Rabu, 12 Februari 2014

KELAHIRAN (Cuplikan Sebuah Teater Monolog)



NARASI

Kenyataan bahwa setiap kelahiran tidak selalu hadir sebagai kebahagiaan. Tapi apakah kebahagiaan itu? Siapakah yang punya otoritas mengartikan kebahagiaan? Kebahagiaan atas kelahiran adalah mitos. Mitos dalam makna yang tunggal. Ia berakar dalam norma-norma masyarakat. Bagi yang tidak diinginkan, KELAHIRAN diterjemahkan menjadi sangat menyakitkan. Semua orang menuntut kelahiran yang sempurna, yang lengkap dan kemudian dinamakan NORMAL. Yang harmonis bernama keluarga dan segala fasilitasnya. Kelahiran adalah wilayah yang harus aman. Rumah yang indah, bapak ibu yang lengkap, sehidup-semati, dan kakak beradik yang bermain-main di halaman.

Bukankah setiap kita bisa menerjemahkan kebahagiaan dengan cara lain? Bolehkah kebahagiaan bukan dalam satu pengertian melainkan dalam banyak pengertian?
Kelahiranku bagai telur yang terbelah menjadi dua, pecah terbelah-belah jatuh ke bumi, antah berantah di sebuah arena, arena yang mereka namai kehidupan. Di luar mitos kebahagiaan itu, norma-norma itu, ada kenyataan di depan mata, dalam gelombang hidup kita, bahwa seseorang lahir ada yang DIINGINKAN dan ada yang TIDAK DIINGINKAN. AKU barangkali adalah yang tidak diinginkan. Bukan karena kelahiran itu sendiri, melainkan oleh apa yang disebut kesempurnaan.

Ketika makna kematian dan kehidupan sudah terlalu banyak disuarakan dalam teks-teks suci dan wacana soal kebajikan, kebahagiaan, kesedihan, bahkan soal dosa, pahala dan petaka, manusia kehilangan pijak bagaimana  kelahiran itu hadir senyatanya, seragamnya, seberbedanya, seuniknya. Bagaimana kelahiran adalah awal terbentuknya gudang jiwa kita yang mengajukan pertanyaan dasar: bila aku dilahirkan, apakah yang disebut kehidupan dan kematian? KELAHIRAN Adalah pertanyaan dasar manusia yang tak pernah menjadi bahan perbincangan yang sejujur-jujurnya.

***
Narasi ini adalah kegelisahan dan pergulatan hidup seorang manusia sepanjang hidupnya, ketika kelahiran tidak dapat ia maknai bagaimana sesungguhnya, ketika ayah dan ibu terperangkap dalam konfrontasi politik militer antar rezim yang hanya menciptakan kekejaman, dan manusia ini lahir di tengah-tengah peristiwa itu. MANUSIA ini bukanlah sebagaimana manusia umumnya, bukan manusia yang mereka anggap sempurna. MANUSIA ini di luar mitos-mitos kebahagiaan yang membohongi kelahiran sesungguhnya.

ILUSTRASI

Sebutir telur besar  tenggelam sendirian dalam gelombang kain besar yang lentur hampir memenuhi panggung. Seorang manusia masuk ke panggung dengan rasa sunyi, menari dalam keheningan, dengan sangat lamban, nyaris tak terdengar, dalam musik samar-samar, dan beberapa patung terpancang di bibir panggung, menyaksikan sang penari mulai lirih melantun. Telur pelan-pelan bergerak menembus kain, sampai akhirnya pecah muncul berantakan menembus kain. Sang telur terbelah menganga, seolah menunjukkan eksistensinya, kehadirannya. Telur besar itu menantang, menyaksikan dirinya dan penonton. Tampak seorang manusia di dalam pecahan telur. Tubuhnya meringkuk  menggigil dan matanya nanar sambil menghirup udara. Ia tak pernah tahu udara. Ia baru saja tiba di dunia. Dalam gigilnya ia mulai merasakan udara, cahaya, benda-benda. Sang penari meninggalkan panggung, masih dalam sunyinya. Dan sang manusia telur, mulai memperhatikan patung-patung.

Ia keluar dalam satu raga, satu jasad, tetapi dalam dua kepribadian yang bertentangan, dalam jiwa yang tak sama, dalam karakter yang tak sama. Ia lahir sendirian dalam jiwa yang berganda-ganda. Ia gambaran sesuatu yang diinginkan sekaligus yang tidak diinginkan. Ia adalah benturan-benturan. Ia lahir dari konfrontasi politik. Ia lahir persis saat kekejaman itu datang. Ia adalah anak dari sejarah politik sebuah bangsa. Ia muram dan tenggelam dalam kain. Dan tiba-tiba melompat melanturkan kata-kata. Ruangnya hanya terbatas pada bahasa.

MONOLOG
PEMAIN UTAMA: TEDDY

Mengapa kelahiran itu ada? Mengapa telur ini terbelah? Bagaimana sebuah kelahiran itu terjadi?
Ini bukan soal kedokteran!

Bukankah setiap kelahiran keluar dari rahim-rahim milik Ibu? Mengapa kejadian itu ada?
Lahir seorang autis, lahir seorang tanpa lengan, lahir seorang tanpa melihat, lahir seorang tanpa mendengar, lahir seorang yang bisu, LAHIR SEORANG TANPA ORANGTUA, TANPA KELUARGA.
Kelahiran yang murni. Seperti apakah?

Sebuah kelahiran, diawali manisnya kehidupan, berakhir dengan pembuahan, dan yang lahir akan melihat kenyataan, bahwa satu tambah satu bukanlah dua. Kadang, satu setengah, kadang lebih!
Soal kelahiran ini, tentang “YANG LAHIR ITU SENDIRI”, apakah sesempurna itu? Apakah itu SEMPURNA? Adalah KESADARAN. Ya, kesadaran.

AKU TIDAK SUKA KESEMPURNAAN! BagiKU, seharusnya, apapun yang terjadi, TERJADILAH!!
Adakah kesadaran bahwa “kita tidak memiliki apa-apa?” Saat kita seonggok janin, kita tak punya apa-apa, bahkan otak, jiwa dan pikiran kita belum tumbuh.
Siapa yang merasa bahwa kita itu DILAHIRKAN? Siapa yang mau tahu? Dan akan menjadi apa? Kita juga tidak ingin tahu!

Atau seberapa jauh kita memahami keberbedaan dan dalam situasi yang berbeda-beda? Adakah pintu kelahiran itu menuntut menjadi sesuatu atau tidak menjadi sesuatu?

Cinta kadang tidak melahirkan sesuatu, tetapi kelahiran adalah –KONON-- bentukan harapan. Gerbang sudah disediakan. Arrahman Nirrahim. Lahir bukan hanya jasad, melainkan kesombongan, keserakahan kealpaan. Kelahiran juga adalah sifat, dan di dalamnya ada persoalan. Hidup itu adalah PERSOALAN. Tapi ruang jiwa atau ruh, siapa yang bisa menerjemahkan? Kelahiran akhirnya berhubungan dengan pencipta. Ada sesuatu yang kita perjuangkan. Perang! Hidup itu perang. Dan yang turun adalah TANGISAN.

Aku tidak ingin, tapi inilah terlanjur sebuah pilihan. Kita perlu sayang pada siapa yang dilahirkan.
Kalaupun ada sebuah keinginan, tetapi terlalu banyak gelombang untuk menjadi sesuatu. Sumbuku adalah CINTA, bahkan udara untuk bertemu. Dan dia adalah IBU dan BAPAK. Cintaku, aku tidak pernah mendapatkan MEREKA!  Ruangku hanya terbatas pada bahasa, aku tidak pernah tahu siapakah mereka.
Di bilangan Cikini ini, tepat di belakang  tembok Taman Ismail Marzuki ini, dulu adalah kediaman mereka, ketika mulai tumbuh besar, aku pernah berberes-beres di rumah itu. Ibuku di penjara, ayahku entah dimana, dan aku dilahirkan diantaranya.

Karya: Teddy Bontot
Adaptasi: Mariana Amiruddin
(Sebuah narasi teater monolog)


Dipersembahkan oleh: Komunitas Orang-orang Bawah Tangga

Cikini, Taman Ismail Marzuki 12 Februari 2014

























Ilustrasi Lukisan: "Geopoliticus Child Watching the Birth of the New Man" by Salvador Dali (1943)