Oleh: Mariana
Amiruddin
Bulan Mei seharusnya menjadi bulan yang kelam yang membuat kita berdiri sejenak
dan mengheningkan cipta atas serentetan tragedi yang paling tidak masuk akal dalam
sejarah manusia. Telah banyak tragedi dalam skala yang
luas di Republik Indonesia yang dilakukan
oleh bangsanya sendiri, ----jauh setelah mendeklarasikan dirinya sebagai bangsa
merdeka. Tragedi-tragedi hitam yang
dibungkus rapi sepanjang Orde Baru Soeharto dan diujungnya Mei 1998. Sejumlah tragedi yang membunuh ratusan saudara-saudara kita; diantaranya dianiaya dan
diperkosa. Contoh kekejian yang
paling tidak masuk akal adalah totaliter-nya Orde Baru Soeharto, dimana Marsinah,
seorang buruh diupah murah. Dia adalah perempuan muda yang mungil dan
kerempeng, barangkali karena saat itu sangat sekali kurang makan. Marsinah yang
berkacamata, dan paling berani diantara kawan-kawan buruhnya itu diculik dan
disiksa oleh aparat, dan kelaminnya ditodong laras panjang, ditembakkan di dalamnya
sampai rahimnya terburai.
Sampai hari ini, tragedi-tragedi tersebut
tidak diungkap, tidak ada permohonan maaf, tidak ada pengadilan, tidak ada
monumen yang terkonsentrasi untuk mengenang tragedi supaya keluarga korban bisa duduk
damai dan tenang berdoa di sana dan sementara para generasi baru berdiri di sana untuk studi dan merenung soal sejarah bangsanya. Sayang sekali tragedi-tragedi itu dianggap
kebohongan, dianggap tidak berhasil menunjukkan
bukti. Sementara tangisan keluarga mereka masih terus mengalir sampai kini.
Tapi yang paling menyedihkan dari semua itu adalah, upaya #melawanlupa ini
dituduh sebagai "menunggang pilpres pemilu 2014", dan barangsiapa yang bicara
soal tragedi ini langsung dimasukkan dalam "RING pro dan kontra dukungan para
capres", padahal, persoalannya lebih jauh dari itu. Tuduhan ini sungguh-sungguh menyedihkan. Bagaimana sebuah kejahatan kemanusiaan yang
dilupakan, diletakkan dalam turnamen pro dan kontra pendukung para capres! Mereka tidak pernah mendengar jeritan keluarga korban yang ditelan
dalam-dalam . Sebab, bertahun-tahun para saksi, relawan, dan orang-orang sipil yang peduli pada masalah tersebut menyebarkan
catatan dan dokumen tragedi ini tiada yang mendengar, tiada yang percaya, sebagian sengaja melupa karena
mengalami trauma. Dan saat berita-berita ini mulai terdengar dimana-mana,
kebetulan dalam suasana Pemilu 2014
-- seperti biasanya, --- mereka diciptakan dengan sangat mudah untuk mengatakan bahwa "itu kebohongan" --- lalu kitalah para korban dan saksi-saksi
serta relawan yang bekerja selama bertahun-tahun menjadi yang
kemudian ditikam.
Padahal, kami bukan sedang menikmati arus kecerewetan
orang soal " pro dan kontra dukungan antar
capres" melainkan menyangkut semua pihak-pihak yang bertanggung jawab saat
itu, menyangkut kredibilitas dan
kepercayaan kami pada siapa yang akan memimpin bangsa ini dalam konteks apa
yang terjadi dalam rentang sejarah bangsa ini. Pihak-pihak
yang bertanggungjawab adalah mereka yang menjadi petinggi, sekarang masih melambaikan
tangan dilayar kaca sambil melenggang, hidup dengan sangat berkecukupan, makan makanan yang enak setiap pagi siang
malam, jalan-jalan dan belanja dengan tenang, seolah-olah tidak pernah
terjadi apa-apa. Mereka yang seharusnya bertanggungjawab dan diadili menjadi
"yang paling aman" hidupnya di atas ratapan keluarga korban yang adalah anak-anak
bangsanya sendiri. Lalu cerita diputarbalikkan, rakyat dininabobokan, hanya 16
tahun saja peristiwa-peristiwa keji itu membuat banyak orang lupa, membuat orang akhirnya bilang “iya memang tidak pernah terjadi apa-apa”,
dan para paman dan bibi, begitupula kakek dan nenek, atau juga guru-guru dan
pengajar-pengajar di universitas tidak lagi mampu menyampaikan cerita itu pada generasi muda, sebab
tidak ada dalam buku-buku ilmiah yang mereka pegang, semua
sudah menguburnya dalam-dalam, dan seketika tidak lagi percaya bahwa
tragedi-tragedi itu pernah ada, kenyataan yang seharusnya kita terima: telah
terjadi tindakan kekerasan yang paling tidak masuk akal dalam sejarah manusia
di dunia. Suara korban bisa menjadi bukti, tetapi mereka diperlakukan sebagai obyek-obyek
hukum, bukan sebagai subyek-subyek hukum yang berhak mendapatkan perlindungan,
rasa aman, termasuk menunggu sampai mereka siap untuk bicara dan menunda air
matanya mengalir kembali.
Tanah Indonesia telah dibangun oleh kekerasan,
dan selanjutnya kebodohan. Kontes-kontes dalam pesta demokrasi tidak disertai
pendidikan politik yang jujur dan sejarah yang sebenar-benarnya diumumkan. Maka
janganlah kita murung ketika Senayan menjadi tempat laga orang-orang yang hanya
memikirkan dirinya, dan sibuk mengisi kantongnya, tanpa tahu apa yang harus
diperbuatnya demi rakyat, demi
kita semua. Indonesia adalah negeri yang penuh senyum alias senyum yang getir --- yang setiap
kalinya harus menelan diam-diam apa yang pernah terjadi pada keluarganya,
saudara-saudaranya, tetangganya, dan orang-orang yang diseberang pulau sana,
yang mengalami hal sama. Ratusan korban yang suaranyapun tak terdengar saat
demokrasi digelar, yang kebenarannyapun tak diakui oleh petinggi negeri, adalah
dosa-dosa yang mereka tanam dengan subur, lebih subur dari tanah kita yang saat ini sudah
kering kerontang dan terkontaminasi oleh limbah-limbah petinggi yang serakah
dan tak hentinya mengeksploitasi
manusia dan alamnya. Cobalah, cobalah mencoba untuk
mengetahui bahwa bangsa ini pernah kelam. Tanyakan pada orang-orang yang pernah
hidup dimasa itu. Itu sudah menjadi cukup bukti, sebenar-benarnya dari sistem
hukum yang dimanipulasi para aktor-aktor
politik, militer dan intelejen, dan para munafik, pengkhianat serta oportunis
yang keji... SELAMAT
TINGGAL INGATAN!
Bekasi, 03 Mei 2014
