Selasa, 12 Maret 2013


Bulan

Apakah malam ini ada bulan? Langkahku tertinggal semalam, setapak menuju danau. Kupijak jejak kakiku sendiri. Seperti hidup yang diulang-ulang. Menuju danau itu. Aku ingin menyelam. Bertahun lamanya. Aku tak lagi ingin bertemu manusia. Aku tidak mengerti bahasa mereka. Aku hanya  mengerti angin, hujan, lambaian daun, dan nyanyian satwa.

Malam itu aku menghadap bulan. Bulan yang biasa menggantung di atas danau. Danau dan bulan serasi dan tenang. Serupa hati yang damai. Tapi siapa yang tahu milyaran tahun, telah dilaluinya. Peristiwa lalu-lalang,  kadang tersangkut di persimpangan, kadang pecah berantakan teronggok sendirian.

Tiba di danau. Aku melompat, menyelam berjam-jam. Saat menyelam aku berdoa diam-diam. Gelap dan dingin. Menyelam sampai ke dasar. Semakin dalam semakin tenang. Jiwa yang dingin dan gelap, sepanjang tahun. Dingin menusuk ngilu tulangku, aku tetap berenang kencang, dari dasar ke permukaan. Bagai mahluk yang ber insang. Sesampai di permukaan, bulan pun kelihatan. Aku tersengal haus udara sambil menantang sang bulan. Aku naik ke daratan tanpa lepas menatap bulan. Aku lupa daratan memerlukan kaki untuk berjalan, bukan untuk berenang. Aku tersungkur jatuh, rapuh, menggigil diam. Pecah disambut suara satwa malam. Kelelawar menjerit berpencar, terbang merendah. Bulan suram menatap diam. Dari redupnya, awan terlihat tersenyum tipis. Senyum kelabu. Senyum kecemasan. Dan angin melintas dingin, menambah gigil. Menyusul rintik datang, jatuh bulir-bulir tajam.

Malam tak pernah sempurna. Aku meringkuk memeluk tubuhku sendiri. Mengatasi kedinginan. Mengutuk dua tiga kata dalam hati. Mimpi buruk setiap malam. Tertahan untuk diteriakkan. Tak seorangpun akan mendengar. Hujan dan angin lalu menderu berkejaran, berarak seperti menghantam bumi, memecah segala keheningan. Aku meracau. 

Bulan suram segera hilang. Sisa hujan masih menyiramku telanjang. Merintih gigil campur lebam. Meneriakkan harapan diam-diam;

Bila aku harus menghabiskan waktu sendirian, katakan dengan terang. Aku siap kesepian. Bila jiwaku telah terbelah, temukan belahan jiwaku sekarang.

Awan menyingkir perlahan. Bulan muncul kembali dan menggantung terang. Hujan berhenti jatuh. Kilat riak danau kembali terlihat, dengan gelombang yang lebih pekat.  Aku tak lagi meringkuk diam. Aku menatap ke depan. Aku mulai menangkap keceriaan alam. Kepak sayap burung pun lanjut terdengar.


Tambun, Bekasi., 12 Maret 2013: 00:00