatakan bahwa sel telur dan sperma mengandung satu set kesamaan dari tubuh-tubuh manusia yang menunjukkan ayah dan ibu memainkan peran yang sama dengan cara yang beda (Hukum Mendel).  Perbedaan hanyalah merupakan karakteristik eksistensi yang sedemikian luas sehingga ia menjadi milik setiap definisi realistik dari eksistensi itu sendiri.

Determinasi Biologi Pasif-Aktif: Sel Telur versus Sperma dalam Imajinasi Filsuf

Dalam masyarakat primitif matriarkal diyakini bahwa seorang ayah tidak mempunyai peran dalam proses pembuahan. Sementara dengan munculnya institusi-institusi patriarkal, laki-laki menegaskan klaim atas anak keturunannya. Misalnya nama saya Mariana Amiruddin, ketika saya membeli tiket pesawat, maka tercantum di tiket nama saya Amiruddin, lalu Mariana (nama bapak/laki-laki ditulis terlebih dahulu kemudian nama kita sendiri). Hal tersebut untuk memberi alasan bahwa perempuan membutuhkan laki-laki untuk menjaga peran perempuan dalam proses perkembangbiakan. Dan perempuan dianggap hanya menyediakan hal yang pasif (sel telur yang diam bersarang di Rahim). Sementara sperma berfungsi membuahi, bergerak cepat, menyerang,  yang melambangkan produktivitas, aktivitas, kehidupan (Aristoteles).
Simone de Beauvoir kemudian membahas bagaimana para filsuf menyimpulkan fungsi-fungsi seksual laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang diartikan sebagai pasif dan aktif. Pasif adalah perempuan dan aktif adalah laki-laki. Meskipun kemudian ditemukan bahwa sel telur ternyata memiliki prinsip reproduksi aktif (bekerja seperti mesin perkembangbiakkan), sel telur tidak berdiri diam saja di Rahim. Ia mesin yang menciptakan embrio dan manusia kecil yang siap bergerak dan bernyawa sebelum diluncurkan ke dunia. Sayangnya dalam temuan-temuan sains biologi itu kaum laki-laki tetap menganggap bahwa sel telur itu tetap diam dibandingkan dengan pergerakan hidup sperma. Beauvoir beragumentasi, padahal dalam temuan spesies tertentu (parthenogenesis atau perkembangbiakan aseksual), hanya dengan stimulus asam bahkan stimulus tusukan jarum ke sel telur sudah cukup untuk melakukan perkembangbiakan (kata lain dari – ia bisa berkembang biak tanpa sperma) dengan menjadi pembelahan telur dan perkembangan embrio. Artinya telah diperlihatkan bahwa sel kelamin jantan (sperma) tidak dibutuhkan untuk reproduksi, yang beraksi hampir sama seperti ragi, bahkan lambat laun peran jantan tidak dibutuhkan lagi dalam prokreasi!
De Bauvoir menambahkan kata-katanya: “Tampaknya, itulah jawaban bagi banyak doa perempuan.”
Partenogenesis adalah contoh cara kerja biologi yaitu pertumbuhan dan perkembangan embrio atau biji tanpa fertilisasi oleh pejantan. Partenogenesis terjadi secara alami pada beberapa spesies, termasuk tumbuhan tingkat rendah, invertebrata (contoh kutu air, kutu daun, dan beberapa lebah), dan vertebrata (contoh beberapa reptil, ikan, dan, sangat langka, burung, dan hiu).
Pasivitas betina ternyata terbantahkan oleh kenyataan biologi pada spesies lain bahwa; tanda kehidupan bukan secara ekslusif milik salah satu gamet. Nukleus telur yang merupakan pusat aktivitas utama betul-betul simetris dengan nucleus sperma. Oleh karena itu menurutnya hal tersebut merupakan efek kelangsungan hidup spesies ditentukan oleh betina, sementara jantan mempunyai sifat alami yang eksplosif dan tidak berlangsung lama.
Para filsuf maupun intelektual lainnya seperti berusaha melakukan konfirmasi berulang-ulang termasuk dalam ilmu biologi tentang “kebenaran patriarkhi” bahwa perempuan adalah mahluk kedua. Imajinasi kepasifan melalui penerjemahan biologi tersebut menguatkan kebenaran yang mereka bayangkan, namun De Bauvoir bekerja keras untuk membutktikan bahwa -- bahkan biologi menunjukkan pasivitas betina itu adalah cara membaca yang salah.

Klaim Soal Menstruasi dan Alienasi

Beauvoir kemudian mengurai soal perkembangan laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki perkembangannya lebih sederhana dimana dimasa remaja mengalami spermatogenesis dan berlanjut sampai tua  dengan hormone-hormon yang diproduksi membentuk tubuh yang maskulin dan proses ini disebut Beauvoir sebagai --- ia adalah tubuhnya (laki-laki memiliki tubuhnya).
Sementara kisah perkembangan perempuan jauh lebih rumit. Mari kita eksplore soal indung telur terlebih dahulu.

Indung telur berisi sekitar 40.000 telur yang belum matang, yang barangkali hanya 400-an yang akan mencapai kematangannya. Saat perempuan mengalami puberitas, sistem genitalnya tak berubah, tetapi spesiesnya menegaskan klaimnya. Akibat dari sel telur, indung telurnya menerima darah lebih banyak dan tumbuh lebih besar, ovulasi terjadi dan masa menstruasi pun dimulai; tubuh menjadi feminine, dan tercipta keseimbangan kelenjar endokrinnya. Keseluruhan peristiwa perkembangan ini memiliki aspek krisis.

Bawha pada periode perempuan mulai puberitas sampai monopouse, De Beauvoir menggambarkannya sebagai sebuah panggung permainan yang terbentang, dimana di dalam dirinya (perempuan) tidak terlalu diperhatikan secara personal. Proses yang rumit pada perempuan ini, yang detilnya menurut Beauvoir masih misterius, melibatkan keseluruhan organisme perempuan, karena ada berbagai reaksi hormonal antara indung telur dan organ-organ kelenjar lainnya, seperti kelenjar di bawah otak, kelenjar gondok, dan adrenal, yang mempengaruhi sistem syaraf pusat, sistem saraf simpatetik dan berakibat pada organ-organ besar tubuh lainnya.  Dampaknya, (seperti yang sering terjadi pada saya, dan bahkan perempuan lainnya)  tekanan darah menjadi meningkat, denyut nadi dan temperature meningkat, demam bisa terjadi, perut terasa sakit, cenderung sembelit yang diikuti diare, membengkaknya hati, dan albuminuria bahkan ada yang kesulitan mendengar dan melihat. Darah merah menurun. Darah yang berisi garam kalsium, zat-zat penting yang menumpang di situ, yang mempengaruhi kelenjar-kelenjar penting. Ketidakstabilan kelenjar ini berakibat ketidakstabilan saraf yang berat. Sistem simpatetik menjadi berlebihan, kontrol bawah sadar melalui sistem pusat berkurang, menjadi lebih emosional, nervous, gampang marah, bahkan gangguan psikis yang serius.

Perempuan, seperti halnya laki-laki, adalah tubuhnya, namun, tubuhnya adalah sesuatu yang lain dari dirinya sendiri.

Itu baru soal menstruasi. Pengalaman kehamilan lebih rumit lagi. Kehamilan adalah tugas melelahkan yang tidak memberikan keuntungan individual perempuan, melainkan menuntut adanya pengorbanan yang sangat besar. Fosfor, kalsium, zat besi hilang. Melahirkan itu sendiri menyakitkan dan berbahaya. Inilah krisis hidup fase berat yang dialami perempuan. Sebagai bukti paling nyata bahwa tubuh tidak selalu bekerja untuk kebaikan spesies dan individual sekaligus, ditempatkan pada beberapa risiko yang dilematis, yaitu janin yang mati, atau ibu yang mati, atau keduanya mati.
Ada hal lainnya pada masa kehamilan yaitu soal hormone prolactin, pelepasan susu di kelenjar payudara, rasa nyeri dan sering membuat demam. Bayangkan, ibu menyusui bayi berasal dari vitalitasnya sendiri. Tubuh secara feminin menjadi lemah, karena perempuan memiliki elemen tubuh yang antagonistic, yaitu spesies (janin) yang menggerogoti organ vital mereka. Penyakit yang bukan disebabkan oleh infeksi dari luar melainkan ketidakmampuan menyesuaikan diri internal (yang disebut peranakan).

Aksi-aksi hormonal perempuan di rentang fase seperti ini mengakibatkan perempuan lebih pendek dan lebih lemah dari laki-laki, tulangnya lebih rapuh, dan tulang pinggulnya lebih besar (penyesuaian terhadap fungsi-fungsi kehamilan dan melahirkan) dan karenanya jaringan-jaringan kolektifnya membuat timbunan lemak dan membuat tubuhnya lebih bulat daripada laki-laki. Kapasitas pernapasannya lebih rendah, paru-paru dan batang tenggorokannya lebih kecil dank arena itu suara perempuan jadi lebih tinggi. Hemaglobinnya lebh sedikit dan gravitas spesifik darahnya lebih rendah, dan karenanya perempuan kalah tegap dan lebih cenderung kena anemia ketimbang laki-laki. Urat nadi mereka pun berdenyut lebih cepat, sistem pembuluh darahnya kurang stabil, serta metabolism kalsiumnya yang tidak sebesar laki-laki. Perempuan banyak kehilangan kalsium karena masa menstruasi dan kehamilan. Kalsium berkaitan dengan indung telur yang dapat mengakibatkan ketidakstabilan yang membawa kesukaran-kesukaran termasuk pada kelenjar gondok serta ketidakteraturan dalam pelepasan endokkrinterhadap sistem saraf simpatetik, dan control saraf serta control otot menjadi tidak menentu.

Karena itulah atas dasar pertimbangan biologi kaum perempuan menjadi subyek atas berbagai agitasi seperti air mata, tawa histeris, dan krisis saraf.

Di rentang akhir fase biologinya, perempuan kemudian mengalami monopouse. Mengakhiri segala kesakitan. Perempuan melepaskan diri dari cengkeraman besi spesiesnya melalui krisis menopause, kebalikan dari pubertas, yang muncul pada usia antara emput puluh lima dan lima puluh tahun.Ovarium berkurang aktivitasnya, bahkan kemudian lenyap akibat berkurangnya kekuatan-kekuatan vital individu perempuan. Pada masa itu terjadi tanda-tanda perubahan kehidupan dan eksistensi, mulai muncul tekanan darah tingg, kilatan panas, gugup, dan terkadang seksualitas meningkat. Sebagian perempuan lagi pada masa ini tubuhnya membesar atau biasa disebut gemuk, dan sebagian lainnya menjadi kelaki-lakian. Kabar gembiranya, perempuan dapat pension dari beban sifat femininnya, tetapi tidak dapat disebut sebagai “orang kasim” atau laki-laki yang dikebiri. Karena justru vialitas perempuan di masa ini tak lagi terhalangi, kerja biologinya tidak lagi mengalienasi dirinya, melainkan menjadi dirinya sendiri, perempuan dan tubuhnya menjadi satu. Bahkan di usia tertentu dapat berubah  menjadi “seks ketiga”, jadi selain dia bukan laki-laki, dia juga bukan lagi perempuan. Pelepasan fisiologi dari masa Monopause ini justru membuat perempuan dapat mengekspresikan kesehatan, keseimbangan, dan kekuatan yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Fakta-fakta biologi ini jelas disebabkan perempuan mengalami subordinasi pada spesiesnya, dan dalam segala mamalia betina, memang perempuanlah yang paling teralienasi (dimana biologinya dapat menjadi mangsa kekuatan-kekuatan luar): krisis pubertas, kutukan bulanan menstruasi, masa kehamilan yang panjang dan sering menyulitkan, bahkan membahayakan pada saat melahirkan, serta gejala dan komplikasi yang tidak diharapkan.

Kelihatannya, laki-laki tampak lebih diuntungkan… kehidupan seksualnya tidak bertentangan dengan eksistensi peribadinya, dan secara biologis hal itu berjalan datar saja tanpa krisis, tanpa risiko. Namun, bukan berarti fakta biologi ini signifikan dengan berat otak dan tingkat kecerdasan perempuan dan laki-laki.

Atas pernyataan ini, Merleau-Ponty bahkan mengatakan: laki-laki bukanlah spesies alami: ia adalah sebuah pemikiran historis. Perspektif Heidegger, Sartre dan Ponty juga mengatakan, tubuh itu bukan semata-mata sebuah benda, -- De Beauvoir mengambil perspektif ini, sebab biologi tidak dapat melampaui dunia, hanya instrument yang terbatas dalam melihat kehidupan dunia dan proyeksi mahluk manusia. Bagi Beauvoir, menerjemahkan eksistensi manusia semata-mata berdasarkan biologi  maka ilmu pengetahuan menjadi abstrak. Sebab kekuatan otot tidak dapat menjadi dasar dominasi dan superioritas.

Beauvoir menggarisbawahi bahwa eksistensi manusia bukan dilihat berdasarkan biologi, melainkan ekonomi dan moral. Perempuan mengalami krisis hormonal tetapi dengan meningkatnya kesejahteraan ekonomi dan nilai-nilai yang mendukung kondisi biologinya, perempuan bukan lagi lemah. Dalam spesies manusia, banyak kemungkinan bahwa individual berkembang tergantung pada situasi ekonomi dan sosialnya. Spesies manusia berulang-ulang mengevaluasi dirinya, karena spesies ini memiliki proyeksi tentang hidup di masa depan. Agresifitas seksualitas jantan tidak dapat diterapkan pada spesies manusia laki-laki ketika adat istiadat keluargnya memilihkan perempuan sebagai pasangannya.

Ilmu biologi menurutnya menjadikan tubuh sebagai obyek, padahal bila tubuh sebagai subyek, kaitan dengan factor-faktor lainnya (selain biologi) akan dapat ditemukan.

Tetapi menelusuri eksistensi perempuan tetap diperlukan berangkat dari esensial biologinya. Namun fakta-fakta biologi perlu melihat sudut ontologi, ekonomi, osial dan psikologi. Beauvoir melihat tubuh itu sendiri belum cukup untuk mendefinisikan perempuan, karena itu perlu melihat kesadaran individual perempuan diri dan kehidupan di dunia.

Fakta-fakta biologi adalah memahami dan mencari jawaban atas berbagai pertanyaan tentang perempuan, terutama menganggap perempuan menjadi “sosok yang lain”; dan membuat perempuan menjadi terpuruk, tersubordinat selamanya.


1.     SUDUT PANDANG PSIKOANALISIS

Pada bagian kedua dalam Bab Takdir ini Beauvoir memperhatikan bahwa kondisi perempuan bukan semata-mata biologinya, melainkan seluruh pengalamannya.

Perempuan adalah seorang perempuan pada tingkatan ketika ia merasakan dirinya yang nyata dan memiliki pengalaman.

Ia mengatakan, bukan alam yang mendefinisikan perempuan, tetapi dirinya sendiri, -- dengan mengaitkan alam dan lingkungan atas dasar pertimbangannya sendiri, dalam kehidupan emosionalnya.

Pada bagian psikoanalisis ini Bauvoir mengkritik Freud dan sintesis dari Adler serta para psikoanalis lainnya yang menjadi Freudian dan Adlerian. Freud mengatakan anatomy is destiny (anatomi adalah takdir) – ia menegaskan, Freud tidak pernah peduli dengan takdir perempuan (anatomi perempuan). Freud mengadaptasi pendapatnya terhadap takdir perempuan dari sudut pandang takdir laki-laki, dengan sedikit modifikasi. Freud memang tidak se-ekstrim seksolog Maranon yang mengatakan “libido merupakan kekuatan dari sifat jantan, hal yang sama mengenai orgasme”, dan menyebut perempuan yang mencapai orgasme berarti adalah perempuan yang kejantan-jantanan, dan perempuan hanya menempuh setengah jalan dalam mencapainya. Freud memang tidak seperti Maranon seksolog itu, ia menganggap hasrat seksual laki-laki dan perempuan sama, tetapi sayangnya Freud tidak pernah mempelajari kesamaan itu secara khusus. Freud ambigu, ia tetap mengatakan “lelaki adalah pemilik libido”, meskipun laki-laki dan perempuan sama-sama memilikinya. Freud tidak mengakui adanya libido feminin dengan sifat alaminya, sebab menurutnya tampak menyimpang dari libido manusia secara umum.

Oedipus dan Electra Complex: Bukan Pelarian atas Alienasi melainkan Pencarian Diri

Freud menjelaskannya dalam tahapan fase oral pada bayi, dan fasa anal dan genital pada kanak-kanak yang kemudian dikritik Beauvoir. Fase oral: bayi laki-laki maupun perempuan sama-sama mengalami perasaan nyaman dalam pelukan payudara sang ibu. Fase anal dan fase genital kemudian membedakan libido laki-laki dan perempuan. Erotisme maskulin tepatnya pada penis, sementara perempuan tepatnya pada klitoris pada masa kanak-kanak dan pada masa pubertas pada vagina. Anak laki-laki memiliki fase genital evolusinya yang langsung sempurna, bersifat subjektif, dan mengalami heteroerotik yang memerlukan obyek, dan umumnya obyeknya adalah perempuan. Sementara fase perempuan memerlukan dua tahapan dan jauh lebih kompleks, klitoral terlebih dahulu, dan kemudian vaginal. Freud mengatakan bahwa laki-laki mendapatkan kenikmatan hanya dalam satu tingkatan yaitu penis, sementara perempuan memerlukan dua tahapan, yaitu klitoral dan vaginal. Dua tahapan perempuan dalam mencapai kenikmatan disebut Freud sebagai kegagalan evolusi seksual, dan karena itu membuat perempuan menjadi neurosis.

Teori freud menyampaikan perbedaan pembentukan superego pada anak perempuan dan anak laki-laki dalam narasi Oedipus dan Electra Complex, Oedipus menceritakan begitu cintanya si anak lelaki pada ibunya dan ketakutan dikastrasi penisnya oleh Ayah yang memiliki otoritas dalam keluarga. Sementara sang gadis kecil awalnya begitu mencintai ibunya, tetapi begitu melihat sang ayah ia mencoba mengidentifikasi tetapi tidak sama, padahal ia begitu mencintainya Ayah. Kecintaannya pada Ayah adalah pelarian dirinya karena tidak memiliki penis (ia merasa perempuan adalah laki-laki yang termutilasi), dan dari narasi erotisme pada sang Ayah inilah superego perempuan terbentuk menjadi “kejantan-jantanan” agar sama dengan Ayahnya yang menandai inferioritas dirinya. Fase ini dianggap hanya sampai fase klitoral, gagal pada fase vaginal (kesempurnaan). Ketika dewasa perempuan mengambil eksistensinya dari orang lain (laki-laki), dan bila memilih kekasih atau suami cenderung yang mirip dengan Ayahnya adalah suatu simbol kastrasi.

Di sisi lain, Beauvoir menjelaskan teori Freud yang menggambarkan anak laki-laki memperoleh pengalaman hidup yang menjadikan penis sebagai obyek kebanggaan dirinya; batang daging kecil lemah yang dalam tubuhnya dapat menginspirasi mereka, membuat laki-laki merasa eksis dan menimbulkan kecemburuan si gadis kecil (penis envy). Beauvoir lalu mengkritik, bila Freud begitu panjang lebar menjelaskan anak laki-laki dengan penisnya dalam Oedipus Complex, Freud tidak memiliki konsep yang jelas dalam Elctra kompleks, karena tidak didukung oleh deskripsi dasar tentang libido feminin.

Bagi Beauvoir, kekuasaan (otoritas sang Ayah) merupakan kenyataan asal-usul sosial, yang seharusnya dipertimbangkan oleh Freud, -- dalam sejarah budaya manusia sang ayah harus didahulukan daripada sang ibu. Freud menolak bahwa itu adalah otoritas patriarkal, menurutnya itu memang sudah menjadi beban sang Ayah.

Intinya bahwa Freud melihat bahwa semua perilaku manusia berangkat dari birahi (dorongan seksual) atau upaya mencari kenikmatan, tetapi Adler, psikoanalis yang mendebatnya mengatakan bahwa perilaku manusia berangkat dari motif untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, bukan dari dorongan seksual. Adler menggarisbawahi bahwa perilaku manusia berangkat dari motif, kehendak, dan tujuan, dan berawal dari kecerdasan, sementara seksualitas hanyalah sesuatu yang simbolik. Deskripsi Adler tentang kehendak adalah keinginan untuk berkuasa yang disertai dengan inferioritas complex, dan sang individu akan melakukan banyak tipu daya dalam suatu “pelarian dari realitas” Adler melihat bahwa bila si gadis kecil iri pada penis, itu hanyalah simbol hak-hak istimewa yang dinikmati anak laki-laki: superioritas ayah dalam keluarga dan laki-laki secara umum, adalah tentang superioritas maskulin. Dan ketika berhubungan seksual, perempuan mendapatkan posisi dibawah laki-laki. Karena itu perempuan melakukan “protes maskulin” dengan cara berusaha keras memaskulinkan dirinya, atau bahkan ia bertarung dengan dirinya sendiri jauh lebih mendalam ketimbang bertarung dengan laki-laki.

Deskripsi Beauvoir bahwa laki-laki dapat menggabungkan individualitas subjektifnya dengan kehidupan yang mengalir darinya: tentang panjangnya penis, daya pancur air seni mereka, kekuatan ereksi dan ejakulasi bagi laki-laki adalah harga dirinya, yang adalah alter egonya. Sementara si gadis kecil tidak memiliki alter ego, dan membentuk dirinya menjadi “Yang Lain”. Bagi Beauvoir, phallus disini bukanlah takdir seperti yang dikatakan Freud, melainkan mengemban nilai, simbol dominasi. Ia menyimpulkan bahwa para psikoanalis gagal menjelaskan mengapa perempuan adalah “Yang Lain”. Para psikoanalis bahkan tidak mempelajarinya secara langsung, mereka hanya bertitik tolak pada libido laki-laki.

Beauvoir kemudian mengajukan takdir feminin dengan cara yang berbeda, yaitu menempatkan perempuan dalam dunia nilai, dan perilakunya sebagai suatu dimensi kebebasan. Ia menyampaikan, jelas bagi perempuan, berperan sebagai laki-laki akan menjadi sumber frustrasi baginya; namun berperan sebagai perempuan juga suatu delusi: menjadi perempuan berarti menjadi obyek, menjadi Yang Lain.

Atas situasi tersebut masalah perempuan adalah, menolak pelarian dari realitas dan justru berusaha mencari pemenuhan diri sendiri dalam transendensi. Ia kemudian mengkritik bagaimana baik psikoanalis laki-laki maupun perempuan tidak melihat dari titik tolak tersebut: laki-laki didefinisikan sebagai manusia, dan perempuan sebagai betina—kapanpun perempuan berpirlaku sebagai manusia, ia dikatakan meniru laki-laki.

Beauvoir melihat psikoanalisa dari titik tolak pengalaman perempuan, libido feminin, seharusnya didefinisikan sebagai sosok manusia yang tengah mencari nilai-nilai di dunia, yang mempelajari perempuan dalam sebuah perspektif eksistensial.