Oleh Mariana Amiruddin
Hubungan
antar manusia saat ini ternyata hanya ditentukan oleh ekonomi dan kelas. Tidak
ada lagi yang murni didasarkan oleh ideologi apapun. Kalau sudah begini, tanpa
ideologi, membicarakan kemanusiaan menjadi manipulatif. Kadang, orang-orang merasa kekurangan bukan karena tidak punya apa-apa melainkan karena serakah dan ingin tidak
kalah dengan orang lain.
Kadang,
saya tidak percaya dengan janji dan kesepakatan. Karena kadang, kesepakatan dan
janji itu bisa diobrak-abrik di tengah jalan. Kadang, saya tidak percaya
komitmen, ketaatan dan kesetiaan, karena kesetiaan dianggap terlalu ideal. Dan
lagipula, orang-orang sudah tidak tahu lagi apa itu ideal, kecuali soal berapa
banyak uang yang akan kau berikan.
Idealisme
dianggap hanya urusan orang-orang yang masa depannya miskin. Sementara, tanpa
idealisme, kita hanya bisa memelihara kemiskinan dan kebodohan.
Orang-orang
yang mengaku anti feodalisme dan anti kelas seidealnya pandangan saya adalah bagi yang kaya tidak memamerkan kekayaannya, bagi
yang miskin tidak memanipulasi kemiskinannya. Apa yang disebut
"mapan" ternyata adalah, seseorang yang tidak mau berubah, tak mau
bergeser dari kekayaan dan ketenarannya, atau merasa aman berpijak pada
kemiskinan dan kebodohannya. Keduanya saling bekerjasama dengan sangat solid!
Idealisme adalah musuh bersama mereka!
Seorang
janda berpenghasilan tidak tetap dengan empat anak yang harus dia sekolahkan dan kasih makan,
masih juga dihutangi urusan seorang lelaki lajang yang bisa pergi bebas kemana
dia mau, dengan alasan kemiskinan. Ini sungguh sangat tidak adil.
Terlalu
banyak orang yang kagum dengan Mahatma Gandhi, Bunda Theresa, bahkan Tan
Malaka. Tapi saya pikir hampir tidak ada yang menjadikan mereka sebagai pedoman
hidup. Lagipula, untuk menjadi mereka, tentulah tidak seenak hidup yang kita
rasakan sekarang. Takkan rela hidup enak kita ini direnggut oleh pedoman hidup
yang telah tokoh-tokoh itu pertaruhkan.
Seorang perempuan calon
legislatif bercerita kepada saya, ketika melakukan kampanye ke ibu-ibu
pengajian yang menurutnya adalah ideal untuk melakukan penyadaran politik,
ternyata mengalami hal yang tidak ia inginkan, mereka bertanya kepada calon
legilslatif itu: "kamu berani bayar berapa?". Soal transaksi politik
yang kita gelisahkan ini ternyata tidak semata-mata penyakit partai politik,
tetapi rakyat yang ikut bermain pasar transaksi politik itu sendiri, dengan
menaikkan tarif suara masing-masing. Alhasil, partai yang paling banyak modal
tentu akan dimenangkan. Dan penguasaan terhadap modal serta sumber-sumber uang
itu, tentulah kita tahu di tangan siapa. Yaitu mantan-mantan Orde Baru yang
punya banyak waktu untuk mengumpulkan harta kekayaannya, investasi di sana-sini
yang tidak terjangkau dan tak tersentuh.
Jadi, kalau kita bicara
rakyat yang berteriak "WANI PIRO" ini semacam kekuatan dari bawah
yang sangat berbahaya. Saya lantas berpikir, reformasi ini milik siapa? Lalu
saya menjawab, milik mereka yang punya modal dan kekuasan. Selanjutnya, saya
juga berpikir tentang begitu banyak premanisme di negeri ini, jawaban sementara
adalah mereka lebih senang "disuap" daripada bekerja keras untuk
menjadi manusia yang mandiri. Mereka memang dimiskinkan, tetapi mereka mulai
merasa aman dengan kemiskinannya, dengan demikian mereka bisa dapat uang dari
belas kasih dan mengemis, memalak, mengancam. Lalu saya buka lagi pemikiran
Edward Said dan Foucault, bahwa kuasa itu ibarat jaring laba-laba, penindas dan
yang ditindas berlaku lintas kelas. Bahkan kita menindas diri kita sendiri,
tidak menghargai diri kita sendiri. Kekayaan bumi kita dijual, masuk kantong
sendiri. Anak-anak perawan mereka jual, masuk ke kantung orang tua anak itu
sendiri.
Taman Ismail Marzuki
Jakarta, 27 November 2013