Kamis, 28 November 2013

Politik Belas Kasihan

Oleh Mariana Amiruddin

Hubungan antar manusia saat ini ternyata hanya ditentukan oleh ekonomi dan kelas. Tidak ada lagi yang murni didasarkan oleh ideologi apapun. Kalau sudah begini, tanpa ideologi, membicarakan kemanusiaan menjadi manipulatif. Kadang, orang-orang merasa kekurangan bukan karena tidak punya apa-apa melainkan karena serakah dan ingin tidak kalah dengan orang lain.

Kadang, saya tidak percaya dengan janji dan kesepakatan. Karena kadang, kesepakatan dan janji itu bisa diobrak-abrik di tengah jalan. Kadang, saya tidak percaya komitmen, ketaatan dan kesetiaan, karena kesetiaan dianggap terlalu ideal. Dan lagipula, orang-orang sudah tidak tahu lagi apa itu ideal, kecuali soal berapa banyak uang yang akan kau berikan.

Idealisme dianggap hanya urusan orang-orang yang masa depannya miskin. Sementara, tanpa idealisme, kita hanya bisa memelihara kemiskinan dan kebodohan.

Orang-orang yang mengaku anti feodalisme dan anti kelas seidealnya pandangan saya adalah bagi yang kaya tidak memamerkan kekayaannya, bagi yang miskin tidak memanipulasi kemiskinannya. Apa yang disebut "mapan" ternyata adalah, seseorang yang tidak mau berubah, tak mau bergeser dari kekayaan dan ketenarannya, atau merasa aman berpijak pada kemiskinan dan kebodohannya. Keduanya saling bekerjasama dengan sangat solid! Idealisme adalah musuh bersama mereka!

Seorang janda berpenghasilan tidak tetap dengan empat anak yang harus dia sekolahkan dan kasih makan, masih juga dihutangi urusan seorang lelaki lajang yang bisa pergi bebas kemana dia mau, dengan alasan kemiskinan. Ini sungguh sangat tidak adil.

Terlalu banyak orang yang kagum dengan Mahatma Gandhi, Bunda Theresa, bahkan Tan Malaka. Tapi saya pikir hampir tidak ada yang menjadikan mereka sebagai pedoman hidup. Lagipula, untuk menjadi mereka, tentulah tidak seenak hidup yang kita rasakan sekarang. Takkan rela hidup enak kita ini direnggut oleh pedoman hidup yang telah tokoh-tokoh itu pertaruhkan.

Seorang perempuan calon legislatif bercerita kepada saya, ketika melakukan kampanye ke ibu-ibu pengajian yang menurutnya adalah ideal untuk melakukan penyadaran politik, ternyata mengalami hal yang tidak ia inginkan, mereka bertanya kepada calon legilslatif itu: "kamu berani bayar berapa?". Soal transaksi politik yang kita gelisahkan ini ternyata tidak semata-mata penyakit partai politik, tetapi rakyat yang ikut bermain pasar transaksi politik itu sendiri, dengan menaikkan tarif suara masing-masing. Alhasil, partai yang paling banyak modal tentu akan dimenangkan. Dan penguasaan terhadap modal serta sumber-sumber uang itu, tentulah kita tahu di tangan siapa. Yaitu mantan-mantan Orde Baru yang punya banyak waktu untuk mengumpulkan harta kekayaannya, investasi di sana-sini yang tidak terjangkau dan tak tersentuh.

Jadi, kalau kita bicara rakyat yang berteriak "WANI PIRO" ini semacam kekuatan dari bawah yang sangat berbahaya. Saya lantas berpikir, reformasi ini milik siapa? Lalu saya menjawab, milik mereka yang punya modal dan kekuasan. Selanjutnya, saya juga berpikir tentang begitu banyak premanisme di negeri ini, jawaban sementara adalah mereka lebih senang "disuap" daripada bekerja keras untuk menjadi manusia yang mandiri. Mereka memang dimiskinkan, tetapi mereka mulai merasa aman dengan kemiskinannya, dengan demikian mereka bisa dapat uang dari belas kasih dan mengemis, memalak, mengancam. Lalu saya buka lagi pemikiran Edward Said dan Foucault, bahwa kuasa itu ibarat jaring laba-laba, penindas dan yang ditindas berlaku lintas kelas. Bahkan kita menindas diri kita sendiri, tidak menghargai diri kita sendiri. Kekayaan bumi kita dijual, masuk kantong sendiri. Anak-anak perawan mereka jual, masuk ke kantung orang tua anak itu sendiri.


Taman Ismail Marzuki Jakarta, 27 November 2013