Sabtu, 03 Mei 2014

Selamat Tinggal Ingatan


Oleh: Mariana Amiruddin

Bulan Mei seharusnya menjadi bulan yang kelam yang membuat kita berdiri sejenak dan mengheningkan cipta atas serentetan tragedi yang paling tidak masuk akal dalam sejarah manusia. Telah banyak tragedi dalam skala yang luas di Republik Indonesia yang dilakukan oleh bangsanya sendiri, ----jauh setelah mendeklarasikan dirinya sebagai bangsa merdeka. Tragedi-tragedi  hitam yang dibungkus rapi sepanjang Orde Baru Soeharto dan diujungnya Mei 1998. Sejumlah tragedi yang membunuh ratusan saudara-saudara kita; diantaranya dianiaya dan diperkosa. Contoh kekejian yang paling tidak masuk akal adalah totaliter-nya Orde Baru Soeharto, dimana Marsinah, seorang buruh diupah murah. Dia adalah perempuan muda yang mungil dan kerempeng, barangkali karena saat itu sangat sekali kurang makan. Marsinah yang berkacamata, dan paling berani diantara kawan-kawan buruhnya itu diculik dan disiksa oleh aparat, dan kelaminnya ditodong laras panjang, ditembakkan di dalamnya sampai rahimnya terburai.

Sampai hari ini, tragedi-tragedi tersebut tidak diungkap, tidak ada permohonan maaf, tidak ada pengadilan, tidak ada monumen yang terkonsentrasi untuk mengenang tragedi supaya keluarga korban bisa duduk damai dan tenang berdoa di sana dan sementara para generasi baru berdiri di sana untuk studi dan merenung soal sejarah bangsanya. Sayang sekali tragedi-tragedi itu dianggap kebohongan, dianggap tidak berhasil  menunjukkan bukti. Sementara tangisan keluarga mereka masih terus mengalir sampai kini. Tapi yang paling menyedihkan dari semua itu adalah, upaya #melawanlupa ini dituduh sebagai "menunggang pilpres pemilu 2014", dan barangsiapa yang bicara soal tragedi ini langsung dimasukkan dalam "RING pro dan kontra dukungan para capres", padahal, persoalannya lebih jauh dari itu. Tuduhan ini sungguh-sungguh menyedihkan. Bagaimana sebuah kejahatan kemanusiaan yang dilupakan, diletakkan dalam turnamen pro dan kontra pendukung para capres! Mereka tidak pernah mendengar jeritan keluarga korban yang ditelan dalam-dalam . Sebab, bertahun-tahun para saksi, relawan, dan orang-orang sipil yang peduli pada masalah tersebut menyebarkan catatan dan dokumen tragedi ini tiada yang mendengar, tiada yang percaya, sebagian sengaja melupa karena mengalami trauma. Dan saat berita-berita ini mulai terdengar dimana-mana, kebetulan dalam suasana Pemilu 2014 -- seperti biasanya, ---  mereka diciptakan dengan sangat mudah untuk mengatakan bahwa "itu kebohongan" --- lalu kitalah para korban dan saksi-saksi serta relawan yang bekerja selama bertahun-tahun menjadi yang kemudian ditikam.

Padahal, kami bukan sedang menikmati arus kecerewetan orang soal " pro dan kontra dukungan antar capres" melainkan menyangkut semua pihak-pihak yang bertanggung jawab saat itu, menyangkut kredibilitas dan kepercayaan kami pada siapa yang akan memimpin bangsa ini dalam konteks apa yang terjadi dalam rentang sejarah bangsa ini. Pihak-pihak yang bertanggungjawab adalah mereka yang menjadi petinggi, sekarang masih melambaikan tangan dilayar kaca sambil melenggang, hidup dengan sangat berkecukupan, makan makanan yang enak setiap pagi siang malam, jalan-jalan dan belanja dengan tenang, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Mereka yang seharusnya bertanggungjawab dan diadili menjadi "yang paling aman" hidupnya di atas ratapan keluarga korban yang adalah anak-anak bangsanya sendiri. Lalu cerita diputarbalikkan, rakyat dininabobokan, hanya 16 tahun saja peristiwa-peristiwa keji itu membuat banyak orang lupa, membuat orang akhirnya bilang “iya memang tidak pernah terjadi apa-apa”, dan para paman dan bibi, begitupula kakek dan nenek, atau juga guru-guru dan pengajar-pengajar di universitas tidak lagi mampu menyampaikan cerita itu pada generasi muda, sebab tidak ada dalam buku-buku ilmiah yang mereka pegang, semua sudah menguburnya dalam-dalam, dan seketika tidak lagi percaya bahwa tragedi-tragedi itu pernah ada, kenyataan yang seharusnya kita terima: telah terjadi tindakan kekerasan yang paling tidak masuk akal dalam sejarah manusia di dunia. Suara korban bisa menjadi bukti, tetapi mereka diperlakukan sebagai obyek-obyek hukum, bukan sebagai subyek-subyek hukum yang berhak mendapatkan perlindungan, rasa aman, termasuk menunggu sampai mereka siap untuk bicara dan menunda air matanya mengalir kembali.

Tanah Indonesia telah dibangun oleh kekerasan, dan selanjutnya kebodohan. Kontes-kontes dalam pesta demokrasi tidak disertai pendidikan politik yang jujur dan sejarah yang sebenar-benarnya diumumkan. Maka janganlah kita murung ketika Senayan menjadi tempat laga orang-orang yang hanya memikirkan dirinya, dan sibuk mengisi kantongnya, tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya demi rakyat, demi kita semua. Indonesia adalah negeri yang penuh senyum alias senyum yang getir --- yang setiap kalinya harus menelan diam-diam apa yang pernah terjadi pada keluarganya, saudara-saudaranya, tetangganya, dan orang-orang yang diseberang pulau sana, yang mengalami hal sama. Ratusan korban yang suaranyapun tak terdengar saat demokrasi digelar, yang kebenarannyapun tak diakui oleh petinggi negeri, adalah dosa-dosa yang mereka tanam dengan subur, lebih subur dari tanah kita yang saat ini sudah kering kerontang dan terkontaminasi oleh limbah-limbah petinggi yang serakah dan tak hentinya mengeksploitasi manusia dan alamnya. Cobalah, cobalah mencoba untuk mengetahui bahwa bangsa ini pernah kelam. Tanyakan pada orang-orang yang pernah hidup dimasa itu. Itu sudah menjadi cukup bukti, sebenar-benarnya dari sistem hukum yang dimanipulasi para aktor-aktor politik, militer dan intelejen, dan para munafik, pengkhianat serta oportunis yang keji...  SELAMAT TINGGAL INGATAN!



Bekasi, 03 Mei 2014


Ratusan Korban Kerusuhan Mei 1998 dimana banyak orang-orang terbakar di dalam Mall-Mall dan di rumahnya sendiri, dan dibunuh di tengah jalan. Kerusuhan Mei di luar akal sehat kita, bahkan imajinasi kita tentang pembunuhan. Mereka diberi label "penjarah" oleh penguasa waktu itu. Dan kematian mereka seolah disukuri tanpa melihat adanya provokasi dan pembakaran yang disengaja dalam skala besar. Foto ini diambil dari dokumentasi berbagai media yang sempat meliput kerusuhan Mei terjadi.