Trend manusia sekarang, hidup harus bertopeng. Manusia tidak boleh menampakkan keasliannya. Apa yang dia ungkapkan, haruslah tidak sama dengan apa yang ia pikirkan. Kalau perlu, ia bicara sebaliknya. Seolah dia tidak setuju, atau seolah dia setuju. Kalau dahulu manusia diajari menunjukkan belas kasih pada yang kekurangan. Kalau sekarang, untuk menjadi kaya, kita harus menyerupai pengemis, lalu bila kita sudah menumpuk banyak harta, jadilah kita tukang pamer dan menyatakan diri, bahwa kita adalah jutawan. Kalaupun kita jutawan ataupun pengemis, tetap bukan merupakan keaslian kita.
Apa itu keaslian? Kita sudah tidak tahu lagi. Kita tidak bisa membedakan mana diri sendiri, mana diri yang lain. Topeng itu dibuat melekat selekat kulit wajah kita. Mata dan hidung kita sudah bukan mata dan hidung kita sebelumnya. Kita tidak boleh jadi kita sendiri. Jadi kita yang benar-benar kita, nantinya akan dibenci orang lain. Menampakkan apa yang ada di hati dan pikiran, sama dengan menelanjangi diri. Kita harus memakai topeng, dan jangan lupa bangunlah tembok besar dan tebal, supaya orang tidak bisa mengintip keaslian kita. Apakah kita yang aslinya bangkai busuk, ataupun yang aslinya intan permata. Keduanya tidak boleh terlihat. Kita harus tidak merasa tersiksa untuk hidup yang demikian. Atau kelihatan agak berbeda karena sekali-sekali kita tidak memakai topeng, lantas semua orang menoleh pada kita, seperti melihat sapi liar yang kabur dari kandang. Hidup kita seperti dikelilingi oleh mata-mata, atau kalau kita berani sedikit melawan mereka, hidup kita akan disabotase.
Lihatlah semua manusia di sini berseragam. Mulai pakaiannya, tempat tinggalnya, mobilnya, anak-anak mereka. Tidak sama banget, tetapi manusia sudah diformat untuk memenuhi standar, yang akhirnya menjadi seragam. Bila tetangga sebelah membeli mobil Pajero Sport putih setelah lebaran usai, maka tetangga sebelah lainnya harus punya Pajero Sport Hitam. Paling murah Toyota Rush atau paling bikin tetangga lain cemburu adalah peugeot bercat ungu. Bila kita melintas di jalan bebas hambatan (yang kini setiap meternya adalah hambatan), kita akan menyaksikan perlombaan itu. Itulah topeng-topeng yang menghiasi hidup mereka, kalau perlu mereka tidak perlu memikirkan apa fungsinya. Yang penting punya dan pamer. Sekalipun tempat tinggalnya tidak ada garasi, atau tak ada atap yang melindungi harta bendanya.
Lalu siapakah yang setia pada keaslian? Adalah orang-orang yang mau mati. Dulu nenek moyang kita selalu memberikan pepatah "hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai." Sekarang jangan harap kita dengar lagi pepatah itu. "Tipu daya pangkal kaya, penjilat pangkal kuasa." Ya, ya! Dan memang pepatah yang terakhir sangat jitu. Kalau dulu kita menabung bertahun-tahun untuk memiliki seekor mobil, kalau sekarang, tidak perlu. Kita bisa membeli apa saja, semahal apapun harganya, kita anggap semuanya hanya kacang goreng. Luar biasa!
Tak hanya itu, jangan lupa, supaya topeng-topeng kita tak tercium bau busuk karena dibalik topeng adalah wajah kita yang telah menjadi mayat dan kumpulan belatung, maka tempelkan simbol-simbol yang seolah-olah Tuhan ada di sana. Pakailah simbol-simbol di topeng itu, yang seolah-olah kita adalah orang paling suci di bumi ini. Pastinya, kita tak perlu khawatir lagi, bahwa menjilat dan tipu daya bukanlah suatu perbuatan yang tidak baik, melainkan suatu pertahanan hidup. Bahwa tanpa itu, kita akan menjadi mayat lebih cepat dari yang kita kira!
Saat ini topeng-topeng yang dijejali simbol Tuhan begitu ramai di pasar. Manusia-manusia perempuan dipakaikan kain bermeter-meter, sampai melilit leher dan kepalanya. Bukan cuma itu, kainnya haruslah yang berlapis-lapis, sampai siang terik mencucurkan keringat mereka dan kain-kain itu akan menyerapnya, sampai tercium aroma tak sedap dari kelenjar kulit mereka. Ini benar-benar topeng paling mahal, karena meski kulit lengan, paha, betis dan leher kita tak terlihat, kita harus tetap terlihat anggun dan cantik. Kita harus beri warna-warni, atau kalau perlu, kain-kain yang mengikat kepala kita itu kita andaikan rambut panjang yang menjuntai sampai pinggang. Ah, kain yang sangat mahal, bahkan untuk merajutnya saja kita harus menunggu sang perancang berak dulu di kakusnya.
Sesungguhnya, kehidupan manusia topeng, bagi saya adalah kehidupan yang absurd. Saya salut dengan orang-orang yang bertaruh untuk kebertopengan itu. Karena sesungguhnya, kemanusiaan bukan lagi diartikan perjalanan kita sejak masa kecil hingga dewasa. Kita harus memutusnya ditengah jalan, dan sampai pada waktunya, lupa sama sekali dengan wajah kita sebenarnya. Kita tak lagi tahu apa hakikat manusia, apa kehendak bebasnya, dan apa yang menjadi daya pikirnya atas suatu kehidupan yang nyata. Maka yang nyata haruslah didongengkan, dan yang dongeng haruslah diartikan sebagia kenyataan.
Tambun, Senin 2 September 2013
“If you want to be respected by others the great thing is to respect yourself. Only by that, only by self-respect will you compel others to respect you.” Dostoyevsky
Senin, 02 September 2013
Topeng
Akademisi, penulis, dan aktivis perempuan Program Pasca Sarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia (2000-2002). Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan (2008-2013), Komisioner Komnas Perempuan 2015-2025 (dua periode)
Salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru, yang berperan aktif dalam mengadvokasi pelibatan laki-laki dalam gerakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Selain menulis berbagai buku dan esai tentang feminisme, hermeneutika, dan politik tubuh, juga berkontribusi dalam pengembangan wacana gender di Indonesia melalui berbagai publikasi seperti tulisan opini diberbagai surat kabar, cerita pendek, dan esai, novel, dan kolaborasi, termasuk pembuatan video panduan "understanding Gender" bersama GIZ.
Langganan:
Postingan (Atom)
