Oleh: Mariana
Amiruddin
Jokowi adalah saya. Maksudnya bukan saya seperti Jokowi, tetapi representasi Jokowi sebagai nilai, telah ada dalam memoar hidup saya. Bagaimana mengatakannya?
Saya ingin bercerita panjang sekali tentang masa kecil saya, semoga tidak bosan
membacanya.
Saya
lahir di Jakarta, Indonesia, dan tinggal di Indonesia sampai sekarang. Saya
tidak pernah tinggal di luar negeri, dan merasakan langsung sepanjang hidup
saya tentang bagaimana menjadi orang Indonesia, sejak kecil hingga dewasa, pindah dari daerah ke daerah, merasakan
langsung dampak-dampak kebijakan pemerintah dan kondisi sosial masyarakat atas kehidupan saya sampai saat
ini.
Saya
anak dari keluarga mampu (bukan keluarga kaya), namun Ayah dan Ibu saya dulu sempat
mengalami kesulitan hidup (biasanya disebut miskin), membeli pakaian saja
sulit, apalagi membayar biaya sekolah. Nenek dari Ayah saya hanya seorang guru,
dan Kakek dari ayah hanya seorang pegawai negeri bidang keuangan pada waktu itu
gajinya kecil sekali. Ayah dan Ibu saya ingin nasibnya berubah. Waktu muda, Ayah
sering melihat ke tetangganya yang kebetulan keturunan Tionghoa, mendengarkan
anak-anak mereka bermain piano. Denting piano yang terdengar dari dalam rumah keluarga
keturunan Tionghoa menggugah Ayah saya untuk mencapai cita-cita, kalau orang
lain bisa sukses, mengapa kita tidak bisa sukses? Ayah berikrar ingin keluar
dari hidup susah dan serba sulit. Dan prinsipnya, bagi orang tidak mampu
sepertinya, untuk menjadi sukses jalan satu-satunya adalah belajar sungguh-sungguh,
bekerja keras, berhemat dan tidak hidup berlebihan.
Sejak
itu Ayah menghabiskan masa mudanya dengan belajar keras dan berhasil membiayai
sendiri sekolahnya, hidupnya sangat hemat, ia mengelola uangnya sendiri dengan
sangat ketat, sampai akhirnya hidupnya mulai maju sedikit demi sedikit, dan
bertemu dengan Ibuku, anak pertama dari delapan bersaudara dan semuanya
perempuan. Sebagai anak pertama Ibu harus sering mengalah demi adik-adiknya. Karena
tidak mampu membeli baju, ia menjahitkan baju adik-adiknya, kadang-kadang
diambilnya dari kain gordyn rumahnya dan disulapnya menjadi gaun yang bagus
untuk adik-adiknya. Kakek dari Ibu saya hanya pegawai negeri bidang keuangan di
Institut Pertanian Bogor, gajinya tidak begitu bisa menjanjikan pemasukan yang
banyak untuk kedelapan anaknya. Nenek dari Ibu saya, adalah perempuan yang
terkena penyakit gondok karena kurang gizi, dan Ibuku waktu kecilnya tidak
minum ASI, nenek tidak mengeluarkan ASI karena kondisi kesehatannya. Nenek
hanya bisa menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Sunda dan bahasa Belanda.
Bahasa Indonesianya terbata-bata. Ketika beranjak dewasa, Ibu sempat bekerja di
perpustakaan IPB waktu itu, dan gaji yang dia dapatkan digunakannya untuk
membelikan tas untuk ibunya, dan hatinya puas bisa membahagiakan orangtuanya
yang tidak mampu. Sampai akhirnya Ibu bertemu dengan Ayah saya, bertemu di
Bogor saat Ayah masih tinggal di asrama tempatnya belajar, kota yang masih sejuk
waktu itu.
Karena
ayah sering dinas pindah dari kota ke kota, saya termasuk anak yang pendiam,
sering mengkhayal dan mengamati orang. Sering mencatat dan merekam diam-diam dalam
pikiran. Saya adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Saya dibentuk sebagai anak
yang serius dan harus cepat beradaptasi, mandiri, bergaul dengan orang-orang
berbahasa yang berbeda suku, dan saya sering menjadi orang asing di antara
mereka. Saya dikenal sebagai anak Jakarta yang kadang ceria, kadang pendiam.
Ada yang membenci saya, ada yang menyukai saya. Sepanjang masa kanak-kanak, saya
tidak banyak teman karena keterasingan. Banyak bertemu berbagai suku dan agama.
Waktu tinggal di Makassar selama 5 tahun sejak taman kanak-kanak saya di
sekolah Katolik, saya banyak bertemu anak-anak daerah, maupun anak orang luar
negeri yang tinggal di Indonesia seperti dari Jepang, Amerika dan Eropa. Saya
sangat pendiam dan begitu asing dengan anak-anak di sekitar saya. Tapi
guru-guru menyukai saya, dan rata-rata mereka orang Ambon dan berbahasa
Belanda. Keberagaman itu mendamaikan saya, saya senang sekolah di sana. Tapi di
rumah, hidup saya lebih banyak dengan saudara-saudara dan hewan-hewan seperti
kucing dan anjing yang kebetulan datang ke rumah saya, rumah dinas Ayah saya
yang luas halamannya. Hewan-hewan itu kami pelihara. Setelah itu saya ikut
keluarga pindah ke Madiun, Jawa Timur. Tidak semua cerita bahagia dalam masa
kanak-kanak saya.
Waktu
di Jawa Timur, tepatnya di Madiun, saya masuk Sekolah Dasar Negeri kelas 4 dan
kelas 5, meskipun rumah begitu nyaman dan banyak sekali pohon buah-buahan yang
kami santap gratis setiap hari, sekolah tidak begitu ramah pada saya, baik
guru-guru maupun teman-teman. Mereka berbahasa Jawa, sering diam-diam menggunjing
saya dan mereka tahu saya tidak mengerti. Saya diajak ikut arisan oleh teman-teman
waktu SD, saya tidak mengerti apa itu arisan, lalu ketika dikocok gulungan
kertas arisan, nama saya keluar duluan, dan saya diberikan uang arisan. Saya
tidak mengerti mengapa uang teman-teman diberikan kepada saya, itukan bukan
uang saya? Lalu saya kembalikan. Teman-teman saya bilang saya bodoh, kata
mereka, sudah beruntung dapat uang arisan malah dikembalikan. Lalu saya pergi
dan mereka mengulang mengocok arisan. Saya tidak mengerti dan tak ada yang
menjelaskan. Saya tidak mau bertanya karena saya tidak bisa bahasa Jawa. Waktu
saya ikut teman-teman membuat masakan, saya dilarang keras oleh teman-teman
ikut serta di dapur. Mereka bilang, nanti tangan saya jadi kasar. Saya dibilang
orang kaya, orang Jakarta, seharusnya tidak melakukan hal-hal yang hanya
dilakukan orang miskin dan orang desa. Saya tidak mengerti. Saya pergi dari
mereka, saya pulang.
Di
Madiun saya suka sekali bersepeda, masa kecil saya banyak bersepeda, berenang
dan bermain layang-layang, atau berpetualangan ke tempat-tempat terpencil
bersama keluarga. Jauh-jauh saya kayuh sepeda berkeranjang. Saya tidak punya
teman, apalagi sahabat. Semua menganggap saya orang asing yang aneh. Tapi saya
tidak terganggu dan menemukan apa yang saya suka. Saya menyukai tempat sepi,
bahkan lahan kuburan dekat rumah dan Masjid yang membuat saya sangat tenang dan
damai. Saya sering mengayuh sepeda ke sana. Waktu saya ikut Pramuka, saya tidak
pernah takut dengan kuburan. Saya dibilang aneh karena tak ada rasa takut.
Kejadian-kejadian
tidak enak kemudian datang ketika belum setahun saya sekolah di sana, beberapa teman
memanggilku “Cino Londo”. Saya bingung, lalu bercermin apa yang membuat mereka
bilang begitu ke saya. Saya melihat di cermin, kulit saya putih, mata saya
sipit, dan rambut saya tampak kemerahan (cokelat muda). Selanjutnya, saya
dibilang Cina Singkek. Katanya singkek itu pelit. Kadang mereka bilang saya
Wong Sugih, yang artinya orang kaya karena saya dianggap orang Jakarta. Waktu
pulang sekolah, saya menuju ke parkiran sepeda di belakang sekolah ternyata ban
sepeda saya dikempiskan. Saya menuntun sepeda sampai rumah tanpa ada rasa marah
dan lelah. Saya hanya tidak mengerti. Esoknya lagi, ketika saya bersepeda, saya
ditendang dari belakang oleh seorang murid sekolah laki-laki yang tidak saya
kenal, dia memanggil-manggil saya “Cina Singkek, Cina Singkek” dengan matanya
yang dendam. Saya jatuh, dan kakak laki-laki saya, yang kebetulan di sekolah
yang sama melawan anak itu, tetapi saya diam saja dan masih saja tidak
mengerti.
Kelas
6 SD, pindah ke Jakarta. Betapa ruwetnya kota ini. Saya tidak suka. Saya harus
berlarian naik bus metro mini, dan mikrolet, kaki saya yang satu belum naik, bus
sudah jalan kencang. Suatu hari saya mengetuk atap bus sebagai tanda berhenti,
saya mau turun, tetapi supir tetap melaju kencang. Saya bahkan pernah hampir
terjepit diantara bus PPD, mungkin sedikit lagi saya mati. Karena ketukan tanda
berhenti saya tidak dipedulikan, saya nekat mengancam ke kondektur bus, bila
terus melaju kencang saya akan melompat. Kondektur bus tidak peduli. Dalam
hitungan tiga detik saya melompat keluar dari bus yang sedang melaju kencang,
dan saya terlempar ke udara sampai akhirnya mendarat di aspal, sepertinya lutut
dan siku saya terseret jauh dan terasa sekali betapa kasarnya permukaan aspal
jalanan. Dan saat terbang di udara itu, saya mendengar orang-orang malah
berteriak eaaaaa…. Lalu mereka tertawa-tawa melihat tindakan saya yang dianggap
bodoh. Saya sadar bahwa saya sudah mendarat di aspal dalam posisi telungkup,
dan saya tidak merasakan sakit secara fisik, tetapi saya merasakan kecewa dan
sakit hati. Saya merasa harus tegar dan tidak boleh tampak lemah. Saya sadar
ini Jakarta, jangan harap ada yang membantu dan mengasihani saya. Saya langsung
berdiri tegap seperti tidak ada apa-apa. Ternyata bus yang saya naiki tadi
berhenti, mungkin punya rasa takut juga kalau saya mati kena geger otak. Kondektur
bus berlarian ke arah saya sambil bertanya “kamu tidak apa-apa?” tapi saya
tidak menoleh sedikitpun. Saya berdiri dan berjalan dengan gagah sambil
meninggalkan kondektur dan orang-orang yang menertawakan saya. Banyak dari
mereka adalah laki-laki dewasa. Saya berjalan dengan seragam saya yang kotor
terseret aspal. Saat berjalan gagah begitu, ternyata darah banyak mengucur dari
siku dan lutut saya. Luka yang dalam. Tapi lebih dalam luka hati saya. Saya
berjalan terus sekuat tenaga, sampai akhirnya saya masuk ke jalan kecil menuju
rumah. Orang-orang memperhatikan saya yang berlumuran darah, tapi mereka tidak
peduli, sayapun mulai belajar tidak peduli. Sampai pagar rumah saya terisak menahan
tangis. Saya buka pintu rumah, dan saya langsung roboh dan menangis
menjadi-jadi. Orang-orang rumah menyambut saya dengan sangat terkejut… saya
dipeluk. Rumah menjadi tempat saya menangis. Saya tak akan tunjukkan tangisan
saya di luar rumah.
Saat
sekolah di Jakarta teman-teman saya di SD bahkan sampai SMP melihat saya
seperti orang desa. Benar, saya lama hidup di daerah, orang daerah bagi mereka
seperti orang desa. Bahasa mereka berbeda, kalau memanggil pakai kata lu-gue.
Kelas 6 SD, teman-teman perempuan saya sudah tertarik dengan laki-laki, begitu
pula sebaliknya, di antara mereka sudah banyak yang pacaran. Saya tidak
mengerti, sebab saya pikir kelas 6 SD itu masih kecil, dan saya belum puas
dengan masa saya bermain-main. Bagi saya pacaran itu hanya untuk orang dewasa.
Barangkali karena keluarga saya sangat protektif, sehingga orang asing bagi
saya tidak bisa dipercaya, di luar sana bukan tempat yang aman, apalagi pacaran.
Selain karena hidup berpindah-pindah membuat mental saya jadi pendiam dan penuh
waspada dengan orang-orang baru. Teman-teman kelas 6 SD saya di sekolah waktu
itu sudah berpakaian modis-modis, sudah tahu fashion, sudah tahu mana cantik
mana jelek. Saya merasa saya orang jelek karena tidak pandai berdandan seperti
mereka. Laki-laki teman sekolah saya juga sering mellihat saya aneh karena saya
katanya tomboy sekali, rambut saya pendek sekali, karena memang potongan saya
sangat kelaki-lakian, maksudnya biar praktis jadi tidak merepotkan orang tua
dan tidak perlu banyak belanja, atau mungkin karena saya tidak punya selera
apa-apa selain merasa saya masih anak-anak.
Lalu
dari cerita panjang di atas, apa hubungannya dengan Jokowi?
Pertama,
saya pernah hidup di daerah, dan orang Jakarta menyebut saya orang desa, orang
kampung. Sementara, orang daerah menyebut saya orang kota, orang Jakarta, orang
kaya. Kedua, saya pernah dijuluki “Cino Londo”, “Cino Singkek” dan saya
mendapat perlakuan keji karena panggilan ini, karena mata saya sipit dan kulit
saya putih. Saya tahu betul rasanya diolok-olok karena kulit dan mata saya yang
berbeda dengan mereka. Mereka begitu benci dengan Cina, dengan kulit saya.
Ketiga, sikap polos dan jujur saya dianggap bodoh. Saya menolak uang arisan,
saya melompat dari bus karena tidak mau berhenti. Tetapi, karena
kekecewaan-kekecewaan dan sakit hati saya itulah saya menjadi siap mental bila
mendapatkan olok-olok.
Ketika
dewasa, saya baru tahu bahwa satu-satunya yang membuat kita percaya diri adalah
menjadi orang yang berpengetahuan, berkarya, dan memiliki pendapat sendiri,
serta tidak terpengaruh dengan orang lain. Menjadi diri sendiri akhirnya
keputusan saya saat dewasa, karena saya merasa tak mungkin mengikuti gaya orang
lain. Bahkan tidak jarang saya kena fitnah di sekolah waktu di daerah, hanya
karena saya dianggap orang Cina. Kertas ulangan saya ditukar, dan nama saya
dicoret. Bahkan guru saya membiarkan. Nilai saya sembilan, dan teman saya lima.
Ditukar nama saya jadi nama teman saya, jadinya nilai saya yang lima, nilai
teman saya yang sembilan. Guru saya malah mengolok-olok mengatakan saya bodoh.
Orang Jakarta katanya sombong, kaya dan bodoh, apalagi orang Cina, pantas
diperlakukan demikian. Saya tidak menangis. Saya diam saja, saya tidak
mengerti. Kata Cina sampai sekarang masih terdengar dalam alam bawah sadar saya
sebagai kata olok-olok dan penuh kebencian.
Dari
pengalaman kecil itu, saya tumbuh menjadi orang yang tidak bisa membiarkan
sesuatu bekerja dengan tidak adil. Saya lebih banyak bergaul dengan orang-orang
yang dipinggirkan. Saya banyak turun ke bawah, ke kamar-kamar buruh, ke
keluarga miskin yang hampir meninggal karena tidak punya uang. Ke tempat
teman-teman sekolah saya yang tidak mampu. Saya jarang melihat ke atas. Saya
bahkan tidak tahu apa yang ada di atas. Saya banyak menemukan jawaban dari
banyak pertanyaan masa kecil saya, tentang sikap orang-orang pada orang desa,
orang Jakarta, dan Cina. Saya tumbuh mulai berani berkompetisi dalam pendidikan. Cara saya
berkompetisi adalah saya
tidak menjatuhkan lawan, dan tidak terlalu terusik dengan olok-olok dan fitnah
dari lawan untuk menjatuhkan saya, melainkan saya menunjukkan prestasi saya,
kesungguhan saya, karya-karya saya, dan untuk melakukannya saya bekerja keras.
Tidak sedikit orang yang meremehkan saya karena tidak terlalu bagus dalam
penampilan, saya terlalu sederhana, dan dianggap terlalu muda. Seperti biasa, wibawa dan kematangan bagi masyarakat adlaha usia, cara berpenampilan, menarik secara visual, bukan intelektual. Tetapi keremehan ini saya abaikan, saya ganti
menjadi kekuatan. Sebab saya adalah saya, dan tak akan ada yang bisa mengubah
karakter saya. Dari sinilah saya sering mengambil kemenangan. Kemenangan itu mulai terlihat hari demi hari.
Beberapa
pengalaman saya, rasanya ada pada Jokowi. Olok-olok orang pada Jokowi bisa saya
rasakan pedihnya. Tapi mungkin Jokowi seperti saya, semakin orang meremehkan saya,
semakin saya tunjukkan prestasi saya. Kalah atau menang, saya harus terima,
asal saya konsisten dengan niat saya. Tapi kenyataannya saya lebih sering menang.
Selain
itu, saya tumbuh bukan sebagai masyarakat kelas menengah atas. Gaji saya kecil,
pekerjaan saya pekerjaan sosial. Saya tak mampu beli rumah ataupun mobil.
Apalagi untuk foya-foya saya tidak sanggup. Saya juga tidak ada ambisi jadi
pemimpin, meski akhirnya saya sempat dipercaya menjadi pemimpin. Saya hanya
punya kemauan dan pengetahuan. Karena saya orang biasa, saya tahu betul saya
bukan siapa-siapa. Saya hanya mengemukakan apa yang saya ketahui dan tak akan
saya ucapkan apa yang saya tidak ketahui. Lalu saya banyak menulis, dan ternyata
orang-orang suka dengan tulisan saya, yang bagi saya biasa-biasa saja.
Karena
saya orang biasa dan bukan siapa-siapa, dan ketika mengalami kesulitan, saya ternyata
sangat dibantu oleh kepemimpinan Jokowi sebagai Gubernur yang baru sebentar itu.
Karya-karya Jokowi yang
berdampak pada hidup saya adalah, pertama, saat saya tidak punya banyak uang, saya bisa ke puskesmas
gratis untuk periksa gigi hanya dengan memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk.
Kedua, sebagai perempuan, saya bisa dengan mudah mengurus Kartu Keluarga dan pindah KTP tanpa pertanyaan-pertanyaan aneh mengenai jenis kelamin dan status perkawinan saya, juga tidak perlu lagi ada suap, dan birokrasi yang berbelit-belit. Saya mengurusnya hanya dalam dua hari. Sebagaimana kita ketahui, dalam hal administrasi negara, tidak mudah bagi anak perempuan untuk menjadi dirinya sendiri sebagai warga negara karena UU Perkawinan.
Ketiga, saya senang saat dilakukan lelang jabatan, Jokowi merekrut lurah-lurah perempuan dan memberi kepercayaan kepada mereka sebagai pemimpin yang punya pengabdian pada rakyat, tidak melihat suku dan agama mereka. Saya pernah dibenci karena saya dianggap orang Cina dan dianggap Kristen.
Keempat, saya menyukai cara kerja dia bersama Ahok sebagai tim, bukan sebagai atasan dan bawahan, memberi kepercayaan penuh dan membela Ahok ditengah serangan FPI dan isu tentang ras dan agama. Saya menyukai kepemimpinan yang melibatkan orang lain sebagai tim, bukan sebagai bos.
Kelima, Jokowi langsung menandatangani kontrak dengan KPK saat menjabat Gubernur supaya pegawai-pegawainya tidak lagi terlibat korupsi dan tunduk pada hukum. Waktu saya kecil, saya sudah menganggap bahwa uang orang lain bukanlah hak saya.
Keenam, sejak menjabat Gubernur, Jokowi bersama AHok membangun keterbukaan informasi mengenai program kerja dan proses kerja mereka. Atas hal ini, saya melihat adanya upaya keterbukaan dan kepercayaan pada masyarakat bahwa pekerjaan kita memang perlu diketahui orang lain, terutama yang bermanfaat bagi banyak orang.
Kedua, sebagai perempuan, saya bisa dengan mudah mengurus Kartu Keluarga dan pindah KTP tanpa pertanyaan-pertanyaan aneh mengenai jenis kelamin dan status perkawinan saya, juga tidak perlu lagi ada suap, dan birokrasi yang berbelit-belit. Saya mengurusnya hanya dalam dua hari. Sebagaimana kita ketahui, dalam hal administrasi negara, tidak mudah bagi anak perempuan untuk menjadi dirinya sendiri sebagai warga negara karena UU Perkawinan.
Ketiga, saya senang saat dilakukan lelang jabatan, Jokowi merekrut lurah-lurah perempuan dan memberi kepercayaan kepada mereka sebagai pemimpin yang punya pengabdian pada rakyat, tidak melihat suku dan agama mereka. Saya pernah dibenci karena saya dianggap orang Cina dan dianggap Kristen.
Keempat, saya menyukai cara kerja dia bersama Ahok sebagai tim, bukan sebagai atasan dan bawahan, memberi kepercayaan penuh dan membela Ahok ditengah serangan FPI dan isu tentang ras dan agama. Saya menyukai kepemimpinan yang melibatkan orang lain sebagai tim, bukan sebagai bos.
Kelima, Jokowi langsung menandatangani kontrak dengan KPK saat menjabat Gubernur supaya pegawai-pegawainya tidak lagi terlibat korupsi dan tunduk pada hukum. Waktu saya kecil, saya sudah menganggap bahwa uang orang lain bukanlah hak saya.
Keenam, sejak menjabat Gubernur, Jokowi bersama AHok membangun keterbukaan informasi mengenai program kerja dan proses kerja mereka. Atas hal ini, saya melihat adanya upaya keterbukaan dan kepercayaan pada masyarakat bahwa pekerjaan kita memang perlu diketahui orang lain, terutama yang bermanfaat bagi banyak orang.
Ketujuh, karena saya aktif
menyuarakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender, saya sangat ingin
mengetahui dan mengawasi bagaimana program aksi dalam visi dan misi Jokowi,
apakah peduli dengan kondisi perempuan Indonesia, dan saya membacanya, program
aksi Jokowi untuk perempuan begitu lengkap, menempatkan perempuan sebagai warga
negara yang sama. Perlindungan negara terhadap perempuan langsung dalam
berbagai kebijakan, bukan hanya kebijakan yang biasanya hanya dianggap urusan
perempuan.
Betul bahwa Jokowi adalah kita. Kita yang mana? Kita yang hidupnya tidak mudah dan tidak semulus orang-orang yang beruntung. Kita yang bisa beruntung karena kita mau jujur, belajar dan bekerja. Kita yang pernah putus asa dan sakit hati karena perlakuan yang diskriminatif. Kita yang ingin keadilan berlaku bagi semua orang baik kelas, ras, gender, dan agama.
Betul bahwa Jokowi adalah kita. Kita yang mana? Kita yang hidupnya tidak mudah dan tidak semulus orang-orang yang beruntung. Kita yang bisa beruntung karena kita mau jujur, belajar dan bekerja. Kita yang pernah putus asa dan sakit hati karena perlakuan yang diskriminatif. Kita yang ingin keadilan berlaku bagi semua orang baik kelas, ras, gender, dan agama.
Tambun, 3 Juli 2014
![]() |
| Saya di usia 3 tahun |
