Selasa, 05 Maret 2013

Mati


Vincent Willem Van Gogh Paint
Aku pernah bermimpi tentangmu ketika kau pergi dan dunia ini kau tinggalkan selamanya. Katamu "aku sudah punya rumah kecil di sini". Kulihat di depanmu meja besar dan kertas lebar tempatmu menggambar dan melukis hidup yang sederhana. Kau mati, tapi visimu tetap hidup di dadaku. 

Begitulah kau pergi dengan mengunci diri dalam kamarmu, kau terduduk bersila, dan tubuhmu terjatuh menyender pada lemari tua itu dengan darah bertumpah dari hidung dan telingamu. Kau yang sudah tak bernyawa dalam duduk sila dan kesendirianmu. Orang-orang menangisi jasadmu, aku menangisi visi dan semangatmu. Hidupmu sudah di batas itu, dengan penyakit yang kau pendam sepanjang tahun, hati yang luka sepanjang hidup. Politik dan kebudayaan ini yang terus mundur dan musnah, menghentikan sekejap aliran darah dan nafasmu, satu persatu.

Betapa keadaan itu kurasa kini, dan rasa sakit menusuk saat hijau dan bau tanah tempatku duduk dan memandang sirna sudah. Dalam waktu bersamaan semua merenggut kekuatanku satu persatu. 

Apakah aku akan sepertimu. Semoga tidak. Aku ada jalan lain yang harus kucapai. Biar sisa-sisa hidupku mampu melanjutkan dan menyembuhkan lukamu atas bangsa ini yang sudah merasuk sampai kamar bisu dan kematian menanti terduduk di situ.

Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar