Minggu, 10 November 2013

Titik Balik

Aku telah berhasil menginjak api dan sekejap memadamkannya, dan sejak itu penghinaan demi penghinaan tak lagi terdengar. Aku berkibar kembali dalam kobaran angin yang kencang! Aku terbebaskan dari beban kepura-puraan! Perjalanan ini telah tiba di terminal berikutnya, dengan lelah yang amat sangat. Aku tidak lagi di persimpangan, hidup dan berdiri di antara lalu-lalang.

Bertahun-tahun hidup di ketiak orang-orang, kini dapat kuhirup udara yang sesungguhnya, bukan lagi bau ketiak-ketiak mereka. Aku mulai menghujamkan akar-akar yang kuat, menjadi tunas dan tumbuh perlahan. Aku kembali menjulurkan lidahku yang lama kelu. Aku kembali membuka rahangku yang lama gagu. Aku mengobati luka-luka dengan imaji-imaji. Menghidupkan cipta yang kupunya jauh sebelumnya. Penundaan yang merana, membusuk, membiru itu, perlu kusiram kembali, kupupuk lagi, sambil menghadap matahari.

Luka-luka telah terjadi dari segala arah. Aku pernah dibunuh sedimikian rupa. Dikubur hidup-hidup tak dapat kemana-mana. Aku dikejar-kejar waktu, dikejar-kejar orang, dihadang batu-batu yang mereka tebar. Aku dilumpukan dan aku lumpuh! Aku ditumpahkan air keras, diguyur hujan deras, dan petir yang meledakkan gendang telinga. Aku membunuh pikir dan renung. Aku kehabisan keranuman imaji yang pernah aku miliki, yang adalah harta-bendaku yang paling rupawan.

Oh semesta, aku telah sampai pada terminal perjalanan. Aku ingin istirahat dengan tenang, memandang alam dengan kopi yang terseduh matang. Aku ingin terbenam dalam luka-luka lama dan melahirkan sel-sel hidup baru. Oh dewa dewi semesta, mari kita pergi, kemana lagi perjalanan akan kita mulai, kemana kita akan melanjutkan lagi. Aku ingin melangkah panjang menuju pintu keluar, ke rumah yang baru, kehidupan yang baru. Aku ingin menikah dengan diriku sendiri. Aku ingin mencium bumi dan memeluk sepenuhnya rasa suka hati!

Sekian lama dipasung, dirajam, dipaksa terpisah dan tercerai dari diriku sendiri. Aku merangkak tanpa kaki, melihat tanpa mata, ditodong senjata untuk menjadi orang lain yang tidak aku inginkan. Aku menjadi bukan aku, yang aku mau waktu aku tahu siapa aku.

Semesta yang aku cintai. Manusia telah diperlakukan tidak lebih dari harapan orang lain, bukan harapan atas dirinya sendiri. Kembalikan aku ya semesta, jadikan ia seperti evolusi yang ber-evolusi, genangkan aku dengan ide-ide dan sahabat-sahabat yang baru, dengan apa yang ingin aku katakan, apa yang ingin aku lupakan, apa yang ingin aku pikirkan, apa yang ingin aku dapatkan.

Siram, siramlah aku dengan tujuan, jangan lagi dengan kenangan!

Peluk cium untukmu semesta dan alam beribu dewa-dewi yang memandang. 

Aku datang.

Perjalanan, 11 November 2013