Sudah lama saya tidak
menulis sebuah refleksi. Seperti biasa bila sudah mulai ada kesibukan rutin,
ruang ini seringkali saya abaikan atau barangkali ada rasa enggan karena ini
menyangkut lembaga yang saya harapkan. Kali ini saya memaksakan diri. Bahwa
tulisan adalah ruang bicara yang paling kuat. Bukan ingin menyatakan sebuah
kebenaran, tetapi keadaan yang sebenarnya, yang maknanya bisa kita kaji, pada
sesuatu yang saya lihat, alami dan renungkan, dari tumpukan wacana yang saling
berhubungan.
Suatu hari, saat saya sedang
bersama teman-teman melakukan orientasi Komnas Perempuan, kami bersinggah ke
kantor Komnas HAM dan dibelakangnya tersudut kantor Komnas Perempuan yang
begitu sesak dan sempit. Kami masuk dari belakang. Terdengar suara hingar
bingar dari luar. Begitu kami masuk lebih dekat, kami melihat sebuah panggung
besar di tengah lapangan parkir yang juga sempit, tampak seorang penyanyi,
orang-orang mengatakannya artis, dan satu orang artis lagi, yang juga saya
tidak kenal, tetapi kata orang-orang mereka terkenal sekali. Saya ingat bahwa
hari itu adalah hari peringatan hak asasi manusia. “Apa yang terjadi disini?”
Pikir saya. Terbentang spanduk perayaan hak asasi manusia, dan dibawahnya
panggung besar, konser dangdut, katanya penyanyi itu bernama Saskia Gotik, ya
saya sering dengar nama itu di infotaiment yang sering sekilas saya temukan di
layar kaca saat saya makan atau duduk di sebuah tempat umum. Dia penyanyi
dangdut, dan satu lagi seorang lelaki saya tak kenal siapa. Ada lagi beberapa.
Tampak para penonton yang hampir semua laki-laki menggoyangkan badannya
mengikuti irama dangdut, beberapa juga ada yang diam-diam memotret paha Saskia
Gotik dari bawah. Kepala saya mendadak pusing dan sepertinya saya mulai merasa
tidak nyaman. Para penonton sedikit sekali dengan seragam merah, dengan banyak
wartawan infotainment yang menodongkan kamera ke arah Saskia dan artis lainnya
dengan sangat bersemangat.
Saya masuk ke dalam
ruangan di kantor Komnas Perempuan yang sangat sempit dan kehabisan ruang,
tampak orang-orang hilir mudik bekerja, menulis sesuatu, membuat laporan,
mengangkat telepon, mencetak tulisan, dan kardus-kardus yang bertumpuk, dan
wajah-wajah lelah. Saya berkenalan bersama teman lainnya dengan para staf Komnas
Perempuan. Kami berkeliling dikenalkan satu persatu ruang demi ruang, orang
demi orang, dengan kardus-kardus yang bertumpuk berjejer di sepanjang koridor
ruangan. Dengan tangga menjulang sempit menuju lantai demi lantai. Dan setelah
kami selesai berkenalan, kami pun keluar lagi. Saya segera mencari udara segar,
dan saya melihat dari jauh kantor Komnas HAM yang begitu megah, jauh dari
keadaan kantor Komnas Perempuan. Tetapi saya kembali tertuju pada panggung itu,
ditengah terik siang yang panas, mereka berjoget dan menikmati goyang Saskia
Gotik dengan riasan wajah yang tebal. Sepertinya sebentar lagi acara panggung
selesai, dan tampak beberapa lelaki menaiki panggung disertai sedikit orasi.
Konon, mereka adalah para pejabat Komnas HAM, mereka berdiri berjejer berfoto
bersama Saskia Gotik dan artis-artis lain, sambil mengepalkan tangan dan diangkat
ke atas dan berteriak “Human Rights!”. Seperti sebuah acara yang sering
dilakukan partai-partai saat berkampanye. Saya dan beberapa teman mengerutkan
kening. Peringatan hari hak asasi manusia, dengan menggelar dangdut? Dengan
berfoto-foto paha penyanyi itu? Dengan teriakan-teriakan wartawan dunia hiburan
yang berebut mengambil gambar? Saya tidak mengerti, apakah yang ingin
disampaikan mereka? Apakah korelasinya dengan perayaan HAM yang kita
perjuangkan bersama dulu? Apakah kini adalah zaman senang-senang? Yang tak bisa
lagi menghubungkan antara senang-senang dengan kesedihan para korban? Sementara
banyak korban-korban pengaduan kasus pelanggaran HAM tertentu sedang duduk di
sana, menunggu keadilan, dan orang-orang sibuk menonton paha Saskia, apakah mereka
sudah tidak ada lagi perasaan? Apakah zaman sekarang kita hanya bekerja, bukan lagi
berjuang? Saya tidak mengerti dan bersama beberapa teman lekas-lekas pulang
diantara kemacetan, diantara kebuntuan, diantara kebisuan, diantara kedunguan.
Tambun, 12 Desember
2014