Rabu, 11 Desember 2013

Standar Ganda Reaksi Patriarki atas Kasus Kekerasan Seksual


Oleh Mariana Amiruddin

Satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami pemerkosaan dan percobaan pemerkosaan. Di Indonesia, setiap perempuan di setiap ruang, dalam rentang usianya sejak remaja hingga dewasa, secara tidak sadar atau tidak, pernah mengalami pelecehan seksual. Represi seksual yang dilakukan laki-laki dimulai dari ujaran-ujaran terhadap perempuan, tindakan pelecehan mulai dari siulan, panggilan, colekan, ujaran-ujaran yang mengarah pada seks, dan beberapa langkah kemudian adalah tindakan pemerkosaan.

Akhir-akhir ini di sosial media, saya sangat mencurigai kecenderungan yang tumbuh dan kembali disuburkan oleh budaya patriarki. Saya memperhatikan kasus kekerasan seksual oleh seorang seniman telah mendulang banyak komentar dari laki-laki, yang sebelumnya tidak pernah bereaksi apa-apa apa-apa soal pemerkosaan apalagi pelecehan seksual, yang sebelumnya kasus-kasus pemerkosaan hanya diserahkan pada gerakan perempuan atau aktivis perempuan, yang sebelumnya diam-diam mengatakan adalah perempuannya yang salah, yang sebelumnya diam-diam juga pelaku pelecehan, bahkan pelaku pemerkosaan. Saya punya sejumlah teman laki-laki, baik seniman dan aktivis, politisi, dan saya tahu betul diantara mereka adalah pelaku kekerasan dan pelecehan seksual. Saya ingat betul di antara mereka ada yang merayu saya atau diam-diam merayu teman-teman perempuan saya dengan tidak sopan dan intimidatif, bertindak genit pada beberapa perempuan, meraba-raba teman saya, mengeluarkan ujaran-ujaran yang mengarah pada seks pada perempuan. Jangankan kemarahan, dulu, mereka itu asik-asik saja sibuk dengan kegiatan masing-masing, dengan ketenaran masing-masing.

Bahkan, diantara mereka dulu mengejek feminisme, mengatakan feminisme itu Barat, kelas menengah ngehek, feminis itu galak-galak, feminis itu lesbian-lesbian (dalam arti ejekan), feminis itu perempuan-perempuan yang patah hati oleh laki-laki, feminis  mengambil istri orang dan rumah tangganya selalu berantakan, feminis   itu sundal dan menyukai seks bebas, feminis itu neolib, ateis, kafir, dan sebagainya.
Kecurigaan saya pada mereka kemudian semakin kuat, sebab dibalik tema kekerasan seksual sang seniman tersebut ada semacam tarik menarik kepentingan kelompok mereka, yang mereka yakini. Soal liberal ataupun neoliberal, soal tendensi terhadap institusi tertentu, soal kebencian pada komunitas tertentu. Lalu mereka seperti tentara-tentara keji yang mengambil persoalan kekerasan seksual seniman tersebut untuk kepentingan atas tarik menarik kepentingan kelompok, persaingan, kebencian, peperangan. Mereka menjadi yang paling keras memaki pelaku perkosaan, sekaligus menjadi intimidatif terhadap aktivis-aktivis perempuan yang dianggapnya “tidak  bicara” dan “tidak ikut membenci” terutama terhadap komunitas tertentu. Suasana ini mengingatkan saya pada situasi kekerasan yang paling keji soal “kamu komunis atau buka komunis”. Yang tidak membenci komunis berarti dia komunis. Yang tidak bicara apa-apa soal orde baru berarti dia antek-antek Suharto.

Saya lantas berpikir, apa sebetulnya kepentingan mereka terhadap kasus kekerasan seksual oleh sang seniman itu? Yang saya pahami, gerakan  feminis selalu punya cara sendiri untuk memerangi kekerasan seksual. Gerakan feminis punya metodologi ilmu pengetahuan, yang sampai sekarang bahkan tidak diakui. Gerakan feminis punya perangkat analisis sendiri dalam membantu kaum perempuan dengan berbagai kelas, ras, suku dan agama. Gerakan feminis juga mencintai demokrasi dan toleransi antar umat beragama. Gerakan femnis juga membela kelompok-kelompok terpinggir. Gerakan feminis selalu membela yang “liyan”, karena selama mereka hidup di bumi, mereka juga “diliyankan”.  Kitalah yang mengalami, dan kitalah yang kemudian saling mendukung dan melindungi, saling mendampingi, saling menguatkan. Kami yang dalam cara berbeda dalam memilih metode aktivisme memiliki tujuan yang sama, yaitu memperjuangkan kesetaraan gender, melawan kekerasan berbasis gender, mengupayakan pemberdayaan perempuan. Kamilah yang hari demi hari bekerja untuk itu, kamilah yang bekerja keras untuk itu, mulai dari akar rumput, akademisi, pengambil kebijakan, sampai ke tingkat pemerintah dan perumusan undang-undang. Diantara para aktivis perempuan adalah para ahli-ahli di berbagai bidang, seperti filsafat, sosiologi, psikologi, astronomi, petani, buruh, pejabat publik, politisi, dosen, penulis, ibu rumah tangga, dokter, dll. Mereka semua berkerja untu menegakkan hak-hak perempuan, mewujudkan keadilan untuk perempuan. Lalu siapakah mereka ini yang tiba-tiba menggedor pintu kami?

Gerakan feminis sudah sejak dia lahir konsisten melawan apa yang menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek, sebagai sesuatu yang menjadi “hak milik” dan “barang yang dibeli” oleh laki-laki, baik dalam relasi pacaran ataupun perkawinan. Gerakan feminis paling lantang bicara ketika perkosaan diwajarkan atas nama kehendak seksual laki-laki. Gerakan feminis sudah sangat jelas  bertindak nyata berpihak pada korban, mendampingi korban, melindungi mereka. Tidak sedikit dari mereka yang relawan, yang menjadi miskin dan kekurangan karena perjuangan tentang hal ini. Organisasi-organisasi perempuan di Indonesia selama bertahun-tahun hidup dan bertahan di negara ini, sudah teruji melawan, mengatasi, dan menyuarakan hal itu. Tetapi kali ini, mereka yang laki-laki tiba-tiba menggedor pintu rumah kami, dan mengacak-cak perabotan kami, berteriak-teriak marah soal perkosaan. Mereka inila yang dulu diam-diam saja, mereka tidak bekerja untuk itu, mereka tidak memikirkan sama sekali, atau bahkan meledek-ledek pekerjaan kami, menganggap feminis sebagai Barat dan neolib, tiba-tiba berteriak paling keras soal perkosaan, dan ikut menyeret-nyeret organisasi perempuan yang tidak masuk dalam perdebatan “suka atau tidak suka” dengan komunitas tertentu.

Sampai akhirnya saya mengingat-ingat kembali semua yang mereka lakukan, saya jadi memahami betul, semua yang mereka lakukan adalah standar ganda. Mereka tidak benar-benar mengusung masalah kekerasan seksual, mereka tidak sungguh-sungguh empati pada korban, mereka hanya mengambil kesempatan ini untuk menyerang yang menurut mereka lawan. Dan tindakan-tindakan ini semakin menyebar, ramai di sosial media, bahasa yang mereka gunakan juga bukan “bahasa perempuan”, bukan bahasa yang penuh empati dan peduli. Mereka seperti preman-preman kelaparan.
Nah, standar ganda telah dimainkan patriarki. Kali ini, panggung mereka adalah demokrasi dan kebebasan berekspresi. Kali ini, alat-alat yang kami miliki mereka gunakan juga untuk kepentingan mereka. Sunggu perjuangan feminis tak pernah henti, bahkan ketika serangan itu ada di dalam tubuh gerakan kami sendiri.

Lontar, 12 Desember 2013