Sabtu, 18 Oktober 2014

Venus



Oleh: Mariana Amiruddin

Kepada kegelapan, teman lamaku. Aku ingin bicara padamu. Aku telah terlalu sering melihat cahaya dimana-mana yang menyala-nyala silau mengacaukan mataku. Aku melihat saat-saat silau itu, begitu banyak orang, kira-kira sepuluh ribu orang, mungkin lebih, mereka berbicara tanpa bicara, mereka mendengar tanpa mendengarkan, mereka begitu takut pada keheningan. Keheningan bagi mereka bagai kanker yang diam-diam tumbuh menjalar. Dan padamu kegelapan, aku ingin bicara, bagi mereka, kata-kataku hanya akan seperti tetesan hujan yang jatuh menggema di dalam sumur. Dan orang-orang itu sibuk membungkuk dan berdoa pada dewa keramaian dan lampu-lampu neon yang mereka buat. Ada yang terlupa dari segala masalah di luar sana. Yaitu tentang diri kita sendiri.

Aku mendengarkan sebuah lagu The Sound of Silence. Lalu aku mengubah syairnya sedikit, agar semakin melekat dalam setiap hidup yang aku maknai. Ada yang lama hilang dalam hidupku, yaitu keheningan. Tanpa keheningan, aku tidak bisa benar-benar mendengarkan, aku tak pernah benar-benar bisa melihat, aku tak pernah bisa benar-benar merasakan. Hampir satu tahun ini hidupku kaya oleh keheningan. Aku memeluknya erat sekali, sebagaimana pada kegelapan. Aku bisa merasakan suara jam yang berdetak, sebagaimana jantungku yang detaknya sering mendahului waktu. Aku bisa mendongak ke langit sambil duduk menghisap pipa, dan mengerti bahwa kemarau akan berakhir sebentar lagi. Aku bisa merasakan angin panas di siang hari saat mengambil jemuran pakaianku yang lekas kering, dan aku terdiam sebentar untuk merasakan panas matahari yang tajam. Aku bisa melihat garis-garis tembok yang retak, dan pasir-pasirnya yang jatuh pelan-pelan, dan dicelahnya tumbuh daun-daun pakis. Dan kayu-kayu pintu yang kopong dimakan rayap, serta jendela yang tidak bisa ditutup, dimana rumahku telah mulai termakan usia dan dibangun oleh pengembang yang korup. Aku bisa melihat semut hitam berjejer menuju dapurku, dan daun-daun pohon mangga yang tumbuh mengikuti arah matahari diantara tembok tetangga yang berlomba-lomba meninggi. Aku bisa mencium bau tanah dan rumput yang kusiram di puncak kemarau.

Keheningan membuat aku bisa berkomunikasi dengan selain manusia. Pada setetes air yang jatuh dari kran kamar mandiku. Pada lumut-lumut yang menyelimuti kakusku. Pada tengik bau deterjen yang terlalu lama merendam kaus kaki, dan pada obat-obat kimia pembersih lantai yang mengelupas kulit-kulit jariku. Kerinduan pada memaknai peristiwa-peristiwa kecil disekelilingku, membangun memori tentang siapa diriku dan pada jalan hidup yang seperti apa. Segalanya bermunculan kembali seperti mimpi yang dilupakan, tentang kebiasaan-kebiasaanku sejak kecil menutup pintu kamar dan duduk tenang di atas meja sambil menulis. Mengingatkanku pada hewan-hewan yang sering aku ajak bermain sepulang sekolah karena rumah keluargaku di tengah hutan dengan sangat sedikit tetangga. Juga pada kematian demi kematian mahluk hidup disekitarku, pada kucingku yang diracun, pada anjingku yang dibunuh. Aku pernah ingin mati untuk menyusul mereka. Aku ingin menjemput mereka untuk kembali pada kehidupan, untuk kembali menjadi teman-temanku, atau apabila kematian bisa membuat kita bersama lagi. Aku melihat kematian dengan sangat positif, seperti dongeng tentang alam yang sama sekali berbeda, tentang langit dan tanah yang tak sama.

Masa kecil itu telah mengembalikanku pada keheningan. Pada yang lahir, yang hidup dan yang mati. Pada burung hantu dan komet yang jatuh dan hampir setiap menjelang subuh aku naik ke atas atap hanya untuk memperhatikan Venus. Aku melihat Venus seperti melihat diriku. Planet yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari permukaan bumi, planet tercerah di langit malam. Venus disebut sebagai planet inferior, seperti aku. Dan kecerahan maksimal yang dihasilkan planet ini dapat dilihat segera sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam, sehingga sering disebut Bintang Fajar atau Bintang Senja. Venus adalah teman kecilku, sebagaimana bulan dan bintang, ia datang saat manusia tertidur lelap.  Ia datang saat hening, saat dunia diselimuti kegelapan. Di atas atap, aku juga sering tak sengaja menemui mahluk lain bertubuh hitam dan besar, melompat lincah ke awan dan menghilang sambil melirik ke arahku dengan mata seperti kelereng. Sejak kecil aku tidak pernah takut dengan kegelapan, keheningan, atau mahluk seperti manusia yang belum bisa aku katakan jenisnya, apakah dia hantu, jin, setan, atau mahluk yang memang tidak pernah kita kenal. Aku selalu rindu pada mereka.

Waktu aku menjadi anggota pramuka di sekolah dasar, kami berkemah untuk menguji mental, semua anak-anak ditutup matanya pukul 2 dini hari sambil berjalan kaki ke arah kuburan, tepat pukul 4 pagi kami tiba. Dalam perjalanan gelap itu, aku senang sekali sementara teman-temanku ketakutan sampai terkencing-kencing. Saat tutup mata kami dibuka dan diperintah untuk menoleh ke belakang, semua teman menjerit histeris, hanya aku yang dengan tenang menoleh kebelakang, aku melihat kuburan yang indah, yang berdiri tenang di atas tanah. AKu melihat kilat-kilat cahaya yang mendatangiku lalu menjauhiku, aku tersenyum lebar. Aku dihampiri oleh pembina, dan dari mata mereka seperti ingin mengatakan aku anak yang aneh, mereka menginginkan aku takut seperti anak-anak lain. Mereka menelitiku dengan cermat, dan aku tidak mengerti setelah itu banyak yang memandangku dan kemudian segera menjauh pelan-pelan.

Ketika aku duduk di kelas nol kecil (Taman Kanak-Kanak), aku tidak pernah bicara sama sekali. Bukan karena aku bisu atau tidak bisa mendengar. Guruku meminta aku menganga dan mengeluarkan lidahku. Tenggorokanku diperiksa, begitu juga telingaku, seolah-olah mereka dokter spesialis THT. Menurut guru, aku bukan tuna rungu, tapi mengapa diam sekali dan tidak mau bicara? “Rina ayo bicara!” Dulu aku dipanggil Rina. Aku tetap diam, hanya mataku yang bicara. Aku digendong guru, tetapi aku menjerit-jerit marah, kucakar lengan mereka, dan aku langsung dilaporkan ke orang tua. Ibuku dipanggil, dan Ibu mengatakan bahwa di rumah aku bicara sebagaimana anak-anak lain. Tapi ibuku tidak tahu bahwa ketika keluar rumah, aku terbiasa memperhatikan sekeliling dan menganggap orang lain disekitarku adalah “yang jauh disana”, tetapi sesungguhnya aku sangat ingat apa saja yang mereka lakukan dan katakan. Aku bagai kamera berjalan dan merekam setiap peristiwa, dan menyimpannya dalam memori hingga dewasa. Aku masih ingat kapan aku berhenti menetek ibuku. AKu masih ingat kapan aku dicelupkan ke kolam renang sedalam 3 meter dan akhirnya aku bisa mengambang berenang senang. Bahkan aku masih ingat saat masih sangat bayi, aku bisa tersenyum sekali-sekali dan marah sering sekali apabila ada yang mencoba mencubit dan menciumku sewenang-wenang.
The Odd Life of Timothy Green, kembali aku memilih sebuah film yang menjadikan seorang anak kecil menjadi tokoh sentral, yang membuat aku teringat masa kecilku, bagaimana caraku hidup di dunia. Aku bagai Timotius yang tidak dilahirkan dan tidak pula diadopsi oleh pasangan suami istri yang tak memiliki anak. Suami istri itu mencoba segalanya untuk hamil, dan sampai akhirnya putus asa, mereka membuka sebotol anggur merah dan membuat daftar hal-hal yang mereka inginkan tentang anak yang sempurna. Semua dicatat dan mereka masukkan dalam kotak dan menguburkannya di kebun mereka, dan saat hujan badai datang, datanglah seorang anak lelaki yang dipenuhi tanah dan daun yang tumbuh di kakinya. Anak yang pendiam dan dari mulutnya selalu keluar kata-kata yang bijak dan selalu ingin menyenangkan orang-orang disekelilingnya. Tetapi, anak yang bijak menjadi anak yang aneh. Tidak bisa bersosialisasi dengan teman-temannya, tidak bisa punya ego seperti kebanyakan anak-anak. Timothy terlalu peduli dengan orang lain, atau memilih mengurung dirinya, berjam-jam di hutan bermain daun bersama teman yang baginya cocok, untuk menciptakan “dunia yang lain” dari dunia anak-anak umumnya.

Aku membayangkan masa kecil seperti dia, anak yang lahir dan tumbuh di hutan, tempat pohon-pohon tinggi dan daun-daun merah berguguran terkena angin. Ibuku pernah bercerita bahwa sebetulnya, aku adalah anak yang lahir akibat kontrasepsi gagal. Aku bukan kelahiran yang diinginkan, sebab Ibuku sudah terlalu sering melahirkan. Itu bukan cerita yang sedih, bagi aku itu sangat biasa. Tetapi begitu aku lahir, mereka tidak tahan melihat pipiku yang tembem, kulit yang putih, rambut yang ikal dan mataku yang sipit. Tapi, seperti Timothy, aku tumbuh sendirian, dengan mata kameraku, dengan diam di mulutku, dan aku hanya mendengarkan dan merekam segalanya.

Lalu aku tumbuh di kota besar, yang setiap berangkat sekolah aku hampir mati terjepit bis kota, atau aku melompat nekat dari Metro Mini karena tak mau berhenti. Aku melompat dan aku tahu akan risiko mati, entah patah tangan atau gegar otak. Aku tahu. Dan aku melompat. Aku terseret di aspal, dan saat berhenti tubuhku di atas aspal, aku bangkit. Aku tak pernah menangis dengan situasi itu, aku jatuh dan bangun, langsung berjalan dalam diam dengan wajah tertunduk. Orang-orang berteriak memanggilku karena darah dari lengan dan kakiku sudah berantakan di aspal. Aku terus berjalan sampai aku merasakan lemas di lututku dan aku memegang tiang-tiang listrik untuk menahan tubuhku. Aku terus diam dan berjalan tenang, dan sampai rumah, aku roboh di atas tempat tidurku. Aku terlatih menahan sakit, bukan karena aku kuat, tetapi waktu itu aku tidak tahu apa itu menderita. Ternyata, karena waktu itu aku tidak tahu apa itu penderitaan. Aku hanya tahu aku lahir begitu saja, di atas panggung bernama dunia. Dan jalan hidupku bukan di tengah keramaian, yang dalam ramai sekalipun, aku dalam diam namun sangat memperhatikan, dalam jarak yang aku ciptakan, meski sedemikian kita bisa berdekatan.

Saat dewasa, aku bahkan mencatat sekian banyak kucing tua dan kucing sakit yang diam-diam pergi menjauh beratus meter jaraknya, untuk menemukan tanah dingin dan tersembunyi agar siapapun tidak  akan menemukan kematiannya. Sejak itu aku melihat, bagi mereka, kematian adalah jalan sepi yang paling sempurna. Akupun menanti dengan sangat lekas. Sebab ketika dewasa, terlalu semakin mengenal ketidakadilan, kemunafikan, pengkhianatan, kepura-puraan, penderitaan akibat harapan yang terlalu besar dan sesuatu yang tidak bisa diatasi oleh diri kita sendiri, karena terlalu banyak keinginan, dan hidup yang aku rasakan adalah saat kita bangun tidur hanya menemukan tangisan, dan saat ingin tidur, hanya menemukan kebosanan. Dan aku diselamatkan oleh Venus yang muncul saat aku termangu duduk di halaman belakang, di usiaku yang paling puncak memahami tentang kedewasaan, aku masih melihatnya menggantung di langit. Menemaniku diwaktu-waktu yang aku inginkan, aku dibangunkan saat menjelang subuh untuk menghindar mimpi buruk. Mimpi-mimpi buruk yang menggambarkan keadaan terang menderang, kematian pada orang-orang yang hidup atau hidup dalam keadaan mati, dalam kelelahan tuntutan dunia. Aku menyaksikan banyak jiwa dalam mimpi-mimpi yang menerkamku setiap malam, betapa banyak kesedihan yang mereka tutupi, mereka tutupi dengan hiruk pikuk, riuh rendah, gaduh, ramai. Mereka takut akan keheningan, sebab itu membuatnya mengingat-ingat kembali kesedihan yang dipaksa untuk pergi dari memorinya. Aku, aku adalah pengingat segalanya, segala yang kelam, dan aku, aku bukan orang yang bisa mengingat apa yang disebut dengan kesenangan, dan Venus mengatakan hal yang sama, pada setiap menjelang subuh.


Tambun, 19 Oktober 2014