Oleh: Mariana
Amiruddin
Sebuah analisis gender pernah menjelaskan perbedaan perkembangan
psikologi antara laki-laki dan perempuan dalam menghadapi
masalah kehidupan, masalah perang, masalah kehilangan pekerjaan. Banyak bukti
bahwa laki-laki cenderung cepat putus asa, cepat pergi dari masalah atau bahkan
seolah-olah masalah itu tidak ada. Sementara perempuan, cenderung ingin cepat
menyelesaikannya, ingin cepat mencari solusi dan berbuat sesuatu yang bisa
mengubah nasibnya dengan berusaha
apa saja. Ini saya bicara secara umum, tentu saja tidak semua laki-laki dan
perempuan mengalaminya.
Apa yang menyebabkan laki-laki seperti itu? Mereka dibangun oleh ilusi
tentang kekuatan, kemenangan, kekerasan, kejantanan, ketenaran, kekayaan, persaingan, kebudayaan, peradaban, penaklukan,
perburuan. Mereka
tidak pernah diajari tentang sesuatu yang pribadi, privat, diri, apa adanya,
bicara apa saja, keluarkan apa yang ada di hati, mengasihi, peduli,
memperhatikan yang lain. Kalau istilah anaknya Ahmad Dhani
itu "ayo kita selesaikan di Ring Tinju" ketika ia marah Farhat Abas
mengejek ayahnya. Ayahnya membentuk anak laki-lakinya seperti itu, semua
diselesaikan secara fisik dan harta
benda seperti mobil sebagai simbol kemewahan dan ketenaran. Semua masalah diatasi dengan fisik dan harta benda. Itulah
ilusi kekuatan, kejantanan. Padahal, kehidupan yang nyata tidak sesederhana itu, tidak semudah film-film laga.
Oleh karena itu, suatu hari, seorang politisi,
seorang penyair, seorang pegawai negeri, seorang pengusaha, seorang kuli, seorang mahasiswa, seorang dosen, seorang aktivis atau siapapun mereka, membangun relasi dengan perempuan sampai pada aktivitas seksual dan perempuan itu ternyata hamil, lalu sikap mereka seperti hal yang saya jelaskan
tadi. Mereka tidak disiapkan untuk kehidupan yang sebenar-benarnya, kehidupan
semesta bahwa di situ ada proses-proses biologi yang akan mempengaruhi
kehidupan dan masa depan manusia. Mereka hanya sampai pada aktivitas seksual, dan tidak tahu apa lagi
selanjutnya. Mereka gagap dan abai dengan ulah mereka
sendiri, yang seharusnya mereka hadapi dengan apa yang mereka sebut sebagai
"jantan" itu. Sang
perempuan, melihat sang lelaki seperti seorang pangeran, mengagumkan, pintar,
berwibawa, tenar dan berharap akan melindunginya. Lalu, sang pangeran itu
menghampirinya, mengucapkan kata-kata indah, meluluhkan hatinya. Didasari
inilah seorang perempuan mau melakukan aktivitas seksual, sesuatu yang
menurutnya penuh kasih dan impian, membuat dia merasa nyaman. Dia menyangka
apapun resikonya akan dijalani bersama. Ia tidak tahu bahwa secara sosial, perkembangan
psikologi dan perspektif laki-laki sangat berbeda jauh bahkan berseberangan dengan
apa yang perempuan pikirkan dan perempuan alami. Dia menerima begitu saja.
Teman saya, dulu seorang mahasiswa yang kini sendirian membesarkan anaknya, mengalami hal
yang sama. Waktu masih belia usia
belasan tahun, dia ikut sebuah kelompok teater, dia kagum
dengan pelatih teaternya, lalu sang pelatih teater mendatanginya, menyukai dia, dan sampai pada
aktivitas seksual, sehingga akhirnya hamil. Begitu hamil,
sang pelatih seolah tidak mengenalnya lagi, lari, takut, dan tidak menerima apa yang terjadi.
Padahal, sang gadis belia ini hanya ingin bertanya, “jadi bagaimana ini? Ada anak kita dalam rahimku. Bagaimana
kita menjalankannya?” Ia ingin diakui, juga anak yang
dikandungnya dikasihi, dan sang lelaki mau ikut andil untuk memikirkannya. Tetapi memang lelaki sangat gagap sekali dalam
urusan domestik ini, mereka tidak terlatih, terlalu berjarak dengan hidup yang
alami, terlalu angkuh dan merendahkan urusan-urusan semacam ini. Atau, tidak
mau mengakui sama sekali adalah cara dia menyelamatkan diri dari ketakutan dan
kecemasannya sebagai “seorang lelaki”.
Kasus seperti ini banyak sekali terjadi di
sekeliling kita. Potret yang bisa saya pajang dalam masalah ini adalah, kegagapan dan kecemasan yang luar biasa
laki-laki atas urusan reproduksi, pengasuhan, semua
diserahkan kepada perempuan. Mereka
hanya tahu bekerja, berkarya, cari uang, pulang, makan sudah disiapkan, baju
sudah wangi, tempat tidur sudah dirapikan, dan lantai rumah sudah mengkilat,
dan anak-anak gemuk, sehat, dan ceria. Artinya sekalipun
mereka menikah dan memiliki anak, ataupun kehamilan memang diinginkan oleh
keduanya, urusan-urusan domestik itu tetap dilemparkan begitu saja kepada perempuan. Bila ada persoalan ekonomi, dan lelaki dianggap
sebagai sang pahlawan pencari nafkah, pelindung keluarga, pemimpin, tetapi
mengalami kegagalan, sang lelaki akan pergi dan malu, rendah diri, jatuh, putus
asa, depresi, gila. Tapi tidak dipikirkan bahwa ada kehidupan yang harus
berjalan. Laki-laki terus menerus mencari pelarian, dan masalah-masalah domestik
itu membayangi dia terus sehingga membuatnya panik dan ketakutan. Seolah-olah, beban memelihara, mengasuh, merawat, menyusui, melahirkan,
adalah semata-mata beban perempuan.
Sang laki-laki kalau ada masalah, seringkali bersembunyi di ketiak ibunya, atau
perempuan yang dia anggap seperti ibunya. Atau, seorang perempuan yang dia pacari
atau dia nikahi karena dia mengingat ibunya. Ini karena anak laki-laki mengenal
kasih sayang dan pengasuhan hanya dari ibunya, bukan ayahnya. Lain hal lagi,
peran-peran itu sudah dia pelajari sejak kecil, dia pikir, urusan-urusan ini
bukan lagi urusannya. Maka untuk hidup dan menikah, ataupun secara seksual dan
relasi dampak perbuatan seksual dengan kehidupan sosial, adalah juga urusan
perempuan. Apa yang terenggut dari laki-laki kemudian adalah sebagai pencari
nafkah, jerih payahnya seluruhnya akan dia berikan kepada keluarga, istri dan
anak-anaknya. Dia tidak bisa menikmati sendirian jerih payahnya itu. Dia bekerja
dan dapat gaji, tapi tidak bisa membeli apa-apa. Beban-beban sosial dalam konstruksi
peran-peran gender dan seksual manusia membuat hidup laki-laki dan perempuan
menjadi benang mati, kusut, tak pernah berimbang, tidak pernah ketemu. Semua
punya jurang masing-masing. Dan jurang itulah yang menimbulkan masalah, reaksi
amarah, lantas masalah itu sendiri tidak pernah terselesaikan.
Suatu hari, saya
pernah jalan bertiga, yaitu saya, satu perempuan dan satu lelaki. Sang lelaki
cemas bahwa dia merasa tidak nyaman berjalan dengan dua perempuan, sementara
dia laki-laki sendirian. Dia merasa didominasi. Atau saya berjalan berdua dengan
seorang teman lelaki, dan melintas sekelompok teman-teman lelakinya, lalu teman
lelaki saya diejek-ejek dianggap menginginkan saya. Aneh sekali menurut saya,
bukankah kita adalah dua manusia biasa yang sedang berjalan menuju gedung itu,
lalu tiba-tiba sekelompok laki-laki mengenggap teman saya ini sedang melakukan
pendekatan terhadap saya? Seolah saya ini perempuan yang pasif dan tidak punya
keputusan sendiri. Lagipula, sebetulnya apa persoalannya? Kita hanya ingin
berjalan kaki ke arah gedung itu untuk urusan kita masing-masing!
Seandainya kita semua
mengerti bahwa kehidupan harus diatasi, dihadapi oleh semua jenis manusia,
tentu kerumitan ini akan berhenti. Seandainya laki-laki dan perempuan saling
mempelajari keunikannya, kelebihan dan kekurangannya, tentu tidak sesukar itu
kita mendengar masalah relasi keduanya. Seandainya relasi perempuan dan
laki-laki bukan dibangun atas kecurigaan sosial, moral dan agama, tentu tidak
seperti ini jadinya. Seandainya seorang laki-laki tidak perlu merasa malu saat
menghamili seorang perempuan, lalu disebut tidak bermoral, atau dianggap
laki-laki hidung belang, dengan menujukkan kasih sayang dan keberaniannya
menghadapi hidup, julukan itu akan berhenti dengan sendirinya. Saya ingin
membantu masalah kesenjangan dan ketimpangan ini, membantu menekankan
pentingnya laki-laki ikut andil dan menaklukan rasa takutnya pada urusan-urusan
seksual-domestik. Dan pentingnya membuat perempuan mempertahankan dirinya,
menunjukkan siapa dirinya, tanpa harus bergantung pada orang lain. Tidak mudah
memang, tetapi perlu dicoba sampai rasa takut itu tidak ada lagi.
Jawa Barat, 30 November
2013
.jpg)