Sabtu, 23 November 2013

Manifesto Orang-Orang Bawah Tangga


Oleh Mariana Amiruddin

Orang-orang memarkirkan kendaraannya, antri berpanjang-panjang memasuki gedung tinggi berkaca-kaca, beruang-ruang kosong, bermegah-megah mewah, bermerah-merah wangi bangku penonton, berwarna-warni cahaya lampu-lampu, bersengat-sengit dingin ruangan menusuk. Duduk, duduklah mereka dalam dingin tanpa keringat dan bau. Dalam karpet yang bersih dan empuk. Menghadap panggung-panggung, warna-warni kostum, pernak-pernik perias wajah, rona-rekah wajah-wajah artis televisi dan tawa menertawai para pengaku komedi.

Di sini, dalam gelap, di bawah tangga. Bau busuk sampai kerongkongan. Nyamuk-nyamuk memangsa. Sinar, hanya sinar sebuah warung kelontong, dan karat-karat besi yang rontok dari tangga, dari bangunan tua yang terjepit diantara kaca-kaca gedung-gedung kesenian mencakrawala. Hanya dengan segayung dua gayung, kami mandi. Hanya dengan bertikar lembab di bawah langit, setiap malam kami bertegur sapa. Angin dan hujan membuat kami berpeluk erat, dalam wajah-wajah kami yang berkeringat berlemak mengatasi lembab. Semua tidak bisa membuat kami ringkih. Kami tersungkur di kaki gedung-gedung kaca kesenian yang mencakrawala, kering kerontang dari kipas-kipas raksasa mereka. Kami tinggal di pantat gedung-gedung itu. Kami tak mencium wangi seperti mereka mencium wangi dari depan keindahan gedung itu. Dari kembang-kembang yang dirangkai d idepan pintu. Kami bermukim di pantat gedung itu, yang tercium bau limbah makanan manusia, plastik-plastik sampah air mineral, tempat buruh-buruh makan makanan murah, dengan tugas-tugas mereka yang membersihkan kamar mandi, pipis-pipis mereka, taik-taik mereka, jejak-jejak sepatu mereka.

Kadang, kami dikatai gelandangan. Lalu orang besar menawarkan kami makanan dan uang, seperti memberi makan anjing dan kucing jalanan. Kadang kami diusir, karena bau. Karena kini, seniman haruslah wangi, bukan seperti gelandangan. Haruslah bersepatu kulit dan bercerutu. Berjas-jas bukan berjaket-jaket sobek. Seniman, adalah stigma. Soal mabuk-mabukan setiap malam, perempuan-perempuan bersuara serak yang bersandal-sandal, dan laki-laki berambut panjang. Kini, seniman mestilah religius, rapi, dan sedikit punya modal untuk menyewa gedung mahal, untuk menaikkan derajat pagelaran karya mereka, dan teknologi suara yang menggelegar, dengan layar-layar besar. Yang tidak punya modal, jangan berharap jadi seniman, jangan berharap bisa berkarya. Kreatifitas ditentukan oleh fasilitas, bukan oleh ide. Mahakarya ditentukan oleh jejaring sosial, patron klien, dan industri. Mapan, seniman harus mapan. Fasilitas, seniman harus punya fasilitas. Kita bukan lagi Affandi yang mau berkumuh-kumuh, Sutardji Calzoem Bachri yang berlalu-lalang dan berteduh dengan secangkir kopi di kaki lima. Yang berdiskusi dan bertengkar di pelataran tempat seni dan kebudayaan. Kita terhimpit oleh parkir-parkir motor dan mobil yang bertumpuk-tumpuk menghabiskan ruang gerak dan imajinasi. Kita takut dengan mereka yang punya fasilitas, kita rendah diri dengan keadaan kita, kita takkan punya penonton yang setia. Kita hanya punya tenggorokan, mata dan kepala untuk berpikir dan membaca.

Namun, benarkah demikian? Berkumpulah kami dengan secangkir kopi dan sisa setengah batang rokok menggelantung di bibir. Duduk setengah gelap di bawah tangga itu. Bicara soal kekalahan hidup, ketidakpastian, kekurangan. Dulu, kami adalah orang-orang yang berdiri di panggung langit dan bumi, bangga dalam puisi demi puisi, dalam pertunjukan demi pertunjukan. Dulu kami tidak hina karena penampilan, kami bangga karena penciptaan. Dulu, banyak ruang untuk dijadikan peran, dan tak kenal lelah berlatih menjadi aktor dan aktris, pelukis dan sastrawan, perupa dan musisi, penari dan grafiti. Melengking-lengking suara kami membelah langit dan dinding-dinding. Dulu, puncak planetarium adalah panggung kami, pohon mahoni adalah properti kami, aspal-aspal kami ubah menjadi jalanan berseni. Dulu, apapun kami sulap menjadi pentas seni, dulu, tidak makanpun kami bisa berkesenian, tak mandipun kami disambut tepuk tangan. Dulu, pentas bisa di ruangan terbuka, melukis bisa di bawah langit, pertunjukan di lapangan parkir, berpantomim di tengah kaki lima. Dulu, kami disayang oleh orang-orang karena keunikan kami, kejutan-kejutan kami. Sekarang, galeri pameran lukisan diletupi suara-suara musik hip-hop dan pengeras suara panggilan bioskop.

Suatu hari, kami berkumpul dan saling membangun optimisme. Tentang industri televisi yang menguasai kediaman kami, mengubah segalanya menjadi budaya pop. Mengadopsi artis-artis yang tak pernah menginjak panggung teater. Siapakah kami ini, yang dihilangkan, dipinggirkan dipersempit ruang. Kami, seperti tokek-tokek yang punah karena pohon-pohon ditebang, burung-burung yang kehilangan keceriaan.
Lalu, di bawah tangga itulah, kami mulai berkobar. Seperti arang yang membara sekalipun patah. Bau-bau tubuh kami berganti menjadi ide-ide cemerlang. Kami saling merespon manusia-manusia yang lalu-lalang diantara kami. Kami meneliti keadaan kami. Bisakah kami kembali untuk berkarya seperti dulu lagi? Bisa! 

Ya, kami bisa hanya dengan satu kata: -kerja- ! Lalu kami berbagi tugas, siapa pembuat naskah, siapa sutradara, siapa pemain, siapa musik, siapa dokumentasi, siapa penyanyi, siapa penata ruang dan peralatan, dengan apa yang hanya kami miliki. Kami menyatu.

Kami orang-orang bawah tangga, adalah simbol kebudayaan orang-orang yang ditenggelamkan. Kami bernasib tidak baik, hanya karena kami bukan pedagang, bukan saudagar, bukan tokoh agama. Kebudayaan, bagi kami adalah hidup itu sendiri. Kesenian bagi kami, dimanapun kami berdiri. Penonton bagi kami, siapapun yang akan melintas kami. Inilah visi kami, ruang-ruang publik yang harus diisi, dikreasi, dijadikan pertunjukkan. Biarlah gedung-gedung itu menjadi milik mereka, maka biarlah pelataran ini menjadi milik kami.

Sebab bagi kami, seniman berkarya dalam setiap kondisi, kecuali kemapanan. Kemapanan itu bukan ciri kreatif, melainkan ciri segala fasilitas yang dia miliki.

Komunitas Orang-orang Bawah Tangga, 25 November 2013, Taman Ismail Marzuki