Oleh Mariana Amiruddin
Satu dari tiga perempuan
di dunia pernah mengalami pemerkosaan dan percobaan pemerkosaan. Di Indonesia,
setiap perempuan di setiap ruang, dalam rentang usianya sejak remaja hingga
dewasa, secara tidak sadar atau tidak, pernah mengalami pelecehan seksual. Represi
seksual yang dilakukan laki-laki dimulai dari ujaran-ujaran terhadap perempuan,
tindakan pelecehan mulai dari siulan, panggilan, colekan, ujaran-ujaran yang
mengarah pada seks, dan beberapa langkah kemudian adalah tindakan pemerkosaan.
Bahkan, diantara
mereka dulu mengejek feminisme, mengatakan feminisme itu Barat, kelas menengah
ngehek, feminis itu galak-galak, feminis itu lesbian-lesbian (dalam arti
ejekan), feminis itu perempuan-perempuan yang patah hati oleh laki-laki,
feminis mengambil istri orang dan rumah
tangganya selalu berantakan, feminis itu
sundal dan menyukai seks bebas, feminis itu neolib, ateis, kafir, dan sebagainya.
Kecurigaan saya pada
mereka kemudian semakin kuat, sebab dibalik tema kekerasan seksual sang seniman
tersebut ada semacam tarik menarik kepentingan kelompok mereka, yang mereka
yakini. Soal liberal ataupun neoliberal, soal tendensi terhadap institusi
tertentu, soal kebencian pada komunitas tertentu. Lalu mereka seperti
tentara-tentara keji yang mengambil persoalan kekerasan seksual seniman tersebut
untuk kepentingan atas tarik menarik kepentingan kelompok, persaingan, kebencian,
peperangan. Mereka menjadi yang paling keras memaki pelaku perkosaan, sekaligus
menjadi intimidatif terhadap aktivis-aktivis perempuan yang dianggapnya “tidak bicara” dan “tidak ikut membenci” terutama
terhadap komunitas tertentu. Suasana ini mengingatkan saya pada situasi kekerasan
yang paling keji soal “kamu komunis atau buka komunis”. Yang tidak membenci
komunis berarti dia komunis. Yang tidak bicara apa-apa soal orde baru berarti
dia antek-antek Suharto.
Saya lantas berpikir,
apa sebetulnya kepentingan mereka terhadap kasus kekerasan seksual oleh sang
seniman itu? Yang saya pahami, gerakan
feminis selalu punya cara sendiri untuk memerangi kekerasan seksual. Gerakan
feminis punya metodologi ilmu pengetahuan, yang sampai sekarang bahkan tidak
diakui. Gerakan feminis punya perangkat analisis sendiri dalam membantu kaum
perempuan dengan berbagai kelas, ras, suku dan agama. Gerakan feminis juga
mencintai demokrasi dan toleransi antar umat beragama. Gerakan femnis juga
membela kelompok-kelompok terpinggir. Gerakan feminis selalu membela yang “liyan”,
karena selama mereka hidup di bumi, mereka juga “diliyankan”. Kitalah yang mengalami, dan kitalah yang
kemudian saling mendukung dan melindungi, saling mendampingi, saling
menguatkan. Kami yang dalam cara berbeda dalam memilih metode aktivisme
memiliki tujuan yang sama, yaitu memperjuangkan kesetaraan gender, melawan
kekerasan berbasis gender, mengupayakan pemberdayaan perempuan. Kamilah yang
hari demi hari bekerja untuk itu, kamilah yang bekerja keras untuk itu, mulai
dari akar rumput, akademisi, pengambil kebijakan, sampai ke tingkat pemerintah
dan perumusan undang-undang. Diantara para aktivis perempuan adalah para
ahli-ahli di berbagai bidang, seperti filsafat, sosiologi, psikologi,
astronomi, petani, buruh, pejabat publik, politisi, dosen, penulis, ibu rumah
tangga, dokter, dll. Mereka semua berkerja untu menegakkan hak-hak perempuan,
mewujudkan keadilan untuk perempuan. Lalu siapakah mereka ini yang tiba-tiba
menggedor pintu kami?
Gerakan feminis sudah
sejak dia lahir konsisten melawan apa yang menjadikan tubuh perempuan sebagai
obyek, sebagai sesuatu yang menjadi “hak milik” dan “barang yang dibeli” oleh
laki-laki, baik dalam relasi pacaran ataupun perkawinan. Gerakan feminis paling
lantang bicara ketika perkosaan diwajarkan atas nama kehendak seksual
laki-laki. Gerakan feminis sudah sangat jelas
bertindak nyata berpihak pada korban, mendampingi korban, melindungi
mereka. Tidak sedikit dari mereka yang relawan, yang menjadi miskin dan
kekurangan karena perjuangan tentang hal ini. Organisasi-organisasi perempuan
di Indonesia selama bertahun-tahun hidup dan bertahan di negara ini, sudah
teruji melawan, mengatasi, dan menyuarakan hal itu. Tetapi kali ini, mereka
yang laki-laki tiba-tiba menggedor pintu rumah kami, dan mengacak-cak perabotan
kami, berteriak-teriak marah soal perkosaan. Mereka inila yang dulu diam-diam
saja, mereka tidak bekerja untuk itu, mereka tidak memikirkan sama sekali, atau
bahkan meledek-ledek pekerjaan kami, menganggap feminis sebagai Barat dan
neolib, tiba-tiba berteriak paling keras soal perkosaan, dan ikut menyeret-nyeret
organisasi perempuan yang tidak masuk dalam perdebatan “suka atau tidak suka”
dengan komunitas tertentu.
Sampai akhirnya saya
mengingat-ingat kembali semua yang mereka lakukan, saya jadi memahami betul,
semua yang mereka lakukan adalah standar ganda. Mereka tidak benar-benar
mengusung masalah kekerasan seksual, mereka tidak sungguh-sungguh empati pada
korban, mereka hanya mengambil kesempatan ini untuk menyerang yang menurut
mereka lawan. Dan tindakan-tindakan ini semakin menyebar, ramai di sosial
media, bahasa yang mereka gunakan juga bukan “bahasa perempuan”, bukan bahasa
yang penuh empati dan peduli. Mereka seperti preman-preman kelaparan.
Nah, standar ganda
telah dimainkan patriarki. Kali ini, panggung mereka adalah demokrasi dan
kebebasan berekspresi. Kali ini, alat-alat yang kami miliki mereka gunakan juga
untuk kepentingan mereka. Sunggu perjuangan feminis tak pernah henti, bahkan
ketika serangan itu ada di dalam tubuh gerakan kami sendiri.
Lontar, 12 Desember
2013