Senin, 24 Maret 2014

Amarah Langit



Oleh: Mariana Amiruddin

Bulan Maret. Petir masih menyambar-nyambar. 
Marah atas apa wahai langit? 
Ledakan itu persis di atasku. 
Berarak-arak terdorong awan, 
mengguncang atap sampai ke lantai. 
Airmu jatuh keras sekali memercik sampai ruang kerjaku. 


Ai ini amarah atas apa? 
Wahai langit, 
asap dari hutan dibakar berhektar-hektar itu bukan di sini. 
Titik-titik airmu berebut di kaca jendelaku. 
Aku ngeri menyaksikan amarahmu.
Seekor kucing liar menumpang berteduh di ruang tamuku. 

Ia ragu aku manusia yang baik. 
Ia menjingkat-jingkat basah. 
Hewan yang paling takut basah.

Ia berharap aku orang baik yang mau menampungnya.
Wahai langit, 

semoga kemarahanmu mengingatkan kami, 
sekaligus menolong mahluk-mahluk kecil seperti kami. 

Dan tanda-tanda itu telah aku saksikan berkali-kali.
Redalah hujanku. 


Redahlah sampai hanya kudengar tetes lembut jatuh di atas tanah pohon melatiku.

Senin, 17 Maret 2014