Oleh: Mariana Amiruddin
Hari ini saya terganggu sekali dengan rapat tadi siang. Ini sekedar catatan kecil untuk membuat saya merasa lebih baik dan lebih sabar menghadapi banyak orang. Mungkin tidak semuanya sesuai, karena saya hanya mengandalkan ingatan, dicampur kesal dan jengkel. Kadang menulis itu menjadi obat saya untuk lebih tenang menghadapi ketololan.
Rapat ini tidak jelas formatnya, dan kami diundang sebagai narasumber. Yang hadir banyak media. Saya dan teman-teman datang terlambat karena ternyata diberikan alamat yang tidak tepat, kami tersesat keliling-keliling di daerah Jakarta Selatan. Untuk ini saja energi saya sudah keburu habis, kehabisan nafas ditengah kemacetan dan perjalanan yang tak sampai-sampai. Akhirnya kami ketemu tempat rapat itu, dan ternyata ini undangan meminta kami bicara soal pengarusutamaan gender, hubungannya dengan pemerintahan baru, tapi yang diundang rata-rata dari media nasional. Jadi temanya tidak fokus, tetapi ingin menjaring laporan dari teman-teman media tentang bias gender yang menyebabkan pelaksanaan pengarusutamaan gender terhambat dan media dianggap sebagai pihak yang strategis untuk isu ini? Aduh, saya begitu dengar dan duduk langsung pusing. Hal-hal yang tak nyambung, terburu-buru menarik garis dan dipaksakan itu membuat kepalaku pusing. Lagipula sebetulnya saya agak malas dengan rapat-rapat seperti ini, meski demikian saya sudah membuat makalah, sudah mempersiapkan position paper hasil kerja jaringan, tentang argumen rancangan kabinet untuk perempuan, untuk memudahkan presiden melaksanakan pencapaian target pengarusutamaan gender.
Tapi saya kecewa sekali karena moderator di depan saya ini, belum selesai saya menjelaskan tentang kewenangan insitusi pemerintah yang akan memperhatikan nasib perempuan Indonesia, sudah dipotong dengan mengatakan begini, “Maaf ya mbak, saya sebenarnya tidak enak bicara begini karena saya laki-laki, tapi presiden itu banyak kerjaan, jadi urusannya bukan hanya perempuan.” Lalu forum itu menyatukan isu perempuan dengan isu kemiskinan. Saya bilang, kalau bicara soal perempuan kenapa ada kata “tidak enak sebagai laki-laki”? Kemudian, saya menambahkan bahwa setengah penduduk kita itu perempuan. Dimanapun anda berada disitu ada perempuan, ibumu, kakakmu, adikmu, kawanmu. Setiap golongan apapun disitu ada perempuan. Lalu dia menyangkal begini, “Semua golongan ingin kuota, ingin dimasukkan isunya dalam pemerintahan, menurut saya isu perempuan digabungkan saja dalam isu hak asasi manusia, termasuk digabung dengan isu kelompok minoritas dll.” Saya bilang, perempuan itu mayoritas sebagaimana laki-laki, kami bukan minoritas. Saya balik bertanya, apa yang anda ketahui tentang pengarusutamaan gender? Dia tidak bisa jawab. Saya bilang, bila anda tidak mengerti apa itu pengarusutamaan gender, mengapa anda dengan ngototnya bicara tentang hal yang tidak anda mengerti?
Lihatlah reaksi orang-orang itu, pertama, mereka mengangkat isu pengarusutamaan gender lalu mengundang kami, tapi tahu-tahu yang hadir media, dan diminta untuk hanya bicara seputar peran media. Mereka tidak tahu konsep gender, mereka tidak mengerti bagaimana cara mengerjakan tema itu, lalu kami mau jelaskan, tetapi mereka menolak penjelasan kami. Mereka mengundang kami sebagai ahli gender, tetapi mereka menolak penjelasan kami dengan alasan presiden banyak kerjaan, urusannya bukan hanya perempuan, seolah-olah perempuan itu dilepaskan dari urusan masyarakat sipil, yang akan menjadi urusan pemerintah juga, seakan-akan dia benda asing yang ada di luar obrolan soal pemerintahan dengan tata kelola yang baik, seolah-olah segala bidang kehidupan itu netral gender. Mereka menganggap gender itu adalah isu-isu perempuan, dan sangat sempit seputar perkosaan, pelecehan, kemiskinan. Astaga! Bagaimana bisa arus utama kalau orang-orang ini memperlakukan isu gender dan masyarakat perempuan dalam sebuah alienasi?
Hal terburuk lainnya adalah mereka melakukan penilaian-penilaian terlebih dahulu sebelum penjelasan selesai. Mereka menjadikan segala sesuatu adalah angka. Bukan manusia. Bahkan penjelasan kami dan beberapa teman diberi penilaian misalnya sambil bisik-bisik sesama temannya,“Saya suka pendapat bapak yang itu.” Sialan, memangnya anda juri Indonesian Idol, menunjuk penyanyi yang menjadi kategori terbaik anda? Mereka memposisikan diri seolah-olah juri atas nama pemerintahan baru! Siapakah orang-orang ini? Mereka adalah relawan. Tapi perlakuan mereka bak suara calon presiden atau pemerintahan baru itu sendiri. Kalau jujur saya mau katakan, saya ini seperti berhadapan dengan pedagang showroom mobil, dan seolah saya ini mau jual mobil ke mereka dan mereka melakukan penawaran dengan sangat rendah, padahal mereka belum tahu mobil yang mau saya jual itu seperti apa. Bedebah betul orang-orang ini, dan sungguh ke depan yang saya pikirkan adalah, betapa kita ini seperti minyak yang diletakkan di atas air dan kami terus menerus tak pernah bisa menyatu dengan mereka.. Kami, perempuan-perempuan ini, kalau bicara tegas dan keras, seolah-olah kami ini sedang meminta beras dan barang-barang sembako lainnya. Saya bilang bukan seperti itu kami ini, kami bicara logic! Soal pemerintahan dan bagaimana mesin pengarusutamaan gender itu penting kita rumuskan dimana dia diletakkan! Sungguh panjangnya perjuangan perempuan, mungkin sampai anak cucu kitapun belum terwujud selama mereka tidak mendengarkan, selama mereka menganggap kita adalah minyak yang mengapung di atas air!
Tambun, 9 September 2014
