Oleh: Mariana Amiruddin
Kepada kegelapan,
teman lamaku. Aku ingin bicara padamu. Aku telah terlalu sering melihat
cahaya dimana-mana yang menyala-nyala silau
mengacaukan mataku. Aku melihat saat-saat silau itu, begitu banyak orang,
kira-kira sepuluh ribu orang, mungkin lebih,
mereka berbicara tanpa bicara, mereka
mendengar tanpa mendengarkan, mereka begitu takut pada keheningan. Keheningan bagi mereka bagai kanker yang diam-diam tumbuh menjalar. Dan
padamu kegelapan, aku ingin bicara, bagi mereka, kata-kataku
hanya akan seperti tetesan hujan yang jatuh menggema di dalam sumur. Dan orang-orang itu
sibuk membungkuk dan berdoa pada dewa keramaian dan lampu-lampu neon yang
mereka buat. Ada yang terlupa dari segala masalah di luar sana. Yaitu
tentang diri kita sendiri.
Aku mendengarkan
sebuah lagu The Sound of Silence. Lalu
aku mengubah syairnya sedikit, agar semakin melekat dalam setiap hidup yang aku
maknai. Ada yang lama hilang dalam hidupku, yaitu keheningan. Tanpa keheningan,
aku tidak bisa benar-benar mendengarkan, aku tak pernah benar-benar bisa
melihat, aku tak pernah bisa benar-benar merasakan. Hampir satu tahun ini hidupku
kaya oleh keheningan. Aku memeluknya erat sekali, sebagaimana pada kegelapan. Aku
bisa merasakan suara jam yang berdetak, sebagaimana jantungku yang detaknya sering
mendahului waktu. Aku bisa mendongak ke langit sambil duduk menghisap pipa, dan
mengerti bahwa kemarau akan berakhir sebentar lagi. Aku bisa merasakan angin panas
di siang hari saat mengambil jemuran pakaianku yang lekas kering, dan aku
terdiam sebentar untuk merasakan panas matahari yang tajam. Aku bisa melihat
garis-garis tembok yang retak, dan pasir-pasirnya yang jatuh pelan-pelan, dan
dicelahnya tumbuh daun-daun pakis. Dan kayu-kayu pintu yang kopong dimakan
rayap, serta jendela yang tidak bisa ditutup, dimana rumahku telah mulai
termakan usia dan dibangun oleh pengembang yang korup. Aku bisa melihat semut hitam
berjejer menuju dapurku, dan daun-daun pohon mangga yang tumbuh mengikuti arah
matahari diantara tembok tetangga yang berlomba-lomba meninggi. Aku bisa
mencium bau tanah dan rumput yang kusiram di puncak kemarau.
Keheningan membuat aku
bisa berkomunikasi dengan selain manusia. Pada setetes air yang jatuh dari kran
kamar mandiku. Pada lumut-lumut yang menyelimuti kakusku. Pada tengik bau
deterjen yang terlalu lama merendam kaus kaki, dan pada obat-obat kimia
pembersih lantai yang mengelupas kulit-kulit jariku. Kerinduan pada memaknai
peristiwa-peristiwa kecil disekelilingku, membangun memori tentang siapa diriku
dan pada jalan hidup yang seperti apa. Segalanya bermunculan kembali seperti
mimpi yang dilupakan, tentang kebiasaan-kebiasaanku sejak kecil menutup pintu
kamar dan duduk tenang di atas meja sambil menulis. Mengingatkanku pada
hewan-hewan yang sering aku ajak bermain sepulang sekolah karena rumah keluargaku
di tengah hutan dengan sangat sedikit tetangga. Juga pada kematian demi
kematian mahluk hidup disekitarku, pada kucingku yang diracun, pada anjingku
yang dibunuh. Aku pernah ingin mati untuk menyusul mereka. Aku ingin menjemput
mereka untuk kembali pada kehidupan, untuk kembali menjadi teman-temanku, atau
apabila kematian bisa membuat kita bersama lagi. Aku melihat kematian dengan
sangat positif, seperti dongeng tentang alam yang sama sekali berbeda, tentang
langit dan tanah yang tak sama.
Masa kecil itu telah
mengembalikanku pada keheningan. Pada yang lahir, yang hidup dan yang mati. Pada
burung hantu dan komet yang jatuh dan hampir setiap menjelang subuh aku naik ke
atas atap hanya untuk memperhatikan Venus. Aku melihat Venus seperti melihat
diriku. Planet yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari permukaan bumi,
planet tercerah di langit malam. Venus disebut sebagai planet inferior, seperti
aku. Dan kecerahan maksimal yang dihasilkan planet ini dapat dilihat segera
sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam, sehingga sering disebut
Bintang Fajar atau Bintang Senja. Venus adalah teman kecilku, sebagaimana bulan
dan bintang, ia datang saat manusia tertidur lelap. Ia datang saat hening, saat dunia diselimuti kegelapan.
Di atas atap, aku juga sering tak sengaja menemui mahluk lain bertubuh hitam
dan besar, melompat lincah ke awan dan menghilang sambil melirik ke arahku dengan
mata seperti kelereng. Sejak kecil aku tidak pernah takut dengan kegelapan,
keheningan, atau mahluk seperti manusia yang belum bisa aku katakan jenisnya,
apakah dia hantu, jin, setan, atau mahluk yang memang tidak pernah kita kenal.
Aku selalu rindu pada mereka.
Waktu aku menjadi
anggota pramuka di sekolah dasar, kami berkemah untuk menguji mental, semua
anak-anak ditutup matanya pukul 2 dini hari sambil berjalan kaki ke arah
kuburan, tepat pukul 4 pagi kami tiba. Dalam perjalanan gelap itu, aku senang
sekali sementara teman-temanku ketakutan sampai terkencing-kencing. Saat tutup
mata kami dibuka dan diperintah untuk menoleh ke belakang, semua teman menjerit
histeris, hanya aku yang dengan tenang menoleh kebelakang, aku melihat kuburan
yang indah, yang berdiri tenang di atas tanah. AKu melihat kilat-kilat cahaya
yang mendatangiku lalu menjauhiku, aku tersenyum lebar. Aku dihampiri oleh
pembina, dan dari mata mereka seperti ingin mengatakan aku anak yang aneh,
mereka menginginkan aku takut seperti anak-anak lain. Mereka menelitiku dengan
cermat, dan aku tidak mengerti setelah itu banyak yang memandangku dan kemudian
segera menjauh pelan-pelan.
Ketika aku duduk di
kelas nol kecil (Taman Kanak-Kanak), aku tidak pernah bicara sama sekali. Bukan
karena aku bisu atau tidak bisa mendengar. Guruku meminta aku menganga dan
mengeluarkan lidahku. Tenggorokanku diperiksa, begitu juga telingaku, seolah-olah
mereka dokter spesialis THT. Menurut guru, aku bukan tuna rungu, tapi mengapa
diam sekali dan tidak mau bicara? “Rina ayo bicara!” Dulu aku dipanggil Rina. Aku
tetap diam, hanya mataku yang bicara. Aku digendong guru, tetapi aku
menjerit-jerit marah, kucakar lengan mereka, dan aku langsung dilaporkan ke
orang tua. Ibuku dipanggil, dan Ibu mengatakan bahwa di rumah aku bicara
sebagaimana anak-anak lain. Tapi ibuku tidak tahu bahwa ketika keluar rumah, aku
terbiasa memperhatikan sekeliling dan menganggap orang lain disekitarku adalah “yang
jauh disana”, tetapi sesungguhnya aku sangat ingat apa saja yang mereka lakukan
dan katakan. Aku bagai kamera berjalan dan merekam setiap peristiwa, dan
menyimpannya dalam memori hingga dewasa. Aku masih ingat kapan aku berhenti
menetek ibuku. AKu masih ingat kapan aku dicelupkan ke kolam renang sedalam 3
meter dan akhirnya aku bisa mengambang berenang senang. Bahkan aku masih ingat
saat masih sangat bayi, aku bisa tersenyum sekali-sekali dan marah sering
sekali apabila ada yang mencoba mencubit dan menciumku sewenang-wenang.
The Odd Life of Timothy Green, kembali aku memilih sebuah film yang
menjadikan seorang anak kecil menjadi tokoh sentral, yang membuat aku teringat
masa kecilku, bagaimana caraku hidup di dunia. Aku bagai Timotius yang tidak
dilahirkan dan tidak pula diadopsi oleh pasangan suami istri yang tak memiliki
anak. Suami istri itu mencoba segalanya untuk hamil, dan sampai akhirnya putus asa,
mereka membuka sebotol anggur merah dan membuat daftar hal-hal yang mereka
inginkan tentang anak yang sempurna. Semua dicatat dan mereka masukkan dalam
kotak dan menguburkannya di kebun mereka, dan saat hujan badai datang,
datanglah seorang anak lelaki yang dipenuhi tanah dan daun yang tumbuh di
kakinya. Anak yang pendiam dan dari mulutnya selalu keluar kata-kata yang bijak
dan selalu ingin menyenangkan orang-orang disekelilingnya. Tetapi, anak yang
bijak menjadi anak yang aneh. Tidak bisa bersosialisasi dengan teman-temannya,
tidak bisa punya ego seperti kebanyakan anak-anak. Timothy terlalu peduli
dengan orang lain, atau memilih mengurung dirinya, berjam-jam di hutan bermain
daun bersama teman yang baginya cocok, untuk menciptakan “dunia yang lain” dari
dunia anak-anak umumnya.
Aku membayangkan masa
kecil seperti dia, anak yang lahir dan tumbuh di hutan, tempat pohon-pohon
tinggi dan daun-daun merah berguguran terkena angin. Ibuku pernah bercerita
bahwa sebetulnya, aku adalah anak yang lahir akibat kontrasepsi gagal. Aku bukan
kelahiran yang diinginkan, sebab Ibuku sudah terlalu sering melahirkan. Itu
bukan cerita yang sedih, bagi aku itu sangat biasa. Tetapi begitu aku lahir,
mereka tidak tahan melihat pipiku yang tembem, kulit yang putih, rambut yang
ikal dan mataku yang sipit. Tapi, seperti Timothy, aku tumbuh sendirian, dengan
mata kameraku, dengan diam di mulutku, dan aku hanya mendengarkan dan merekam
segalanya.
Lalu aku tumbuh di
kota besar, yang setiap berangkat sekolah aku hampir mati terjepit bis kota,
atau aku melompat nekat dari Metro Mini karena tak mau berhenti. Aku melompat
dan aku tahu akan risiko mati, entah patah tangan atau gegar otak. Aku tahu.
Dan aku melompat. Aku terseret di aspal, dan saat berhenti tubuhku di atas
aspal, aku bangkit. Aku tak pernah menangis dengan situasi itu, aku jatuh dan
bangun, langsung berjalan dalam diam dengan wajah tertunduk. Orang-orang
berteriak memanggilku karena darah dari lengan dan kakiku sudah berantakan di
aspal. Aku terus berjalan sampai aku merasakan lemas di lututku dan aku memegang
tiang-tiang listrik untuk menahan tubuhku. Aku terus diam dan berjalan tenang,
dan sampai rumah, aku roboh di atas tempat tidurku. Aku terlatih menahan sakit,
bukan karena aku kuat, tetapi waktu itu aku tidak tahu apa itu menderita.
Ternyata, karena waktu itu aku tidak tahu apa itu penderitaan. Aku hanya tahu
aku lahir begitu saja, di atas panggung bernama dunia. Dan jalan hidupku bukan di
tengah keramaian, yang dalam ramai sekalipun, aku dalam diam namun sangat
memperhatikan, dalam jarak yang aku ciptakan, meski sedemikian kita bisa
berdekatan.
Saat dewasa, aku
bahkan mencatat sekian banyak kucing tua dan kucing sakit yang diam-diam pergi
menjauh beratus meter jaraknya, untuk menemukan tanah dingin dan tersembunyi
agar siapapun tidak akan menemukan
kematiannya. Sejak itu aku melihat, bagi mereka, kematian adalah jalan sepi
yang paling sempurna. Akupun menanti dengan sangat lekas. Sebab ketika dewasa, terlalu
semakin mengenal ketidakadilan, kemunafikan, pengkhianatan, kepura-puraan,
penderitaan akibat harapan yang terlalu besar dan sesuatu yang tidak bisa
diatasi oleh diri kita sendiri, karena terlalu banyak keinginan, dan hidup yang
aku rasakan adalah saat kita bangun tidur hanya menemukan tangisan, dan saat ingin
tidur, hanya menemukan kebosanan. Dan aku diselamatkan oleh Venus yang muncul
saat aku termangu duduk di halaman belakang, di usiaku yang paling puncak
memahami tentang kedewasaan, aku masih melihatnya menggantung di langit. Menemaniku
diwaktu-waktu yang aku inginkan, aku dibangunkan saat menjelang subuh untuk
menghindar mimpi buruk. Mimpi-mimpi buruk yang menggambarkan keadaan terang
menderang, kematian pada orang-orang yang hidup atau hidup dalam keadaan mati, dalam
kelelahan tuntutan dunia. Aku menyaksikan banyak jiwa dalam mimpi-mimpi yang
menerkamku setiap malam, betapa banyak kesedihan yang mereka tutupi, mereka
tutupi dengan hiruk pikuk, riuh rendah, gaduh, ramai. Mereka takut akan
keheningan, sebab itu membuatnya mengingat-ingat kembali kesedihan yang dipaksa
untuk pergi dari memorinya. Aku, aku adalah pengingat segalanya, segala yang
kelam, dan aku, aku bukan orang yang bisa mengingat apa yang disebut dengan kesenangan,
dan Venus mengatakan hal yang sama, pada setiap menjelang subuh.
Tambun, 19 Oktober
2014