Minggu, 01 Juni 2014

Tulislah Mulai dari Dirimu Sendiri (Literasi Feminis)

Oleh: Mariana Amiruddin

Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, melainkan apa yang melampauinya yaitu kemampuan menggunakan bahasa dan pengetahuan secara bersamaan. Literasi adalah menunjukan kualitas seseorang dalam beraksara. Makna literasi berhubungan dengan pengetahuan, pendidikan, pembelajaran. Dan antonim dari kata literasi adalah ketidakpedulian (ignorance), kebodohan, ketidakmampuan untuk memaknai aksara, dan ketidakmampuan untuk menganalilsisaksara. Aksara dalam hal ini dapat disebut sebagai teks. Teks-teks bukan hanya huruf-kata-kalimat, tetapi juga peristiwa. Kemampuan seseorang dalam membaca teks-teks peristiwa, atau hal-hal yang menyangkut kehidupan baik secara politik, budaya, maupun sosial. Literasi berhubungan dengan makna budaya,  pencerahan, pembacaan, penulisan, kecermatan atau ketelitian.

Literasi kemudian berkembang dalam dunia teknologi sebagai kemampuan seseorang dalam memahami dan menggunakan sistem simbol seperti mengoperasionalkan komputer dan mengkomunikasikan makna pengetahuan. Literasi sekali lagi melampaui hal-hal yang berurusan dengan membaca dan menulis, tetapi juga kemahiran dalam melihat konteks, teknologi visual, audio, dan cetak (media literasi), gelagat tubuh.
Di Indonesia dalam Kamus Besar Bahasa, masih mengartikan literasi sebagai sesuatu yang berhubungan dengan tulis menulis. Padahal, literasi dapat juga diartikan sebagai orang yang melek teknologi, melek politik, berpikiran kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar. Inilah apa yang saya sebut sebagai kemampuan membaca teks-teks peristiwa. UNESCO kemudian meramu kata literasi sebagai kemampuan mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengkomunikasikan, dan kemampuan berhitung, juga kemampuan berkomunikasi dalam masyarakat terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya.

Apa yang Menarik dari Tulisan?

Tulisan bagi saya adalah sebuah artefak modern yang menghindar dari teks visual yang pendek makna. Kelebihan dari produk tulisan adalah dapat menyimpan fakta-fakta atau imajinasi-imajinasi dan bertahan lebih lama dibandingkan hidup manusia itu sendiri. Tulisan lebih mudah dipelihara dari generasi satu ke generasi lainnya. Kelebihan kedua, tulisan, dapat memberikan keleluasaan kepada penulis untuk memiliki ruang dan waktu dan tentu berpikir sebelum mengatakan sesuatu, tak terkendala oleh kehadiran lawan komunikasinya. Karya tulis memiliki kemampuan bahasa penulis itu sendiri, karena telah melewati proses pemikiran, perencanaan, dan pemantauan yang memadai.

Indonesia, adalah negara yang masih memiliki tradisi lisan yang kuat, dan sangat jauh dari tradisi membaca dan menulis. Ini baik pada perempuan maupun laki-laki, tetapi perempuan masih lebih banyak. Indonesia, masih lebih tertarik pada budaya oral atau lisan yang disajikan media-media visual seperti televisi dan film. Sistem jejaring sosial atau yang disebut sosial media bukanlah sebuah perangkat untuk membawa seseorang pada budaya tulisan, melainkan budaya lisan yang dituliskan. Pengguna facebook dan twitter paling banyak adalah di Indonesia, dan isinya paling banyak digunakan untuk bercakap-cakap atau berkomentar satu dengan yang lain. Begitu juga dalam teknologi komunikasi telepon genggam dan internet.

Bila kita teliti bagaimana seseorang menggunakan jejaring sosial media ataupun teknologi komunikasi antara yang “melek” dan “yang buta” literasi, terlihat dari bahasa yang mereka gunakan. Bahasa literasi di sosial media akan terlihat lebih mahir menyampaikan pengetahuan dan kesadaran atas lingkungannya, dan kemampuan dalam menggunakan bahasa, meskipun yang dibicarakan adalah kehidupan sehari-hari.

Literasi dan Feminisme: Dimana Perempuan?

Masih banyak perempuan yang merasakan bahwa menulis adalah sesuatu yang terlalu tinggi baginya, terutama untuk sebuah tulisan yang dianggap intelek. Bagi perempuan, menulis lebih banyak dilakukan diam-diam melalui catatan atau buku harian yang disimpannya. Buku-buku harian milik perempuan kebanyakan membicarakan tentang mimpi atas cinta dan keluarga. Buku-buku harian itu sekarang tampak dalam teks-teks di sosial media mereka yang berisi penuh tentang cinta dan keluarga yang menampilkan seperti foto-foto anak mereka, hubungan mereka dengan suami atau pacar, atau apa yang mereka belanjakan atau apa yang mereka masak, apa yang mereka makan dan jalan-jalan. Pertanyaannya adalah, apakah ini berlawanan dengan literasi? Bila kita bicara pengetahuan atas budaya, politik, sosial dan lingkungan, maka apakah hal-hal yang diungkap perempuan yang hidupnya sangat penuh dengan keseharian ini akan menyulitkan kita kepada pencapaian literasi? Apakah kemudian perempuan menjadi seorang yang bodoh atau tidak melek, atau yang tidak literate tak terdidik, tidak perduli dan sebagainya? Nanti dulu, dalam feminisme terutama yang mengkaji tentang linguistik, Luce Irigaray dan Helene Cixous memiliki strategi jitu menyediakan perempuan sebuah “karpet merah” untuk menjadi terdidik, dimana teks atau tulisan tidak perlu lepas dari keseharian hidup dirinya.

Kredo dari Luce Irigaray “Aku seorang perempuan. Aku menulis dengan keperempuananku.”
Kredo dari Helene Cixous: “Ketika saya berkata `perempuan', saya bicara perempuan dalam perjuangannya  melawan konvensi patriarkhi"

Jadi inilah tawaran feminis ketika bicara soal perempuan dan literasi. Cixous memberi banyak metafor bagaimana perempuan yang menulis catatan harian adalah kekuatan tersendiri, dimana kita tidak perlu takut salah, tetapi kita melatih terus untuk sampai pada kemahiran menulis, mengenal kata-kata, menyimpan memori. Buku harian tidak ada yang membaca, tetapi kita dapat membaca diri kita sendiri, berdialog dengan janji-janji dan cita-cita diri kita sendiri. Kita tahu sejarah kita sendiri tanpa ada yang menganggu. Kemudian Cixous mengatakan: Jangan ada perasaan bersalah saat ingin menuliskan (baca: menyatakan sesuatu) yang berkaitan dengan diri, tubuh, dan pengalamannya. Feminisme mengatakan bahwa satu-satunya yang tidak dimiliki oleh laki-laki adalah “pengalaman perempuan”, dan pengalaman itulah yang menjadi “pengetahuan perempuan”.

Cixous mengatakan dengan menulis, perempuan akan mengembalikan otoritas tubuhnya, dan tak lagi menyerahkannya pada laki-laki. Menyerahkan tubuhnya berarti membunuh pikiran dan nafas sekaligus. Selama ini tubuh perempuan dinyatakan, dituliskan dalam pandangan laki-laki atau patriarkhi maka kali ini dalam pandangan perempuan sendiri, dan inilah apa yang disebut pengetahuan.

Why don't you write?
Write!
Writing is for you;
your body is yours, take it
Write yourself. Your body must be heard.

Bagi Cixous menulis adalah ungkapan budaya untuk mengubah nasib perempuan. Oleh karenanya perempuan dianjurkan untuk menjadi literate atau “melek” dalam memproduksi dan mengkonsumsi teks (menulis dan membaca) supaya  perempuan menjadi subyek penentu dalam menciptakan teks dan masuk ke dalam teks itu sendiri. Pernyataan Cixous tentu saja dalam konteks literasi dan pemberdayaan perempuan, agar perempuan tercerahkan. Cixous adalah ahli linguistik dan memasukkan karya-karyanya dengan wacana seksualitas feminis dan kominasi teori psikoanalisis, sastra dan antropologi. Cixous bahkan menulis teori-teori linguistik dalam bentuk seni dan memotivasi para perempuan untuk mengubah jalan mereka dan kemudian melakukannya dalam dunia nyata.


Menulis Membongkar Alam Bawah Sadar

Meminjam Sigmund Freud, bagi Cixous teks adalah produk pengarang yang merepresentasikan adanya neurosis dan merupakan proses identifikasi pengarang.  Menulis akan membawa kita pada sebuah refleksi hidup ataupun kematian. Cixous melakukan dekonstruksi-dekonstruksi makna bahasa yang diciptakan patriarkhi seperti ketakutan akan kematian. "Kematian bukanlah apa-apa. Itu bukanlah sesuatu. Itu hanya sebuah  lubang. Saya dapat mengisinya dengan fantasi dan memberinya nama, jika saya ingin. "

Memakai kekayaan metafora yang dikembangkan teori-teori psikoanalisa Freud,  Cixous melakukan dekonstruksi atau membongkar teori-teori Freud dalam arti baru, yaitu menyetarakan kematian dengan maskulin sedangkan kehidupan dengan feminin. Bagi Cixous, perempuan memiliki tradisi "memberi" sebagai bentuk kedermawanan, adalah perbuatan yang lebih, adanya kerelaan karena kelimpahan. Ini yang disebut ekonomi feminin, pertukaran yang penuh dengan kerelaan, sedangkan maskulin lebih menempatkan pertukaran ekonomi sebagai konstruksi sosial dan selalu membutuhkan suatu pengakuan (legitimasi, justifikasi).

Write Yourself!

Ini adalah militansi feminin yang dibangun Cixous agar perempuan keluar dari kebisuannya. Meski perempuan diasosiasikan pada posisi yang dirugikan, tetapi perempuan telah memberi hidup dan kekuatan. Di sinilah militansi feminin ikut berperan. "`Bapak' hanyalah konvensi linguistik, sedangkan `ibu' adalah `tubuh' dan `nama itu sendiri'," demikian menurutnya. Tubuh perempuan yang menulis sangat dekat dengan suara dan irama. Perempuan menulis dengan tinta putih, tak ada batasan baginya dalam produksi teks, sementara laki-laki menulis dengan tinta hitam, terlalu banyak aturan atau konvensi yang harus mereka lalui demi sebuah pengakuan. Kembali pada alam bawah sadar, perempuan sebagian hidupnya tersimpan dalam alam bawah sadar, karena terlalu sering memerankan peran pasif, dan dalam menulis, alam bawah sadar tersebut menjadi sumberdaya yang  luar biasa. Alam bawah sadar yang dituliskan bukan lagi sebagai sebuah represi psikologis.


Tambun, 30 Mei 2014