Oleh: Mariana Amiruddin
Sore itu menjelang senja, udara begitu panas. Sudah lebih dari sebulan hujan tak datang. Serangga beranak pinak begitu cepat, mereka tinggal di semak-semak dan daun-daun kering. Sore itu aku menggeledah laci riasku, dan aku menemukan pisau cukur. Aku lupa mengapa bisa ada pisau cukur di situ. Sebab aku tidak pernah membutuhkannya. Wajahku tidak ditumbuhi janggut. Begitu juga ketiakku. Tidak banyak hal yang harus aku cukur, bahkan alis dan rambutku. Ah ya! Aku baru ingat. Itu hadiah dari toko setelah aku membeli sabun muka khusus untuk pria. Saya sempat menolaknya, tapi kasir memaksaku untuk mengambilnya. Saya bilang saya tidak berjanggut. Si kasir binngung, katanya loh ibu yang mau pakai? Ya, saya bilang. Matanya menatap aneh ke arahku.
Sore itu tanganku gemetar. Aku ingin sekali mati. Tapi aku masih sadar, begitu banyak cara-cara bunuh diri yang menyakitkan. Masalahnya aku tidak mau lagi merasa sakit. Hidup sudah membuatku sakit, masa untuk mati aku harus sakit juga? Aku ingin kematian itu tidak seperti kita dilahirkan, dimana semua bayi menangis keras ketika melihat dunia. Mengapa semua bayi begitu sedih dengan dunia? Aku ingin kematian itu bahagia. Atau seperti kita menyambut perjalanan jauh. Aku yakin bahwa kematianku tidak akan membuat sakit orang lain. Aku tidak punya tanggungan, atau hutang. Aku tidak pernah pinjam uang atau janji-janji lainnya. Aku juga tidak menimbun harta. Hartaku segini-segini saja. Aku memang tidak pernah membuat janji-janji pada orang. Orang-oranglah yang selalu mengumbar janji dan berhutang padaku. Aku sudah melatih diri untuk tidak berhubungan dengan orang lain sehingga harapanku adalah orang-orang akan biasa saja dengan kematianku. Mereka paling-paling hanya kaget saja. Keluargaku, masing-masing sudah sibuk menjalankan kehidupannya. Orangtuaku sudah ada yang merawat. Aku sudah tidak punya kemelekatan lagi. Aku hanya punya hewan peliharan yang sebentar lagi tumbuh besar, dan sudah kusiapkan manusia yang akan memeliharanya dengan kasih sayang.
Tapi cara mati
itu, seandainya ada yg tak menyakitkan, pastilah dengan mudah aku lakukan.
Sebab bukan karena perasaan tertekan, tetapi hidup tampaknya sudah tak perlu
apa-apa lagi. Aku sudah merasa tawar, tiada ambisi sama sekali, keinginan,
apalagi masa depan. Aku tak mau meneruskan takdir berikutnya, aku mau berhenti
saja di stasiun terakhir.
Karena terlalu banyak berpikir itulah lagi-lagi aku menunda kematianku. Aku malah pusing. Otot leherku tegang. Aku tak bisa menoleh. Saat menoleh rasanya sakit sekali. Rupanya aku belum makan sejak pagi. Aku lupa kalau hidup itu kita harus makan. Perutku kosong dan penuh gas di lambungku, sampai otot-ototku tak mau bekerja. Tiba-tiba aku jatuh! Tanganku gemetar. Hampir tak bisa menopang tubuh. Aku memaksakan diri menyeret tubuhku ke depan. Saat itu aku berharap sekali kenapa tidak sekalian mati saja. Aku jengkel dan kulemparkan tubuhku tapi malah membentur pintu depan, dan disitulah aku baru sadar bahwa rumput di halaman rumah sudah terlalu panjang berantakan. Seperti bagaimana berantakannya hidupku.. Tiba-tiba aku punya tenaga dan segera bangkit berjalan ke dapur. Jalan yang terseret-seret seperti mayat yang hidup kembali. Sampai juga akhirnya di dapur dan kubuka semua laci dengan sekuat tenaga. Aku menemukan gunting rumput yang besar, tajam, dan kuat. Aku terkekeh-kekeh segera mengambil gunting itu dan tiba-tiba tenagaku bertambah lagi, aku letakkan gunting rumput itu di leherku. Lalu aku berpikir lagi, kenapa kuletakkan di leherku? Aku segera ingat bahwa aku ingin mencukur rumput itu.
Ternyata hari sudah gelap. Terlalu lama aku berpikir. Rumput halaman tak kelihatan. Bagaimana aku bisa memotongnya? Tapi aku yakin dan sangat yakin pastilah bisa! Aku berjongkok dengan leher yang luar biasa sakit, kugerakkan tanganku dengan paksa dan cekat kupotong rumput itu dengan kebahagiaan. Aku merasa lebih tenang karena tercium wangi rumput segar yang terpenggal. Tak lama, kelima kucingku ikut-ikutan berlarian di halaman. Aku senang karena ada yang menemaniku. Aku sedikit kembali merasa hidup. Dan hampir satu jam rumput-rumput itu berhasil kupotong dalam keadaan gelap, sampai akhirnya terdengar suara mobil dinyalakan, berjalan perlahan, dan tiba-tiba terdengar teriakan beberapa kucing seperti sedang berkelahi. Kucing-kucingku terprovokasi dan si Cipit sang induk kucing malah menghampiri suara itu. Aku cemas luar biasa. Sementara keempat anaknya berlarian masuk ke dalam rumah, dengan posisi mengintip dari jendela. Aku teriak kencang sekali, “Cipit masuk!!”
Karena terlalu banyak berpikir itulah lagi-lagi aku menunda kematianku. Aku malah pusing. Otot leherku tegang. Aku tak bisa menoleh. Saat menoleh rasanya sakit sekali. Rupanya aku belum makan sejak pagi. Aku lupa kalau hidup itu kita harus makan. Perutku kosong dan penuh gas di lambungku, sampai otot-ototku tak mau bekerja. Tiba-tiba aku jatuh! Tanganku gemetar. Hampir tak bisa menopang tubuh. Aku memaksakan diri menyeret tubuhku ke depan. Saat itu aku berharap sekali kenapa tidak sekalian mati saja. Aku jengkel dan kulemparkan tubuhku tapi malah membentur pintu depan, dan disitulah aku baru sadar bahwa rumput di halaman rumah sudah terlalu panjang berantakan. Seperti bagaimana berantakannya hidupku.. Tiba-tiba aku punya tenaga dan segera bangkit berjalan ke dapur. Jalan yang terseret-seret seperti mayat yang hidup kembali. Sampai juga akhirnya di dapur dan kubuka semua laci dengan sekuat tenaga. Aku menemukan gunting rumput yang besar, tajam, dan kuat. Aku terkekeh-kekeh segera mengambil gunting itu dan tiba-tiba tenagaku bertambah lagi, aku letakkan gunting rumput itu di leherku. Lalu aku berpikir lagi, kenapa kuletakkan di leherku? Aku segera ingat bahwa aku ingin mencukur rumput itu.
Ternyata hari sudah gelap. Terlalu lama aku berpikir. Rumput halaman tak kelihatan. Bagaimana aku bisa memotongnya? Tapi aku yakin dan sangat yakin pastilah bisa! Aku berjongkok dengan leher yang luar biasa sakit, kugerakkan tanganku dengan paksa dan cekat kupotong rumput itu dengan kebahagiaan. Aku merasa lebih tenang karena tercium wangi rumput segar yang terpenggal. Tak lama, kelima kucingku ikut-ikutan berlarian di halaman. Aku senang karena ada yang menemaniku. Aku sedikit kembali merasa hidup. Dan hampir satu jam rumput-rumput itu berhasil kupotong dalam keadaan gelap, sampai akhirnya terdengar suara mobil dinyalakan, berjalan perlahan, dan tiba-tiba terdengar teriakan beberapa kucing seperti sedang berkelahi. Kucing-kucingku terprovokasi dan si Cipit sang induk kucing malah menghampiri suara itu. Aku cemas luar biasa. Sementara keempat anaknya berlarian masuk ke dalam rumah, dengan posisi mengintip dari jendela. Aku teriak kencang sekali, “Cipit masuk!!”
Tampak dua
ekor kucing berlarian ke arah rumahku. Cipit juga berlarian kembali ke rumahku.
Tapi ada hal yang janggal. Suara-suara manusia tampak sibuk meneliti di bawah
mobil yang menyala tadi. Aku mendapatkan firasat buruk. Benar, seekor kucing jantan tergolek di bawah mobil
itu. Hidungnya mengeluarkan darah. Rupanya sang jantan itu, adalah bapak dari
anak-anaknya si Cipit. Ia mati terlindas mobil. Orang-orang itu abai pada hewan. Sudah tahu ada
kucing di bawah mobil mereka malah tetap menjalankan mobil. Seorang anak
berteriak bilang bahwa sudah peringatkan ke ayahnya untuk hati-hati karena ada
kucing di bawah mobil. Tampak kucing-kucingku hening. Tak ada lagi yang
berlompatan di atas rumput. Aku masih melihat darah di aspal bekas kucing mati
itu. Sang kucing sudah diangkat dan dikubur. Bagi orang kita, mitos kucing mati begitu kuat. Kalau kita tak sengaja menabrak atau
melindas kucing, tandanya akan mendapatkan sial. Karena itu harus dikubur
baik-baik. Tapi kalau kucing itu hidup berkeliaran, mereka membencinya.
Aku sedih. Akulah yang ingin mati. Mengapa malah aku yang menyaksikan kematian? Kematian dengan cara demikian sangatlah menyedihkan. Aku menunduk dan melanjutkan potong rumput, berusaha melupakan kejadian tadi. Dan malam itu juga rumput di halaman rumahku mendadak rapi.
Tambun, 12 Oktober 2014
Aku sedih. Akulah yang ingin mati. Mengapa malah aku yang menyaksikan kematian? Kematian dengan cara demikian sangatlah menyedihkan. Aku menunduk dan melanjutkan potong rumput, berusaha melupakan kejadian tadi. Dan malam itu juga rumput di halaman rumahku mendadak rapi.
Tambun, 12 Oktober 2014
