Oleh: Mariana
Amiruddin
Dadaku seperti berlubang. Dingin telah melubangi dadaku. Dingin
membiarkan tungkaiku menggigil. Ini gua paling ideal. Gua vertikal ketika kau
harus menuruni batu dan jenjang curam sekitar duapuluh meter untuk menuju
dasar, dan kau hanya melihat gelap dan lembab. Tetapi di dasar itu kau akan
menyaksikan keindahan bukan kepalang, dan itu bukan dengan matamu, melainkan bulu
kuduk dan gendang telingamu. Bulu-bulu kudukmu akan menjadi ribuan mata dan dan
telingamu berdendang saat kau temukan air menetes nyaring jatuh satu persatu
dari langit-langit gua. Kau tidak perlu menggunakan matamu. Kau harus berlatih
menjadi buta. Tapi bukan buta rasa. Kau akan mencium bau kotoran dan tubuh kelelawar
yang berdansa bahagia. Sentuhlah dengan jari-jarimu ke dinding gua, kau akan
merasakan lekuk dinding-dinding yang penuh hasrat dan cinta. Kau akan bertemu
ikan-ikan kecil dalam genangan jernih, mereka akan mencium kaki-kakimu.
Aku, manusia dengan dada yang berlubang, terkikis dingin siang dan malam
dan angin keji yang menyusup dari lubang-lubang misteri gua yang kutempati. Aku
memang hidup di dalam gua, kedap suara, kau akan bicara dengan berbisik, sebab suaramu
akan terpantul tak ada habisnya dan akan menimbulkan suasana yang berisik.
Jangan kau bayangkan suara jangkrik dan katak yang nyaring. Bicaralah pelan
sekali, bila kau kencangkan sedikit, kau akan membubarkan kelelawar yang lelap
dan merobohkan dinding-dinding gua yang rapuh. Pagi hari ketika matahari mencuri
pandang cahayanya ke dalam mulut gua, saat itu hanya ada burung-burung yang
boleh berkicau dan terbang menyambutnya. Kelelawar akan segera terlelap
bersamaku. Aku akan tergolek lemah di bawah tetesan air, yang ikut melubangi
dadaku.
Malam ini adalah bulan keempat sejak aku meninggalkan keramaian. Aku menghitung
bulan melalui jadwal menstruasiku. Semua petunjuk waktu sudah kubuang. Aku memutuskan
untuk mundur dari suara tawa dan tangis orang-orang dan memutuskan untuk hidup
di dalam gua. Gua-gua ingatan, gua-gua masa lampau yang kusimpan sampai
kenyang. Di gua ini aku menyimpan memori kebahagiaan dan kesedihan. Yang kebahagiaan
menjadi yang paling buruk, dan yang buruk menjadi yang terlupakan. Yang kebahagiaan
menjadi buruk karena aku tahu itu tak akan terulang lagi, tidak ada yang akan
terulang kecuali kesalahan. Tidak ada yang terulang kecuali kesengajaan.
Kebahagiaan bukan kesengajaan, ia ditemukan, dirasakan. Kini aku menemukan
ketiadaan. Tiada bahagia, tiadapula sedih. Aku dalam posisi nol. Posisi yang
membuat tubuhku melayang menolak gravitasi. Dan dadaku berlubang, dengan kulit
yang bersisik. Kulitku di bagian lain mulai licin seperti ikan dan katak.
Suaraku bahkan mulai terdengar seperti denging lumba-lumba di dalam air. Sudah
lama aku tak melihat cahaya, atau gigi-gigi bersih dan rapi saat pemuda-pemuda
tampan melempar senyumnya kepadaku, atau pemudi-pemudi cantik yang menyembunyikan
perasaannya tentang keinginan yang tertunda.
Dadaku berlubang. Sebelumnya aku merasakan panas, terutama saat hari
kira-kira lewat jam dua malam. Aku memeriksa isi dadaku, tak ada lagi jantung
dan hati di sana. Aku tak punya jantung-hati. Aku hanya punya paru-paru. Aku
kehilangan denyut-denyut itu sejak tinggal di dalam gua. Aku merasakan ada yang
tumbuh di dadaku yang berlubang, barangkali itu seperti insang yang bergerigi,
yang dilekat oleh darah dan daging, menempel pada garis-garis tulangku. Aku
mulai lupa bahasa tubuh manusia, bagaimana saat mereka senang atau sedih, saat
mereka terkejut atau marah, saat jatuh cinta atau patah hati, atau saat mereka terpingkal-pingkal
atau menjerit-jerit sakit. Aku benar-benar belum ingin ke sana untuk menemui
mereka. Aku pernah mencobanya berkali-kali tapi aku tidak kuat. Aku sering menggelepar
seperti ikan kehabisan air saat bertemu keramaian manusia dengan segala
rutinitasnya. Aku seperti meleleh di panas matahari. Aku tidak mengerti
perbincangan mereka, aku tak bisa menghayatinya. Bahkan untuk berkata bahwa aku
sakit dan lapar saja aku tidak bisa. Mereka punya telinga tetapi sepertinya
tidak berfungsi. Mereka sulit sekali untuk mendengarkan. Bahkan untuk
mendengarkan sedikit saja nada halus dan lembut yang melintas. Mereka hanya
mendengarkan diri mereka sendiri. Sementara, gendang telingaku terlalu
sensitif, aku akan terpental seribu meter bila mendengar mereka bicara
keras-keras.
Apa yang kulakukan setiap hari saat di gua? Aku tidak melakukan apa-apa
kecuali aku punya pena dan kertas-kertas yang kupungut dari sisa-sisa kebudayaan
mereka. Aku akan mengisi kertas-kertas itu dengan catatan-catatanku. Kadang aku
diam-diam mencuri tahu sedang apa mereka di sana, aku berjingkat-jingkat
memperhatikan kehidupan mereka. Dan aku akan menulis saat pulang ke gua. Di
situlah aku bisa begitu cepat merakit alur-alur hidup mereka,
tabarakan-tabarakan kepentingan dan keinginan yang mereka lakukan, tipu
muslihat dan gunjingan yang membangkitkan gairah hidup mereka, permusuhan
sekaligus persahabatan, kepura-puraan, persembunyian antara hati dan ekspresi
wajah mereka. Aku mempelajarinya hingga detil. Aku mengamati teks-teks gerakan
mereka, air wajah sampai gerakan otot mereka yang membuat aku tahu persis kapan
mereka bohong atau jujur, kapan mereka gombal atau tidak, kapan mereka luka
atau kecewa, kapan mereka manipulatif atau tidak, kapan mereka menusuk dari
belakang atau dari depan, kapan mereka akan tiba-tiba menemukanku yang sedang
mengintip. Aku akan lari terbirit-birit dan nafasku sesak seperti ikan yang kehilangan
air. Aku akan lari sejauh mungkin kira-kira sampai nafasku yang paling akhir
sudah tiba di mulut gua dan aku akan terjun ke dalam genangan di dasar gua.
Tapi gua apa yang bisa membuatmu seperti ikan dan katak? Gua tempatmu akan
banyak berbincang dengan dirimu sendiri, akan banyak berkata dalam hati dan
pikiranmu sendiri, akan cepat menghayati kehidupan itu sendiri. Tapi tahukah
bahwa akhirnya orang-orang yang aku amati itu mengetahui kediamanku, mereka
memohon pertolonganku, mereka menyembah-nyembah di mulut gua, menyalakan api
dan memanggang ayam di atasnya. Mereka menunggu aku keluar, aku dianggapnya
orang sakti. Kalau dulu orang mengatakannya sundal bolong, perempuan yang
punggungnya bolong, aku adalah merk baru dalam kepala mereka tentang sosok yang
sakti. Aku adalah si dada bolong itu, dengan kulit bersisik dan licin. Mataku
mulai keluar membulat seperti katak atau ikan, berlendir dan menjijikan.
Untungnya bagi mereka aku adalah orang sakti. Kata mereka, setiap doa-doa yang
mereka ucapkan di mulut gua, mereka akan mendapatkan mimpi-mimpi yang baik.
Mereka akan mendapat petunjuk-petunjuk yang menjadi kenyataan. Aku tidak
mengerti apakah benar aku sesakti itu. Aku sendiri sudah lama tidak mengenal
mimpi karena setiap malam aku bangun dan pagi aku tidur, hanya mendengar suara
tetes air.
Suatu hari aku kehilangan kertas-kertas, dan aku tak bisa memilikinya
lagi. Aku tak bisa mengambilnya lagi dari tempat-tempat mereka membuang kertas.
Penaku bahkan sudah kehabisan tinta. Aku mencari akal dan kemudian kuasah batu
yang kudapatkan di dalam gua dan membuatnya menjadi tajam. Aku menyayat tubuhku
dan keluar darah kental mengalir deras,
dan sekejap berhenti. Aku menampungnya di sebuah wadah, dan kujadikan
tinta. Darah-darah ini kujadikan tinta, dengan jariku yang licin seperti katak
aku menuliskan banyak hal di dinding gua. Aku menuliskan banyak kata di
kegelapan yang akupun tak bisa melihatnya, aku hanya menorehkan huruf-huruf
yang aku maksud. Aku mau tanda-tanda itu menjadi catatan hidupku. Sampai
akhirnya aku kehabisan darahku sendiri yang berhari-hari kujadikan tinta
menulisku di dinding gua. Dan dadaku yang berlubang sudah tak mampu lagi
meneruskan nafasku, aku mulai merasakan lemas yang luar biasa, pandanganku gelap,
lebih gelap dari keadaan dasar gua, aku dengar sayup-sayup dansa keleleawar dan
percikan ikan yang melompat, sampai akhirnya suara mereka tidak ada lagi. Dan segalanya
menjadi benar-benar gelap, benar-benar sunyi. Aku tidak tahu lagi, bahkan aku
tidak merasakan apa-apa lagi, kecuali satu kata yang pernah kutuliskan di
dinding gua: “semua sudah berakhir”.
Tambun, 3 September 2014
