Oleh: Mariana Amiruddin
Literasi bukan
hanya soal kemampuan membaca dan menulis, melainkan apa yang melampauinya yaitu
kemampuan menggunakan bahasa dan pengetahuan secara bersamaan. Literasi adalah
menunjukan kualitas seseorang dalam beraksara. Makna literasi berhubungan
dengan pengetahuan, pendidikan, pembelajaran. Dan antonim dari kata literasi
adalah ketidakpedulian (ignorance), kebodohan,
ketidakmampuan untuk memaknai aksara, dan ketidakmampuan untuk menganalilsisaksara.
Aksara dalam hal ini dapat disebut sebagai teks. Teks-teks bukan hanya
huruf-kata-kalimat, tetapi juga peristiwa. Kemampuan seseorang dalam membaca
teks-teks peristiwa, atau hal-hal yang menyangkut kehidupan baik secara
politik, budaya, maupun sosial. Literasi berhubungan dengan makna budaya, pencerahan, pembacaan, penulisan, kecermatan
atau ketelitian.
Literasi kemudian
berkembang dalam dunia teknologi sebagai kemampuan seseorang dalam memahami dan
menggunakan sistem simbol seperti mengoperasionalkan komputer dan
mengkomunikasikan makna pengetahuan. Literasi sekali lagi melampaui hal-hal
yang berurusan dengan membaca dan menulis, tetapi juga kemahiran dalam melihat
konteks, teknologi visual, audio, dan cetak (media literasi), gelagat tubuh.
Di Indonesia dalam
Kamus Besar Bahasa, masih mengartikan literasi sebagai sesuatu yang berhubungan
dengan tulis menulis. Padahal, literasi dapat juga diartikan sebagai orang yang
melek teknologi, melek politik, berpikiran kritis dan peka terhadap lingkungan
sekitar. Inilah apa yang saya sebut sebagai kemampuan membaca teks-teks
peristiwa. UNESCO kemudian meramu kata literasi sebagai kemampuan
mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengkomunikasikan, dan
kemampuan berhitung, juga kemampuan berkomunikasi dalam masyarakat terkait
dengan pengetahuan, bahasa dan budaya.
Apa yang Menarik dari Tulisan?
Tulisan bagi saya
adalah sebuah artefak modern yang menghindar dari teks visual yang pendek makna.
Kelebihan dari produk tulisan adalah dapat menyimpan fakta-fakta atau
imajinasi-imajinasi dan bertahan lebih lama dibandingkan hidup manusia itu
sendiri. Tulisan lebih mudah dipelihara dari generasi satu ke generasi lainnya.
Kelebihan kedua, tulisan, dapat memberikan keleluasaan kepada penulis untuk
memiliki ruang dan waktu dan tentu berpikir sebelum mengatakan sesuatu, tak
terkendala oleh kehadiran lawan komunikasinya. Karya tulis memiliki kemampuan
bahasa penulis itu sendiri, karena telah melewati proses pemikiran,
perencanaan, dan pemantauan yang memadai.
Indonesia, adalah
negara yang masih memiliki tradisi lisan yang kuat, dan sangat jauh dari
tradisi membaca dan menulis. Ini baik pada perempuan maupun laki-laki, tetapi
perempuan masih lebih banyak. Indonesia, masih lebih tertarik pada budaya oral
atau lisan yang disajikan media-media visual seperti televisi dan film. Sistem
jejaring sosial atau yang disebut sosial media bukanlah sebuah perangkat untuk
membawa seseorang pada budaya tulisan, melainkan budaya lisan yang dituliskan.
Pengguna facebook dan twitter paling banyak adalah di Indonesia, dan isinya
paling banyak digunakan untuk bercakap-cakap atau berkomentar satu dengan yang
lain. Begitu juga dalam teknologi komunikasi telepon genggam dan internet.
Bila kita teliti
bagaimana seseorang menggunakan jejaring sosial media ataupun teknologi
komunikasi antara yang “melek” dan “yang buta” literasi, terlihat dari bahasa
yang mereka gunakan. Bahasa literasi di sosial media akan terlihat lebih mahir
menyampaikan pengetahuan dan kesadaran atas lingkungannya, dan kemampuan dalam
menggunakan bahasa, meskipun yang dibicarakan adalah kehidupan sehari-hari.
Literasi dan Feminisme: Dimana
Perempuan?
Masih banyak
perempuan yang merasakan bahwa menulis adalah sesuatu yang terlalu tinggi
baginya, terutama untuk sebuah tulisan yang dianggap intelek. Bagi perempuan,
menulis lebih banyak dilakukan diam-diam melalui catatan atau buku harian yang
disimpannya. Buku-buku harian milik perempuan kebanyakan membicarakan tentang
mimpi atas cinta dan keluarga. Buku-buku harian itu sekarang tampak dalam
teks-teks di sosial media mereka yang berisi penuh tentang cinta dan keluarga
yang menampilkan seperti foto-foto anak mereka, hubungan mereka dengan suami
atau pacar, atau apa yang mereka belanjakan atau apa yang mereka masak, apa
yang mereka makan dan jalan-jalan. Pertanyaannya adalah, apakah ini berlawanan
dengan literasi? Bila kita bicara pengetahuan atas budaya, politik, sosial dan
lingkungan, maka apakah hal-hal yang diungkap perempuan yang hidupnya sangat
penuh dengan keseharian ini akan menyulitkan kita kepada pencapaian literasi?
Apakah kemudian perempuan menjadi seorang yang bodoh atau tidak melek, atau
yang tidak literate tak terdidik,
tidak perduli dan sebagainya? Nanti dulu, dalam feminisme terutama yang
mengkaji tentang linguistik, Luce Irigaray dan Helene Cixous memiliki strategi
jitu menyediakan perempuan sebuah “karpet merah” untuk menjadi terdidik, dimana
teks atau tulisan tidak perlu lepas dari keseharian hidup dirinya.
Kredo dari Luce
Irigaray “Aku seorang perempuan. Aku menulis dengan keperempuananku.”
Kredo dari Helene Cixous: “Ketika saya berkata `perempuan', saya bicara
perempuan dalam perjuangannya melawan
konvensi patriarkhi
"
Jadi inilah tawaran feminis ketika bicara soal
perempuan dan literasi. Cixous memberi banyak metafor bagaimana perempuan yang
menulis catatan harian adalah kekuatan tersendiri, dimana kita tidak perlu
takut salah, tetapi kita melatih terus untuk sampai pada kemahiran menulis,
mengenal kata-kata, menyimpan memori. Buku harian tidak ada yang membaca,
tetapi kita dapat membaca diri kita sendiri, berdialog dengan janji-janji dan
cita-cita diri kita sendiri. Kita tahu sejarah kita sendiri tanpa ada yang
menganggu. Kemudian Cixous mengatakan: Jangan ada perasaan bersalah saat ingin
menuliskan (baca: menyatakan sesuatu) yang berkaitan dengan diri, tubuh, dan
pengalamannya. Feminisme mengatakan bahwa satu-satunya yang tidak dimiliki oleh
laki-laki adalah “pengalaman perempuan”, dan pengalaman itulah yang menjadi
“pengetahuan perempuan”.
Cixous mengatakan dengan menulis, perempuan
akan mengembalikan otoritas tubuhnya, dan tak lagi menyerahkannya pada
laki-laki. Menyerahkan tubuhnya berarti membunuh pikiran dan nafas sekaligus.
Selama ini tubuh perempuan dinyatakan, dituliskan dalam pandangan laki-laki
atau patriarkhi maka kali ini dalam pandangan perempuan sendiri, dan inilah apa
yang disebut pengetahuan.
Why don't you
write?
Write!
Writing is
for you;
your body is
yours, take it
Write
yourself. Your body must be heard.
Bagi Cixous menulis adalah ungkapan budaya untuk mengubah nasib
perempuan. Oleh karenanya perempuan dianjurkan untuk menjadi literate atau “melek” dalam memproduksi
dan mengkonsumsi teks (menulis dan membaca) supaya perempuan menjadi subyek penentu dalam
menciptakan teks dan masuk ke dalam teks itu sendiri. Pernyataan Cixous tentu
saja dalam konteks literasi dan pemberdayaan perempuan, agar perempuan
tercerahkan. Cixous adalah ahli linguistik dan memasukkan karya-karyanya dengan
wacana seksualitas feminis dan kominasi teori psikoanalisis, sastra dan
antropologi. Cixous bahkan menulis teori-teori linguistik dalam bentuk seni dan
memotivasi para perempuan untuk mengubah jalan mereka dan kemudian melakukannya
dalam dunia nyata.
Menulis Membongkar
Alam Bawah Sadar
Meminjam Sigmund Freud, bagi Cixous teks adalah produk pengarang yang merepresentasikan
adanya neurosis dan merupakan proses identifikasi pengarang. Menulis akan membawa kita pada sebuah
refleksi hidup ataupun kematian. Cixous melakukan dekonstruksi-dekonstruksi
makna bahasa yang diciptakan patriarkhi seperti ketakutan akan kematian. "Kematian
bukanlah apa-apa. Itu bukanlah sesuatu. Itu hanya sebuah lubang. Saya dapat mengisinya dengan fantasi
dan memberinya nama, jika saya ingin. "
Memakai kekayaan metafora yang dikembangkan teori-teori psikoanalisa
Freud, Cixous melakukan dekonstruksi
atau membongkar teori-teori Freud dalam arti baru, yaitu menyetarakan kematian
dengan maskulin sedangkan kehidupan dengan feminin. Bagi Cixous, perempuan
memiliki tradisi "memberi" sebagai bentuk kedermawanan, adalah
perbuatan yang lebih, adanya kerelaan karena kelimpahan. Ini yang disebut
ekonomi feminin, pertukaran yang penuh dengan kerelaan, sedangkan maskulin lebih
menempatkan pertukaran ekonomi sebagai konstruksi sosial dan selalu membutuhkan
suatu pengakuan (legitimasi, justifikasi).
Write
Yourself!
Ini adalah militansi feminin yang dibangun Cixous agar perempuan keluar
dari kebisuannya. Meski perempuan diasosiasikan pada posisi yang dirugikan,
tetapi perempuan telah memberi hidup dan kekuatan. Di sinilah militansi feminin
ikut berperan. "`Bapak' hanyalah konvensi linguistik, sedangkan `ibu' adalah
`tubuh' dan `nama itu sendiri'," demikian menurutnya. Tubuh perempuan yang
menulis sangat dekat dengan suara dan irama. Perempuan menulis dengan tinta putih,
tak ada batasan baginya dalam produksi teks, sementara laki-laki menulis dengan
tinta hitam, terlalu banyak aturan atau konvensi yang harus mereka lalui demi
sebuah pengakuan. Kembali pada alam bawah sadar, perempuan sebagian hidupnya
tersimpan dalam alam bawah sadar, karena terlalu sering memerankan peran pasif,
dan dalam menulis, alam bawah sadar tersebut menjadi sumberdaya yang luar biasa. Alam bawah sadar yang dituliskan
bukan lagi sebagai sebuah represi psikologis.
Tambun, 30 Mei 2014
