Oleh: Mariana Amiruddin
Aku punya janji membuat surat cinta ini untuk seorang teman yang sudah belasan tahun tak aku temui. Seorang sahabat yang sangat singkat. Pertemanan itu terjadi dengan tiba-tiba, saat kami masih sama-sama belajar dan meraba cita-cita. Karena setelah itu dia pergi, untuk selama-lamanya. Seorang yang pertama kali bertemu dan begitu banyak kecocokan (bukan kesamaan). Setiap bertemu kami selalu punya visi, punya privasi, duduk berdua di tempat yang kami suka, munum anggur dan menghembus asap yang menyelimuti wajah kami, orang lain tidak perlu tahu, hanya kami yang tahu. Waktu itu tempat tinggal kami berdekatan, di daerah yang selalu terkena banjir. Hanya waktu itu belum terlalu parah, rumah kami belum sampai tertelan. Setiap kali janjian, kami gantian menjemput atau mengantar. Seperti anak sekolah. Kami gadis-gadis penyendiri yang bertemu dalam sebuah pikiran dan gelombang yang pas, yang tidak populer di kalangan usia kami waktu itu. Kami sama-sama merasa terasing, dan perbincangan kami nyaris tidak dimengerti oleh teman-teman lain, hanya kami yang mengerti perbincangan kami.
Dari puluhan tahun aku hidup, aku baru pertama kali menemukan seorang sahabat di masa itu. AKu jadi mengerti arti persahabatan, sebab aku hampir tidak pernah punya sahabat. Sejak kecil hidupku berpindah-pindah. Setiap kali punya sahabat erat dan aku sedang bahagia-bahagianya, saat itupula aku harus pindah ke daerah lain dan kami belum punya tradisi surat menyurat karena usia kami masih kecil sekali. Aku tidak punya sahabat, sebaliknya, aku punya banyak musuh. Musuh dalam arti, orang-orang yang tidak bisa mencapai apa yang aku maksud, artinya, bagaimana kedalaman yang abstrak itu terlampaui sehingga membuatku bahagia bila berbincang dengan seseorang. Artinya, musuh itu adalah bagaimana mereka menganggap aku orang aneh. Artinya, musuh itu adalah dalam jarak sekian aku sudah merasa tidak nyaman dan ingin pergi begitu jauh dari mereka.
Tan, adalah sahabatku, karena dia bisa menggali kedalaman liang jiwa dan pikiranku, seperti lorong panjang gelap yang sulit menemukan cahaya. Tan bisa mencapai cahayaku. Kami masih sangat belia waktu itu, masih belajar hidup, masih menganggap orang lain itu membingungkan, masih melihat laki-laki itu melelahkan. Tetapi aku mengakui bahwa Tan lebih dewasa daripada aku, aku adalah anak perempuan yang begitu dilindungi, Tan adalah anak perempuan yang dididik kuat, ia lahir dari sejarah perbincangan dunia, tentang kanan dan kiri, tentang buku dan ideologi, tentang sastra dan tulisan. Ia begitu terbuka. Ia kagum pada ayahnya yang mengenalkannya banyak bacaan dan sejarah kelam bangsanya. Aku, lahir dari keluarga yang sangat melindungi segala kekejian di luar rumah, aku tidak tahu apa-apa, aku bahkan dilarang bertemu laki-laki, aku dipingit, aku tak boleh genit, tak boleh bersolek, aku tumbuh sebagai anak baik-baik yang tidak pernah bergaul. Aku tumbuh besar tetapi tetap seperti kanak-kanak, yang hidup di lingkungan yang sangat nyaman. Untungnya aku tidak dilarang untuk berimajinasi seluas-luasnya. Aku kemudian sering “mengurung diri dalam kamar” menulis dan menggambar berjam-jam. Aku menulis tentang diriku sendiri dan hari-hariku di sekolah, kampus, tempat kerja, atau di terminal. Aku sering menggambar ekspresi-ekspresi tak lazim di majalah-majalah atau potret kecilku sendiri, dan sesekali kupamerkan ke orangtuaku. Tetapi tulisan itu, sama sekali tidak aku pamerkan, tetapi ibu sering mengintipnya diam-diam. Semua tulisanku itu seperti kotak pandora. Sekali dibuka dan mengetahu isinya, barangkali ibuku bisa pingsan bahwa anaknya adalah seorang perempuan berambut ular. AKu adalah medusa yang mungkin akan dianggap pendosa, yang sebetulnya meskipun di dalam kamar berjam-jam, telah banyak pengetahuan yang kumiliki karena tertolong oleh imajinasi yang tinggi.
Tan, adalah representasi dari imajinasiku tentang seseorang yang menjadi pengganti catatan harianku. Tan adalah penyeimbangku kala berbincang dan bertukar pikiran. Tan dan aku bicara apa saja, dan kata-kata yang dikeluarkannya seperti obat bagiku. Atau kata-kata yang aku keluarkan lalu bagaimana kami saling menanggapi dan perbincangan terus melesat bagai kilau cahaya bulan. Kalau ditanya apakah aku memilih seorang kekasih atau sahabat, aku jujur mengatakan bahwa aku lebih baik memiliki seorang sahabat seperti Tan daripada punya kekasih seperti Ben. Aku sama sekali tidak tertarik untuk pacaran di usia yang matang itu, dan aku bahagia punya sahabat satu-satunya yang bisa mengimbangi segala kesendirianku di dalam kamar. Hal lainnya adalah, aku tidak perlu khawatir karena hidupku sudah tak berpindah-pindah lagi. Selain rumah kami berdekatan, kami juga punya kendaraan, catatan-catatan tulisan, dan buku-buku kesukaan.
Tetapi apa yang terjadi setelah itu? Dalam ujung diskusi yang panjang itu, Tan akhirnya membuka rahasia bahwa ia sebetulnya tidak betah tinggal di negara ini, ia punya daftar keburukan bangsa ini yang tak mungkin lagi diubah, dan tidak adanya masa depan baginya sehingga itu membuatnya bersikeras untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Diskusi politik, sejarah, waktu itu memenuhi perbincangan kami, berbagai alasan bahwa Tan tidak mau lagi tinggal di sini. Tentu saja aku sedih sekali. AKu lagi-lagi sedih sekali. Mengapa Tuhan tidak bisa memberiku usia persahabatan yang panjang? Mengapa Tuhan terus membiarkan aku sendiri?
Sampai di bibir waktu menjelang kepergiannya, kami berdua berkeliling saat malam takbiran dimana keadaan jalan begitu macetnya, begitu bisingnya. Kami banyak berhenti di tengah-tengah keramaian itu. Hujan deras tiba-tiba datang. Dalam kemacetan, semua kendaraan berhenti. Lalu apa yang kami lakukan, kami memutar lagu tentang perpisahan, tentang jarak yang begitu jauh, jarak yang akan dihabiskan oleh musim. Dan, lepas kepergiannya, benar bahwa pergantian musim membuatku lelah menantinya pulang. Ia bertemu belahan jiwanya di sana, seorang laki-laki tampan pintar yang setia dan menyukai hewan, seperti pangeran yang dengan cepat ditemukannya. Ah, Tan. Kupikir itu hanya mitos di film Cinderella, tetapi nyatanya ada. Tapi kupikir tentu saja itu setimpal untukmu Tan, karena sebelumnya penderitaanmu begitu panjang dan kau begitu sabar. Dan perbincangan kita waktu itu jadi banyak hal soal relasi dengan orang yang kita kasihi. Aku memberinya semangat supaya ia pergi dan tak mengingat orang itu lagi, mencari kehidupan baru, melanjutkan sekolah, ah, irinya aku sekarang melihat bagaimana ia bahagianya sekarang. Irinya aku bahwa ternyata aku tak mampu melakukan itu, melompat ke dunia yang sama sekali lain. AKu masih dihantui oleh jejak-jejakku terdahulu yang begitu terlindungi namun disisi lain penuh petualangan. AKu ingin seperti kamu belasan tahun yang lalu, Tan. AKu ingin pergi sejauh-jauhnya dan hanya bintang yang bisa kita lihat.
Dulu kau selalu mengagumiku karena kuat, selalu berjuang, selalu kritis, selalu gelisah, selalu marah, dan melawan dalam keadaan apapun. Tan kagum padaku katanya keberanianku tak pernah habis. Benar Tan, itu benar, keberanianku ada tetapi keberanian apa bila hidupmu kosong belaka, hidupmu hanya menjumpai hal-hal yang sama. Atau hidupmu terjebak dalam perangkap-perangkap budaya dan manusia yang serupa. Keberanian apa yang bisa aku hadirkan saat hidup ini mulai terasa bosan?
Aku masih menyimpan suratmu yang dulu itu Tan, pertama kali kau menginjak negeri orang. Waktu itu aku sedang membuat Novel sejarah Tuan Tan-Malaka. Kamu begitu ingin tahu, kamu selalu menghubungiku. Sudah lama sekali. Semoga kamu masih ingat. Tapi kemudian semuanya hilang saat negeri ini banyak bencana alam, bencana politik, bencana manusia. Aku terhempas bersama catatan-catatan novelku, aku kehabisan tenaga untuk melanjutkannya. Masih ingatkah kamu Tan? Aku menyuguhkan kembali di bawah ini suratmu dulu itu.
Dear May,
Menuliskan sesuatu untukmu tidak pernah sulit. Sama halnya seperti kesal bersamamu. Bukankah itu yang selalu terjadi? Kita berbincang ketika kesal, ketika gelisah, ketika marah? Jarang kita bersama ketika kita terbahak-bahak. Tawa yang akrab adalah seringai sinis.
Aku merindukan kehadiran dan kemarahanmu. Hembusan asap rokok dari mulutmu yang tidak pernah habis. Gambaran yang terlalu lengket di kepalaku. Mungkin kau sudah berubah. Semakin cantik atau sedikit tenang. Tapi itulah kau di mataku: perokok yang omelannya tak pernah pudar dari kupingku. Mungkin diam-diam aku mengharapkan kita masih saja sama. Sama-sama pemarah yang suka menghisap darah. Apalah artinya teman tanpa ingatan akan yang dulu?
Kau kecewa pada negeri. Berlindung pada harapan akan kebangkitan seorang Tuan yang kau kagumi. Tuan yang tersingkirkan. Tuan yang tak bisa kau jelaskan dengan deskripsi. Tuan yang hanya pantas kau uraikan dalam narasi, katamu. Aku tak kenal Tuan ini. Tapi aku mengenalmu. Setidaknya aku berpikir begitu. Seorang Nona bermata sipit yang akan bernarasi dalam sentuhan-sentuhan gairah yang diselimuti kegelisahan.
Lihatlah Tan, begitu bercahayanya kata-katamu, amarahku yang kau tangkap, membuatnya padam. Membuatku tenang. Aku rindu setengah mati padamu. Bumi semakin tua. Kita pun begitu. Apakah masih ada waktu bagiku untuk lebih dahulu pergi sejauh-jauhnya? Apakah masih cukup bagiku untuk melanjutkan hidup dan cita-cita? Aku tidak tahu Tan, aku hanya tahu masa lalu. Aku tidak tahu kemana lagi setelah ini, kecuali mengingat hari-hariku bersamamu, dalam dunia yang sepi, dan akan terus membekas di relung jiwa, tulang dan darahku.
Salam hangat,
Di bawah Purnama, 8 September 2014
