Oleh: Mariana
Amiruddin
Rumah Sakit itu milik
pemerintah daerah. Dari puskesmas sebuah desa di tengah kota yang kosong tidak
ada pasien itu, kami diberi rujukan untuk ke sana, untuk sebuah operasi mata
bapak saya. Saya menemani dan membantu bapak untuk hal-hal kecil seperti
mengurus administrasi, menelpon rumah sakit, membaca surat rujukan, memberi
tahu dimana harus membubuhkan paraf dan tandatangan, dan berkas-berkas yang
berlembar itu dengan masing-masing fungsi untuk kebutuhan legitimasi asuransi
kesehatan. Untungnya, saya sudah biasa dengan pekerjaan administrasi, pekerjaan
manajerial, dengan urusan surat-surat dan legalisasi-legalisasi. Dengan cepat
saya mengurus dan membenahi urusan administrasi, mengklasifikasi berkas-berkas
itu sambil menenteng-nenteng tas kulit Bapak buatan masa mudanya saat aktif
berkantor. Tasnya sudah sobek-sobek. Tas yang awet disimpannya selama puluhan
tahun.
Bapak saya ingin
melihat jelas, bola matanya ada katarak. Pandangannya terhalang. Ia terganggu
dengan itu. Ia tak mau menyerah dengan halangan itu. Ia ingin fungsi-fungsi
inderanya tetap bekerja meski sudah lansia. Baginya lansia seharusnya bukan
alasan. Hidupnya memang berpangku pada matanya yang teliti. Semangat hidup dan
kerja kerasnya, bergantung pada matanya. Matanya yang membuatnya teliti
menghitung angka, membaca koran mengikuti perkembangan zaman, mengisi
kotak-kotak teka-teki silang, bermain kartu solitaire di komputer berjam-jam,
dan membetulkan jam gandul yang berbunyi nyaring di ruang tamunya. Katanya
supaya dia tak pikun. Saya setuju, lansia perlu terus putar otak supaya tak
lekas pikun, harus banyak kegiatan yang disukainya.
Sejak saya tidak
begitu sibuk bekerja, saya diberi kesempatan banyak untuk menemani bapak, meski
sambil terkantuk-kantuk karena setiap hari mengalami insomnia. Saya bisa menjadi
seorang supir, seorang pembantu, seorang sekretaris atau asisten untuk bapak
saya. Sejak itu saya mulai kenal sifat-sifat bapak, dan sifat-sifat ibu lebih
dalam. Dahulu mungkin saya tidak mengerti dengan sifat-sifat bapak yang keras,
tetapi saya sekarang sudah lebih memahami. Sebab, terlalu lama dan
bertahun-tahun saya jauh dari mereka, nyaris tidak ada komunikasi karena saya
tak ingin apa yang menimpa saya mereka tahu, dan saya pantang meminta bantuan
dan pertolongan dari mereka. Saya tidak
ingin menyulitkan mereka. Saya tahu menjadi orangtua itu tidak mudah, dan saya
ingin mengurangi kesulitan mereka.
Saya baru mengenal
mereka dengan dekat, ketika usia saya sudah mau empatpuluh. Ketika saya tidak
lagi bekerja kantoran. Saya jadi belajar sabar, belajar mengasuh keluarga, sambil
membayangkan bagaimana kalau saya sudah lanjut usia seperti mereka, siapakah
yang akan membantu saya? Tapi tidak saya gubris khayalan itu karena saat ini
yang penting adalah mereka dulu. Yang penting adalah membantu dengan tulus
sebagaimana mereka membantu saya dengan tulus, sudah sedewasa ini masih saja saya
masih menumpang makan. Saya masih jadi benalu karena itu saya memaksimalkan
kemampuan saya untuk membantu mereka.
Rumah Sakit daerah itu
tidak cukup ramah dengan pasien. Orang lanjut usia seperti Bapak bukan seperti
umumnya, sebetulnya, dia ingin melakukan semua hal sendiri, tetapi dia butuh
mata dan tenaga. Karena itu saya jadi mata dan tenaga bapak untuk sementara. Lansia
menjadi seorang difabel, dan kita perlu memahami sudut pandang hidup mereka.
Apalagi negara tidak memberikan fasilitas apa-apa yang mereka butuhkan supaya
mereka mudah mengurus diri mereka sendiri. Sampai sana, poli mata katanya buka
pukul 3 sore, tetapi pukul 3.30 belum juga datang, sampai akhirnya saya tanya
berkali-kali pada suster, jawabnya malas-malasan, matanya selalu ke arah
televisi, menonton sinetron. Mereka jawab tunggu saja biasanya datang jam 4
sore. Saya tanya lagi katanya jam 3 sore, lalu 3.30 dan sekarang jam 4 sore?
Saya mulai marah-marah, lalu Bapak saya mulai sensitif, dia bilang apa kita
pulang saja? Saya jawab jangan, kita tunggu, tanggung. Sepertinya kemarahan
saya jadi memprovokasi perasaan bapak yang mulai putus asa.
Keponakan saya anak
laki-laki yang kebetulan baru pulang dari Berlin, dia belajar sambil bekerja di sana dan sedang
liburan di tempat orang tua dan kakek neneknya. Kebetulan dia menemani juga,
dia menggandeng kakeknya atau kakeknya memegang lengan cucunya. Keponakan saya tertawa-tawa
melihat kelakuan saya yang sepanjang hari itu terus protes. Kita berdua diskusi
bagaimana fasilitas rumah sakit menganggap semua orang sama, menganggap semua
orang sehat sehingga bisa mengurus administrasi demikian ribet dilakukan oleh
pasien yang sakit. Belum lagi soal parkir, seorang tukang parkir bilang tidak
ada parkir, saya bilang saya bawa pasien, apakah ada alternatif. Tidak dijawab,
tukang parkir tidak mau berpikir. Mungkin harusnya kita datang pakai ambulan
atau nebeng mobil dokter, karena hampir semua lahan parkir diisi mobil dokter.
Akhirnya saya minta Bapak dan keponakan saya turun duluan dan saya cari parkir di
seberang, di depan toko kelontong, dan saya harus menyeberangi ibu ditengah
lalu lintas yang padat dan mereka semua ngebut luar biasa tak peduli pada orang
yang sedang menyeberang. Ibu saya juga mulai tak begitu melihat matanya, dan
jalannya mulai lemah.
Setelah marah-marah
itu, akhirnya saya lihat Bapak sudah tidak tenang menunggu saya dan Ibu. Ada
beberapa berkas yang harus di fotocopy diantaranya surat rujukan dan kartu
askes. Masing-masing empat kali juga ktp bapak. Untung semua persyaratan itu
ada semua di tas kulit bapak yang tua itu. Sampai akhirnya bertemu dokter mata,
dokter ini perempuan, asal dari Jakarta, saya suka dan cukup teliti orangnya,
dan wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir dan sungguh-sungguh terhadap bapak,
dan sangat melayani keluhan bapak. Kekhawatirannya itu ditunjukkan dengan
memberikan surat rujukan kembali, supaya bapak berkonsultasi dulu dengan dokter
penyakit dalam dan dokter jantung. Untuk operasi katarak, menurut dokter mata,
pemeriksaan itu perlu supaya tidak ada risiko nantinya. Bapak saya langsung lesu
karena dia ingin sekali cepat dioperasi kataraknya. Saya bilang sabar, ini
persyaratan bagus artinya dokter bertanggungjawab dengan kondisi bapak. Tapi
sayangnya, Rumah Sakit itu tidak membolehkan kami langsung konsultasi kepada dokter
penyakit dalam dan dokter jantung sekaligus. Pihak Rumah Sakit meminta satu konsultasi
dokter, satu hari. Belum lagi harus periksa darah terlebih dahulu. Jadi untuk
melalui tahapan boleh tidaknya operasi katarak, kami harus bolak-balik ke Rumah
Sakit selama 5 hari berturut-turut.
Periksa darah. Bapak masuk ke ruang
laboratorium. Dia sudah pengalaman dengan penyakit dan dokter sejak usia 40.
Dia pernah diterima di kedokteran tetapi keluar karena tak kuat melihat darah.
Dia bilang pada suster, supaya suntikan jangan di lengan kanan karena sulit
dapat darah di situ, bapak minta lengan kiri. Tapi suster tak mau dengar, dan
betul sulit di lengan kanan dan bapak kesakitan. Akhirnya suster menurut dan
benar lebih mudah ambil darah dari lengan sebelah kiri. Saya mulai kesal.
Setelah laboratorium
memeriksa, satu jam kemudian hasil darah langsung keluar. Bapak saya terlihat
senang. Satu tahap beres. Dan dari hasil darah itu bisa dilihat apa saja yang
ditemukan. Dokter minta pemeriksaan pada kasus diabetes, jantung dan ginjal.
Bapak saya memang ginjalnya tinggal berfungsi 20% tapi semangatnya masih 100%.
Dia agak tegang melihat hasil darah itu, saya diminta membacanya. Sayangnya
saya tidak mengerti bagaimana membacanya. Tetapi saya akan cepat mengerti. Saya
akan ikuti terus perjalanan dunia rumah sakit dan dokter ini. Barangkali suatu
saat saya sudah memahaminya, barangkali saya nanti akan sering sakit dan saya
bisa mengurus diri saya sendiri karena belajar dari bapak. Barangkali. Terimakasih
Bapak dan Ibu, sering sekali membuat saya belajar untuk tidak menyerah. Belajar
untuk melakukan segala hal sendiri meski dalam keadaan lemah. Belajar untuk
tidak merengek melihat kehidupan. Belajar untuk tidak mudah patah, menjadi baja
di setiap keadaan. Belajar untuk kritis, tetapi tidak mudah kecewa dan sering
memaafkan..
Tambun, 18 September
2014
