Oleh: Mariana
Amiruddin
Betapa
rendahnya hidupmu. Ketika orang-orang
di sekelilingmu tidak mampu menerjemahkanmu sebagai seseorang. Mereka akan mengerutkan
keningnya saat mendengar bahwa kau adalah seorang penulis,
pemikir dan pengajar yang mereka
anggap hanya kegiatan hobi untuk kepuasan egomu, kepuasan panggungmu, untuk kenikmatan hidup
seorang priyayi dengan banyak budak yang membantu mengurus kehidupan
sehari-harinya, dengan uang emas yang turun bagai hujan. Seorang penulis,
pemikir, sering memilih bekerja tengah malam hingga pagi
buta, untuk menuliskan kata demi kata dalam senyap yang menggigil. Untuk membaca huruf demi huruf sampai buta.
Sisa-sisa waktunya hanya sekerat roti di pagi hari, sepiring makan siang, dan
tiga cangkir kopi, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan membuang taik-taik
hewan peliharaan penghibur sepi-sepi waktunya, dengan istirahat barang 3 jam
saja. Tetapi apakah mereka mengerti tentang kehidupan yang aneh itu, yang tidak
bisa dibingkai dengan kehidupan manusia modern manapun? Bahwa hidupnya untuk
memberikan pengetahuan pada banyak manusia, bukan hanya untuk keluarga dan anak
cicitnya!
Ia bekerja untuk membantu banyak orang, membantu keluarganya, tetapi bisakah ia membantu dirinya sendiri? Sampai pernah ia
terkapar di sudut dapur, berteriak minta tolong tak ada yang mendengar,
membentur kepalanya sampai kehilangan sadar. Sakit dikepalanya adalah sakit di
hatinya. Sampai kemudian seorang anak perempuan mengetuk pintu rumahnya, dan
duduk manis di depannya, dengan mata yang sayu dan hampa, bercerita bagaimana ia
kehilangan ibunya. Ia menyampaikan, ibu pergi dan saat ia kembali, ia tak
menemukan ibunya
yang dulu. Ia menangis, hatinya sakit sekali. Ia mengatakan, “Ibuku, menjadi manusia yang pemarah, pendendam.
Aku benci ibuku. Ibu memecutku
seperti seorang budak. Ibu seperti Ratu yang mengerikan. Tapi aku tetap sayang
Ibu, aku membiarkannya makan dengan lahap seperti harimau, disaat perutku lapar.”
Anak itu cerita sambil
melanjutkan, “dulu Ibu adalah tempatku mengeluh tentang hidup. Tempatku belajar
tentang hidup. Tempatku belajar tentang bagaimana bersabar dan bersikap bijak. Tapi,
keibuan itu hanya mitos, yang ada adalah setiap manusia, punya rasa amarah,
apabila ia tertekan, ditekan. Yang bila tak dikeluarkan, ia akan mendengki dan
mendendam. Ibu tumbuh dalam dualisme. Yang satu meredam amarahnya, yang satu
berpura-pura menjadi malaikat.”
Aku diam mendengar
cerita anak itu. Aku diam saja. Anak ini memang penolong, setiap waktu ia
menjadikan dirinya seperti pengasuh, yang mengabdi pada banyak orang, pada
orangtua, pada ibu yang melahirkannya, pada ayah yang membuatnya bisa makan dan
tumbuh.
Nak, katanya berusaha
lembut. Tahukah bahwa setiap kali kita mencintai sesuatu, setiap kita melekat
pada sesuatu, ia akan pergi perlahan-lahan dan kita tak ingin melepaskan. Kita
akan tersingkir
dengan hati yang patah, tersingkir atau menyingkir, dari rumah ke rumah,
sampai akhirnya tak ada lagi tempat untuk
pulang,
kecuali kepada dirimu sendiri. Cintailah dirimu sendiri, tak akan mengurangi
cintamu pada siapapun, atau sekalipun siapa yang dicintaimu akan berubah sama
sekali. Dulu, aku menyingkir karena kehilangan kedamaian.
Kini terulang lagi. Anak itu
melanjutkan, “Aku benci dengan ibu! Tidak bisa melawan
kemudian menjadi manusia yang manipulatif! Aku tak kasihan sama sekali!” tiba-tiba ia merasa dibohongi dengan apa yang disebut keibuan. “Keibuan itu hanya mitos. Mereka manusia yang
sama, diam-diam keji dan curang, demi dirinya sendiri. Betapa buruknya ia ketika membuka
topengnya.”
Nak, Ibu-ibu yang hanya seorang
pendamping dan terkurung dalam rumah untuk menjaga harta benda bapak, untuk
mematuhi segala aturan bapak, untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Ia
melanjutkan lagi “Ia begitu benci perempuan karir yg sukses, cemburu
pada perempuan yang mandiri, karena itu seperti
melihat sosok suaminya, sosok bapak, yang dielu-elukan orang, yang dipuja-puji
orang. Dan Bapak yang terlalu kagum
padaku sebagai anak yang mandiri dan sukses. Tapi Bapak,
kenapa tak kau terapkan pada istrimu? Pada Ibuku? Tetapi Ibu, mengapa impianmu mencari lelaki yang pintar dan sukses, dan kau ingin menyandarkan hidup padanya? Sehingga aku bukan jadi bulan-bulanan para induk yang terkurung oleh gelar
NYONYA! Induk-induk yang kini pandai memainkan drama,
dalam raganya yang sudah tua. Aku ini berjenis kelamin
apa? Bagaimana mereka membuat istri-istri seperti seorang pelayan,
menjadi hilang kepercayaan diri. Apakah laki-laki seperti bapak ada yang patah
seperti ibu?
Nak, ada banyak laki-laki
pecundang, bukan laki-laki ideal seperti apa yang orang katakan tentang
kesuksesan. Mereka patah, mereka jatuh, tetapi bisa menjadi diri-diri yang lembut, atau, bisa
jadi diri-diri yang putus asa, dan memukul istri dan anaknya sendiri.
Nak, ada banyak perempuan sukses yang mandiri tetap menjadi pecundang. seperti aku. Kesuksesan dan kemandirianmu adalah keanehan, kesenyapan, kehampaan. Bagaimana menjelaskannya, yang bahagia adalah yang berhasil patuh dan cocok dengan norma-norma lelaki dan perempuan. Yang tak cocok akan patah, tenggelam dan jatuh dalam kubangan. Itulah arti pengakuan.
Tambun, 13 November
2014
Sumber foto: http://sarahbessey.com/wrote-broken-woman-guest-post-grace-biskie/
