Rabu, 17 September 2014

Bapak dan Katarak



Oleh: Mariana Amiruddin

Rumah Sakit itu milik pemerintah daerah. Dari puskesmas sebuah desa di tengah kota yang kosong tidak ada pasien itu, kami diberi rujukan untuk ke sana, untuk sebuah operasi mata bapak saya. Saya menemani dan membantu bapak untuk hal-hal kecil seperti mengurus administrasi, menelpon rumah sakit, membaca surat rujukan, memberi tahu dimana harus membubuhkan paraf dan tandatangan, dan berkas-berkas yang berlembar itu dengan masing-masing fungsi untuk kebutuhan legitimasi asuransi kesehatan. Untungnya, saya sudah biasa dengan pekerjaan administrasi, pekerjaan manajerial, dengan urusan surat-surat dan legalisasi-legalisasi. Dengan cepat saya mengurus dan membenahi urusan administrasi, mengklasifikasi berkas-berkas itu sambil menenteng-nenteng tas kulit Bapak buatan masa mudanya saat aktif berkantor. Tasnya sudah sobek-sobek. Tas yang awet disimpannya selama puluhan tahun.

Bapak saya ingin melihat jelas, bola matanya ada katarak. Pandangannya terhalang. Ia terganggu dengan itu. Ia tak mau menyerah dengan halangan itu. Ia ingin fungsi-fungsi inderanya tetap bekerja meski sudah lansia. Baginya lansia seharusnya bukan alasan. Hidupnya memang berpangku pada matanya yang teliti. Semangat hidup dan kerja kerasnya, bergantung pada matanya. Matanya yang membuatnya teliti menghitung angka, membaca koran mengikuti perkembangan zaman, mengisi kotak-kotak teka-teki silang, bermain kartu solitaire di komputer berjam-jam, dan membetulkan jam gandul yang berbunyi nyaring di ruang tamunya. Katanya supaya dia tak pikun. Saya setuju, lansia perlu terus putar otak supaya tak lekas pikun, harus banyak kegiatan yang disukainya.

Sejak saya tidak begitu sibuk bekerja, saya diberi kesempatan banyak untuk menemani bapak, meski sambil terkantuk-kantuk karena setiap hari mengalami insomnia. Saya bisa menjadi seorang supir, seorang pembantu, seorang sekretaris atau asisten untuk bapak saya. Sejak itu saya mulai kenal sifat-sifat bapak, dan sifat-sifat ibu lebih dalam. Dahulu mungkin saya tidak mengerti dengan sifat-sifat bapak yang keras, tetapi saya sekarang sudah lebih memahami. Sebab, terlalu lama dan bertahun-tahun saya jauh dari mereka, nyaris tidak ada komunikasi karena saya tak ingin apa yang menimpa saya mereka tahu, dan saya pantang meminta bantuan dan pertolongan dari mereka.  Saya tidak ingin menyulitkan mereka. Saya tahu menjadi orangtua itu tidak mudah, dan saya ingin mengurangi kesulitan mereka.

Saya baru mengenal mereka dengan dekat, ketika usia saya sudah mau empatpuluh. Ketika saya tidak lagi bekerja kantoran. Saya jadi belajar sabar, belajar mengasuh keluarga, sambil membayangkan bagaimana kalau saya sudah lanjut usia seperti mereka, siapakah yang akan membantu saya? Tapi tidak saya gubris khayalan itu karena saat ini yang penting adalah mereka dulu. Yang penting adalah membantu dengan tulus sebagaimana mereka membantu saya dengan tulus, sudah sedewasa ini masih saja saya masih menumpang makan. Saya masih jadi benalu karena itu saya memaksimalkan kemampuan saya untuk membantu mereka.

Rumah Sakit daerah itu tidak cukup ramah dengan pasien. Orang lanjut usia seperti Bapak bukan seperti umumnya, sebetulnya, dia ingin melakukan semua hal sendiri, tetapi dia butuh mata dan tenaga. Karena itu saya jadi mata dan tenaga bapak untuk sementara. Lansia menjadi seorang difabel, dan kita perlu memahami sudut pandang hidup mereka. Apalagi negara tidak memberikan fasilitas apa-apa yang mereka butuhkan supaya mereka mudah mengurus diri mereka sendiri. Sampai sana, poli mata katanya buka pukul 3 sore, tetapi pukul 3.30 belum juga datang, sampai akhirnya saya tanya berkali-kali pada suster, jawabnya malas-malasan, matanya selalu ke arah televisi, menonton sinetron. Mereka jawab tunggu saja biasanya datang jam 4 sore. Saya tanya lagi katanya jam 3 sore, lalu 3.30 dan sekarang jam 4 sore? Saya mulai marah-marah, lalu Bapak saya mulai sensitif, dia bilang apa kita pulang saja? Saya jawab jangan, kita tunggu, tanggung. Sepertinya kemarahan saya jadi memprovokasi perasaan bapak yang mulai putus asa.

Keponakan saya anak laki-laki yang kebetulan baru pulang dari Berlin,  dia belajar sambil bekerja di sana dan sedang liburan di tempat orang tua dan kakek neneknya. Kebetulan dia menemani juga, dia menggandeng kakeknya atau kakeknya memegang lengan cucunya. Keponakan saya tertawa-tawa melihat kelakuan saya yang sepanjang hari itu terus protes. Kita berdua diskusi bagaimana fasilitas rumah sakit menganggap semua orang sama, menganggap semua orang sehat sehingga bisa mengurus administrasi demikian ribet dilakukan oleh pasien yang sakit. Belum lagi soal parkir, seorang tukang parkir bilang tidak ada parkir, saya bilang saya bawa pasien, apakah ada alternatif. Tidak dijawab, tukang parkir tidak mau berpikir. Mungkin harusnya kita datang pakai ambulan atau nebeng mobil dokter, karena hampir semua lahan parkir diisi mobil dokter. Akhirnya saya minta Bapak dan keponakan saya turun duluan dan saya cari parkir di seberang, di depan toko kelontong, dan saya harus menyeberangi ibu ditengah lalu lintas yang padat dan mereka semua ngebut luar biasa tak peduli pada orang yang sedang menyeberang. Ibu saya juga mulai tak begitu melihat matanya, dan jalannya mulai lemah.

Setelah marah-marah itu, akhirnya saya lihat Bapak sudah tidak tenang menunggu saya dan Ibu. Ada beberapa berkas yang harus di fotocopy diantaranya surat rujukan dan kartu askes. Masing-masing empat kali juga ktp bapak. Untung semua persyaratan itu ada semua di tas kulit bapak yang tua itu. Sampai akhirnya bertemu dokter mata, dokter ini perempuan, asal dari Jakarta, saya suka dan cukup teliti orangnya, dan wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir dan sungguh-sungguh terhadap bapak, dan sangat melayani keluhan bapak. Kekhawatirannya itu ditunjukkan dengan memberikan surat rujukan kembali, supaya bapak berkonsultasi dulu dengan dokter penyakit dalam dan dokter jantung. Untuk operasi katarak, menurut dokter mata, pemeriksaan itu perlu supaya tidak ada risiko nantinya. Bapak saya langsung lesu karena dia ingin sekali cepat dioperasi kataraknya. Saya bilang sabar, ini persyaratan bagus artinya dokter bertanggungjawab dengan kondisi bapak. Tapi sayangnya, Rumah Sakit itu tidak membolehkan kami langsung konsultasi kepada dokter penyakit dalam dan dokter jantung sekaligus. Pihak Rumah Sakit meminta satu konsultasi dokter, satu hari. Belum lagi harus periksa darah terlebih dahulu. Jadi untuk melalui tahapan boleh tidaknya operasi katarak, kami harus bolak-balik ke Rumah Sakit selama 5 hari berturut-turut.

 Periksa darah. Bapak masuk ke ruang laboratorium. Dia sudah pengalaman dengan penyakit dan dokter sejak usia 40. Dia pernah diterima di kedokteran tetapi keluar karena tak kuat melihat darah. Dia bilang pada suster, supaya suntikan jangan di lengan kanan karena sulit dapat darah di situ, bapak minta lengan kiri. Tapi suster tak mau dengar, dan betul sulit di lengan kanan dan bapak kesakitan. Akhirnya suster menurut dan benar lebih mudah ambil darah dari lengan sebelah kiri. Saya mulai kesal.

Setelah laboratorium memeriksa, satu jam kemudian hasil darah langsung keluar. Bapak saya terlihat senang. Satu tahap beres. Dan dari hasil darah itu bisa dilihat apa saja yang ditemukan. Dokter minta pemeriksaan pada kasus diabetes, jantung dan ginjal. Bapak saya memang ginjalnya tinggal berfungsi 20% tapi semangatnya masih 100%. Dia agak tegang melihat hasil darah itu, saya diminta membacanya. Sayangnya saya tidak mengerti bagaimana membacanya. Tetapi saya akan cepat mengerti. Saya akan ikuti terus perjalanan dunia rumah sakit dan dokter ini. Barangkali suatu saat saya sudah memahaminya, barangkali saya nanti akan sering sakit dan saya bisa mengurus diri saya sendiri karena belajar dari bapak. Barangkali. Terimakasih Bapak dan Ibu, sering sekali membuat saya belajar untuk tidak menyerah. Belajar untuk melakukan segala hal sendiri meski dalam keadaan lemah. Belajar untuk tidak merengek melihat kehidupan. Belajar untuk tidak mudah patah, menjadi baja di setiap keadaan. Belajar untuk kritis, tetapi tidak mudah kecewa dan sering memaafkan..

Tambun, 18 September 2014