Selasa, 05 Maret 2013

Angin


Malam ini saya ditemani angin. 
Yang membisikkan tentang masa lalu.
Tapi angin berbisik tentang debu.
Kota ini sudah bau, tak ada lagi masa lalu.
Kubilang, tolong bawa saya angin yang lain.

Angin bilang, debu yang menamparku adalah masa lalu.
Kubilang, mataku pedih dan aku tidak mau debu.
Angin berhenti sejenak, menatapku dalam.
"Inilah masa lalu yang kubawa kini." 
Tapi aku tidak mau debu! Kataku lebih keras.

Siapakah angin, siapakah debu?
Aku ingin kesegaran, bukan kepenatan.
Aku ingin kemerdekaan, bukan kata dendam.
Aku ingin angin perubahan, bukan kekalahan!
Aku ingin ketenangan, bukan keributan!

Angin berhenti.
Kenapa berhenti?
Angin: akulah temanmu
Aku: Teman untuk apa?
Angin: untuk membawa kabar.
Aku: Kabar apa?

"Tinggalkan masa lalumu. Juga bangsamu!"

Aku berlari kencang. Aku ingin lebih cepat dari angin. Tapi tubuhku hanya beban merusak kecepatan. Aku disusul angin yang teramat kencang. Ia mengangkatku ke angkasa. Tempat gelap tak ada manusia. Lalu menghempaskanku dengan sangat keras, kembali ke tempat semula. Tempat yang setiap jengkalnya ada manusia.

Aku menyerah.
Tinggalkan masa lalu. Juga bangsaku.

6 Februari 2011
Untuk Ibu Umi Sardjono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar