Rabu, 02 Juli 2014

Memoar “Jokowi adalah KITA”



Oleh: Mariana Amiruddin


Jokowi adalah saya. Maksudnya bukan saya seperti Jokowi, tetapi representasi Jokowi sebagai nilai, telah ada dalam memoar hidup saya. Bagaimana mengatakannya? Saya ingin bercerita panjang sekali tentang masa kecil saya, semoga tidak bosan membacanya.

Saya lahir di Jakarta, Indonesia, dan tinggal di Indonesia sampai sekarang. Saya tidak pernah tinggal di luar negeri, dan merasakan langsung sepanjang hidup saya tentang bagaimana menjadi orang Indonesia, sejak kecil hingga dewasa, pindah dari daerah ke daerah, merasakan langsung dampak-dampak kebijakan pemerintah dan kondisi sosial masyarakat atas kehidupan saya sampai saat ini.

Saya anak dari keluarga mampu (bukan keluarga kaya), namun Ayah dan Ibu saya dulu sempat mengalami kesulitan hidup (biasanya disebut miskin), membeli pakaian saja sulit, apalagi membayar biaya sekolah. Nenek dari Ayah saya hanya seorang guru, dan Kakek dari ayah hanya seorang pegawai negeri bidang keuangan pada waktu itu gajinya kecil sekali. Ayah dan Ibu saya ingin nasibnya berubah. Waktu muda, Ayah sering melihat ke tetangganya yang kebetulan keturunan Tionghoa, mendengarkan anak-anak mereka bermain piano. Denting piano yang terdengar dari dalam rumah keluarga keturunan Tionghoa menggugah Ayah saya untuk mencapai cita-cita, kalau orang lain bisa sukses, mengapa kita tidak bisa sukses? Ayah berikrar ingin keluar dari hidup susah dan serba sulit. Dan prinsipnya, bagi orang tidak mampu sepertinya, untuk menjadi sukses jalan satu-satunya adalah belajar sungguh-sungguh, bekerja keras, berhemat dan tidak hidup berlebihan.

Sejak itu Ayah menghabiskan masa mudanya dengan belajar keras dan berhasil membiayai sendiri sekolahnya, hidupnya sangat hemat, ia mengelola uangnya sendiri dengan sangat ketat, sampai akhirnya hidupnya mulai maju sedikit demi sedikit, dan bertemu dengan Ibuku, anak pertama dari delapan bersaudara dan semuanya perempuan. Sebagai anak pertama Ibu harus sering mengalah demi adik-adiknya. Karena tidak mampu membeli baju, ia menjahitkan baju adik-adiknya, kadang-kadang diambilnya dari kain gordyn rumahnya dan disulapnya menjadi gaun yang bagus untuk adik-adiknya. Kakek dari Ibu saya hanya pegawai negeri bidang keuangan di Institut Pertanian Bogor, gajinya tidak begitu bisa menjanjikan pemasukan yang banyak untuk kedelapan anaknya. Nenek dari Ibu saya, adalah perempuan yang terkena penyakit gondok karena kurang gizi, dan Ibuku waktu kecilnya tidak minum ASI, nenek tidak mengeluarkan ASI karena kondisi kesehatannya. Nenek hanya bisa menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Sunda dan bahasa Belanda. Bahasa Indonesianya terbata-bata. Ketika beranjak dewasa, Ibu sempat bekerja di perpustakaan IPB waktu itu, dan gaji yang dia dapatkan digunakannya untuk membelikan tas untuk ibunya, dan hatinya puas bisa membahagiakan orangtuanya yang tidak mampu. Sampai akhirnya Ibu bertemu dengan Ayah saya, bertemu di Bogor saat Ayah masih tinggal di asrama tempatnya belajar, kota yang masih sejuk waktu itu.

Karena ayah sering dinas pindah dari kota ke kota, saya termasuk anak yang pendiam, sering mengkhayal dan mengamati orang. Sering mencatat dan merekam diam-diam dalam pikiran. Saya adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Saya dibentuk sebagai anak yang serius dan harus cepat beradaptasi, mandiri, bergaul dengan orang-orang berbahasa yang berbeda suku, dan saya sering menjadi orang asing di antara mereka. Saya dikenal sebagai anak Jakarta yang kadang ceria, kadang pendiam. Ada yang membenci saya, ada yang menyukai saya. Sepanjang masa kanak-kanak, saya tidak banyak teman karena keterasingan. Banyak bertemu berbagai suku dan agama. Waktu tinggal di Makassar selama 5 tahun sejak taman kanak-kanak saya di sekolah Katolik, saya banyak bertemu anak-anak daerah, maupun anak orang luar negeri yang tinggal di Indonesia seperti dari Jepang, Amerika dan Eropa. Saya sangat pendiam dan begitu asing dengan anak-anak di sekitar saya. Tapi guru-guru menyukai saya, dan rata-rata mereka orang Ambon dan berbahasa Belanda. Keberagaman itu mendamaikan saya, saya senang sekolah di sana. Tapi di rumah, hidup saya lebih banyak dengan saudara-saudara dan hewan-hewan seperti kucing dan anjing yang kebetulan datang ke rumah saya, rumah dinas Ayah saya yang luas halamannya. Hewan-hewan itu kami pelihara. Setelah itu saya ikut keluarga pindah ke Madiun, Jawa Timur. Tidak semua cerita bahagia dalam masa kanak-kanak saya.

Waktu di Jawa Timur, tepatnya di Madiun, saya masuk Sekolah Dasar Negeri kelas 4 dan kelas 5, meskipun rumah begitu nyaman dan banyak sekali pohon buah-buahan yang kami santap gratis setiap hari, sekolah tidak begitu ramah pada saya, baik guru-guru maupun teman-teman. Mereka berbahasa Jawa, sering diam-diam menggunjing saya dan mereka tahu saya tidak mengerti. Saya diajak ikut arisan oleh teman-teman waktu SD, saya tidak mengerti apa itu arisan, lalu ketika dikocok gulungan kertas arisan, nama saya keluar duluan, dan saya diberikan uang arisan. Saya tidak mengerti mengapa uang teman-teman diberikan kepada saya, itukan bukan uang saya? Lalu saya kembalikan. Teman-teman saya bilang saya bodoh, kata mereka, sudah beruntung dapat uang arisan malah dikembalikan. Lalu saya pergi dan mereka mengulang mengocok arisan. Saya tidak mengerti dan tak ada yang menjelaskan. Saya tidak mau bertanya karena saya tidak bisa bahasa Jawa. Waktu saya ikut teman-teman membuat masakan, saya dilarang keras oleh teman-teman ikut serta di dapur. Mereka bilang, nanti tangan saya jadi kasar. Saya dibilang orang kaya, orang Jakarta, seharusnya tidak melakukan hal-hal yang hanya dilakukan orang miskin dan orang desa. Saya tidak mengerti. Saya pergi dari mereka, saya pulang.

Di Madiun saya suka sekali bersepeda, masa kecil saya banyak bersepeda, berenang dan bermain layang-layang, atau berpetualangan ke tempat-tempat terpencil bersama keluarga. Jauh-jauh saya kayuh sepeda berkeranjang. Saya tidak punya teman, apalagi sahabat. Semua menganggap saya orang asing yang aneh. Tapi saya tidak terganggu dan menemukan apa yang saya suka. Saya menyukai tempat sepi, bahkan lahan kuburan dekat rumah dan Masjid yang membuat saya sangat tenang dan damai. Saya sering mengayuh sepeda ke sana. Waktu saya ikut Pramuka, saya tidak pernah takut dengan kuburan. Saya dibilang aneh karena tak ada rasa takut.

Kejadian-kejadian tidak enak kemudian datang ketika belum setahun saya sekolah di sana, beberapa teman memanggilku “Cino Londo”. Saya bingung, lalu bercermin apa yang membuat mereka bilang begitu ke saya. Saya melihat di cermin, kulit saya putih, mata saya sipit, dan rambut saya tampak kemerahan (cokelat muda). Selanjutnya, saya dibilang Cina Singkek. Katanya singkek itu pelit. Kadang mereka bilang saya Wong Sugih, yang artinya orang kaya karena saya dianggap orang Jakarta. Waktu pulang sekolah, saya menuju ke parkiran sepeda di belakang sekolah ternyata ban sepeda saya dikempiskan. Saya menuntun sepeda sampai rumah tanpa ada rasa marah dan lelah. Saya hanya tidak mengerti. Esoknya lagi, ketika saya bersepeda, saya ditendang dari belakang oleh seorang murid sekolah laki-laki yang tidak saya kenal, dia memanggil-manggil saya “Cina Singkek, Cina Singkek” dengan matanya yang dendam. Saya jatuh, dan kakak laki-laki saya, yang kebetulan di sekolah yang sama melawan anak itu, tetapi saya diam saja dan masih saja tidak mengerti.

Kelas 6 SD, pindah ke Jakarta. Betapa ruwetnya kota ini. Saya tidak suka. Saya harus berlarian naik bus metro mini, dan mikrolet, kaki saya yang satu belum naik, bus sudah jalan kencang. Suatu hari saya mengetuk atap bus sebagai tanda berhenti, saya mau turun, tetapi supir tetap melaju kencang. Saya bahkan pernah hampir terjepit diantara bus PPD, mungkin sedikit lagi saya mati. Karena ketukan tanda berhenti saya tidak dipedulikan, saya nekat mengancam ke kondektur bus, bila terus melaju kencang saya akan melompat. Kondektur bus tidak peduli. Dalam hitungan tiga detik saya melompat keluar dari bus yang sedang melaju kencang, dan saya terlempar ke udara sampai akhirnya mendarat di aspal, sepertinya lutut dan siku saya terseret jauh dan terasa sekali betapa kasarnya permukaan aspal jalanan. Dan saat terbang di udara itu, saya mendengar orang-orang malah berteriak eaaaaa…. Lalu mereka tertawa-tawa melihat tindakan saya yang dianggap bodoh. Saya sadar bahwa saya sudah mendarat di aspal dalam posisi telungkup, dan saya tidak merasakan sakit secara fisik, tetapi saya merasakan kecewa dan sakit hati. Saya merasa harus tegar dan tidak boleh tampak lemah. Saya sadar ini Jakarta, jangan harap ada yang membantu dan mengasihani saya. Saya langsung berdiri tegap seperti tidak ada apa-apa. Ternyata bus yang saya naiki tadi berhenti, mungkin punya rasa takut juga kalau saya mati kena geger otak. Kondektur bus berlarian ke arah saya sambil bertanya “kamu tidak apa-apa?” tapi saya tidak menoleh sedikitpun. Saya berdiri dan berjalan dengan gagah sambil meninggalkan kondektur dan orang-orang yang menertawakan saya. Banyak dari mereka adalah laki-laki dewasa. Saya berjalan dengan seragam saya yang kotor terseret aspal. Saat berjalan gagah begitu, ternyata darah banyak mengucur dari siku dan lutut saya. Luka yang dalam. Tapi lebih dalam luka hati saya. Saya berjalan terus sekuat tenaga, sampai akhirnya saya masuk ke jalan kecil menuju rumah. Orang-orang memperhatikan saya yang berlumuran darah, tapi mereka tidak peduli, sayapun mulai belajar tidak peduli. Sampai pagar rumah saya terisak menahan tangis. Saya buka pintu rumah, dan saya langsung roboh dan menangis menjadi-jadi. Orang-orang rumah menyambut saya dengan sangat terkejut… saya dipeluk. Rumah menjadi tempat saya menangis. Saya tak akan tunjukkan tangisan saya di luar rumah.

Saat sekolah di Jakarta teman-teman saya di SD bahkan sampai SMP melihat saya seperti orang desa. Benar, saya lama hidup di daerah, orang daerah bagi mereka seperti orang desa. Bahasa mereka berbeda, kalau memanggil pakai kata lu-gue. Kelas 6 SD, teman-teman perempuan saya sudah tertarik dengan laki-laki, begitu pula sebaliknya, di antara mereka sudah banyak yang pacaran. Saya tidak mengerti, sebab saya pikir kelas 6 SD itu masih kecil, dan saya belum puas dengan masa saya bermain-main. Bagi saya pacaran itu hanya untuk orang dewasa. Barangkali karena keluarga saya sangat protektif, sehingga orang asing bagi saya tidak bisa dipercaya, di luar sana bukan tempat yang aman, apalagi pacaran. Selain karena hidup berpindah-pindah membuat mental saya jadi pendiam dan penuh waspada dengan orang-orang baru. Teman-teman kelas 6 SD saya di sekolah waktu itu sudah berpakaian modis-modis, sudah tahu fashion, sudah tahu mana cantik mana jelek. Saya merasa saya orang jelek karena tidak pandai berdandan seperti mereka. Laki-laki teman sekolah saya juga sering mellihat saya aneh karena saya katanya tomboy sekali, rambut saya pendek sekali, karena memang potongan saya sangat kelaki-lakian, maksudnya biar praktis jadi tidak merepotkan orang tua dan tidak perlu banyak belanja, atau mungkin karena saya tidak punya selera apa-apa selain merasa saya masih anak-anak.

Lalu dari cerita panjang di atas, apa hubungannya dengan Jokowi?

Pertama, saya pernah hidup di daerah, dan orang Jakarta menyebut saya orang desa, orang kampung. Sementara, orang daerah menyebut saya orang kota, orang Jakarta, orang kaya. Kedua, saya pernah dijuluki “Cino Londo”, “Cino Singkek” dan saya mendapat perlakuan keji karena panggilan ini, karena mata saya sipit dan kulit saya putih. Saya tahu betul rasanya diolok-olok karena kulit dan mata saya yang berbeda dengan mereka. Mereka begitu benci dengan Cina, dengan kulit saya. Ketiga, sikap polos dan jujur saya dianggap bodoh. Saya menolak uang arisan, saya melompat dari bus karena tidak mau berhenti. Tetapi, karena kekecewaan-kekecewaan dan sakit hati saya itulah saya menjadi siap mental bila mendapatkan olok-olok.

Ketika dewasa, saya baru tahu bahwa satu-satunya yang membuat kita percaya diri adalah menjadi orang yang berpengetahuan, berkarya, dan memiliki pendapat sendiri, serta tidak terpengaruh dengan orang lain. Menjadi diri sendiri akhirnya keputusan saya saat dewasa, karena saya merasa tak mungkin mengikuti gaya orang lain. Bahkan tidak jarang saya kena fitnah di sekolah waktu di daerah, hanya karena saya dianggap orang Cina. Kertas ulangan saya ditukar, dan nama saya dicoret. Bahkan guru saya membiarkan. Nilai saya sembilan, dan teman saya lima. Ditukar nama saya jadi nama teman saya, jadinya nilai saya yang lima, nilai teman saya yang sembilan. Guru saya malah mengolok-olok mengatakan saya bodoh. Orang Jakarta katanya sombong, kaya dan bodoh, apalagi orang Cina, pantas diperlakukan demikian. Saya tidak menangis. Saya diam saja, saya tidak mengerti. Kata Cina sampai sekarang masih terdengar dalam alam bawah sadar saya sebagai kata olok-olok dan penuh kebencian.

Dari pengalaman kecil itu, saya tumbuh menjadi orang yang tidak bisa membiarkan sesuatu bekerja dengan tidak adil. Saya lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang dipinggirkan. Saya banyak turun ke bawah, ke kamar-kamar buruh, ke keluarga miskin yang hampir meninggal karena tidak punya uang. Ke tempat teman-teman sekolah saya yang tidak mampu. Saya jarang melihat ke atas. Saya bahkan tidak tahu apa yang ada di atas. Saya banyak menemukan jawaban dari banyak pertanyaan masa kecil saya, tentang sikap orang-orang pada orang desa, orang Jakarta, dan Cina. Saya tumbuh mulai berani berkompetisi dalam pendidikan. Cara saya berkompetisi adalah saya tidak menjatuhkan lawan, dan tidak terlalu terusik dengan olok-olok dan fitnah dari lawan untuk menjatuhkan saya, melainkan saya menunjukkan prestasi saya, kesungguhan saya, karya-karya saya, dan untuk melakukannya saya bekerja keras. Tidak sedikit orang yang meremehkan saya karena tidak terlalu bagus dalam penampilan, saya terlalu sederhana, dan dianggap terlalu muda. Seperti biasa, wibawa dan kematangan bagi masyarakat adlaha usia, cara berpenampilan, menarik secara visual, bukan intelektual. Tetapi keremehan ini saya abaikan, saya ganti menjadi kekuatan. Sebab saya adalah saya, dan tak akan ada yang bisa mengubah karakter saya. Dari sinilah saya sering mengambil kemenangan. Kemenangan itu mulai terlihat hari demi hari.

Beberapa pengalaman saya, rasanya ada pada Jokowi. Olok-olok orang pada Jokowi bisa saya rasakan pedihnya. Tapi mungkin Jokowi seperti saya, semakin orang meremehkan saya, semakin saya tunjukkan prestasi saya. Kalah atau menang, saya harus terima, asal saya konsisten dengan niat saya. Tapi kenyataannya saya lebih sering menang.


Selain itu, saya tumbuh bukan sebagai masyarakat kelas menengah atas. Gaji saya kecil, pekerjaan saya pekerjaan sosial. Saya tak mampu beli rumah ataupun mobil. Apalagi untuk foya-foya saya tidak sanggup. Saya juga tidak ada ambisi jadi pemimpin, meski akhirnya saya sempat dipercaya menjadi pemimpin. Saya hanya punya kemauan dan pengetahuan. Karena saya orang biasa, saya tahu betul saya bukan siapa-siapa. Saya hanya mengemukakan apa yang saya ketahui dan tak akan saya ucapkan apa yang saya tidak ketahui. Lalu saya banyak menulis, dan ternyata orang-orang suka dengan tulisan saya, yang bagi saya biasa-biasa saja.
Karena saya orang biasa dan bukan siapa-siapa, dan ketika mengalami kesulitan, saya ternyata sangat dibantu oleh kepemimpinan Jokowi sebagai Gubernur yang baru sebentar itu. Karya-karya Jokowi yang berdampak pada hidup saya adalah, pertama, saat saya tidak punya banyak uang, saya bisa ke puskesmas gratis untuk periksa gigi hanya dengan memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk. 

Kedua, sebagai perempuan, saya bisa dengan mudah mengurus Kartu Keluarga dan pindah KTP tanpa pertanyaan-pertanyaan aneh mengenai jenis kelamin dan status perkawinan saya, juga tidak perlu lagi ada suap, dan birokrasi yang berbelit-belit. Saya mengurusnya hanya dalam dua hari. Sebagaimana kita ketahui, dalam hal administrasi negara, tidak mudah bagi anak perempuan untuk menjadi dirinya sendiri sebagai warga negara karena UU Perkawinan. 

Ketiga, saya senang saat dilakukan lelang jabatan, Jokowi merekrut lurah-lurah perempuan dan memberi kepercayaan kepada mereka sebagai pemimpin yang punya pengabdian pada rakyat, tidak melihat suku dan agama mereka.
Saya pernah dibenci karena saya dianggap orang Cina dan dianggap Kristen.

Keempat, saya menyukai cara kerja dia bersama Ahok sebagai tim, bukan sebagai atasan dan bawahan, memberi kepercayaan penuh dan membela Ahok ditengah serangan FPI dan isu tentang ras dan agama.
Saya menyukai kepemimpinan yang melibatkan orang lain sebagai tim, bukan sebagai bos. 

Kelima, Jokowi langsung menandatangani kontrak dengan KPK saat menjabat Gubernur supaya pegawai-pegawainya tidak lagi terlibat korupsi dan tunduk pada hukum.
Waktu saya kecil, saya sudah menganggap bahwa uang orang lain bukanlah hak saya.

Keenam, sejak menjabat Gubernur, Jokowi bersama AHok membangun keterbukaan informasi mengenai program kerja dan proses kerja mereka.
Atas hal ini, saya melihat adanya upaya keterbukaan dan kepercayaan pada masyarakat bahwa pekerjaan kita memang perlu diketahui orang lain, terutama yang bermanfaat bagi banyak orang.
Ketujuh, karena saya aktif menyuarakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender, saya sangat ingin mengetahui dan mengawasi bagaimana program aksi dalam visi dan misi Jokowi, apakah peduli dengan kondisi perempuan Indonesia, dan saya membacanya, program aksi Jokowi untuk perempuan begitu lengkap, menempatkan perempuan sebagai warga negara yang sama. Perlindungan negara terhadap perempuan langsung dalam berbagai kebijakan, bukan hanya kebijakan yang biasanya hanya dianggap urusan perempuan.

Betul bahwa Jokowi adalah kita. Kita yang mana? Kita yang hidupnya tidak mudah dan tidak semulus orang-orang yang beruntung. Kita yang bisa beruntung karena kita mau jujur, belajar dan bekerja. Kita yang pernah putus asa dan sakit hati karena perlakuan yang diskriminatif. Kita yang ingin keadilan berlaku bagi semua orang baik kelas, ras, gender, dan agama.

Tambun, 3 Juli 2014


Saya di usia 3 tahun