Selasa, 05 Maret 2013

Cerita Tentang Kaki Kanan

Kota yang sok sibuk ini menelanku bulat-bulat, yang setiap dini hari berseliweran mobil-mobil patroli yang mencari orang-orang mabuk dan orang-orang tidak punya surat-surat. Hari itu aku tak lagi menemukan jiwa tenang dan wajah-wajah damai. Semua orang mengumpat, berteriak, menjerit, dan memaki di depan mukaku. Aku ingin menutup telingaku rapat-rapat. 

Aku menekan gas dalam-dalam, sudah capek dengan makian dan erangan orang-orang. Suasana yang bikin aku frustasi, aku nyetir sendirian, memandang lampu-lampu jalanan dengan mata nanar. Embun sudah turun, tapi di kota itu embun tidak membuat sejuk, ia membuatku ketakutan. Mataku yang semakin cekung, dan wajahku yang semakin pucat. Gas kutekan dalam-dalam meski kaki kananku dipenuhi urat-urat yang mengusut, sakit sekali rasanya. Aku paksa kakiku bekerja dengan baik mengendalikan mobil yang membawaku pulang.

Aspal basah terlindas mobil-mobil yang lewat di depanku. Ku buka jendela lebar-lebar. Dan ku raba dadaku, ada jantung yang berdetak keras sekali. Aku ketakutan sendiri, aku sendirian saja. Aku tak ada teman, aku meraba kakiku saat mobil berhenti menunggu lampu merah. Astaga! Ia tak bisa digunakan lagi... mati aku! Lampu jalan menunjukkan hijau, kaki kananku tak juga mau gerak. Mati aku! Untungnya suasana masih sepi sekali. Aku terduduk dan keringat dingin mulai membulir, satu persatu jatuh dari keningku. 

Aku cari akal, ku setel radio kuat-kuat dan kupukul kakiku keras-keras, dan akhirnya... sampai aku kesakitan sendiri. Dan dari rasa sakit itu kakiku mau bekerja lagi. Aku jadi bersumpah serapah, hari itu aku kena imbas amarah orang-orang yang kini gantian aku marah-marah pada diriku sendiri. ANjiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!! teriakku sampai ke jalanan. beberapa pedagang sayur yang kebetulan lewat membawa gerobak menatapku.

Entahlah hari itu aku ingin sekali ketenangan. Rasa nyaman dan damai. Yang lama sekali tidak kutemukan. Tiba-tiba aku rindu dengan hewan-hewan. Rindu dengan si hitam dan si putih. Mereka ternyata sudah menunggu di depan pintu. Aku terpincang-pincang menapaki halaman rumah. Kubanting pintu mobil sebelumnya. Mereka menyambutku. Dan astaga! ada mahluk yang lebih mungil berbunyi dari pintu belakang. Mahluk lucu dengan bentuk serba segitiga. Kucing mungil berbulu hitam-putih, kusambut dia dengan kasih sayang, kubelai kepalanya, oh lucunya bibir segitiga, telinga segitiga dan wajahnya yang segitiga. Lembut hangat aku dipeluknya. Alam memang memberi kedamaian. 

Masih terpincang-pincang kutapaki bebatuan menuju kamarku, kucing-kucing mengikutiku dari belakang seperti biasanya. Sampai kamar kulihat biolaku bergantung di dinding. Kuraih biola itu, dan segera kumainkan. Suaranya menyapu jiwaku yang redup. Cahayanya hampir mati. Sama dengan matinya nyala jiwaku. Matinya nyala semangatku. Kakiku yang malang, sakitnya tak mau hilang juga. Kumainkan terus biolaku sampai melengking-lengking. Kugesek kuat-kuat talinya, sampai terdengar menjerit suaranya. Tak sadar aku menangis. Tak sadar pula matahari telah mengintip. 

Aku berhenti. Kuhentikan permainan biola. Kucing-kucingku tertidur lelap. Aku hendak berdiri menggantungkan biolaku lagi. Tapi ya Tuhan! aku terjatuh... bersama biola di tanganku. Kepalaku membentur lantai... dan aku tak sadar lagi.


Untuk Mendiang Marianne Katoppo yang ketika hidup selalu menjadi orang yang sendiri.

Jakarta, 8 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar