| Photo by Verdi Adhanta |
Saat ini saya berada
di daerah Karang Anyar, Jawa Tengah, menuju Candi-Candi yang terkenal di Asia
Tenggara, Candi yang konon erotis karena memaknai Lingga dan Yoni (penis dan
vagina) sebagai simbol kesuburan, kesejahteraan, dimana seksualitas kini di
zaman modern dikerangkeng oleh kekotoran, kekuasaan dan jual beli nafsu, menjajah dan mengeksploitasi tubuh, nafsu kuasa patriarkhi yang membuat Lingga
dan Yoni dipisahkan, dan Lingga menjadi satu-satunya yang berkuasa, bukan lagi
saling membutuhkan (dalam Sigmund Freud keruntuhan simbol-simbol suci tentang
kesuburan melalui organ kelamin dimulai sejak zaman Victorian dan sampai ke
seluruh dunia melalui agama-agama pendatang).
Adalah seharusnya,
sebuah kebanggaan, dan pengetahuan kita sebagai orang Indonesia, bahwa Candi Sukuh yang kecil terpencil
di lereng Gunung Lawu, merupakan salah satu candi paling
menarik di Asia Tenggara. Selain
pada masa lalu Indonesia adalah pusat kebudayaan Hindu-Budha yang menjadi
banyak tempat belajar Hindu Budha mancanegara termasuk India, dimana Indonesia memiliki khas tersendiri sebagai pemeluk Hindu-Budha terbesar di dunia.
Candi Sukuh penuh dengan ornamen erotis dan bangunannya
mirip dengan piramid Suku Maya di Amerika Tengah. Ketinggian
Candi Sukuh lebih dari seribu meter dpl. Candi Sukuh memiliki tampilan yang
sangat sederhana dengan bentuk trapesium yang dibangun pada abad XV.
| Photo by Verdi Adhanta |
Tetapi apa yang disebut ornamen erotis itu
bagi saya adalah terjajahnya pandangan kita pada seksualitas yang hanya
ditempatkan pada posisi profan yang kotor, dosa dan memalukan, dan kita perlu
memahami kembali bagaimana seksualitas justru adalah lambang kesucian dan
kesuburan yang menyelamatkan umat manusia yang dihadirkan dalam candi-candi. Terjajahnya
seksualitas ketika perempuan menjadi obyek eksploitasi tubuh budaya patriarki
ditambah kapitalisasi dimana seks selain dibenci juga digemari sebagai alat ukur
kejantanan dan kekuasaan melalui prostitusi dan perdagangan manusia. Seks di
zaman industri mendatangkan banyak uang, perempuan-perempuan disajikan bagai
hidangan cepat saji, atau upeti dalam lobi-lobi bisnis dan politik, tempat
uang terus menerus berdatangan. Semakin banyak uang sebuah bisnis atau kegiatan politik yang mendatangkan kekayaan, semakin banyak perempuan-perempuan dijual dan dijajakan.
Saya beralih ke Candi
Cetho, yang di sana juga terdapat patung besar Lingga-Yoni di pelataran sebagai tanda pertahanan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Saya menyewa mobil Colt C300
yang biasanya digunakan untuk mengangkut sayur-sayuran dan buah-buahan ke
tempat-tempat kebun dan ladang petani di atas gunung yang begitu curam. Mobil kuno
ini terkenal kuat sekali menanjak ke tempat-tempat yang curam, tanpa mengalami
hambatan.
| Photo by Verdi Adhanta |
Cetho, artinya “jelas”
atau semua terlihat sangat jelas. Candi Cetho, letaknya bagai berada di pesawat
luar angkasa, dimana kita dapat melihat semua hal dibawahnya. Candi Cetho
membuat saya seperti di khayangan, dimana saya dapat melihat jelas Gunung Lawu,
Merbabu, Merapi, Sindoro, dan Sumbing.
Candi Cetho bagai
sebuah tempat tinggal terbaik yang pernah saya temui. Di puncaknya saat saya seorang
diri merasakan suasana yang tenang, dingin, dan meditatif. Saat saya sendiri di
atas, saya mendengar suara dua orang berbisik-bisik seperti sedang
bercakap-cakap di balik arca-arca tempat orang bertapa. Ternyata seorang kuncen
keluar di baliknya, tetapi saya tidak melihat sama sekali teman bercakapnya.
Pak kuncen bernama Cipto, bercakap entah dengan siapa. Pak Kuncen terperanjat
dan langsung menghampiri saya, dia bertanya apakah saya mau berdoa? Saya
bilang, ya. Saya ingin berdoa dengan cara-cara Hindu, di depan patung Brawijaya,
untuk memohon keselamatan.
Berbincang dengan Pak
kuncen, candi ini berfungsi untuk menyucikan diri (ruwat) atau membebaskan dari
kutukan. Bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung yang
dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta Phallus, dan
bangunan kubus ada bagian puncak punden. Di sana juga terdapat petilasan Ki
Aeng Krincingwesi, leluhur masyarakat dusun Cetho.
Pada dinding kanan
gapura terdapat inskripsi aksara Jawa Kuno: Pelling
Padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut
iku. Artinya, fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) serta tahun pembuatan
gapura pada tahun 1397 Saka atau 1475 Masehi. Setelah didoakan oleh Pak kuncen,
saya mengelilingi Arca Prabu Brawijaya V, dan mengucapkan terimakasih.
Candi Cetho adalah
maha karya Prabu Brawijaya V menjelang keruntuhan Majapahit saat Demak mulai
berkuasa membawa agama Islam. Tempat ini dibangun oleh Brawijaya sebagai tempat
pertapaan atau meditasi untuk ketenangan, ketika hendak menghindari perang
saudara di Majapahit. Saat itu, saya juga dalam keadaan ingin menenangkan diri,
dari banyaknya informasi dunia dimana agama saling mencerca, mengharamkan yang
lain, sibuk menyebut dosa dan pahala orang lain, dan tidak mengajarkan tentang laku yang baik bagi kebaikan umat
manusia.
Di tempat ini pada
masa modern, orang-orang dari Eropa sering mampir untuk melakukan meditasi
dengan menginap beberapa malam untuk
melakukan yoga, semedi atau sekedar menyepi. Sama dengan saya yang penat dengan
kekikiran, dengki dan sikap permusuhan pada banyak manusia. Menurut mereka,
yang kebanyakan dari Jerman, Perancis dan Belanda, Candi Cetho tempat paling
tepat untuk menyerap energi kosmik yang beredar di seluruh jagat, yang
diperlukan untuk memperoleh kekuatan dan keseimbangan dalam kehidupan.
Posisi Candi Cetho
jauh dari perkampungan dan tempat tinggal
masyarakat. Ketinggiannya sulit di raih, dan posisinya yang persis di
lereng Gunung Lawu. Dalam suasana ini, saya menyempatkan meditasi di pendopo
joglo yang terbuat dari kayu dan sirap, menghadap ke Arca Sabdapalon, yang
masih tersisa sesajen dan abu dupa.
Mengapa saya memilih bersemedi
di depan Sabdapalon? Sabdapalon merepresentasikan hidup yang saya pijak,
tentang pengabdian dan pendirian. Sabda Palon adalah seorang pandita, penasihat
Brawijaya V, penguasa terakhir yang ingin mengembalikan kejayaan nusantara dari
mereka yang lupa akan kebajikan, jati diri, dan terjajah secara politik. Ucapan-ucapan
Sabda Palon sangat diyakini, terutama ketika tahun 1978 Semeru meletus
sebagaimana ramalan Sabda Palon. Sabda Palon sangat dihormati di kalangan Hindu
di Jawa dan penghayat Kejawen. Sabda Palon adalah penjelmaan Hyang Ismaya
(Semar) yang tugasnya memomong manusia di Nusantara (pada waktu itu Jawa). Nama
lain Sabda Palon selain Semar adalah Ismaya, Iswara, Samara, Jagad Wungku,
Jatiwasesa, dan Suryakanta, yang intinya seorang yang mengemban sifat membangun
dan melaksanakan perintah yang maha kuasa demi kesejahteraan manusia.
Sabda Palon pernah
mengalami kekecewaan yang amat sangat di masa-masa berakhirnya kekuasaan
Majapahit, ia menyatakan mengundurkan diri dari Brawijaya yang pindah agama dari
Siwa-Buddha (campuran Jawa-Hundu-Buddha) menjadi Islam yang datang dari negeri
asing yaitu Arab. Sifat dan karakternya mengingatkan saya pada tidak perlunya
sebuah jabatan tinggi, kekuasaan, pujian dan materi. Sabda Palon memilih mundur
diri dari kedudukannya sebagai pamong raja karena menganggap Brawijaya telah
kehilangan kedaulatan spiritualnya. Sabda Palon kemudian bertapa tidur di pusat
kawah Gunung Merapi selama 500 tahun.
Pertapaan Sabda Palon,
merefleksikan bahwa tanah Jawa tidak akan memiliki kedaulatan lagi dan tidak
dihormati lagi oleh bangsa-bangsa lain. Memang benar kemudian sejak Demak
berkuasa hingga Mataram Islam, para Sultan memohon kekuasaannya kepada ulama
Mekah, dan para Sultan dari Sumatere dan Banten dan Indonesia Timur memohon
pada Sultan Ottoman Turki (yang mereka ini adalah leluhur saya). Sejak itu
rakyat menolak kepeminpinan Brawijaya dan tidak mau lagi membela kerajaan
ketika perang melawan Demak dan Bupati Pesisir. Sabda Palon bertapa 500 tahun
dan mengatakan bahwa 500 tahun kemudian setelah runtuhnya Majapahit, rakyat
Jawa akan bangkit kembali dengan ditandai meletusnya Gunung Merapi.
Brawijaya telah
digulingkan oleh kerajaan Demak dengan bantuan dari Walisongo, dan sumpah Sabda
Palon mengatakan bahwa ia akan kembali setelah 500 tahun saat korpsi merajalela dan bencana melanda, untuk
mengembalikan jati diri Nusantara, dan benar setelah itu Semeru meletus, dan
Merapi meletus menandakan datangnya sang Sabda Palon. Tentu saja ini bagi yang
memiliki keyakinan tentang spiritualitas Sabda Palon dan kisah-kisahnya. Sapdo
Palo Noyo Genggong dapat ditemui dalam Serat Darmagandhul, tetapi juga dalam
bait-bait ramalan Joyoboyo (1135-1157) dalam bait 164-173 yang cocok dengan
pendirian saya, diantaranya sbb:
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha
suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem
trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki
Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi
njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis
minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha
asung bhekti. Menyerang tanpa pasukan; bila menang
tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah
tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga
pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi
termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh
kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh
kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang
tinggi.
Sabda Palon mengalami kekecewaan yang
luar biasa atas hal-hal yang terjadi di zamannya, pada Brawijaya yang berubah
arah, tetapi itu tidak mengubah pendirian Sabda Palon.
“…, paduka punapa kêkilapan
dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang.
Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika,
kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun. “…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya
kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan,
Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai
pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”
Sabda Palon adalah orang yang bijak,
dia tidak penah bersabda tentang “perintah untuk melakukan” melainkan “bagaimana
sebaiknya melakukan”. Namun kekecewaannya pada Brawijaya mengeluarkan beberapa
ramalan:
“Kelak
waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji.
Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya
banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal
dunia.
Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak
Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal
tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.
Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja
hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar
selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun
demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.
Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun
banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan.
Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang
hari banyak begal.
Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka
tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut.
Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa.
Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah
meninggal dunia.
Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak
tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya.
Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.
Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri.
Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke
laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.
Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta
ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal
sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang
tertinggal sedikitpun.
Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia.
Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah.
Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun
rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.”
Setelah saya membaca dan memahami
beberapa wasiat-wasiat leluhur Nusantara salah satunya adalah Sabda Palon Noyo
Genggong, adalah seorang tokoh yang menginginkan untuk melerai pihak-pihak yang
bertikai dalam perang saudara, tetapi pertikaian itu tidak dapat dilawan karena
sudah kehendak Sang Pencipta, dan ditandai dengan berbagai bencana alam,
ia mengatakan tentang pentingnya para
bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti
yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat
pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan ritual ditingkatkan.
Selain itu Sabda Palon juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang
bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.
Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong kaletehan,
tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara katanjung, bacin
tuara bakat ingsak. ( bait 8 ) Lebih baik
hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya,
tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki
tak akan tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.
Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang raose
melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang, kranannya mangelah
cunguh, anggon ngadek twah gunanya. ( bait 11 ) Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata
yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.
Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua agrasayang,
apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de
mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang. ( bait 12 ) Jangan segalanya dicium,
sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa
melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan,
hal yang benar hendaknya diucapkan.
Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute bakatang,
wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa mangulah laku,
katanjung bena nahanang. ( bait 13 ) Memiliki tangan
jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula
dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti
kita yang menahan (menderita) nya.
Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren ngertiang awak,
waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi manandur, joh pare
twara mupuang. ( bait 14 ). Kebenaran hendaknya
diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya
bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak
mungkin tidak akan berhasil.
Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep matetumbasan,
masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah tumbas ipun,
patuh ring ma mwatang tingkah. ( bait 15 ) Pilihlah perbuatan
yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga masih
memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya
dengan memilih tingkah laku.
Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak, saluire kaucap
rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija aba tuara laku,
keto cening sujatinnya. ( bait 16 ) Pilihlah tingkah
laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina
nilainya, ditambah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun di bawa tak akan
laku, begitulah sebenarnya anakku.
Sabda-sabda ini menurut saya baik
untuk dijalani, sebagai budi pekerti dasar, yang pada masa dahulu masih
diajarkan pada anak-anak di sekolah dasar, tentang pentingnya menjadi orang
yang jujur, tidak dengki, tidak memanipulasi dan berbohong untuk tujuan
tertentu dan tidak menyakiti mahluk hidup, menjaga manusia dan keluarga untuk terhindar
dari perbuatan jahat dan kejahatan. Doa pada Sang Prabu Brawijaya dan Sabda
Palon mengingatkan posisi saya sebagai manusia yang berdiri di Nusantara. Di
pasak Bumi, tempat manusia selalu mencari keseimbangan, bukan kekuasaan, dan pada
akhirnya menuju semesta tertinggi, dan barangkali untuk melakukan Moksa: meninggal
tanpa jasad kecuali maha karya.
Berikut adalah tulisan yang telah divisualkan. Semoga bermanfaat.
Berikut adalah tulisan yang telah divisualkan. Semoga bermanfaat.
Selamat tahun baru 2015.
Sabda Palon diambil dari beberapa sumber: http://sejarah3.blogspot.com/2011/10/sabda-palon.html