Oleh Mariana Amiruddin
Orang-orang
memarkirkan kendaraannya, antri berpanjang-panjang memasuki gedung tinggi berkaca-kaca,
beruang-ruang kosong, bermegah-megah mewah, bermerah-merah wangi bangku
penonton, berwarna-warni cahaya lampu-lampu, bersengat-sengit dingin ruangan menusuk.
Duduk, duduklah mereka dalam dingin tanpa keringat dan bau. Dalam karpet yang
bersih dan empuk. Menghadap panggung-panggung, warna-warni kostum, pernak-pernik
perias wajah, rona-rekah wajah-wajah artis televisi dan tawa menertawai para
pengaku komedi.
Di sini, dalam gelap,
di bawah tangga. Bau busuk sampai kerongkongan. Nyamuk-nyamuk memangsa. Sinar,
hanya sinar sebuah warung kelontong, dan karat-karat besi yang rontok dari
tangga, dari bangunan tua yang terjepit diantara kaca-kaca gedung-gedung
kesenian mencakrawala. Hanya dengan segayung dua gayung, kami mandi. Hanya
dengan bertikar lembab di bawah langit, setiap malam kami bertegur sapa. Angin
dan hujan membuat kami berpeluk erat, dalam wajah-wajah kami yang berkeringat
berlemak mengatasi lembab. Semua tidak bisa membuat kami ringkih. Kami
tersungkur di kaki gedung-gedung kaca kesenian yang mencakrawala, kering
kerontang dari kipas-kipas raksasa mereka. Kami tinggal di pantat gedung-gedung
itu. Kami tak mencium wangi seperti mereka mencium wangi dari depan keindahan
gedung itu. Dari kembang-kembang yang dirangkai d idepan pintu. Kami bermukim
di pantat gedung itu, yang tercium bau limbah makanan manusia, plastik-plastik sampah
air mineral, tempat buruh-buruh makan makanan murah, dengan tugas-tugas mereka
yang membersihkan kamar mandi, pipis-pipis mereka, taik-taik mereka,
jejak-jejak sepatu mereka.
Kadang, kami dikatai
gelandangan. Lalu orang besar menawarkan kami makanan dan uang, seperti memberi
makan anjing dan kucing jalanan. Kadang kami diusir, karena bau. Karena kini,
seniman haruslah wangi, bukan seperti gelandangan. Haruslah bersepatu kulit dan
bercerutu. Berjas-jas bukan berjaket-jaket sobek. Seniman, adalah stigma. Soal
mabuk-mabukan setiap malam, perempuan-perempuan bersuara serak yang bersandal-sandal,
dan laki-laki berambut panjang. Kini, seniman mestilah religius, rapi, dan
sedikit punya modal untuk menyewa gedung mahal, untuk menaikkan derajat
pagelaran karya mereka, dan teknologi suara yang menggelegar, dengan
layar-layar besar. Yang tidak punya modal, jangan berharap jadi seniman, jangan
berharap bisa berkarya. Kreatifitas ditentukan oleh fasilitas, bukan oleh ide.
Mahakarya ditentukan oleh jejaring sosial, patron klien, dan industri. Mapan,
seniman harus mapan. Fasilitas, seniman harus punya fasilitas. Kita bukan lagi
Affandi yang mau berkumuh-kumuh, Sutardji Calzoem Bachri yang berlalu-lalang
dan berteduh dengan secangkir kopi di kaki lima. Yang berdiskusi dan bertengkar
di pelataran tempat seni dan kebudayaan. Kita terhimpit oleh parkir-parkir
motor dan mobil yang bertumpuk-tumpuk menghabiskan ruang gerak dan imajinasi.
Kita takut dengan mereka yang punya fasilitas, kita rendah diri dengan keadaan
kita, kita takkan punya penonton yang setia. Kita hanya punya tenggorokan, mata
dan kepala untuk berpikir dan membaca.
Namun, benarkah
demikian? Berkumpulah kami dengan secangkir kopi dan sisa setengah batang rokok
menggelantung di bibir. Duduk setengah gelap di bawah tangga itu. Bicara soal kekalahan
hidup, ketidakpastian, kekurangan. Dulu, kami adalah orang-orang yang berdiri
di panggung langit dan bumi, bangga dalam puisi demi puisi, dalam pertunjukan
demi pertunjukan. Dulu kami tidak hina karena penampilan, kami bangga karena
penciptaan. Dulu, banyak ruang untuk dijadikan peran, dan tak kenal lelah berlatih
menjadi aktor dan aktris, pelukis dan sastrawan, perupa dan musisi, penari dan
grafiti. Melengking-lengking suara kami membelah langit dan dinding-dinding.
Dulu, puncak planetarium adalah panggung kami, pohon mahoni adalah properti kami,
aspal-aspal kami ubah menjadi jalanan berseni. Dulu, apapun kami sulap menjadi
pentas seni, dulu, tidak makanpun kami bisa berkesenian, tak mandipun kami
disambut tepuk tangan. Dulu, pentas bisa di ruangan terbuka, melukis bisa di
bawah langit, pertunjukan di lapangan parkir, berpantomim di tengah kaki lima.
Dulu, kami disayang oleh orang-orang karena keunikan kami, kejutan-kejutan
kami. Sekarang, galeri pameran lukisan diletupi suara-suara musik hip-hop dan pengeras
suara panggilan bioskop.
Suatu hari, kami
berkumpul dan saling membangun optimisme. Tentang industri televisi yang
menguasai kediaman kami, mengubah segalanya menjadi budaya pop. Mengadopsi
artis-artis yang tak pernah menginjak panggung teater. Siapakah kami ini, yang
dihilangkan, dipinggirkan dipersempit ruang. Kami, seperti tokek-tokek yang
punah karena pohon-pohon ditebang, burung-burung yang kehilangan keceriaan.
Lalu, di bawah tangga
itulah, kami mulai berkobar. Seperti arang yang membara sekalipun patah.
Bau-bau tubuh kami berganti menjadi ide-ide cemerlang. Kami saling merespon
manusia-manusia yang lalu-lalang diantara kami. Kami meneliti keadaan kami.
Bisakah kami kembali untuk berkarya seperti dulu lagi? Bisa!
Ya, kami bisa
hanya dengan satu kata: -kerja- ! Lalu kami berbagi tugas, siapa pembuat
naskah, siapa sutradara, siapa pemain, siapa musik, siapa dokumentasi, siapa
penyanyi, siapa penata ruang dan peralatan, dengan apa yang hanya kami miliki.
Kami menyatu.
Kami orang-orang bawah
tangga, adalah simbol kebudayaan orang-orang yang ditenggelamkan. Kami bernasib
tidak baik, hanya karena kami bukan pedagang, bukan saudagar, bukan tokoh agama.
Kebudayaan, bagi kami adalah hidup itu sendiri. Kesenian bagi kami, dimanapun
kami berdiri. Penonton bagi kami, siapapun yang akan melintas kami. Inilah visi
kami, ruang-ruang publik yang harus diisi, dikreasi, dijadikan pertunjukkan.
Biarlah gedung-gedung itu menjadi milik mereka, maka biarlah pelataran ini
menjadi milik kami.
Sebab bagi kami, seniman
berkarya dalam setiap kondisi, kecuali kemapanan. Kemapanan itu bukan ciri
kreatif, melainkan ciri segala fasilitas yang dia miliki.
Komunitas Orang-orang
Bawah Tangga, 25 November 2013, Taman Ismail Marzuki