Minggu, 15 Juni 2014

Orang Desa Memimpin Indonesia


Oleh: Mariana Amiruddin

Dalam debat capres tadi, saya memperhatikan satu hal dari hasil Survey Indikator: orang desa suka Jokowi, orang kota suka Prabowo, dan keduanya imbang. Apakah ketika saya memilih Jokowi maka saya adalah orang desa? Tapi saya lahir dan tinggal di kota, lalu masa kecil berpindah-pindah tempat, ke daerah, ke desa,  ke kota, bercampur-campur hidup saya dalam hal desa dan kota. Kini saya tinggal di pinggir kota. Apakah saya orang desa? Bila ya, tidak masalah, saya senang dibilang orang desa. Desa dalam bayangan saya adalah kehidupan sederhana yang dikelilingi lingkungan asri, kebutuhan pokok yang murah, jauh dari kemacetan, masih bisa mencium bau tanah dan bunyi jangkrik serta bau embun pagi, kokok ayam dan cicit burung. Atau arus pantai yang deras, ombak menggulung, dan angin laut, ikan segar. Meskipun potret desa saat ini jauh dari bayangan keindahan tadi, desa yang dikelilingi oleh kekayaan alam, kini menjadi potret kemiskinan bangsa kita: petani menjadi buruh tani, nelayan menjadi buruh nelayan, karena tanah dan laut sudah menjadi milik tuan-tuan.

Kehidupan desa memang sederhana, sebelum akhirnya kita mengatakannya miskin karena kesulitan biaya hidup, akses kesehatan, pendidikan, bahkan mengolah makanan. Tetapi mereka tidak membuat pagar tinggi bukan karena soal kemiskinan, melainkan mereka tidak memerlukan pagar-pagar tinggi dan tembok-tembok tebal. Mereka orang-orang yang santai dengan lingkungan karena hidupnya penuh rasa aman.

Saya menonton debat capres malam ini, Jokowi memang mewakili karakter orang desa tidak mau bombastis, bukan orang yang terbiasa dengan panggung, memilih realistis yang menurutnya akan memudahkan pencapaian. Karakter orang kota, sebagaimana iklan-iklan produk yang menjejal: bombastis, propagandis, pertama-tama adalah citra, kesenangan visual menentukan pandangan pertama seseorang. Lalu apakah itu berarti orang desa suka realistis dan orang kota suka bombastis? Apakah karena orang desa masih perlu kebutuhan dasar, sementara kebutuhan dasar orang kota adalah ilusi?

Soal kota dan desa, kota memang sangat berkuasa. Relasinya tidak setara. Kota sebagai ukuran kesuksesan. Tetapi orang kota juga banyak yang mempelajari desa dan mengatakan bahwa mengabaikan desa sama dengan meruntuhkan ekonomi Indonesia. Kota tumbuh berkembang pesat justru berkat orang desa yang berduyun-duyun pindah ke kota, menjadi pekerja industri, menjadi pelayan-pelayan restoran, dan mereka pulang ke desa membawa uang, membangun rumah mereka yang mirip dengan orang kota, dan akan menjadi kebanggaan. Sementara orang kota dilanda pengangguran bahkan sekalipun yang sudah lulus sarjana, frustasi, terjerat narkoba, kekerasan dan berharap pada keajaiban. Tetapi desa kemudian ditinggalkan orang desa, orang kota entah mau ke mana. Jokowi sebagai orang yang menjajagi hidupnya mulai dari desa, kota, lalu berinteraksi dengan dunia internasional, melihat aspek bahwa kemandirian desa, atau keberdayaan desa, akan membuat kita tidak perlu lagi impor bahan-bahan makanan, barang, dengan demikian kita bisa menabung, dan kota menjadi tidak penuh karena orang betah tinggal di desa. Tapi orang desa mulai ikut-ikutan berilusi, tentang gaya hidup yang mereka angan-angankan seperti di televisi. Lalu bagaimana sesuatu bisa dikatakan orang desa dan orang kota? Jokowi sering ditertawakan karena orang kota membayangkan memiliki seorang presiden seorang tukang kayu dan tukang mebel. Atau orang desa yang menganggap orang ini tidak keren.

Saya mulai mempelajari dan mulai berpihak, saya setuju Jokowi. Strategi Jokowi tentang memberdayakan desa dan industri kecil itu bukan hal yang luar biasa, tetapi menjadi luar biasa bila itu diimplementasikan, sebab aspek ini jarang dijadikan strategi utama ekonomi dalam skala nasional, dipandang sebelah mata, bahkan tidak pernah keluar dari kerongkongan dan aksi kerja pemimpin bangsa, yang seharusnya menyadari bahwa kontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini justru potensial dari desa, dari daerah-daerah, dari industri rakyat, pedagang kaki lima dan pasar tradisional serta ekonomi kreatif. Satu-satunya penyelamat ekonomi Indonesia disaat krisis global adalah sektor-sektor tersebut yang biasanya disebut sektor informal. Sektor-sektor informal inilah yang banyak diisi oleh kaum perempuan dan anak muda. Kesadaran atas ekonomi rakyat itulah program Jokowi yang realistis dan kontekstual, yang menyadari lintas perdagangan perlu memperhatikan letak geografis kepulauan dan kelautan supaya daerah-daerah lain juga perlu berkembang tanpa alasan hambatan alam. Jokowi menyadari bahwa pemerataan ekonomi bukan dengan membagikan uang, tetapi memberdayakan orang. Dan keberdayaan serta keseimbangan adalah bahan dasar keadilan. Tol laut menjadi realistis dalam membicarakan soal kemandirian ekonomi melalui akses lintas perdagangan antar pulau di Indonesia, untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah. Wujud keadilan dan kesejahteraan dalam aspek ini sangat masuk akal, karena manusia dilihat sebagai subyek, bukan obyek pembangunan. Ini sebagaimana semangat desentralisasi atau otonomi daerah yang lahir dari reformasi, setiap daerah berkembang karena kemandiriannya, bukan karena kekuasaan sewenang-wenang kepala daerah. Jokowi mengadopsi kejayaan Nusantara yang dimulai dari transportasi perdagangan yang memanfaatkan kelautan, yang menunjukkan adanya kesadaran geografis yang sudah ada berabad lalu.

Bicara soal orang kota, setiap kota selalu ada sisi desa, yang dijuluki "pinggiran" atau “kampung”. Saya, tinggal diantara kampung dan kota. Saya tinggal di tengah-tengah lintas ekonomi desa, dari kampung ke kota, balik lagi dari kota ke kampung, menempuh kira-kira dua setengah jam, bahkan kadang-kadang tiga jam karena antri bersama truk-truk yang membawa produk-produk industri, terlihat sekali bagaimana tidak efisiennya lintas perdagangan satu-satunya melalui tol Cikampek itu, dan saya terjepit di tengah-tengah kegairahan industri otomotif dan kuliner. Rak-rak berisi ayam-ayam potong kehujanan bolak-balik melewati tol itu, juga puluhan mobil dan motor yang akan dijual dalam sebuah container, dan tentu truk sampah! Sampah-sampah orang kota yang akan dibuang ke kampung pinggiran kota. Saya memahami betul bahwa soal lalu lintas dan transportasi ini perlu diperhatikan betul. Kita memang sudah saatnya memangkas, dan segera melakukan efektifitas dan efisiensi, bahwa kita membangun sesuatu yang berfungsi untuk kebutuhan kehidupan rakyat dan lingkungannya. Negara yang memperhatikan desa dan daerah-daerah akan sekaligus mengurangi kepadatan penduduk di kota dan kemajuan bisa merata, keadilan terwujud, keamanan apalagi. Ini impian yg masuk akal.

Suatu hari di waktu liburan saya singgah dan menumpang hidup di rumah papan dan lantai tanah orang desa di kaki Merbabu Jawa Tengah. Mereka menanam banyak sayuran yang biasanya menjadi rebutan orang kota dan sayuran mahal yang dijual di super-super market. Saya bertanya apakah mereka bisa hidup dengan tanaman itu? Sang ibu menjawab sama sekali tidak karena pasar tradisional tidak berdaya untuk menjual sayur-sayur seperti ini, dan mereka kalah bersaing. Harga sayuran mereka terlalu murah. Si Ibu pernah memutuskan menjadi TKW di Singapura, yang padahal begitu indahnya desa tempat dia tinggal, sayuran yang segar, masak tinggal memetik sayuran di sana, yang tertanam lahan belakang rumahnya, di pinggir jurang dan di seberangnya kita bisa melihat berjejer gunung dan menikmati angin lembah. Mendengar penjelasan Jokowi tentang desa membuat saya menjadi teringat dengan keluhan si Ibu petani di desa tersebut. Dulu saya ingat bagaimana saya memutar otak punya keinginan kuat untuk memberdayakan desa tersebut yang rata-rata tinggal lansia, kaum ibu dan anak-anak. Mereka semua mandiri dan jago bertani sayuran. Sayang sekali.
Konsep program aksi Jokowi yang saya pahami adalah berbasis pemberdayaan, relasi yang setara antar wilayah, daerah, kota dan desa, antar pulau, antar budaya, yang berarti juga antar manusia. Jokowi mengambil konteks wawasan nusantara dalam strategi ekonomi, kemandirian bangsa, relasi yang seimbang, potensi alam dan pembangunan manusia, kebanggaan pada bangsa sendiri. Kunci kemajuan bangsa menurutnya mulai dari situ. Bila kita jeli mengamati debat capres tadi, paling utama bagi saya pada akhirnya bukan lagi gaya, tapi apa yang saya alami sehari-hari dalam lalulintas budaya dan kelas manusia, dan tentu kerangka pikir serta konsistensi. Namun penglihatan seperti akan gagal, bila kita belum bisa menggeser kesenangan visual dan miskinnya pada petualangan untuk “blusukan” (baca: berkunjung dari tempat satu ke tempat yang lain, untuk mengenal, memaknai dan mencintai masyarakat yang jauh berbeda dari kita). Semoga kejayaan nusantara kembali, kali ini melalui pesta demokrasi.

Tambun, 16 Juni 2014