Oleh: Mariana
Amiruddin
Ibu, aku tahu betapa
beratnya menjadi perempuan di masa lalu.
Dalam kemiskinan dan
ketergantungan pada laki-laki yang harus menjadi tempatmu bergantung.
Betapa beratnya hidup
yang menuntut segala pengabdian bahkan yang di luar kekuatanmu.
Ibu engkau adalah
manusia pintar yang senang membaca dan selalu mengamati perjalanan sejarah dan politik
bangsa ini. Ibu, tetapi engkau mengeluh tak bisa apa-apa karena keluarga adalah
nomor satu.
Tetapi tahukah ibu, engkau
adalah manusia yang begitu sakti bagiku. Tiada pernah sakit selama ini padamu.
Pengabdian dan
ketulusanmu membuat tidak ada rasa sakit dan pedih atas terlewatnya hasrat,
harapan dan keinginan.
Ibu, aku tidak bisa
menjadi dirimu. Aku tidak bisa kehadiran orang lain lebih dulu daripada diriku
sendiri.
Aku mahluk yang
diciptakan oleh pendidikan tinggi dan ilmu pengetahuan, oleh rasionalitas dan
capaian atas prestasi hidupku.
Ibu, aku tak bisa
membayangkan seandainya aku adalah engkau. Aku tentu bukan apa-apa, aku tentu
lemah lunglai sedari awal.
Aku tak bisa hidup
dalam norma dan struktur sosial yang demikian, dalam hirarki gender dan
patriarkhi yang menyesakkan, aku tentulah sang anak perempuan pemberontak, yang
berupaya keras menentukan nasibnya sendiri, yang berusaha keras berdiri di atas
kakinya sendiri.
Ibu, sekiranya
ketulusan dan pengabdianmu dapat ditukar oleh Dewa-Dewi dan segala kelembutan dan
rasa kasih sayang alam semesta, dengan kebahagiaan kecil yang bisa engkau raih
di saat-saat ini, aku akan bersimpuh di lututmu. Aku akan merayakannya
bersamamu.
Ibu, kuatlah.
Kuatkanlah dirimu. Kesaktianmu agar tak ditukar dengan keputusasaanmu. Aku tahu
bagaimana menjadi Ibu, aku tahu beratnya dan rintangannya yang nyaris tak
terlihat dan tak terucapkan dalam kebudayaan dan peradaban dunia.
Ibuku, untukmu, aku
bertaruh, dalam semangatmu yang baru, aku akan menjadi anak yang paling
bahagia.
Semoga sehat kembali
Ibuku tersayang sepanjang zaman.
Tambun, 1 November
2014
