Oleh: Mariana Amiruddin
Kuletakkan kakiku sore itu di pinggir
danau. Kutebar doa dalam tunduk, aku menerjunkan diri ke dasar danau. Gelap
gulita dan lembut daun-daun menyentuh jariku. Mata kupejam, doa-doa masih
bertutur. Mengambil nafas panjang di udara, tampak wajah seorang lelaki duduk
di pinggir danau. Siapakah dia, aku tidak tahu. Aku kembali menyelam, aku tak
peduli. Berjam-jam dalam air seperti hidup telah kembali.
Lelaki itu memandangku lekat sekali.
Ia duduk dipinggir danau. Aku tak peduli. Aku menyelam kembali. Tetapi siapa
yang mengira ia adalah lelaki yang akan hidup bersamaku sebentar lagi. Awalnya
ia berkata, ingin kubiarkan gadis ini terus berenang tanpa aku menyentuhnya,
dan biarkan aku memandangnya dari jauh. Tapi bukan begitu kenyataannya, sebab
beberapa bulan yang lalu kami sudah bertemu tanpa tahu siapa sebenarnya
diantara kita. Dan bulan kembali mempertemukan kita di danau itu, apakah benar
oleh suatu keinginan, tentang hidup yang sunyi, diantara keramaian orang yang
cinta harta dan raga. Kami tak saling kenal, dan tak peduli siapa sebetulnya
diantara kami. Kami bukan siapa-siapa kecuali berjam-jam dalam genangan. Kami
hanya manusia yang lahir di bumi dan hidup dalam garis takdir yang tak sama
lalu berjumpa seolah baru saja bangkit dari kematian.
Sejak itu kubawa laki-laki itu hidup
bersamaku. Ia kagum pada kebebasanku. Ia melamarku dengan lembut sekali. Hanya
mata dan kulit kami yang mengungkapkan itu, dan nafas hangat berkeringat,
seperti api yang berpijar tak pernah mau padam. Sejak itu dunia hanya milik
kami, kami tak perlu makan dan minum, tak istirahat, tak pernah pejam. Kami
berlari dengan gembira menuju surga, tempat siapapun tidak perlu bertarung dan
segalanya hanya diisi dengan cinta. Tetapi belum sampai dua tahun kami
terbangun bahwa kami masih hidup di dunia, tempat orang bekerja dan makan,
sekolah dan meraih cita-cita, cinta menjadi bentuk yang paling kelabu dalam
hidup kami, kemiskinan menjadi layar besar yang kami tonton sepanjang malam,
dan kami harus berpisah karenanya. Lelaki itu terserang kemiskinan akut dan ia harus
pergi begitu saja, kembali ke dunia, menjadi seorang buruh dengan gaji beberapa
perak saja, dangan ibu yang lumpuh, kakak yang gila, dan anak-anak yang
kelaparan. Siapakah aku kini, aku tidak tahu karena aku hidup dimana tak seorangpun
menggantungkan hidupnya padaku. Aku bukan tulang punggung sepertinya. Aku hanya
tulang-tulang berserakan saat ditinggalkannya.
Vincent, namanya. Maria namaku. Menurutnya,
nama Vincent adalah nama orang-orang yang sering terkena sial. Mancung sekali
hidungnya. Pipih wajahnya, kokoh rahangnya. Aku jadi ingat perbincangan awal
kita tentang mimpi dan mitos. Pada sebuah zaman dimana belum ada teknologi yang
memanjakan manusia, dimana peradaban masih ditulis dengan tangan dan kendaraan
adalah kuda-kuda yang gagah, penjajahan dan perang selalu terjadi demi merebut
atau mempertahankan tanah subur dan hasil-hasil bumi.
Kau bilang bahwa pada masa itu namaku
adalah Mulan, seorang putri bangsa Mongol, yang gemar berkuda. Aku adalah
pemimpin perang yang berkuda memimpin pasukan, dengan senjata pedang, di tangan
kananku, dan busur serta panah dipunggungku. Aku adalah Putri Mongol, putri
seorang Raja yang berkharisma yang disegani dan tempat tumpuan rakyatnya. Aku
pemimpin perang dengan rambut panjang tersapu angin, bermata tajam dan tegar
tak tergoyahkan. Dan kau, siapakah kau? Kau adalah putra raja dari Eropa yang
menjajah bangsaku, Raja Albert, tetapi kemudian kerajaanmu jatuh miskin karena
kalah perang. Raja Albert yang menikah dengan Ratu Tin Yi, perempuan yang
pernah lahir di tanah bangsaku. Harta bendamu kami rebut. Kau adalah musuhku,
pangeran yang berjalan tanpa kuda dan tanpa pedang. Kau adalah lelaki berdarah
biru yang hidup dalam keadaan compang-camping mengais kotoran dan sampah untuk
makananmu, mencari gua-gua kosong untuk tempat tinggalmu. Kau adalah lelaki berdarah
biru yang miskin dengan nasib yang sangat tak beruntung, dengan kaki bekas luka
pertempuran dan jalanmu setengah pincang seperti seorang yang kehilangan daya.
Saat itu kau tahu bahwa aku adalah
Putri dari Bangsa Mongolia yang kali ini berlari kencang bersama kudanya dengan
berurai air mata. Zaman menetapkan bahwa beberapa orang mengkhianati sang putri
dan menyebar berita-berita bohong tentangnya. Raja sudah mati, dan Sang Putri
nyaris tak punya kekuatan lagi, ia berlari dan berlari bersama kudanya, dalam
perjalanan itu ia membuang pedangnya. Ia memutuskan untuk mundur dan lari dari
segalanya. Tangisannya hampir sama dengan amarahnya. Ia tak mau melawan
kerajaan dan bangsanya sendiri. Dalam kecepatan diambang batas kematian itu,
sang kuda tersandung tali jerat yang dipasang musuh, dan dengan segera sang
Putri jatuh berguling bermeter-meter, sampai berhenti di bibir jurang. Ia
menemukan kakinya patah dan hampir tak bisa bangun kembali. Ia jalan dengan
menyeret tubuhnya menghindar jurang yang dalam sedalam luka di lengan dan
kakinya.
Pada saat itulah sang pangeran miskin
dan compang-camping mengamati kejatuhan Sang Putri, ia lekas berlari menolong dan
cemas yang terlihat di wajahnya. Sang pangeran compang-camping membantu sang
putri mengangkat tubuhnya hingga berdiri. Mereka berdua berjalan menjauhi
jurang, mendaki bukit batu yang curam, mencari gua-gua aman dengan kaki terseret
dan terpincang-pincang. Sejak itulah dalam jatuh dan luka mereka bercinta, berbagi,
bersahabat, berdekap. Mereka adalah anak-anak dari kerajaan dan negeri yang
saling bertempur. Dan setiap malam mereka menatap bintang yang berserak sambil melempar
harapan, menyalakan api unggun mengatasi dingin, tetapi keadaan menjadi lain
ketika Sang Putri ditemukan oleh pengawal-pengawal kerajaan yang berpihak
padanya, diminta kembali untuk memimpin. Sang Putri menggeleng sambil mengenggengam
tangan pangeran compang-camping dan berkata bahwa ia ingin hidup seperti
jelata, ia ingin seperti manusia biasa. Sang Putri kehilangan kepercayaan,
pengkhianatan adalah luka dalam yang sulit disembuhkan, apalagi oleh bangsanya
sendiri. Ia bahkan sudah membuang pedangnya. Tetapi Sang pangeran tidak setuju
dengan sikapnya. Ia menoleh padanya, melepaskan genggaman tangan Sang Putri sambil
berkata “Aku masih menyimpan pedang itu, pedang yang kau buang. Asahlah kembali
pedangmu, kau adalah pemimpin rakyatmu yang sadar bahwa pengkhianat itulah
penyebab perpecahan kerajaanmu.” Tapi sang putri menggeleng dengan kencang dan
berkata bahwa ia tidak lagi mau hidup sebagai putri, ia mau hidup bersama Vincent,
pangeran jelata. Pangeran jelata compang-camping itu menggeleng, kau tak pernah
tahu bagaimana menjadi orang miskin dan penderitaan bukan seperti caramu
bertempur dalam perang, kau akan menjadi sangat tidak berdaya. Ia berkata lagi
bahwa kebangsawanan tidak membuatnya hidup lebih baik. Ia sudah tidak punya
keinginan, ia ingin putri pergi kembali dengan kepala tegak memimpin
perjuangan.
Pelan-pelan Vincent, pangeran jelata itu
melangkah mundur, sambil memberikan pedang itu kepada Sang Putri. Ia pergi
hanya dengan menoleh sekali. Ia benar-benar pergi dan Sang Putri kembali
menahan tangis. Luka dihatinya tak seluka pengkhianatan yang terjadi di dalam
kerajaannya. Ini luka ketiga yang lebih dalam lagi. Ia menjerit panjang, yang
tak pernah ia lakukan sebelumnya. Jeritannya terdengar sampai membelah gua. Ia
terduduk dan menghempaskan dirinya ke tanah. Pengawal-pengawal masih berdiri di
dekatnya dan menepuk lembut punggung putri itu sambil berkata, “Tuan Putri,
asah pedangmu, kau harus kembali memimpin perjuangan, demi rakyatmu, demi
ayahmu. Kau harus kembali.” Sang putri berjalan lesu dan kakinya masih pincang,
ia mengasah pedangnya tanpa semangat, ia mengasahnya pelan-pelan. Ia
mengasahnya, dan kemudian menghunuskan pedang itu ke dadanya.
Cerita panjang itu memang seperti
keadaan kami. Vincent dan Maria. Dua nama suci yang terjebak pada cinta kelabu.
Vincent pergi dalam tangisan dan pelukan erat yang panjang. Perpisahan yang
tidak pernah kami inginkan.
Kau tahu, Vincent, aku ingin kembali ke
danau itu tetapi kau tahu semua sudah rata dengan tanah, dibangun oleh
super-super gedung tempat orang mendulang uang. Vincent sudah menghilang
dibalik kabut, aku tak melihatnya lagi. Aku kehilangan tempat sunyiku dan
lelaki itu tak mengembalikanku hidup dalam keadaan semula, berenang dalam
gelap. Ia menyisakan perangkap-perangkap hidup dimana rindu menjalin tali
kematianku dalam sebuah penantian yang takkan pernah mengembalikanmu padaku.
Lelaki itu berkata, biarkan gadisku terbang bebas seperti semula, tanpa
siapapun disampingnya seperti semula, gadis pintar, berani, yang penuh imaji,
yang bisa menentukan kemana arah kebebasannya, mencapai keinginan-keinginannya.
Tetapi lelaki itu lupa, burung itu kini tak bersayap. Sebab sayap-sayapku telah
kau gantikan dengan cinta, kau ambil keduanya sehingga tak ada lagi di
lenganku. Kau lupa bahwa sayap-sayap itu telah kuberikan seluruhnya untukmu
saat kita terbang bersama. Kau lupa bahwa tanpamu adalah aku, seekor burung
tanpa sayap yang tak akan pernah bisa terbang kemanapun kusuka.
Maria tidak pernah menyukai lelaki
manapun kecuali Vincent, lelaki di danau itu. Hanya dengan duduknya yang diam
aku terpanggil. Aku keluar dari danau dan menghampirimu seolah kau menarik
benang dari hatiku. Aku tak pernah menyukai apapun kecuali diriku sendiri dan
sayap yang kupunya, tetapi lelaki yang duduk di pinggir danau itu mematahkan sayapku
dan pergi selamanya. Ia takkan pernah kembali padaku karena dunia tidak seindah
danau gelap itu.
Kembalikan sayap-sayapku, Vincent! Kau
boleh bilang kemiskinan menjadi hantu yang mengikutimu setiap malam tetapi
bagaimana dengan aku, tanpa sayap itu sama saja kau membunuhku. Samar-samar
suara Vincent turun dari langit, Maria, kau tidak pernah tahu keadaanku. Aku
punya ibu yang lumpuh, saudara yang gila, dengan anak-anak yang kelaparan, kau
jauh lebih merdeka dibandingkan keadaanku. Aku harus mengurus mereka semua,
sementara kau hanya mengurus dirimu sendiri.
Vincent, kau tidak adil, seharusnya
kau tak duduk di danau itu. Penantian panjang ini membuat hidupku sia-sia,
penantian tak berakhir, dan tak tergantikan. Aku hidup dalam perangkap, dan aku
tak bisa terbang tanpa sayap. Vincent, mengapa kau rebut kembali cinta yang
sudah kita tanamkan, dan kini aku tak tahu kepada siapa aku harus memberikan
cinta ini. Seharusnya kau kembalikan cinta ini untuk diriku sendiri saja. Bila hidup
yang kelabu adalah sang pemilik cinta, sungguh aku menyesal mengapa aku
mencicipinya dengan hasrat dan kebahagiaan. Aku menyesal bahwa cinta adalah
tipuan, muslihat, bius yang berbahaya dan aku tak siap untuk kehilangan.
Vincent, sayapku sudah tak ada lagi,
mengapa tak kau bunuh saja burung tanpa sayap ini sehingga ia tak perlu
menjalani hidup lagi. Mengapa tak kau selesaikan saja gadismu ini dengan
kematian yang sesungguhnya. Seharusnya kau biarkan saja tubuhku menyelam di
danau itu dan tak melihatmu duduk bersandar pohon memandangku. Seharusnya kau
biarkan aku mencintai sunyi dan diriku sendiri, seharusnya kau tidak ada dalam
hidupku. Seharusnya kau peluk saja kenyataanmu itu dan jangan pernah
menyentuhku. Aku luka, luka yang tak pernah kurasakan sepanjang hidup. Aku tak
pernah mencintai siapapun sebelumnya, hidupku hanya bertempur dan berlaga. Aku
tak pernah jatuh cinta pada siapapun. Aku hidup senang ketika tidak mengenal cinta,
aku hidup bahagia saat banyak lelaki mendekatiku tapi aku tak merasakan apa-apa
kecuali permainan demi permainan membunuh kesunyian. Aku tak pernah kehilangan
mereka. Aku menertawakan mereka. Semua lelaki tampan dan gagah datang satu
persatu meminta cintaku tetapi aku tak pernah bisa memberikannya untuk mereka.
Aku memegang teguh sayap-sayapku dan tak seorangpun bisa mengambilnya. Saat
mereka pergi atau aku yang pergi, tak ada luka sama sekali, mereka hanya
bayangan-bayangan kosong.
Tapi lelaki di danau itu, kau
satu-satunya yang bisa membuatku hidup sekaligus mati dalam keadaan
sesungguhnya. Kau adalah orang paling kejam yang pernah aku temukan sekaligus
orang yang paling aku cintai. Kau adalah iblis, yang menukarkan cinta dengan
kemiskinan dan mematahkan sayap-sayap kemerdekaanku. Aku membencinya sekaligus
merindukannya. Aku tersiksa oleh kombinasi itu.
Tambun, 31 Agustus 2014
