NARASI
Kenyataan bahwa setiap kelahiran tidak selalu
hadir sebagai kebahagiaan. Tapi apakah kebahagiaan itu? Siapakah yang punya
otoritas mengartikan kebahagiaan? Kebahagiaan atas kelahiran adalah mitos.
Mitos dalam makna yang tunggal. Ia berakar dalam norma-norma masyarakat. Bagi
yang tidak diinginkan, KELAHIRAN diterjemahkan menjadi sangat menyakitkan. Semua
orang menuntut kelahiran yang sempurna, yang lengkap dan kemudian dinamakan
NORMAL. Yang harmonis bernama keluarga dan segala fasilitasnya. Kelahiran
adalah wilayah yang harus aman. Rumah yang indah, bapak ibu yang lengkap,
sehidup-semati, dan kakak beradik yang bermain-main di halaman.
Bukankah setiap kita bisa menerjemahkan
kebahagiaan dengan cara lain? Bolehkah kebahagiaan bukan dalam satu pengertian
melainkan dalam banyak pengertian?
Kelahiranku bagai telur yang terbelah menjadi dua,
pecah terbelah-belah jatuh ke bumi, antah berantah di sebuah arena, arena yang
mereka namai kehidupan. Di luar mitos kebahagiaan itu, norma-norma itu, ada kenyataan
di depan mata, dalam gelombang hidup kita, bahwa seseorang lahir ada yang DIINGINKAN
dan ada yang TIDAK DIINGINKAN. AKU barangkali adalah yang tidak diinginkan.
Bukan karena kelahiran itu sendiri, melainkan oleh apa yang disebut
kesempurnaan.
Ketika makna kematian dan kehidupan sudah
terlalu banyak disuarakan dalam teks-teks suci dan wacana soal kebajikan, kebahagiaan,
kesedihan, bahkan soal dosa, pahala dan petaka, manusia kehilangan pijak
bagaimana kelahiran itu hadir senyatanya,
seragamnya, seberbedanya, seuniknya. Bagaimana kelahiran adalah awal terbentuknya
gudang jiwa kita yang mengajukan pertanyaan dasar: bila aku dilahirkan, apakah
yang disebut kehidupan dan kematian? KELAHIRAN Adalah pertanyaan dasar manusia
yang tak pernah menjadi bahan perbincangan yang sejujur-jujurnya.
***
Narasi ini adalah kegelisahan dan pergulatan hidup
seorang manusia sepanjang hidupnya, ketika kelahiran tidak dapat ia maknai
bagaimana sesungguhnya, ketika ayah dan ibu terperangkap dalam konfrontasi
politik militer antar rezim yang hanya menciptakan kekejaman, dan manusia ini
lahir di tengah-tengah peristiwa itu. MANUSIA ini bukanlah sebagaimana manusia
umumnya, bukan manusia yang mereka anggap sempurna. MANUSIA ini di luar mitos-mitos
kebahagiaan yang membohongi kelahiran sesungguhnya.
ILUSTRASI
Sebutir telur besar tenggelam sendirian dalam gelombang kain besar
yang lentur hampir memenuhi panggung. Seorang manusia masuk ke panggung dengan
rasa sunyi, menari dalam keheningan, dengan sangat lamban, nyaris tak terdengar,
dalam musik samar-samar, dan beberapa patung terpancang di bibir panggung, menyaksikan
sang penari mulai lirih melantun. Telur pelan-pelan bergerak menembus kain,
sampai akhirnya pecah muncul berantakan menembus kain. Sang telur terbelah
menganga, seolah menunjukkan eksistensinya, kehadirannya. Telur besar itu
menantang, menyaksikan dirinya dan penonton. Tampak seorang manusia di dalam pecahan
telur. Tubuhnya meringkuk menggigil dan
matanya nanar sambil menghirup udara. Ia tak pernah tahu udara. Ia baru saja
tiba di dunia. Dalam gigilnya ia mulai merasakan udara, cahaya, benda-benda. Sang
penari meninggalkan panggung, masih dalam sunyinya. Dan sang manusia telur,
mulai memperhatikan patung-patung.
Ia keluar dalam satu
raga, satu jasad, tetapi dalam dua kepribadian yang bertentangan, dalam jiwa
yang tak sama, dalam karakter yang tak sama. Ia lahir sendirian dalam jiwa yang
berganda-ganda. Ia gambaran sesuatu yang diinginkan sekaligus yang tidak
diinginkan. Ia adalah benturan-benturan. Ia lahir dari konfrontasi politik. Ia
lahir persis saat kekejaman itu datang. Ia adalah anak dari sejarah politik
sebuah bangsa. Ia muram dan tenggelam dalam kain. Dan tiba-tiba melompat
melanturkan kata-kata. Ruangnya hanya terbatas pada bahasa.
MONOLOG
PEMAIN UTAMA: TEDDY
Mengapa kelahiran itu
ada? Mengapa telur ini terbelah? Bagaimana sebuah kelahiran itu terjadi?
Ini bukan soal
kedokteran!
Bukankah setiap
kelahiran keluar dari rahim-rahim milik Ibu? Mengapa kejadian itu ada?
Lahir seorang autis,
lahir seorang tanpa lengan, lahir seorang tanpa melihat, lahir seorang tanpa
mendengar, lahir seorang yang bisu, LAHIR SEORANG TANPA ORANGTUA, TANPA
KELUARGA.
Kelahiran yang murni.
Seperti apakah?
Sebuah kelahiran, diawali
manisnya kehidupan, berakhir dengan pembuahan, dan yang lahir akan melihat
kenyataan, bahwa satu tambah satu bukanlah dua. Kadang, satu setengah, kadang lebih!
Soal kelahiran ini,
tentang “YANG LAHIR ITU SENDIRI”, apakah sesempurna itu? Apakah itu SEMPURNA?
Adalah KESADARAN. Ya, kesadaran.
AKU TIDAK SUKA
KESEMPURNAAN! BagiKU, seharusnya, apapun yang terjadi, TERJADILAH!!
Adakah kesadaran bahwa
“kita tidak memiliki apa-apa?” Saat kita seonggok janin, kita tak punya
apa-apa, bahkan otak, jiwa dan pikiran kita belum tumbuh.
Siapa yang merasa
bahwa kita itu DILAHIRKAN? Siapa yang mau tahu? Dan akan menjadi apa? Kita juga
tidak ingin tahu!
Atau seberapa jauh
kita memahami keberbedaan dan dalam situasi yang berbeda-beda? Adakah pintu
kelahiran itu menuntut menjadi sesuatu atau tidak menjadi sesuatu?
Cinta kadang tidak
melahirkan sesuatu, tetapi kelahiran adalah –KONON-- bentukan harapan. Gerbang
sudah disediakan. Arrahman Nirrahim. Lahir
bukan hanya jasad, melainkan kesombongan, keserakahan kealpaan. Kelahiran juga
adalah sifat, dan di dalamnya ada persoalan. Hidup itu adalah PERSOALAN. Tapi
ruang jiwa atau ruh, siapa yang bisa menerjemahkan? Kelahiran akhirnya
berhubungan dengan pencipta. Ada sesuatu yang kita perjuangkan. Perang! Hidup
itu perang. Dan yang turun adalah TANGISAN.
Aku tidak ingin, tapi
inilah terlanjur sebuah pilihan. Kita perlu sayang pada siapa yang dilahirkan.
Kalaupun ada sebuah
keinginan, tetapi terlalu banyak gelombang untuk menjadi sesuatu. Sumbuku
adalah CINTA, bahkan udara untuk bertemu. Dan dia adalah IBU dan BAPAK.
Cintaku, aku tidak pernah mendapatkan MEREKA! Ruangku hanya terbatas pada bahasa, aku tidak
pernah tahu siapakah mereka.
Di bilangan Cikini
ini, tepat di belakang tembok Taman
Ismail Marzuki ini, dulu adalah kediaman mereka, ketika mulai tumbuh besar, aku
pernah berberes-beres di rumah itu. Ibuku di penjara, ayahku entah dimana, dan
aku dilahirkan diantaranya.
Cikini, Taman Ismail Marzuki 12 Februari 2014
Karya: Teddy Bontot
Adaptasi: Mariana Amiruddin
(Sebuah narasi teater monolog)
Dipersembahkan oleh: Komunitas Orang-orang Bawah Tangga
Cikini, Taman Ismail Marzuki 12 Februari 2014
Ilustrasi Lukisan: "Geopoliticus Child Watching the Birth of the New Man" by Salvador Dali (1943)
