Jumat, 31 Oktober 2014

Kesaktian Ibu



Oleh: Mariana Amiruddin


Ibu, aku tahu betapa beratnya menjadi perempuan di masa lalu.

Dalam kemiskinan dan ketergantungan pada laki-laki yang harus menjadi tempatmu bergantung.

Betapa beratnya hidup yang menuntut segala pengabdian bahkan yang di luar kekuatanmu.

Ibu engkau adalah manusia pintar yang senang membaca dan selalu mengamati perjalanan sejarah dan politik bangsa ini. Ibu, tetapi engkau mengeluh tak bisa apa-apa karena keluarga adalah nomor satu.

Tetapi tahukah ibu, engkau adalah manusia yang begitu sakti bagiku. Tiada pernah sakit selama ini padamu.

Pengabdian dan ketulusanmu membuat tidak ada rasa sakit dan pedih atas terlewatnya hasrat, harapan dan keinginan.

Ibu, aku tidak bisa menjadi dirimu. Aku tidak bisa kehadiran orang lain lebih dulu daripada diriku sendiri.

Aku mahluk yang diciptakan oleh pendidikan tinggi dan ilmu pengetahuan, oleh rasionalitas dan capaian atas prestasi hidupku.

Ibu, aku tak bisa membayangkan seandainya aku adalah engkau. Aku tentu bukan apa-apa, aku tentu lemah lunglai sedari awal.

Aku tak bisa hidup dalam norma dan struktur sosial yang demikian, dalam hirarki gender dan patriarkhi yang menyesakkan, aku tentulah sang anak perempuan pemberontak, yang berupaya keras menentukan nasibnya sendiri, yang berusaha keras berdiri di atas kakinya sendiri.

Ibu, sekiranya ketulusan dan pengabdianmu dapat ditukar oleh Dewa-Dewi dan segala kelembutan dan rasa kasih sayang alam semesta, dengan kebahagiaan kecil yang bisa engkau raih di saat-saat ini, aku akan bersimpuh di lututmu. Aku akan merayakannya bersamamu.

Ibu, kuatlah. Kuatkanlah dirimu. Kesaktianmu agar tak ditukar dengan keputusasaanmu. Aku tahu bagaimana menjadi Ibu, aku tahu beratnya dan rintangannya yang nyaris tak terlihat dan tak terucapkan dalam kebudayaan dan peradaban dunia.

Ibuku, untukmu, aku bertaruh, dalam semangatmu yang baru, aku akan menjadi anak yang paling bahagia.

Semoga sehat kembali Ibuku tersayang sepanjang zaman.

Tambun, 1 November 2014