Minggu, 25 Agustus 2013

Mencari Jejakku Sendiri

Tak juga beranjak.
Begitu banyak jalan, tapi tak pernah tahu tujuan.
Lupa jalan pulang, atau jalan pergi.
Aku tak tahu apa pulang dan pergi.

Bertahun lamanya aku mencari jalan pulang, tapi mengapa orang harus pulang?
Aku hanya tahu pergi. Pergi kemana saja. Pulangku adalah berkelana. Tapi kini aku lelah.
Aku ingin pulang yang sebenar-benarnya pulang. Tapi setiap kali pulang, selalu ingin pergi dan setiap kali pergi aku ingin pulang. Pergi dan pulang bagiku adalah menyatu, dan aku berada terhimpit di tengahnya. Mungkin yang kuinginkan adalah pulang dan pergi. Karena itu tak mengenal kembali. Kalaupun kukatakan kembali, ketika itu pula aku harus pergi.

Tapi kali ini aku berjuang mengejar pulang. Aku mencari jejakku kembali, tempatku berkelana pulang dan pergi. Barangkali itulah yang disebut pulang. Kuayunkan kaki mencari jejak-jejakku sendiri, ke tempat yang bisa menjelaskan aku apa itu pulang. Sampai suatu waktu, aku haus dan letih, dan terantuk batu sampai tubuhku terjatuh di atas tubuh bumi. Terhirup bau tanah lembab pekat. Yang di depannya ternyata ada jalan lurus tanpa ujung. Seperti melihat samudera, yang ujungnya ditandai oleh bulatan bumi. Atau fajar yang ditelan langit, dan senja yang ditelan laut, lalu sinar bulat bernama matahari itu mengingatkan aku pada hidup yang terbit dan terbenam.

Tapi aku sudah lupa apakah alam memang terbatas, atau aku yang terbatas? Apakah aku ingin menembus batas, atau aku yang membatasi diri? Bukan, barangkali aku ingin bebas. Tapi apa itu kebebasan? Seluas apa arti kebebasan? Seterbatas apakah sehingga menembusnya bisa dikatakan bebas? Perjalanan. Aku selalu ingin perjalanan. Tapi mungkin sudah terlalu jauh perjalananku, sehingga aku mulai mengatakan kebebasan itu adalah diam di tempat. Aku ingin duduk diam dan hanya melihat. Tapi lagi-lagi aku berontak. Aku ingin jalan pulangku segera.



Dalam kebingungan, aku memaksa melanjutkan jalan. Aku tak perlu petunjuk. Karena petunjuk bagiku adalah batasan. Aku memuja keberuntungan. Kuikat mataku dengan kain selendang yang kupakai. Melangkah pasrah, aku siap sekalipun tiba di kubangan. Aku rela sekalipun tiba di jeratan. Nyatanya memang selalu ada kubangan dan jeratan. Kadang kaki terkunci di celah batu, dan menggelinding di tempat curam. Tangan kananku sempat terkilir dan kaki kiriku lebam. Aku terus berjalan dengan mata tertutup. Tercium bau wangi pinus dan lembab tanah, bau humus dan kotoran hewan, sekilas terhirup wangi sejuk hutan tropis, yang sesekali tanpa cahaya. Terdengar jerit pilu satwa saling berlomba atau gesekan kaki serangga memecah gendang telinga. Aku senang sekaligus khawatir, apakah aku ancaman bagi mereka, apakah aku disambut mereka. Kusingkirkan rasa takut, aku bangkit pada niatku semula. Sampai pada rasa kulitku terkena udara yang menyengat, aku berhenti. Kubuka ikatan selendang yang menutupi mataku. Ternyata aku sudah keluar dari hutan lembab, sudah sampai di bibirnya, dimana aku bisa memandang jauh lahan terbuka hijau yang lembut.

Tampak rumah kecil di ujung lahan. Aku mendekat. Burung-burung bertengger bergantian di celah-celah jendela. Aku makin mendekat, burung-burung semakin liar bercicitan menghampiriku. Aku masih berjalan perlahan, memasuki halaman tanpa pagar. Rumah tanpa penghuni itu tampak terawat. Meski dinding-dindingnya sudah mulai retak. Burung-burung kembali bercicitan, berisik sekali, dan diantara mereka berani sesekali bertengger di pundakku. AKu terkejut karena salah satunya membawakan seikat kunci mungil dan menjatuhkannya di depan kakiku. Aku langsung mengambilnya tanpa bertanya lagi. Aku sangat fokus dengan rumah itu. Kuberanikan diri membuka pintu dengan kunci itu. Pintu yang ringan dan langsung tampak ruangan mungil, wangi melati, tenang dan hening. Di sudut ruangan tampak meja tulis lengkap dengan kursi dan buku-buku tersimpan rapi di dalam rak. Aku segera duduk di depan meja yang menghadap jendela, tempat mataku tertumbuk pada hijau pohon dan rumput halaman belakang. Tercium bau gairah dan bahagia. Tercium bau rumput, daun dan tanah basah. Di atas meja ada kertas dan alat tulis. Ada kuas dan cat. Ada pinsil dan serutan. Di pojok ruang ini, terlihat sebingkai kanvas disandarkan.

Aku mulai merasa memiliki rumah ini. Dan perasaanku yang paling aneh adalah aku merasa aku pernah tinggal di sini. Aku menarik nafas panjang, memejamkan mata, menikmati suasana. Aku bangkit keluar dari ruang itu, menuju ruang yang lain. Seperti ruang masak memasak. Ada bahan-bahan sayur daging dan bumbu di situ. Ada peralatan memasak dan meramu. Kendi berisi air sejuk. Aku menenggaknya. Aku lapar dan langsung memasak bahan-bahan itu. "Apakah ini pulang?" jerit keciku dalam hati. Aku melahap segalanya. Terasa angin lembut melintas di punggungku. Aku menoleh menuju ruang tengah. Ada bangku besar yang terlihat empuk. Aku menuju bangku itu dan merebahkan diri di atasnya. Rasa kantuk menyerang. Aku tak bisa melawan. Lelap, aku tidak tahu lagi dimanakah aku sebenarnya.


Tambun, 1 September 2013