Sabtu, 08 Februari 2014

Catatan Berserak Tuan Tan (Novel yang Tertunda)

Mendengar kembali kabar pembubaran bedah buku Tan Malaka. Teringat catatan novel saya yang tertunda sejak tahun 2009 berjudul "Kerangekeng Tuan Tan". Inilah salah satu potongan kisah yang tercarut-marut itu.

---

KEDIRI — Perangkat desa asal Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sudah mempersiapkan pembongkaran makam yang diduga terdapat kerangka tubuh tokoh revolusioner, Tan Malaka.
      
Pembongkaran makam tersebut, dilakukan Minggu  13 September 2009 di pagi hari. Saat ini, sejumlah panitia nasional sudah datang ke desa, bahkan beberapa di antara mereka ada yang menginap di rumah warga.
          
Mar dan Tuan Rick mengerubungi Tan yang sedang memegang Koran. Mereka bersama-sama membaca.
Zulfikar, dan Tuan Poeze. Tan menyahut tiba-tiba.
Ini ide mereka.
Keponakanku, Zulfikar. Lama tak melihat dia. Aku tak mau dia tau aku di sini. Tuan Poeze, orang Leiden, yang menghabiskan waktunya mengejar segala tentangku. Bukan pekerjaan gampang di saat orang-orang anti mendengar namaku.
Sampai sekarang juga masih anti, kata Mar. Mungkin karena julukan “kiri” itu. Meski Tuan pernah dianggap pengkhianat oleh beberapa orang kiri. Tuan bahkan sempat mengundurkan diri dari Komunis Internasional. Tuan pernah memegang dunia.

“Waktu itu terlalu banyak orang terseret ke politik internasional yang membentuk dunia menjadi berpolar-polar. Sementara banyak negara-negara jajahan lebih membutuhkan kemerdekaan, berdiri sendiri, tanpa terbawa arus oleh polarisasi kekuasaan kolonial. Meski orang-orang kita banyak juga yang tidak suka gagasan kemerdekaan, karena mereka dipelihara oleh kolonial, tak rela menggadaikan hidup mereka yang sudah enak itu dengan perjuangan dan pengorbanan,” urai Tan.

Tan melanjutkan, banyak orang lupa yang paling utama adalah kepentingan nasional, kepentingan kemerdekaan 100%. Bukan kemerdekaan atas pemberian.

---

"Apalah artinya Mar yang pandangannya terhuyung. Mar tanpa pikirannya, jiwanya, ia hanya melihat bayangan-bayangan kepala manusia berbenturan, bersilang saling. Dan anak-anak kucing tanpa induk yang tubuhnya menggulung . Malam yang senyap, mar setengah tersadar.

Seseorang membawa termos, dan menuangkan air hangat ke dalam gelas. Masih bayang-bayang. Seperti orang mabuk.

Mar kedinginan biasa disiram bir. Dan dalam birnya ia menulis. Sampai kepalanya jatuh di atas meja, tertusuk kata-kata “Ini baru alam yang sesadarnya”. Hanya mabuk yang membantu mengalirkan peredaran darahnya sampai ke otak. Seperti perjalanan ke atas gunung, lalu memijak lembah, dan disitulah Mar menemukan sungai mengalir, dan jatuh di air terjun yang membasuh wajahnya. Mar sendiri yang sepi dan ingin sepi.

Akulah Tan-mu. Kupanggil kau Mar dan kutambahkan kau X. Mar-x.
Tak usahlah kau mengejarku. Aku bisa menjaga mu dari sini.
Peliharalah hidupmu, nyawa dan jiwamu. Asah terus pikiranmu.
Jangan kau kejar aku. Pasti aku kembali.

Mar sesak nafas, ia tersengal-sengal dan dihantui bayang-bayang. Berusaha menengadah, tapi tak juga bisa lihat apa-apa. Bayang-bayang orang itu mendekat ke arahnya, duduk disampingnya.

“Siapakah..” ucap Mar lirih.

“Aku. Tan. Tuan mu, Nona.”

“Dimanakah.”



“Di bumi Suliki. Payakumbuh. Kau telah sampai.”


Lembah, 2009