Oleh: Mariana
Amiruddin
Mati. Seringkali menakutkan. Ketakutan pada
ketiadaan.
TIADA. Kalau aku mati nanti, lalu separuh
tubuhku akan diabadikan lalu
orang-orang akan mengatakan "selamat jalan, semoga
istirahat dengan tenang". Setelah itu aku akan berhenti menulis tema-tema politik, protes, renungan atau tentang kemanusiaan, kekecewaan,
kesedihan, kebahagiaan, ketakutan. Atau aku tidak akan lagi membuat tulisan-tulisan pendek. Tiada apa-apa lagi. Dan segalanya mungkin akan
benar-benar menjadi tenang. Tidak ada pertanyaan, tidak ada apa-apa, semua
berakhir begitu saja. Tidak perlu ada pernyataan apapun. Kecuali mata yang
terpejam, dan jiwa yang melayang. Kecuali tubuh yang terbentang, dan angin yang
bertiup pelan. Aku akan diabadikan di bawah pohon itu, pohon yang paling teduh dan lembab,
tempat yang paling menakutkan bagi banyak orang. Tempat orang paling takut
bicara tentang ketiadaan. Tiada lagi yang melarangku bicara ataupun diam. Tiada
lagi yang menasihatiku, membentakku atau menganggapku seperti anak-anak. Tiada
lagi yang menilai pakaian luntur yang aku pakai, atau pakaian yang kupakai
itu-itu melulu, atau mobil jepang murahan terjepit diantara kemacetan, memarkir di pinggir parit, atau rumput halaman depan rumahku yang berubah menjadi semak belukar.
Tiada lagi senyum orang-orang yang
basa-basi tetapi dihatinya penuh penilaian buruk padaku. Tiada lagi yang sibuk mencari alasan untuk mencintaiku atau membenciku, tiada lagi
alasan untuk peduli atau tidak peduli padaku, atau ingat atau tidak ingat
padaku. TIADA, adalah siapapun akan menuju. Dan TIADA saat ini barangkali
selain akan menjadi menyedihkan, tidak sedikit juga akan menjadi sangat
menguntungkan.
Bumi. Planetmu terlalu kecil untuk
menceritakan seluruh galaksi di semesta ini. Bahkan kecilnya tubuh bumi tak pernah membuat kita bisa mengetahui semuanya
sekalipun apa-apa yang ada di dekat kita seperti udara, air dan tanah. Sebab
kita yang menginjak bumi hanya sibuk menggunjing, mencari uang, membayar
kredit, atau kehabisan waktu untuk menemukan jati diri, mencari pasangan jiwa, menguji
kekuatan, atau bahkan terlalu banyak mengurus orang lain. Planetmu akan
mengerut seperti lelaki tua yang kehilangan tajam matanya, merdu suaranya, dan
harum nafasnya. AKu ingin meninggalkanmu lebih dahulu sebelum aku ditinggalkan.
Aku ingin masuk ke perut bumi sebelum bumi mengerut dengan sendirinya. Atau aku
ingin kita saling meninggalkan supaya kita segera tidak saling mengingat. Aku
mungkin percaya reinkarnasi, tetapi tidak satu mahlukpun mengatakan ia hidup di
masa kini karena reinkarnasi. Atau bahwa kita hidup di dunia yang paralel. Kita
tak punya cukup banyak bukti. Kita hanya punya dua pilihan, diteruskannya hidup
ini, atau berhenti saja sampai di sini.
Kinipun sudah mulai. Denyut
jantungku tidak sebaik dahulu. Iramanya tidak seindah dahulu seperti saat menanti
musim hujan dan turunnya kabut pagi serta liburan panjang. Irama jantungku melemah
dan menguat, lalu melemah lagi. Berdetak tidak beraturan, seperti orang yang
mengalami kepanikan dan setelah itu terkulai lemas tak sadarkan diri. Aku bisa
merasakan jantungku yang lelah. Jantung tak pernah istirahat sejak kita ada
dalam rahim ibu kita. Jantung menandakan hidup. Pikiran menandakan hidup. Jantungku
berhenti dengan sangat perlahan. Sampai seluruh tubuhku tak bekerja lagi.
Sampai segalanya menjadi tiada lagi, kecuali adalah daging dan kulit yang segera
dimakan bumi.
TIADA. Kematian. Teman-temanku
pernah bilang bukan aku yang mati tetapi jiwaku yang sakit. Aku memang sakit,
tetapi jiwaku tidak. Aku memang mati. Tapi mati tak mungkin bicara. Aku mati
dalam keadaan bernafas dan berpikir. Seandainya jiwa-jiwa sepertiku dikumpulkan
dan semua akan mengatakan inilah jiwa yang paling waras. Jiwa-jiwa dalam versi
terbanyak akan disebut jiwa yang waras. Sebagian menyatakan aku seorang
bipolar, schizo, dan menertawakan aku sambil meledek “dasar seniman”. Aku tidak tahu apa yang salah dengan seniman.
Sebab tak ada yang bilang “dasar dokter, dasar guru, atau bahkan dasar aktivis!”
Aku menjadi salah karena aku seniman. Aku seharusnya pergi dari orang-orang ini
yang menilai aneh melalui matanya tentang jiwa seorang seniman. Tapi apakah aku
ini seniman karena menurut mereka aku seorang penyendiri, pertapa, sulit
bergaul dengan orang lain, atau orang yang tak bisa memenuhi norma-norma umum
seperti senyum meskipun tak kenal, atau menyapa seolah akrab, dan sebagainya?
Pernah suatu hari mulutku ditampar karena aku ingin menyatakan sesuatu. Aku
hanya ingin mengatakan hal yang benar-benar ingin kukatakan, tetapi aku
ditahan. Aku hanya ingin bilang dua kata tentang hidup sederhana dan jangan
memfitnah orang, tetapi mulutku ditampar. Apa yang salah dengan dua hal itu? Menurut
mereka, janganlah menjadi nila setitik jadi rusak susu sebelanga! Apakah aku
nila setitikmu dalam susu sebelangamu? Bukankah justru aku sebelangamu dan nila
setitik itu bagaimana kau menampar mulutku?
Begitulah bumi,
planetku yang kucintai. Mahluk-mahluk yang menumpang hidup di tubuhnya adalah
kebanyakan yang demikian itu. Bagaimana aku bisa mengetahui sebanyak-banyaknya
tentang planet ini bila aku tidak bisa menjadi apa adanya diriku, atau apa yang
kuucapkan adalah apa yang kupikirkan? Bagaimana aku tidak diperbolehkan untuk
bicara? Bumiku, apakah kemarahan dan detak jantungku sudah sama dengan tertahannya
lahar di gunung-gunung berapimu? Apakah demikian kerasnya gempamu membuat tsunami
menghapus segala yang ada di depanmu? Apakah kemarahanku sebagaimana kemarahan
ibu bumiku? Tentu saja tidak, sebab kehidupan kecil ini hanyalah dalam rentang
waktu yang singkat saja. Waktu bumi yang kita pakai. Waktu bumi sekali putaran
setiap harinya. Dan tahun demi tahun akan segera berganti. Dan setiap bumi
berputar sekali, aku hanya menemukan malam atau pagi, dimana aku tak bisa lagi
menghirup wangi udaramu, wangi kabutmu, wangi hangat mataharimu. Aku ingin
pulang pada TIADA, mungkin yang kumaksud adalah suatu tempat yang tidak pernah
aku temui. Mungkin kematian adalah keinginan untuk hidup kembali saat kehidupan
membuat aku seperti mengalami kematian berkali-kali.
Tambun, 16 Januari
2015
