Jumat, 25 Maret 2016

Aku dan Kakak Keempatku

Oleh: Mariana Amiruddin






































Awal tahun ini keluarga kami mengalami ujian berat. Tapi hari ini aku berhasil menjenguk kakak keempatku, meskipun aku sedang tidak enak badan, aku berhutang lama sekali untuk bertemu kakakku. Waktu kecil dulu, aku sering mengikuti jejaknya. Dulu aku dipaksa menjadi dewasa dan mengenal buku-buku yang tidak dibaca oleh orang seusiaku. Aku tak punya kawan yang memiliki minat yang sama. Kawanku waktu kecil hanyalah kakak-kakakku. Aku mengenal buku-buku feminis berawal dari dia. Dia selalu mengenalkan aku pada hal-hal yang baru, terutama pemikiran-pemikiran baru yang tak mungkin aku dapatkan di usiaku, di generasiku. Aku selalu membaca buku-buku yang dibaca kakak-kakakku dan mendengar lagu-lagu yang didengar kakak-kakaku. Dan memakai pakaian-pakaian yang pernah dipakai kakak-kakaku.

Kakak keempatku ini adalah yang pertama kali mengenalkanku novel Nawal El Saadawi, “Memoar seorang Dokter Perempuan,” dan “Perempuan di Titik Nol.” Begitupula yang pertama kali mengenalan Jurnal Perempuan di tahun 90-an, dan buku-buku perjuangan Kartini.  Sebelumnya kami sama-sama dalam gerakan Islam radikal, aku membaca buku “Perjuangan Ikhwanul Muslimin,” dengan tokoh perempuan bernama Zainab yang kukagumi. Tapi setelah itu pikiran kami bergerak lebih maju setelah bertemu banyak pemikiran Nawal El Saadawi dari Mesir dan Fatima Mernissi dari Maroko, dua tokoh feminis muslim yang sampai hari ini tidak pernah saya lupakan. Kadang kami berdua merasa adalah kakak adik seperti Kartini dan Roekmini. Yang sehari-hari selalu dalam sebuah lingkungan keluarga .

Membaca pemikiran Saadawi dan Mernissi itulah kunci perubahan hidupku, dan juga kakakku. Kami gila buku dan diskusi. Dulu kami sering sekamar. Setiap mau tidur, kami selalu membaca, dan diskusi apa saja. Apa saja! Kadang suka melantur, dari soal pollitik, organisasi, sampai soal mistik. Begitu bicara soal mistik, pernah suatu kali kami mendengar suara perempuan mengikik tengah malam, suaranya seperti terbang di dekat jendela kamar kami, dan kamipun tak sanggup bergerak.

Waktu berlalu begitu cepat, aku meneruskan pikiran-pikiran feminisme ini dalam pekerjaan-pekerjaanku.

Sekarang, kakakku yang keempat ini sedang sakit. DIa sedang "jatuh". Aku tidak pernah melihat kakakku terlihat sangat jatuh. AKu mengerti, perlu perjuangan dan ketelatenan untuk keluar dari penjara sakitnya. Sakit yang banyak diderita oleh perempuan di seluruh dunia. Dia butuh dukungan, dampingan dan perhatian.

Ketika kujenguk, belum sampai masuk ke dalam rumahnya, kami segera berpelukan, dan pecahlah tangisan. Aku memeluknya erat sekali sambil bilang tidak apa-apa, tenanglah. Kadang menangis membuat kita lebih tenang. AKu memeluknya erat sambil mengelus punggungnya, aku menahan ikut menangis, sebab, aku ingin memberi tempat kepada kakakku bahwa kadang kita perlu menangis ketika sedang putus asa, ketika kita tidak bisa berhenti untuk bertahan, berjuang. Aku tahu kakakaku tetap orang yang tegar, kuat dan selalu semangat. Dia orang yang sangat keras kepala, bahkan lebih keras dari aku. Kata-katanya selalu tajam, tapi karena dia orang yang kritis.

Setelah pecah tangisan itu, kami masuk ke dalam, duduk dan diskusi soal ilmu kedokteran. Soal temuan-temuan baru dalam sains kedokteran, dan juga sambil menceritakan pengobatan-pengobatan herbal. Aku mendapatkan referensi tentang seorang dokter yang pernah menangani temanku yang mengalami sakit yang sama. Kami sepakat perlu ada opini kedua dari dokter lain, untuk memastikan penanganan yang kami inginkan. Tapi seperti biasa, diskusi kemudian menjadi melantur, kami bicara soal mistik, dan berakhir dengan tertawa. Kakakakku disiapkan oleh suaminya jus daun naga, pengobatan herbal sementara sebelum akhirnya mendapatkan jadwal dari dokter.

Kakakku bernama Nuraina, orang-orang memanggilnya Nuri, dan aku adiknya, memanggilnya Dodo. Kakakku membutuhkan dukungan seluas-luasnya, sebagaimana perempuan lain yang mengalami hal yang sama, dan tidak sedikit berhasil melalui penderitaan sakitnya. Aku ingin kakakku berhasil mencapai perjuangannya.

Terus semangat Dodo, kami semua sekeluarga terus mendukung dan mendampingimu. Jangan pernah putus asa ya Do. Ingatlah masa-masa kecil kita yang bahagia.

Tambun, 21 Februari 2016