Kamis, 12 Desember 2013

Tentang Siapa Membela Siapa


Oleh Mariana Amiruddin

Jauh sebelum kasus Sitok ramai sekitar 2 bulan yang lalu, secara internal dan saya diminta untuk menjaga kerahasiaan, saya mendapat kabar dari seorang dosen FIB UI, yang juga alumni Jurnal Perempuan tentang kasus ini. Lebih dari seminggu kemudian, Jurnal Perempuan mengadakan acara di FIB-UI dan dosen tersebut kembali bercerita tentang perkembangan kasus ini. Dan kami tim Jurnal Perempuan berdiskusi, kami menunggu kabar selanjutnya. 

Seminggu kemudian, kasus ini sudah dilaporkan ke kepolisian dan banyak sekali reaksi. Paling banyak reaksi awalnya adalah menyalahkan korban. Ini tantangan pertama kami. Lalu, dosen tersebut kemudian mengontak ke Yayasan Pulih sebagai lembaga yang ahli dan berpengalaman dalam menanangani kasus trauma akibat kekerasan terhadap perempuan.

Tak lama kemudian, teman-teman aktivis perempuan melalui Facebook mengontak saya untuk berdiskusi soal kasus ini, apa yang bisa kita perbuat?

Saya memberikan opini bahwa di banyak perusahaan, ada aturan yang memberikan sanksi terhadap pelaku pelecehan seksual, sehingga menurut saya, Salihara perlu membuat sanksi dan pernyataan atas kasus Sitok, dan saya sendiri mendiskusikan ini kepada teman di Salihara, dan diterima dengan baik. Akhirnya sebelum Salihara selesai membuat pernyataan, Sitok mengundurkan diri, dan Salihara tetap mengeluarkan pernyataan. Lalu sebagian besar teman-teman aktivis beropini bahwa pernyataan untuk Salihara dan kasus Sitok tetap harus dibuat untuk pelajaran bagi yang lainnya, dan sebagian lagi termasuk saya, mengusulkan untuk membuat pernyataan dalam “narasi besar”,  supaya pelaku-pelaku yang lain juga patut diberi pelajaran. Kami juga menyetujui hal-hal  lain seperti cara penanganan polisi terhadap korban, mengajukan revisi UU berkaitan dengan pemerkosaan yang pernah dilakukan teman-teman LBH APIK. Akhirnya disepakati dibuat dua pernyataan, dan dua-duanya berisi pernyataan tentang keberpihakan pada korban (yang kemudian saya bingung mengapa seorang wartawan harian menganggap ini perpecahan, dan saya juga bingung bagaimana info ini bisa sampai ke dia, padahal pada waktu itu pembicaraan hanya dikalangan internal di Facebook dan email).

Lalu saya dan beberapa teman aktivis berpendapat bahwa untuk korban, sebaiknya diserahkan kepada Yayasan Pulih sebagai lembaga yang berpengalaman menangani kasus kekerasan terhadap perempuan. Lembaga ini memiliki keahlian di bidang psikologi perempuan, memahami kode etik pendampingan korban, dan mereka bagian dari gerakan perempuan. Sampai saat ini Yayasan Pulih masih tertutup dengan wartawan, karena memang itu etika yang harus mereka lakukan dalam mendampingi korban.

Kami menurut pada yang lebih ahli, dan karena itulah kami diam dulu menunggu info selanjutnya.  Bahwa mendampingi korban itu tidak bisa keroyokan, tetapi perlu dalam keadaan tenang, tanpa teror dan intimidasi. Bila tidak, kerja pendampingan ini akan terganggu.

Lalu entah mengapa tiba-tiba sejumlah laki-laki menyerang akun twitter Jurnal Perempuan dan menyatakan bahwa Jurnal Perempuan membela pemerkosa, termasuk sang wartawan tadi. Yang terakhir ini, saya hanya bisa tertawa-tawa, bagaimana seseorang menyatakan sesuatu tanpa konfirmasi terlebih dahulu, apalagi ini dilakukan oleh seorang wartawan dengan menyimpulkan bahwa kami membela pemerkosa? Dan situasi ini lantas dimanfaatkan untuk menyerang orang-orang yang menurut cap mereka adalah liberal, neolib, feminis. Dengan seolah-olah mereka adalah pembela korban, dengan sewenang-wenang kami dikatakan pembela pemerkosa, jurnal pemerkosa.

Menurut saya, mereka ini tidak tahu atau tidak akan mau mengetahui apalagi memahami bagaimana kami, gerakan feminis ini bekerja setiap kali ada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Bagaimana reaksi alami kami dengan otomatis akan menanggapi setiap kasus tersebut. Kami biasa berbeda pendapat, dalam tujuan yang sama. Kami memiliki bermacam-macam metode aktivisme, juga dengan tujuan yang sama. 

Mereka yang menyerang ini kelompok yang sudah tidak peduli, yang penting serangan pada lawan berhasil mempengaruhi semua orang. Mereka tak peduli dimana kebenaran. Mereka hanya membenci cap-cap yang mereka yakini itu.

Tetapi satu hal tadi, saya masih mempertanyakan bagaimana diskusi internal gerakan perempuan yang tertutup tadi bisa keluar dan dipersepsikan sebagai perpecahan, lalu kamilah yang kemudian yang harus menanggung akibatnya? Entahlah, apapun itu, pemihakan kepada korban yang paling tepat menurut saya adalah, biarkan ahlinya bekerja, jangan ganggu mereka, dan bila ada permohonan bantuan apapun, kita harus bersedia. 

Begitulah dunia kami, dunia gerakan perempuan, yang biasanya dianggap urusan perempuan hanyalah urusan kami, sementara urusan besar tentang politik, budaya, ekonomi, bisnis dan hukum selalu diambil oleh laki-laki, yang padahal ada banyak perempuan yang hidup di dalamnya.

Tambun,  13 Desember 2013