Rabu, 31 Desember 2014

Sukuh, Cetho dan Meditasi Sabda Palon (Perjalanan Tahun Baru)



Photo by Verdi Adhanta



Saat ini saya berada di daerah Karang Anyar, Jawa Tengah, menuju Candi-Candi yang terkenal di Asia Tenggara, Candi yang konon erotis karena memaknai Lingga dan Yoni (penis dan vagina) sebagai simbol kesuburan, kesejahteraan, dimana seksualitas kini di zaman modern dikerangkeng oleh kekotoran, kekuasaan dan jual beli nafsu, menjajah dan mengeksploitasi tubuh, nafsu kuasa patriarkhi yang membuat Lingga dan Yoni dipisahkan, dan Lingga menjadi satu-satunya yang berkuasa, bukan lagi saling membutuhkan (dalam Sigmund Freud keruntuhan simbol-simbol suci tentang kesuburan melalui organ kelamin dimulai sejak zaman Victorian dan sampai ke seluruh dunia melalui agama-agama pendatang).

Adalah seharusnya, sebuah kebanggaan, dan pengetahuan kita sebagai orang Indonesia, bahwa Candi Sukuh yang kecil terpencil di lereng Gunung Lawu, merupakan salah satu candi paling menarik di Asia Tenggara. Selain pada masa lalu Indonesia adalah pusat kebudayaan Hindu-Budha yang menjadi banyak tempat belajar Hindu Budha mancanegara termasuk India, dimana Indonesia memiliki khas tersendiri sebagai pemeluk Hindu-Budha terbesar di dunia. Candi Sukuh penuh dengan ornamen erotis dan bangunannya mirip dengan piramid Suku Maya di Amerika Tengah. Ketinggian Candi Sukuh lebih dari seribu meter dpl. Candi Sukuh memiliki tampilan yang sangat sederhana dengan bentuk trapesium yang dibangun pada abad XV.


Photo by Verdi Adhanta


 Tetapi apa yang disebut ornamen erotis itu bagi saya adalah terjajahnya pandangan kita pada seksualitas yang hanya ditempatkan pada posisi profan yang kotor, dosa dan memalukan, dan kita perlu memahami kembali bagaimana seksualitas justru adalah lambang kesucian dan kesuburan yang menyelamatkan umat manusia yang dihadirkan dalam candi-candi. Terjajahnya seksualitas ketika perempuan menjadi obyek eksploitasi tubuh budaya patriarki ditambah kapitalisasi dimana seks selain dibenci juga digemari sebagai alat ukur kejantanan dan kekuasaan melalui prostitusi dan perdagangan manusia. Seks di zaman industri mendatangkan banyak uang, perempuan-perempuan disajikan bagai hidangan cepat saji, atau upeti dalam lobi-lobi bisnis dan politik, tempat uang terus menerus berdatangan. Semakin banyak uang sebuah bisnis atau kegiatan politik yang mendatangkan kekayaan, semakin banyak perempuan-perempuan dijual dan dijajakan.

Saya beralih ke Candi Cetho, yang di sana juga terdapat patung besar Lingga-Yoni di pelataran sebagai tanda pertahanan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Saya menyewa mobil Colt C300 yang biasanya digunakan untuk mengangkut sayur-sayuran dan buah-buahan ke tempat-tempat kebun dan ladang petani di atas gunung yang begitu curam. Mobil kuno ini terkenal kuat sekali menanjak ke tempat-tempat yang curam, tanpa mengalami hambatan.


Photo by Verdi Adhanta


Cetho, artinya “jelas” atau semua terlihat sangat jelas. Candi Cetho, letaknya bagai berada di pesawat luar angkasa, dimana kita dapat melihat semua hal dibawahnya. Candi Cetho membuat saya seperti di khayangan, dimana saya dapat melihat jelas Gunung Lawu, Merbabu, Merapi, Sindoro, dan Sumbing.



Candi Cetho bagai sebuah tempat tinggal terbaik yang pernah saya temui. Di puncaknya saat saya seorang diri merasakan suasana yang tenang, dingin, dan meditatif. Saat saya sendiri di atas, saya mendengar suara dua orang berbisik-bisik seperti sedang bercakap-cakap di balik arca-arca tempat orang bertapa. Ternyata seorang kuncen keluar di baliknya, tetapi saya tidak melihat sama sekali teman bercakapnya. Pak kuncen bernama Cipto, bercakap entah dengan siapa. Pak Kuncen terperanjat dan langsung menghampiri saya, dia bertanya apakah saya mau berdoa? Saya bilang, ya. Saya ingin berdoa dengan cara-cara Hindu, di depan patung Brawijaya, untuk memohon keselamatan.  

Berbincang dengan Pak kuncen, candi ini berfungsi untuk menyucikan diri (ruwat) atau membebaskan dari kutukan. Bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung yang dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta Phallus, dan bangunan kubus ada bagian puncak punden. Di sana juga terdapat petilasan Ki Aeng Krincingwesi, leluhur masyarakat dusun Cetho.

Pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi aksara Jawa Kuno: Pelling Padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku. Artinya, fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) serta tahun pembuatan gapura pada tahun 1397 Saka atau 1475 Masehi. Setelah didoakan oleh Pak kuncen, saya mengelilingi Arca Prabu Brawijaya V, dan mengucapkan terimakasih.




Candi Cetho adalah maha karya Prabu Brawijaya V menjelang keruntuhan Majapahit saat Demak mulai berkuasa membawa agama Islam. Tempat ini dibangun oleh Brawijaya sebagai tempat pertapaan atau meditasi untuk ketenangan, ketika hendak menghindari perang saudara di Majapahit. Saat itu, saya juga dalam keadaan ingin menenangkan diri, dari banyaknya informasi dunia dimana agama saling mencerca, mengharamkan yang lain, sibuk menyebut dosa dan pahala orang lain, dan tidak mengajarkan  tentang laku yang baik bagi kebaikan umat manusia.




Di tempat ini pada masa modern, orang-orang dari Eropa sering mampir untuk melakukan meditasi dengan menginap  beberapa malam untuk melakukan yoga, semedi atau sekedar menyepi. Sama dengan saya yang penat dengan kekikiran, dengki dan sikap permusuhan pada banyak manusia. Menurut mereka, yang kebanyakan dari Jerman, Perancis dan Belanda, Candi Cetho tempat paling tepat untuk menyerap energi kosmik yang beredar di seluruh jagat, yang diperlukan untuk memperoleh kekuatan dan keseimbangan dalam kehidupan.

Posisi Candi Cetho jauh dari perkampungan dan tempat tinggal  masyarakat. Ketinggiannya sulit di raih, dan posisinya yang persis di lereng Gunung Lawu. Dalam suasana ini, saya menyempatkan meditasi di pendopo joglo yang terbuat dari kayu dan sirap, menghadap ke Arca Sabdapalon, yang masih tersisa sesajen dan abu dupa.

Mengapa saya memilih bersemedi di depan Sabdapalon? Sabdapalon merepresentasikan hidup yang saya pijak, tentang pengabdian dan pendirian. Sabda Palon adalah seorang pandita, penasihat Brawijaya V, penguasa terakhir yang ingin mengembalikan kejayaan nusantara dari mereka yang lupa akan kebajikan, jati diri, dan terjajah secara politik. Ucapan-ucapan Sabda Palon sangat diyakini, terutama ketika tahun 1978 Semeru meletus sebagaimana ramalan Sabda Palon. Sabda Palon sangat dihormati di kalangan Hindu di Jawa dan penghayat Kejawen. Sabda Palon adalah penjelmaan Hyang Ismaya (Semar) yang tugasnya memomong manusia di Nusantara (pada waktu itu Jawa). Nama lain Sabda Palon selain Semar adalah Ismaya, Iswara, Samara, Jagad Wungku, Jatiwasesa, dan Suryakanta, yang intinya seorang yang mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah yang maha kuasa demi kesejahteraan manusia.

Sabda Palon pernah mengalami kekecewaan yang amat sangat di masa-masa berakhirnya kekuasaan Majapahit, ia menyatakan mengundurkan diri dari Brawijaya yang pindah agama dari Siwa-Buddha (campuran Jawa-Hundu-Buddha) menjadi Islam yang datang dari negeri asing yaitu Arab. Sifat dan karakternya mengingatkan saya pada tidak perlunya sebuah jabatan tinggi, kekuasaan, pujian dan materi. Sabda Palon memilih mundur diri dari kedudukannya sebagai pamong raja karena menganggap Brawijaya telah kehilangan kedaulatan spiritualnya. Sabda Palon kemudian bertapa tidur di pusat kawah Gunung Merapi selama 500 tahun.

Pertapaan Sabda Palon, merefleksikan bahwa tanah Jawa tidak akan memiliki kedaulatan lagi dan tidak dihormati lagi oleh bangsa-bangsa lain. Memang benar kemudian sejak Demak berkuasa hingga Mataram Islam, para Sultan memohon kekuasaannya kepada ulama Mekah, dan para Sultan dari Sumatere dan Banten dan Indonesia Timur memohon pada Sultan Ottoman Turki (yang mereka ini adalah leluhur saya). Sejak itu rakyat menolak kepeminpinan Brawijaya dan tidak mau lagi membela kerajaan ketika perang melawan Demak dan Bupati Pesisir. Sabda Palon bertapa 500 tahun dan mengatakan bahwa 500 tahun kemudian setelah runtuhnya Majapahit, rakyat Jawa akan bangkit kembali dengan ditandai meletusnya Gunung Merapi.

Brawijaya telah digulingkan oleh kerajaan Demak dengan bantuan dari Walisongo, dan sumpah Sabda Palon mengatakan bahwa ia akan kembali setelah 500 tahun saat korpsi  merajalela dan bencana melanda, untuk mengembalikan jati diri Nusantara, dan benar setelah itu Semeru meletus, dan Merapi meletus menandakan datangnya sang Sabda Palon. Tentu saja ini bagi yang memiliki keyakinan tentang spiritualitas Sabda Palon dan kisah-kisahnya. Sapdo Palo Noyo Genggong dapat ditemui dalam Serat Darmagandhul, tetapi juga dalam bait-bait ramalan Joyoboyo (1135-1157) dalam bait 164-173 yang cocok dengan pendirian saya, diantaranya sbb:

nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti. Menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi.

Sabda Palon mengalami kekecewaan yang luar biasa atas hal-hal yang terjadi di zamannya, pada Brawijaya yang berubah arah, tetapi itu tidak mengubah pendirian Sabda Palon.

 “…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun. “…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”
Sabda Palon adalah orang yang bijak, dia tidak penah bersabda tentang “perintah untuk melakukan” melainkan “bagaimana sebaiknya melakukan”. Namun kekecewaannya pada Brawijaya mengeluarkan beberapa ramalan:

Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.
Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.
Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.

Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.
Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.”

Setelah saya membaca dan memahami beberapa wasiat-wasiat leluhur Nusantara salah satunya adalah Sabda Palon Noyo Genggong, adalah seorang tokoh yang menginginkan untuk melerai pihak-pihak yang bertikai dalam perang saudara, tetapi pertikaian itu tidak dapat dilawan karena sudah kehendak Sang Pencipta, dan ditandai dengan berbagai bencana alam, ia  mengatakan tentang pentingnya para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan ritual ditingkatkan. Selain itu Sabda Palon juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.

Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara katanjung, bacin tuara bakat ingsak. ( bait 8 ) Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.

Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang, kranannya mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya. ( bait 11 ) Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.

Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang. ( bait 12 ) Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.

Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa mangulah laku, katanjung bena nahanang. ( bait 13 ) Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.

Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi manandur, joh pare twara mupuang. ( bait 14 ). Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan berhasil.

Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang tingkah. ( bait 15 ) Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.

Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak, saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya. ( bait 16 ) Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditambah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun di bawa tak akan laku, begitulah sebenarnya anakku.

Sabda-sabda ini menurut saya baik untuk dijalani, sebagai budi pekerti dasar, yang pada masa dahulu masih diajarkan pada anak-anak di sekolah dasar, tentang pentingnya menjadi orang yang jujur, tidak dengki, tidak memanipulasi dan berbohong untuk tujuan tertentu dan tidak menyakiti mahluk hidup, menjaga manusia dan keluarga untuk terhindar dari perbuatan jahat dan kejahatan. Doa pada Sang Prabu Brawijaya dan Sabda Palon mengingatkan posisi saya sebagai manusia yang berdiri di Nusantara. Di pasak Bumi, tempat manusia selalu mencari keseimbangan, bukan kekuasaan, dan pada akhirnya menuju semesta tertinggi, dan barangkali untuk melakukan Moksa: meninggal tanpa jasad kecuali maha karya.

Berikut adalah tulisan yang telah divisualkan. Semoga bermanfaat.



Selamat tahun baru 2015.


Sabda Palon diambil dari beberapa sumber: http://sejarah3.blogspot.com/2011/10/sabda-palon.html


 Foto karya: Verdi Adhanta