Jumat, 12 Desember 2014

Hari HAM dan Goyang Dangdut



Sudah lama saya tidak menulis sebuah refleksi. Seperti biasa bila sudah mulai ada kesibukan rutin, ruang ini seringkali saya abaikan atau barangkali ada rasa enggan karena ini menyangkut lembaga yang saya harapkan. Kali ini saya memaksakan diri. Bahwa tulisan adalah ruang bicara yang paling kuat. Bukan ingin menyatakan sebuah kebenaran, tetapi keadaan yang sebenarnya, yang maknanya bisa kita kaji, pada sesuatu yang saya lihat, alami dan renungkan, dari tumpukan wacana yang saling berhubungan.

Suatu hari, saat saya sedang bersama teman-teman melakukan orientasi Komnas Perempuan, kami bersinggah ke kantor Komnas HAM dan dibelakangnya tersudut kantor Komnas Perempuan yang begitu sesak dan sempit. Kami masuk dari belakang. Terdengar suara hingar bingar dari luar. Begitu kami masuk lebih dekat, kami melihat sebuah panggung besar di tengah lapangan parkir yang juga sempit, tampak seorang penyanyi, orang-orang mengatakannya artis, dan satu orang artis lagi, yang juga saya tidak kenal, tetapi kata orang-orang mereka terkenal sekali. Saya ingat bahwa hari itu adalah hari peringatan hak asasi manusia. “Apa yang terjadi disini?” Pikir saya. Terbentang spanduk perayaan hak asasi manusia, dan dibawahnya panggung besar, konser dangdut, katanya penyanyi itu bernama Saskia Gotik, ya saya sering dengar nama itu di infotaiment yang sering sekilas saya temukan di layar kaca saat saya makan atau duduk di sebuah tempat umum. Dia penyanyi dangdut, dan satu lagi seorang lelaki saya tak kenal siapa. Ada lagi beberapa. Tampak para penonton yang hampir semua laki-laki menggoyangkan badannya mengikuti irama dangdut, beberapa juga ada yang diam-diam memotret paha Saskia Gotik dari bawah. Kepala saya mendadak pusing dan sepertinya saya mulai merasa tidak nyaman. Para penonton sedikit sekali dengan seragam merah, dengan banyak wartawan infotainment yang menodongkan kamera ke arah Saskia dan artis lainnya dengan sangat bersemangat.

Saya masuk ke dalam ruangan di kantor Komnas Perempuan yang sangat sempit dan kehabisan ruang, tampak orang-orang hilir mudik bekerja, menulis sesuatu, membuat laporan, mengangkat telepon, mencetak tulisan, dan kardus-kardus yang bertumpuk, dan wajah-wajah lelah. Saya berkenalan bersama teman lainnya dengan para staf Komnas Perempuan. Kami berkeliling dikenalkan satu persatu ruang demi ruang, orang demi orang, dengan kardus-kardus yang bertumpuk berjejer di sepanjang koridor ruangan. Dengan tangga menjulang sempit menuju lantai demi lantai. Dan setelah kami selesai berkenalan, kami pun keluar lagi. Saya segera mencari udara segar, dan saya melihat dari jauh kantor Komnas HAM yang begitu megah, jauh dari keadaan kantor Komnas Perempuan. Tetapi saya kembali tertuju pada panggung itu, ditengah terik siang yang panas, mereka berjoget dan menikmati goyang Saskia Gotik dengan riasan wajah yang tebal. Sepertinya sebentar lagi acara panggung selesai, dan tampak beberapa lelaki menaiki panggung disertai sedikit orasi. Konon, mereka adalah para pejabat Komnas HAM, mereka berdiri berjejer berfoto bersama Saskia Gotik dan artis-artis lain, sambil mengepalkan tangan dan diangkat ke atas dan berteriak “Human Rights!”. Seperti sebuah acara yang sering dilakukan partai-partai saat berkampanye. Saya dan beberapa teman mengerutkan kening. Peringatan hari hak asasi manusia, dengan menggelar dangdut? Dengan berfoto-foto paha penyanyi itu? Dengan teriakan-teriakan wartawan dunia hiburan yang berebut mengambil gambar? Saya tidak mengerti, apakah yang ingin disampaikan mereka? Apakah korelasinya dengan perayaan HAM yang kita perjuangkan bersama dulu? Apakah kini adalah zaman senang-senang? Yang tak bisa lagi menghubungkan antara senang-senang dengan kesedihan para korban? Sementara banyak korban-korban pengaduan kasus pelanggaran HAM tertentu sedang duduk di sana, menunggu keadilan, dan orang-orang sibuk menonton paha Saskia, apakah mereka sudah tidak ada lagi perasaan? Apakah zaman sekarang kita hanya bekerja, bukan lagi berjuang? Saya tidak mengerti dan bersama beberapa teman lekas-lekas pulang diantara kemacetan, diantara kebuntuan, diantara kebisuan, diantara kedunguan.


Tambun, 12 Desember 2014