Kamis, 15 Januari 2015

SURAT UNTUK BUMI


Oleh: Mariana Amiruddin

Mati. Seringkali menakutkan. Ketakutan pada ketiadaan.
TIADA. Kalau aku mati nanti, lalu separuh tubuhku akan diabadikan lalu orang-orang akan mengatakan "selamat jalan, semoga istirahat dengan tenang". Setelah itu aku akan berhenti menulis tema-tema politik, protes, renungan atau tentang kemanusiaan, kekecewaan, kesedihan, kebahagiaan, ketakutan. Atau aku tidak akan lagi membuat tulisan-tulisan pendek. Tiada apa-apa lagi. Dan segalanya mungkin akan benar-benar menjadi tenang. Tidak ada pertanyaan, tidak ada apa-apa, semua berakhir begitu saja. Tidak perlu ada pernyataan apapun. Kecuali mata yang terpejam, dan jiwa yang melayang. Kecuali tubuh yang terbentang, dan angin yang bertiup pelan. Aku akan diabadikan di bawah pohon itu, pohon yang paling teduh dan lembab, tempat yang paling menakutkan bagi banyak orang. Tempat orang paling takut bicara tentang ketiadaan. Tiada lagi yang melarangku bicara ataupun diam. Tiada lagi yang menasihatiku, membentakku atau menganggapku seperti anak-anak. Tiada lagi yang menilai pakaian luntur yang aku pakai, atau pakaian yang kupakai itu-itu melulu, atau mobil jepang murahan terjepit diantara kemacetan, memarkir di pinggir parit, atau rumput halaman depan rumahku yang berubah menjadi semak belukar. Tiada lagi senyum orang-orang yang basa-basi tetapi dihatinya penuh penilaian buruk padaku. Tiada lagi yang sibuk mencari alasan untuk mencintaiku atau membenciku, tiada lagi alasan untuk peduli atau tidak peduli padaku, atau ingat atau tidak ingat padaku. TIADA, adalah siapapun akan menuju. Dan TIADA saat ini barangkali selain akan menjadi menyedihkan, tidak sedikit juga akan menjadi sangat menguntungkan.

Bumi. Planetmu terlalu kecil untuk menceritakan seluruh galaksi di semesta ini. Bahkan kecilnya tubuh bumi tak pernah membuat kita bisa mengetahui semuanya sekalipun apa-apa yang ada di dekat kita seperti udara, air dan tanah. Sebab kita yang menginjak bumi hanya sibuk menggunjing, mencari uang, membayar kredit, atau kehabisan waktu untuk menemukan jati diri, mencari pasangan jiwa, menguji kekuatan, atau bahkan terlalu banyak mengurus orang lain. Planetmu akan mengerut seperti lelaki tua yang kehilangan tajam matanya, merdu suaranya, dan harum nafasnya. AKu ingin meninggalkanmu lebih dahulu sebelum aku ditinggalkan. Aku ingin masuk ke perut bumi sebelum bumi mengerut dengan sendirinya. Atau aku ingin kita saling meninggalkan supaya kita segera tidak saling mengingat. Aku mungkin percaya reinkarnasi, tetapi tidak satu mahlukpun mengatakan ia hidup di masa kini karena reinkarnasi. Atau bahwa kita hidup di dunia yang paralel. Kita tak punya cukup banyak bukti. Kita hanya punya dua pilihan, diteruskannya hidup ini, atau berhenti saja sampai di sini.

Kinipun sudah mulai. Denyut jantungku tidak sebaik dahulu. Iramanya tidak seindah dahulu seperti saat menanti musim hujan dan turunnya kabut pagi serta liburan panjang. Irama jantungku melemah dan menguat, lalu melemah lagi. Berdetak tidak beraturan, seperti orang yang mengalami kepanikan dan setelah itu terkulai lemas tak sadarkan diri. Aku bisa merasakan jantungku yang lelah. Jantung tak pernah istirahat sejak kita ada dalam rahim ibu kita. Jantung menandakan hidup. Pikiran menandakan hidup. Jantungku berhenti dengan sangat perlahan. Sampai seluruh tubuhku tak bekerja lagi. Sampai segalanya menjadi tiada lagi, kecuali adalah daging dan kulit yang segera dimakan bumi.

TIADA. Kematian. Teman-temanku pernah bilang bukan aku yang mati tetapi jiwaku yang sakit. Aku memang sakit, tetapi jiwaku tidak. Aku memang mati. Tapi mati tak mungkin bicara. Aku mati dalam keadaan bernafas dan berpikir. Seandainya jiwa-jiwa sepertiku dikumpulkan dan semua akan mengatakan inilah jiwa yang paling waras. Jiwa-jiwa dalam versi terbanyak akan disebut jiwa yang waras. Sebagian menyatakan aku seorang bipolar, schizo, dan menertawakan aku sambil meledek “dasar seniman”.  Aku tidak tahu apa yang salah dengan seniman. Sebab tak ada yang bilang “dasar dokter, dasar guru, atau bahkan dasar aktivis!” Aku menjadi salah karena aku seniman. Aku seharusnya pergi dari orang-orang ini yang menilai aneh melalui matanya tentang jiwa seorang seniman. Tapi apakah aku ini seniman karena menurut mereka aku seorang penyendiri, pertapa, sulit bergaul dengan orang lain, atau orang yang tak bisa memenuhi norma-norma umum seperti senyum meskipun tak kenal, atau menyapa seolah akrab, dan sebagainya? Pernah suatu hari mulutku ditampar karena aku ingin menyatakan sesuatu. Aku hanya ingin mengatakan hal yang benar-benar ingin kukatakan, tetapi aku ditahan. Aku hanya ingin bilang dua kata tentang hidup sederhana dan jangan memfitnah orang, tetapi mulutku ditampar. Apa yang salah dengan dua hal itu? Menurut mereka, janganlah menjadi nila setitik jadi rusak susu sebelanga! Apakah aku nila setitikmu dalam susu sebelangamu? Bukankah justru aku sebelangamu dan nila setitik itu bagaimana kau menampar mulutku?

Begitulah bumi, planetku yang kucintai. Mahluk-mahluk yang menumpang hidup di tubuhnya adalah kebanyakan yang demikian itu. Bagaimana aku bisa mengetahui sebanyak-banyaknya tentang planet ini bila aku tidak bisa menjadi apa adanya diriku, atau apa yang kuucapkan adalah apa yang kupikirkan? Bagaimana aku tidak diperbolehkan untuk bicara? Bumiku, apakah kemarahan dan detak jantungku sudah sama dengan tertahannya lahar di gunung-gunung berapimu? Apakah demikian kerasnya gempamu membuat tsunami menghapus segala yang ada di depanmu? Apakah kemarahanku sebagaimana kemarahan ibu bumiku? Tentu saja tidak, sebab kehidupan kecil ini hanyalah dalam rentang waktu yang singkat saja. Waktu bumi yang kita pakai. Waktu bumi sekali putaran setiap harinya. Dan tahun demi tahun akan segera berganti. Dan setiap bumi berputar sekali, aku hanya menemukan malam atau pagi, dimana aku tak bisa lagi menghirup wangi udaramu, wangi kabutmu, wangi hangat mataharimu. Aku ingin pulang pada TIADA, mungkin yang kumaksud adalah suatu tempat yang tidak pernah aku temui. Mungkin kematian adalah keinginan untuk hidup kembali saat kehidupan membuat aku seperti mengalami kematian berkali-kali.

Tambun, 16 Januari 2015