Mendengar kembali kabar pembubaran bedah buku Tan Malaka. Teringat catatan novel saya yang tertunda sejak tahun 2009 berjudul "Kerangekeng Tuan Tan". Inilah salah satu potongan kisah yang tercarut-marut itu.
---
KEDIRI — Perangkat desa asal
Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sudah
mempersiapkan pembongkaran makam yang diduga terdapat kerangka tubuh tokoh
revolusioner, Tan Malaka.
Pembongkaran makam tersebut, dilakukan Minggu 13 September 2009 di pagi hari. Saat ini, sejumlah panitia nasional sudah datang ke desa, bahkan beberapa di antara mereka ada yang menginap di rumah warga.
Mar dan Tuan Rick mengerubungi Tan yang sedang memegang Koran. Mereka bersama-sama membaca.
Pembongkaran makam tersebut, dilakukan Minggu 13 September 2009 di pagi hari. Saat ini, sejumlah panitia nasional sudah datang ke desa, bahkan beberapa di antara mereka ada yang menginap di rumah warga.
Mar dan Tuan Rick mengerubungi Tan yang sedang memegang Koran. Mereka bersama-sama membaca.
Zulfikar, dan Tuan Poeze. Tan menyahut tiba-tiba.
Ini ide mereka.
Keponakanku, Zulfikar. Lama tak melihat dia. Aku
tak mau dia tau aku di sini. Tuan Poeze, orang Leiden, yang
menghabiskan waktunya mengejar segala tentangku. Bukan pekerjaan
gampang di saat orang-orang anti mendengar namaku.
Sampai sekarang juga
masih anti, kata Mar. Mungkin karena julukan “kiri” itu. Meski
Tuan pernah dianggap pengkhianat oleh beberapa orang kiri.
Tuan bahkan sempat mengundurkan diri dari Komunis Internasional.
Tuan pernah memegang dunia.
“Waktu itu terlalu banyak
orang terseret ke politik internasional yang membentuk dunia
menjadi berpolar-polar. Sementara banyak negara-negara jajahan lebih
membutuhkan kemerdekaan, berdiri sendiri, tanpa terbawa arus
oleh polarisasi kekuasaan kolonial. Meski orang-orang kita banyak
juga yang tidak suka gagasan kemerdekaan, karena mereka dipelihara
oleh kolonial, tak rela menggadaikan hidup mereka yang sudah enak itu
dengan perjuangan dan pengorbanan,” urai Tan.
Tan melanjutkan, banyak
orang lupa yang paling utama adalah kepentingan nasional, kepentingan kemerdekaan
100%. Bukan kemerdekaan atas pemberian.
---
"Apalah artinya Mar yang
pandangannya terhuyung. Mar tanpa pikirannya, jiwanya, ia hanya melihat
bayangan-bayangan kepala manusia berbenturan, bersilang saling. Dan anak-anak
kucing tanpa induk yang tubuhnya menggulung . Malam yang senyap, mar setengah
tersadar.
Seseorang membawa termos,
dan menuangkan air hangat ke dalam gelas. Masih bayang-bayang. Seperti orang
mabuk.
Mar kedinginan biasa disiram
bir. Dan dalam birnya ia menulis. Sampai kepalanya jatuh di atas meja,
tertusuk kata-kata “Ini baru alam yang sesadarnya”. Hanya mabuk yang membantu
mengalirkan peredaran darahnya sampai ke otak. Seperti perjalanan ke atas
gunung, lalu memijak lembah, dan disitulah Mar menemukan sungai mengalir, dan
jatuh di air terjun yang membasuh wajahnya. Mar sendiri yang sepi dan ingin
sepi.
Akulah Tan-mu. Kupanggil kau
Mar dan kutambahkan kau X. Mar-x.
Tak usahlah kau mengejarku.
Aku bisa menjaga mu dari sini.
Peliharalah hidupmu, nyawa
dan jiwamu. Asah terus pikiranmu.
Jangan kau kejar aku. Pasti
aku kembali.
Mar sesak nafas, ia
tersengal-sengal dan dihantui bayang-bayang. Berusaha menengadah, tapi tak juga
bisa lihat apa-apa. Bayang-bayang orang itu mendekat ke arahnya, duduk
disampingnya.
“Siapakah..” ucap Mar lirih.
“Aku. Tan. Tuan mu, Nona.”
“Dimanakah.”
“Di bumi Suliki.
Payakumbuh. Kau telah sampai.”
Lembah, 2009