Oleh Mariana Amiruddin
Jauh sebelum kasus Sitok ramai sekitar 2 bulan yang lalu, secara internal dan saya
diminta untuk menjaga kerahasiaan, saya mendapat kabar dari seorang dosen FIB
UI, yang juga alumni Jurnal Perempuan tentang kasus ini. Lebih dari seminggu
kemudian, Jurnal Perempuan mengadakan acara di FIB-UI dan dosen tersebut kembali
bercerita tentang perkembangan kasus ini. Dan kami tim Jurnal Perempuan
berdiskusi, kami menunggu kabar selanjutnya.
Seminggu kemudian, kasus ini sudah
dilaporkan ke kepolisian dan banyak sekali reaksi. Paling banyak reaksi awalnya adalah menyalahkan korban. Ini tantangan pertama kami. Lalu, dosen tersebut kemudian mengontak ke Yayasan Pulih sebagai lembaga yang ahli
dan berpengalaman dalam menanangani kasus trauma akibat kekerasan terhadap
perempuan.
Tak lama kemudian,
teman-teman aktivis perempuan melalui Facebook mengontak saya untuk berdiskusi
soal kasus ini, apa yang bisa kita perbuat?
Lalu saya dan beberapa
teman aktivis berpendapat bahwa untuk korban, sebaiknya diserahkan kepada
Yayasan Pulih sebagai lembaga yang berpengalaman menangani kasus kekerasan
terhadap perempuan. Lembaga ini memiliki keahlian di bidang psikologi
perempuan, memahami kode etik pendampingan korban, dan mereka bagian dari gerakan perempuan. Sampai saat ini Yayasan
Pulih masih tertutup dengan wartawan, karena memang itu etika yang harus mereka
lakukan dalam mendampingi korban.
Kami menurut pada yang
lebih ahli, dan karena itulah kami diam dulu menunggu info selanjutnya. Bahwa mendampingi korban itu tidak bisa
keroyokan, tetapi perlu dalam keadaan tenang, tanpa teror dan intimidasi. Bila tidak, kerja pendampingan ini akan
terganggu.
Lalu entah mengapa tiba-tiba sejumlah laki-laki menyerang akun twitter
Jurnal Perempuan dan menyatakan bahwa Jurnal Perempuan membela pemerkosa, termasuk sang wartawan
tadi. Yang terakhir ini, saya hanya bisa tertawa-tawa, bagaimana seseorang
menyatakan sesuatu tanpa konfirmasi terlebih dahulu, apalagi ini dilakukan oleh
seorang wartawan dengan menyimpulkan bahwa kami membela pemerkosa? Dan
situasi ini lantas dimanfaatkan untuk menyerang orang-orang yang menurut cap
mereka adalah liberal, neolib, feminis. Dengan seolah-olah mereka adalah pembela
korban, dengan sewenang-wenang kami dikatakan pembela pemerkosa, jurnal
pemerkosa.
Menurut saya, mereka
ini tidak tahu atau tidak akan mau mengetahui apalagi memahami bagaimana kami, gerakan feminis ini
bekerja setiap kali ada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Bagaimana
reaksi alami kami dengan otomatis akan menanggapi setiap kasus tersebut. Kami
biasa berbeda pendapat, dalam tujuan yang
sama. Kami memiliki bermacam-macam metode aktivisme, juga dengan tujuan yang
sama.
Mereka yang menyerang ini kelompok yang sudah tidak peduli, yang penting serangan pada lawan berhasil mempengaruhi semua orang. Mereka tak peduli dimana kebenaran. Mereka hanya membenci cap-cap yang mereka yakini itu.
Tetapi satu hal tadi, saya masih mempertanyakan bagaimana diskusi
internal gerakan perempuan yang tertutup tadi bisa keluar dan dipersepsikan sebagai
perpecahan, lalu kamilah yang kemudian yang harus menanggung akibatnya?
Entahlah, apapun itu, pemihakan kepada korban yang paling tepat menurut saya
adalah, biarkan ahlinya bekerja, jangan ganggu mereka, dan bila ada permohonan
bantuan apapun, kita harus bersedia.
Begitulah dunia kami, dunia gerakan
perempuan, yang biasanya dianggap urusan perempuan hanyalah urusan kami,
sementara urusan besar tentang politik, budaya, ekonomi, bisnis dan hukum selalu diambil
oleh laki-laki, yang padahal ada banyak perempuan yang hidup di dalamnya.
Tambun, 13 Desember 2013