Kamis, 13 November 2014

PATUH dan PATAH





Oleh: Mariana Amiruddin



Betapa rendahnya hidupmu. Ketika orang-orang di sekelilingmu tidak mampu menerjemahkanmu sebagai seseorang. Mereka akan mengerutkan keningnya saat mendengar bahwa kau adalah seorang penulis, pemikir dan pengajar yang mereka anggap hanya kegiatan hobi untuk kepuasan egomu, kepuasan panggungmu, untuk kenikmatan hidup seorang priyayi dengan banyak budak yang membantu mengurus kehidupan sehari-harinya, dengan uang emas yang turun bagai hujan. Seorang penulis, pemikir, sering memilih bekerja tengah malam hingga pagi buta, untuk menuliskan kata demi kata dalam senyap yang menggigil. Untuk membaca huruf demi huruf sampai buta. Sisa-sisa waktunya hanya sekerat roti di pagi hari, sepiring makan siang, dan tiga cangkir kopi, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan membuang taik-taik hewan peliharaan penghibur sepi-sepi waktunya, dengan istirahat barang 3 jam saja. Tetapi apakah mereka mengerti tentang kehidupan yang aneh itu, yang tidak bisa dibingkai dengan kehidupan manusia modern manapun? Bahwa hidupnya untuk memberikan pengetahuan pada banyak manusia, bukan hanya untuk keluarga dan anak cicitnya!

Ia bekerja untuk membantu banyak orang, membantu keluarganya, tetapi bisakah ia membantu dirinya sendiri? Sampai pernah ia terkapar di sudut dapur, berteriak minta tolong tak ada yang mendengar, membentur kepalanya sampai kehilangan sadar. Sakit dikepalanya adalah sakit di hatinya. Sampai kemudian seorang anak perempuan mengetuk pintu rumahnya, dan duduk manis di depannya, dengan mata yang sayu dan hampa, bercerita bagaimana ia kehilangan ibunya. Ia menyampaikan, ibu pergi dan saat ia kembali, ia tak menemukan ibunya yang dulu. Ia menangis, hatinya sakit sekali. Ia mengatakan, “Ibuku, menjadi manusia yang pemarah, pendendam. Aku benci ibuku. Ibu memecutku seperti seorang budak. Ibu seperti Ratu yang mengerikan. Tapi aku tetap sayang Ibu, aku membiarkannya makan dengan lahap seperti harimau, disaat perutku lapar.”
Anak itu cerita sambil melanjutkan, “dulu Ibu adalah tempatku mengeluh tentang hidup. Tempatku belajar tentang hidup. Tempatku belajar tentang bagaimana bersabar dan bersikap bijak. Tapi, keibuan itu hanya mitos, yang ada adalah setiap manusia, punya rasa amarah, apabila ia tertekan, ditekan. Yang bila tak dikeluarkan, ia akan mendengki dan mendendam. Ibu tumbuh dalam dualisme. Yang satu meredam amarahnya, yang satu berpura-pura menjadi malaikat.”

Aku diam mendengar cerita anak itu. Aku diam saja. Anak ini memang penolong, setiap waktu ia menjadikan dirinya seperti pengasuh, yang mengabdi pada banyak orang, pada orangtua, pada ibu yang melahirkannya, pada ayah yang membuatnya bisa makan dan tumbuh.

Nak, katanya berusaha lembut. Tahukah bahwa setiap kali kita mencintai sesuatu, setiap kita melekat pada sesuatu, ia akan pergi perlahan-lahan dan kita tak ingin melepaskan. Kita akan tersingkir dengan hati yang patah, tersingkir atau menyingkir, dari rumah ke rumah, sampai akhirnya tak ada lagi tempat untuk pulang, kecuali kepada dirimu sendiri. Cintailah dirimu sendiri, tak akan mengurangi cintamu pada siapapun, atau sekalipun siapa yang dicintaimu akan berubah sama sekali. Dulu, aku menyingkir karena kehilangan kedamaian. Kini terulang lagi. Anak itu melanjutkan, “Aku benci dengan ibu! Tidak bisa melawan kemudian menjadi manusia yang manipulatif! Aku tak kasihan sama sekali!” tiba-tiba ia merasa dibohongi dengan apa yang disebut keibuan. “Keibuan itu hanya mitos. Mereka manusia yang sama, diam-diam keji dan curang, demi dirinya sendiri. Betapa buruknya ia ketika membuka topengnya.

Nak, Ibu-ibu yang hanya seorang pendamping dan terkurung dalam rumah untuk menjaga harta benda bapak, untuk mematuhi segala aturan bapak, untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Ia melanjutkan lagi “Ia begitu benci perempuan karir yg sukses, cemburu pada perempuan yang mandiri, karena itu seperti melihat sosok suaminya, sosok bapak, yang dielu-elukan orang, yang dipuja-puji orang.  Dan Bapak yang terlalu kagum padaku sebagai anak yang mandiri dan sukses. Tapi Bapak, kenapa tak kau terapkan pada istrimu? Pada Ibuku? Tetapi Ibu, mengapa impianmu mencari lelaki yang pintar dan sukses, dan kau ingin menyandarkan hidup padanya? Sehingga aku bukan jadi bulan-bulanan para induk yang terkurung oleh gelar NYONYA! Induk-induk yang kini pandai memainkan drama, dalam raganya yang sudah tua. Aku ini berjenis kelamin apa? Bagaimana mereka membuat istri-istri seperti seorang pelayan, menjadi hilang kepercayaan diri. Apakah laki-laki seperti bapak ada yang patah seperti ibu?

Nak, ada banyak laki-laki pecundang, bukan laki-laki ideal seperti apa yang orang katakan tentang kesuksesan. Mereka patah, mereka jatuh, tetapi bisa menjadi diri-diri yang lembut, atau, bisa jadi diri-diri yang putus asa, dan memukul istri dan anaknya sendiri.

Nak, ada banyak perempuan sukses yang mandiri tetap menjadi pecundang. seperti aku. Kesuksesan dan kemandirianmu adalah keanehan, kesenyapan, kehampaan. Bagaimana menjelaskannya, yang bahagia adalah yang berhasil patuh dan cocok dengan norma-norma lelaki dan perempuan. Yang tak cocok akan patah, tenggelam dan jatuh dalam kubangan. Itulah arti pengakuan.

Tambun, 13 November 2014



Sumber foto: http://sarahbessey.com/wrote-broken-woman-guest-post-grace-biskie/