Media dan Persepsi Tubuh Perempuan
Sesungguhnya kehidupan diawali oleh tubuh
perempuan. Bayangkan bila seorang bayi tidak menyusui. Dari mana lagi ia harus
mengenal kehidupan? Sejarah payudara, sejarah tubuh perempuan adalah sejarah
umat manusia. Tetapi kemudian kehidupan telah memenjarakannya ke dalam dua
dunia yang berbeda, dan celakanya keduanya sama-sama tidak menguntungkan, yaitu
dunia profan dan dunia sakral. Dunia sakral atau ‘kesucian’ menjerat perempuan
pada proteksi terhadap tubuh karenanya harus ditutupi setiap bagiannya agar
tidak tersentuh agar tetap menjadi bersih. Dunia sakral atau kesucian begitu
mengagungkan ‘keperawanan’, sebuah tanda mati lambang kejujuran perempuan
lajang dalam memasuki perkawinan dan hanya dengan selaput tipis itu para suami
mengukur dan menilai kejujuran sang istri.
Dunia profan atau kebejatan sebaliknya,
mengadili tubuh perempuan sebagai godaan sekaligus hinaan, oleh karena itu bila
tubuhnya telihat begitu indah, ia harus ditangkap. Karena dari payudaranya ia
meracuni kesusilaan, dari kedua pahanya dan selangkangannya ia membuat lelaki
tergiur memperkosa, dan dari tatapan serta bibirnya ia membuat jantung lelaki
berdebar keras dan segera meninggalkan istri-istri mereka.
Tubuh perempuan yang melahirkan kehidupan itu,
ternyata membuatnya bermasalah dimana-mana. Jeratan profan dan sakral itu
membuat tubuh perempuan tidak menjadi tubuhnya sendiri. Ia ditangkap dalam
kamera, bagian-bagian tubuhnya diabadikan untuk masturbasi para lelaki gila, ia
dikejar-kejar kamera, ia ‘ditelanjangi’ oleh berita, ia dipajang di kota-kota,
ia menjadi bahan dasar ekonomi libido, dan semua adalah disusun dan dirancang
sedemikian rupa dalam dunia yang bukan miliknya, melainkan dunia milik lelaki.
Kamera dengan mata lelaki dan berita dengan lidah lelaki.
Kemudian tubuh-tubuh perempuan itu diciptakan
dalam bentuk-bentuk yang tidak proposional, payudara dan pantat yang besar atau
badan yang kurus dan rambut yang lurus, dan kulit-kulit yang harus putih serta
hidung-hidung yang mancung. Tetapi di saat yang sama, tubuh-tubuh itu dipenjara
dengan persepsi dalam dua kubu, profan dan sakral, dibuka sama sekali, atau
ditutup sama sekali. Dan milik siapakah tubuh-tubuh itu? Tidak pernah menjadi
milik mereka sendiri!
Imaji Media, Imaji Laki-laki
Persepsi terhadap tubuh-tubuh perempuan salah
satunya adalah dibangun oleh media. Persepsi apakah yang dibangun? Inilah
persoalannya, tubuh perempuan yang diasosiasikan dengan alam: reproduksi dan
pengasuhan, terus bergeser menjadi kebutuhan ekonomi libido laki-laki, dilihat
dalam kapasitas permintaan yang besar dari konsumen media-media porno, dan
kebutuhan atas dunia imaji seperti tubuh ‘super ideal’ sesuai dengan kebutuhan
laki-laki dalam reklame-reklame, sampai pada sumber persoalan moral yang
kontroversial: disatu sisi dicerca habis-habisan dan di sisi lain laku untuk
ditonton, seperti tayangan kriminal yang dari kameranya fokus hanya mengejar
pelacur-pelacur yang ketakutan dan clos up- clos up bagian-bagian tubuh
penari-penari di pub-pub malam. Tubuh-tubuh yang bersalah tetapi boleh juga
memupuk kekayaan imaji seksual laki-laki. Tubuh-tubuh putih dan coklat dan
sumber dari segala pemberitaan yang kontraversial.
Sekali lagi, persepsi apakah yang dibangun
oleh kebanyakan media? Bukan tubuh seorang manusia berjenis kelamin perempuan
secara natural, seperti ibu-ibu yang mandi di sungai, atau perempuan-perempuan
muda yang telanjang dada di menyusui bayinya. Tetapi tubuh itu lebih laku untuk
imaji untuk memperkaya khazanah seksual fantasi laki-laki. Ekonomi libido yang
memang menggiurkan.
Para lelaki, meskipun di kamar tidurnya sudah
ada istri-istri yang tidur seranjang dengan mereka setiap malam, dan
tubuh-tubuh perempuan dari perempuan yang telah mereka nikahi, masih kurang
saja imajinasi seksual yang mereka khayalkan. Para lelaki rupanya masih
membutuhkan ‘tubuh-tubuh’ buatan media, tubuh-tubuh telanjang yang tak
proposional dan tidak lebih baik dari istri-istri mereka, atau suara-suara
histeria pelacur-pelacur yang tertangkap, dan bokong-bokong mereka serta
belahan-belahan dada mereka yang tak sengaja tersingkap lalu di situpula kamera
segera menikamnya, dan bahasa-bahasa yang membuat kegiatan perkosaan menjadi
nikmat buat seorang kakek, serta seorang nenek yang berjalan sendirian menjadi
nikmat diperkosa oleh belasan lelaki muda.
Sungguh, kekerasan serta pelecehan seksual
menjadi persepsi baru yang diciptakan media yang seluruhnya diciptakan dari,
oleh dan untuk dunia laki-laki. Dunia ini memang milik laki-laki ketika mereka
keluar dari rahim-rahim dan vagina-vagina menganga perempuan serta
selaput-selaput dara yang bisu, dan air ketuban yang pecah, tumpah meriah di
seprai putih rumah sakit serta darah-darah kental yang melumuri plasenta mereka
yang lahir, serta teriak tangis bocah laki-laki yang masih tertutup matanya,
dan bibir-bibir mungil mereka yang menghisap air susu ibu dengan rakusnya.
Ikut Serta Membangun Persepsi Kecabulan
Tubuh perempuan abad kini, dipenuhi oleh
persepsi kecabulan! Sekalipun ia hanya tersingkap, sekalipun atas keinginan si
yang punya tubuh. Tangtop, tropis, matahari, udara panas, perempuan-perempuan
itu mengenakannya dengan rasa nyaman. Tetapi tidak! Itu melanggar kesusilaan.
Jangan sekali-kali perempuan memperlihatkan tubuhnya sekalipun itu hanya lengan,
karena semua laki-laki akan berhak memperkosa mereka, juga karena malam hari
akan segera menangkap mereka.
Begitulah media pada akhirnya menjadi suara
terbanyak mengerangkeng perempuan dari kehidupannya, dan menambah jurang bagi
kehidupan perempuan sendiri. Karena yang tadinya tidak cabul menjadi imaji
kecabulan, lalu perempuan menjadi sasaran empuk kesalahan, sebagaimana rasa
sakit mereka ketika menstruasi dan melahirkan anak. Melalui seksualitasnya, ia
tidak pernah menjadi berangkat dari dirinya sendiri. Tubuh perempuan seperti
instrumen musik yang selalu dimainkan media (baca: laki-laki), dan karena
laki-laki diberi kehendak seks yang lebih, maka adalah wajar bila eksploitasi
bersamaan dengan pengerangkengan perempuan itu ditindaklanjuti.
Seperti kata-kata ‘perempuan nakal’ yang tidak
lebih baik daripada ‘hidung belang’ lalu perempuan harus pasif dan tabu untuk
mengatakan hasrat tubuhnya karena bila ia aktif dan agresif, perempuan akan
dihukum secara sosial!
Ciptaan masyarakat dan kultur terhadap
kehidupan perempuan memang sangat skizofrenik! Hanya ruang-ruang penderitaan
yang harus diisi perempuan, ruang-ruang sadomasokis, ditinggikan lalu
dijatuhkan sedalam-dalamnya, lalu ditinggikan lagi, dan dijatuhkan lagi
sedalam-dalamnya, begitulah saya katakan di sini media melakukan persepsi yang
mendehumanisasi perempuan, lalu melalui media ini perempuan diterjemahkan yang
jelas bukan atas diri perempuan sendiri, melainkan atas sebuah konstruksi
berupa simbol-simbol, tanda-tanda, pesan-pesan yang ‘diinginkan dunia
laki-laki’. Media akhirnya membuat simbol-simbol perempuan seperti apa, seperti
masalah pelacuran bahwa pelacur-lah agen persoalannya, tanpa melihat si hidung
belang dan dengan tanpa mau benar-benar si hidung belang itu di shoot sedekat mungkin
dan dikatakan bahwa mereka itu adalah penjahat kelamin, membeli tubuh manusia,
tubuh perempuan dengan uangnya, dan perempuan menjualnya karena untuk susu
anak-anaknya, sedangkan si hidung belang untuk menghambur-hamburkan spermanya
sama dengan caranya menghambur-hamburkan uang, atau sekadar mengukur
kejantanannya melalui tubuh-tubuh perempuan-perempuan itu.
Lalu libido laki-laki menjadi sesuatu yang
alamiah, dan kebutuhan lelaki atas banyak perempuan dan tubuh-tubuh perempuan
yang dikotori mereka adalah juga alamiah, dan itu tercover dalam berita-berita
kriminal dan perempuan-perempuan menderita lalu laki-laki hanya dipenjara
sekian jam dan perempuan terpenjara seumur hidupnya akibat perbuatan laki-laki
atas tubuh mereka.
Media macam apa yang perempuan inginkan?
Ketika tubuh menjadi persepsi yang manusiawi,
yang menjadi tidak cabul, yang menjadi milik perempuan sendiri, yang dengan
tubuhnya perempuan tidak merasa hina dan tidak pula merasa suci. Dan dari tubuh
itu perempuan adalah juga pikiran dan jiwanya.
"Perempuan menggambarkan tubuhnya
merupakan suatu keputusan perempuan, tetapi ingat bahwa hal itu digunakan untuk
mejelaskan pikiran perempuan, dimana seorang perempuan tidak merasa paling
suci, tidak juga merasa takut atau hina atas tubuhnya baik dalam hal psikologis
maupun seksnya. (Virgina Woolf)"
Juli 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar