Selasa, 05 Maret 2013

Angsa

DEMI kelelawar dan keledai. Demikian setiap hari perempuan itu berkata. I'm going deeper underground. Ia berkata lagi. Tawanya terdengar usang, tanpa ritmik yang jelas. Tawanya seperti angsa, sendirian di tengah danau. Ia tak peduli burung-burung berteriak di pepohonan. Perempuan itu tertawa lagi. Tawa angsa di tengah danau, burung-burung lelah, mereka lalu terbang menuju kelabu. "Ya, dunia memang hitam dan akan selalu hitam dengan rasa yang kumainkan," katanya. Ia mendayung perahunya ke tengah danau agar seperti angsa. Angin datang dan pepohonan menari, melambai-lambai pada perempuan itu. Perempuan itu tak peduli. "Sampai kini alam tak bereaksi apa-apa. Seperti sedang merangkai hukuman demi hukuman."Ia mendayung lagi, kini lebih bertenaga. Angin bergerak kencang, membuat ombak-ombak kecil di danau. Tapi perempuan itu tak peduli. "Aku tenggelam saja!" katanya membuyar.

Demi kelelawar dan keledai. Ia selalu mengucapkan itu. Ia sedang tidak bersumpah serapah. Dua binatang itu sudah lama menjadi sahabatnya. Ia membenci burung-burung, baginya binatang itu terlalu indah. Ia menyukai kelelawar yang mengepak cepat. Terutama karena makhluk supersonik, punya segala yang tajam. Perempuan itu juga memiliki segala yang tajam. Perasaan dan batinnya. Begitu mudah ia bersedih bahkan tanpa sesuatu hal. Air matanya meleleh tanpa sebab. Ia jilati setiap saat. Ia merasa gelap dan hitam. Ia memang menyukai hitam. Dan keledai yang ia tunggangi setiap malam. Binatang yang dianggap bodoh dan lambat itu justru membuatnya nyaman. Setiap malam perempuan itu tertidur di atas punggungnya. Kemudian pagi datang mengembalikannya pada kehidupan angsa.

Begitulah setiap hari ia mendayung perahunya ke tengah danau dan burung-burung menyorakinya. Senja kemudian mendatangkan kelelawar. Sayap tipis mereka membayang matahari terbenam. Langit jingga seperti diwarnai tubuh-tubuh mereka. Perempuan itu menunjukkan senyumnya. Kelelawar-kelelawar berkeliling di atas kepalanya.

Sudah lama perempuan itu mengasing. Ia menyukai kata pergi. Dunia tak lagi seindah dulu. Ia tak percaya lagi segala wewejang dunia. Ia lelah sebab dunia membuat hidupnya meraba. A dan B tak lagi jelas baginya, ia hanya menggunakan sisi perasaannya: memainkan rasa untuk melawan alam. Ia tahu alam tak mempercayainya lagi sejak kata cinta tak menjelaskan apa pun. Sejak ia mencintai lelaki itu, ia pergi. Lelaki yang mengerti dunia tetapi melawan dirinya sendiri. Tuan Ingkar, demikian ia memanggil lelaki itu. Lelaki yang mengingkari perasaannya sendiri dan tak pernah percaya pada hati. Dunia telah membentuknya pada satu alam: alam rasio yang menganggap cinta hanyalah mitos yang dibuat manusia dengan tekstur renta dan warna yang tawar. Perempuan itu marah. Ia tahu betapa lelaki itu mencintainya. Ia pun mencintai lelaki itu seperti mencintai dirinya sendiri. "Maaf, tetapi aku tidak bisa mencintaimu...," kata lelaki itu padanya dengan tatapan cinta. Demikian akhir pertemuan mereka dan perempuan itu marah. "Betapa paradoks, kamu mengingkari cinta tetapi dari matamu panah-panah cinta berpentalan melukai dadaku," katanya dengan mata menyala.

Perempuan itu berlari. Hatinya patah. Perasaannya tajam seperti mata kelelawar dan merasa bodoh terbakar perasaan seperti keledai yang kelelahan membawa beban. Ia mencari dunia yang tak pernah ia kenal. Perempuan yang lahir di perkotaan dan sangat sedikit berkenalan dengan alam. Perempuan yang sejak itu pergi mencari dunia yang tak pernah ia kenal. Dunia angsa dan di sana hidupnya hanya berenang dari pagi hingga siang hari, dan bermain bersama kelelawar dan keledai di malam hari. Ia memunguti bebatuan di pinggir danau. Batu-batu berwarna merah dan biru dan kelelawar menatanya menjadi ruang. Ruang yang menjadi tempat bermain mereka dan keledai dengan setia mendampingi sambil memakan rerumputan. Perempuan itu mengisi permainannya hanya menatap batu dan kelelawar menari-nari di atasnya.

Sejak itu burung-burung menamainya angsa. Pepohonan menamainya angsa yang anggun. Binatang anggun yang dalam berenangnya membawa wajah sendu. Perempuan itu memang berwajah sendu dan matanya berkelebat rindu. Ia masih dibayangi mata cinta lelaki itu, dan merasa alam telah menghukumnya. I'm going deeper underground. Ia berbisik dalam bahasa asing. Ia ingin menyatu dalam tanah yang paling dalam. Dalam dunia kelam yang tak perlu ruang. Ia menginginkan mati. Mati di mana ia menemukan segala yang berbeda. Dan mungkin cinta yang berbeda. Ketika menjadi angsa ia ingin tenggelam. Ketika menjadi kelelawar ia ingin bermain senja dan takkan kembali pada fajar. Ketika menjadi keledai ia ingin menjadi bodoh dan melupakan semua perasaan. Perempuan itu lunglai dan hatinya dihabisi tanya. "Menjadi angsa, berenang, lalu tenggelam." Tetapi tak ada angsa tenggelam kecuali bila menjadi bangkai. "Aku ingin menjadi bangkai supaya bisa tenggelam." Tetapi buaya, binatang buas di danau itu tak pernah mau memangsanya. Angsa itu terlalu sendu untuk dimangsa. Terlalu sedih untuk ditelan. Buaya sama seperti burung, ia terjaga menyaksikan perempuan itu. Mereka memandang saja dari jauh, mengamati gerak-geriknya. Mereka takkan melukainya, apalagi memangsanya.

Perempuan itu telah kehilangan semangat hidupnya. Ia tidak seperti itu sebelumnya. Perempuan yang gerak tubuhnya lentur dan menari setiap kali tersentuh musik. Setiap jenis musik ia akan bergerak lain. Ia membuat berbagai macam gerak supaya tidak bosan. Bila musik berhenti tubuhnya pun berhenti. Sebelumnya perempuan itu berwajah riang, ia menebar tawa pada semua orang, semua lelaki. Seperti ratu lebah ia dikagumi banyak lelaki karena perasaannya yang terbuka. Ia menerima siapa saja dan baginya siapa pun adalah menyenangkan. Siapa pun baginya adalah manusia yang membutuhkan rasa nyaman, dan kebahagiaan yang tak mudah dilupakan. Tetapi sesungguhnya waktu itu ia belum mengenal cinta. Sampai suatu hari ia bertemu lelaki yang setia dalam diamnya. Dalam suka ria di mana setiap orang menari dan bercerita, tertawa bahagia, lelaki itu setia dalam diamnya. Ia hanya bicara dengan matanya. Perempuan itu juga bicara dengan matanya. Lalu ke hati, hati mereka menjadi irama panjang, dansa dalam sunyi. Suara-suara tak terdengar, perempuan itu hanya melihat sepasang mata lembut lelaki yang sedang bicara. "Aku mencintaimu," mata lelaki itu berkata. "Aku pun begitu," perempuan itu berkata. Mereka tak berdekap, tak saling mendekat, tak bicara sepatah kata. Sejak itu mereka berdua mengenal cinta, entah siapa yang memberitahunya. Dan mata lelaki itu terus bicara meski tak ada di hadapannya. Mata lelaki itu datang dalam mimpinya yang akan segera berakhir dan terbangun tanpa siapa pun di sampingnya. Sepasang mata Tuan Ingkar yang tak percaya perasaannya sendiri. Lelaki yang punya kekuatan hati dan mengenal dunia tetapi tak mau mengakui perasaannya sendiri.

Suatu hari perempuan itu ingin menari, tetapi musik telah mati. Dunia pun berhenti. Tak ada alasan baginya untuk menari. Begitulah perasaannya kini. Ia memilih menjadi angsa yang setiap pagi hingga siang berenang ke tengah danau. Setiap hari perempuan itu berimaji menjadi angsa dengan sampan kecil dan dayung seadanya. Perempuan berwajah sendu dan bernama Angsa itu sudah lama menjadi tontonan binatang-binatang dan pepohonan danau yang setiap malam mereka dapati tubuhnya yang kaku menatap batu.

Sampai suatu hari perempuan itu benar-benar menjadi angsa. Ia mengepakkan sayap anggunnya ke tengah danau dan mendarat di atas air. Ikan-ikan berwarna-warni yang bergumul di tengah danau berlarian karenanya. Angsa itu mengatup sayapnya, lehernya jenjang dan kepalanya merunduk. Binatang bersahaja itu memejamkan matanya seperti sedang berdoa dan menyapa Tuhan. "Aku tenggelam saja," demikian doanya. Tubuh angsa itu mengapung berayun-ayun memecah lembutnya air danau berwarna hijau.

Tiba-tiba air danau bergelombang. Seperti digerakkan dari pinggir danau. Arusnya membesar hingga ke tengah. Angsa itu tak peduli. Ia terus saja dalam ayunan gelombang memejam sambil berdoa, "Aku tenggelam saja." Buaya-buaya ternyata menceburkan diri ke dalam danau dan mereka menuju ke tengah, tempat angsa itu membiarkan tubuhnya sendirian. Mata buaya-buaya itu lain. Mereka seperti menatap mangsa yang sudah lama mereka buru. Angsa tetap tak peduli, ia tahu tetapi ia tak peduli. Ia hanya mau berdoa dan kini dalam tawanya yang usang ia bergumam, "Sudah saatnya aku tenggelam." Buaya-buaya dengan mudah mendekatinya dari segala sisi, hidung mereka mendengus. Air-air bercipratan dari hidung mereka. Angsa tetap diam dengan anggun, ia sudah menjadi bangkai sebelumnya, menutup segala perasaannya. Tak hanya pada lelaki itu, tetapi juga pada dunia yang membuat cinta tak menjelaskan apapun.

Jakarta, 23 Maret 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar