Oleh: Mariana Amiruddin
Hari ini kami seharian di kantor perusahaan pengelola investasi,
untuk melakukan update data pribadi. Kami hanya invest beberapa
rupiah saja dari ketekunan ayah saya berhemat
dan menabung berpuluh-puluh tahun sampai sofanya dan celananya sobek-sobek yang
juga tidak pernah ditukar selama puluhan tahun.
Zaman orang tua kita dulu yang lahir di era pra
kemerdekaan, masih memegang pribahasa “hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai”.
Peribahasa itu dipegang kuat-kuat sebagai prinsip hidup ayah saya untuk
mencapai kemajuan. Kalau kita hemat, kalau kita menabung, maka kita akan hidup
berkecukupan. Kalau kita rajin belajar, maka kita akan pandai. Dan kalau kita
pandai, maka hidup kita terjamin. Ayahku
mengajarkan kami untuk tidak pernah berhutang, karena itu dia anti kartu
kredit. Tapi ayahku tidak mengikuti zaman bahwa itu tidak berlaku lagi zaman
sekarang, dan prinsip hidup itu akan ditertawakan oleh para pedagang pasar
modal.
Saya melihat wajah mereka tidak
percaya pada kami, dan kami adalah mahluk yang sulit digambarkan. Mereka
bisik-bisik ke saya, apakah ayamu seorang mantan TNI? Karena postur ayah saya
tidak gemuk, tidak kurus, karena dulu rajin bahkan gila olahraga. Saya bilang
bukan, dia orang sipil. Bapak dapat uang dari mana, bukankah dia pensiunan?
Saya jawab, dia rajin menabung dan hampir tidak pernah belanja barang kecuali
kendaraan, tempat tinggal dan makanan. Semua yang ditabung kebanyakan diintevtasikannya
dan keuntungan dari hasil investasi itu akan dia investasikan lagi. Semua biaya
ketekunannya mengelola keuangan keluarga itu membuat anak-anaknya bisa kuliah. Mereka,
para pegawai perusahaan itu mengerutkan kening. Tidak percaya bahwa masa kini
masih ada yang seperti kami. Barangkali kami hewan langka yang seharusnya sudah
punah di abad 21 yang aneh ini.
Kami bukan
seperti
milyarder tetapi jasa yang kami terima dari
perusahaan itu lumayan untuk kebutuhan sehari-hari, untuk biaya rumah sakit ayah saya yang fungsi
ginjalnya tinggal 20 persen dan sekarang punya masalah katarak mata, dia tidak
bisa menyetir lagi, dia ingin sekali operasi matanya. Atau biaya untuk memberi makan siang saya karena saya
kadang harus menemani mereka. Tapi hari itu adalah
hari yang buruk bagi saya saat mengisi
ulang administrasi insvestasi saya (modal tabungan dari orang tua selama
tahunan dari saya kecil) yang cuma berapa perak itu,
dan seumur hidup tidak pernah saya gunakan untuk saya
cairkan ataupun beli apapun dari jasa investasi itu. Di salah satu kolom administrasi
yang harus kami isi, ternyata ada kaitannya soal warisan,
soal harta benda saya, penghasilan, soal kepemilikan rumah, soal kawin, soal pasangan, soal
bagaimana kalau saya mati, harta akan jatuh pada siapa. Saya ditanya soal anak,
suami, dan semua hal itu saya hanya menggeleng dan saya bilang, hanya ada diri
saya sendiri. Rumah atas nama saya
sendiri, hidup saya sendiri, semua biaya saya sendiri (kecuali menumpang makan
di orang tua sekalian menemani orang tua). Mereka terdiam, dan bertanya yang
seolah menyimpulkan dengan sesat asumsi seperti ini: mana ada perempuan punya
rumah atas nama sendiri, hidup sendiri,
tidak ada anak, tidak ada suami, padahal sudah menikah, jadi bagaimana mereka
menemukan jenis masyarakat seperti saya adalah dianggap tidak mungkin. Saya
dipaksa mengisi kolom itu sesuai yang mereka mau. Saya jawab, saya tidak bisa
mengisi kolom itu karena tidak bisa saya isi, semua pertanyaannya tidak bisa
dijawab. “Mba, katanya. Ini hanya formalitas saja, isi saja seadanya.” Saya
langsung jawab, ini perusahaan pengelola investasi masa buat data hanya
formalitas saja, saya anggap setiap data itu penting dan akan digunakan.
Dimanakah asal muasal
kekacauan ini kalau bukan dari UU Perkawinan tentang keluarga, kepala keluarga
dan anggota keluarga? Kalau saya mati duluan, saya memilih penerima warisan
dari saya adalah Ibu saya. Saya contreng nama Ibu saya. Mereka bingung.
Harusnya suami atau anak, karena menikah berarti orang tua lepas bukan lagi
keluarga inti. Saya bilang mereka masih
darah daging saya, bapak menyekolahkan saya dan ibu melahirkan saya. Lagipula
bagi mereka investor seharusnya adalah kepala rumah tangga, memiliki gaji lebih
dari 25 juta, dan jelas bekerja di perusahaan tertentu. Lalu mereka diam-diam
mengorek soal kehidupan pribadi saya, dimana saya bekerja, sudah menikah tapi
suaminya kok nggak ada. Soal suami biarlah itu jadi urusan saya, tidak semua
orang punya relasi harmoni dan normatif seperti film cinderella, anda tidak
perlu ikut campur dan saya bukan penjahat yang patut anda curigai. Saya juga bilang
saya tidak bekerja di perusahaan apapun, saya bekerja sendiri part time dan
bisa dimana saja, dan kebanyakan membantu orang. Mereka bilang ditulis saja
salah satunya. Saya bilang tidak bisa karena saya bukan pegawai mereka. Mereka
memaksa, saya tidak mau. Saya jadi kesal, dan saya katakan, tolong berikan saya
alternatif! Akhirnya mereka meminta saya membuat pernyataan apa yang ingin saya
nyatakan di kolom itu dan saya mengisi semacam deskripsi tentang siapa saya, yang
tidak lazim dengan karakter masyarakat umumnya, apa yang disebut “keluarga”.
Percayakah bahwa harta benda
perempuan itu akan jatuh pada laki-laki karena dia adalah pengendali dan
penguasa uang dan ekonomi? Untungnya ayah saya mau berbagi meski semua dikendalikan
olehnya, dia percaya bahwa laki-laki sejati adalah laki-laki yang
bertanggungjawab pada keluarganya dan harus dilakukan dengan sangat sempurna.
Begitulah dunia masa kini, masih saja keringat dan banting tulang seseorang
berjenis kelamin perempuan itu masih tidak dihargai. Perempuan masih harus
bergantung 100 persen pada laki-laki dan bila tidak demikian keadaannya, mereka
menganggap kita tidak ada. Kolom-kolom dan pertanyaan yang mereka buat dalam hal
administrasi menunjukkan hal itu.
Mereka lalu bertanya, kalau
mba nanti meninggal, dan harta benda ini ada pada kami, kepada siapa kami harus
menghubungi kalau bukan pada suami atau anak? Akhirnya saya jawab, ke rumah
sakit jiwa saja mas! Sumbangkan untuk pasien-pasien mereka!
Lalu soal alamat email saya amiruddinmariana@gmail.com, saya
ditanya Amiruddin itu suami mbak? Bukan, itu ayah saya. Mereka bingung, lalu
siapa AMiruddin itu? Saya bilang lagi itu ayah saya, ituloh di depan matamu,
itu nama dia yang punya modal investasi untuk perusahaan tempat anda bekerja.
Lalu apa hubungannya antara email dengan urusan perkawinan saya? Lalu dia diam.
Oh, mantan suami mbak bekerja dimana sekarang? Saya jawab, tidak ada urusan
perkawinan dan perceraian dalam hal investasi, yang ada hanyalah uang ayah saya,
saya, dan ibu saya, kami semua punya kartu identitas, NPWP, dan itu yang
dibutuhkan, bukan buku kawin. Saya full hidup dan dibesarkan oleh mereka, bukan
orang lain. Suasana jadi kaku dan tegang.
Perbincangan soal administrasi
investasi itu sempat berhenti beberapa menit. Ayah dan ibu saya ikut diam tapi
senyum-senyum, mungkin lihat saya galak sekali itu bagi mereka hal yang lucu,
karena sejak kecil saya memang sangat pendiam, melirik dan mentap tajam, ada
orang asing dekat akan saya cakar. Saya agresif kalau marah, seperti kucing
peliharaan saya. Saya sering menghilang, pernah waktu terjebak di lift
sendirian saya menangis sekuat-kuatnya tidak ada yang mendengar, dan seluruh
manusia mencari saya. Waktu itu umur saya
baru 3 tahun. Dari keenam anak, saya anak bontot yang sering menghilang
sendirian, dengan mata galak dan jarang tersenyum, tetapi entah mengapa bagi
mereka justru disitulah letak kelucuan saya dan membuat mereka gemas luar biasa
dengan saya sampai sekarang.
Perbincangan kembali soal
perkawinan, ayah ibu saya cerita usia perkawinan mereka begitu awet dan panjang,
tiba-tiba mereka menyalami bapak ibu saya dan mereka melirik saya sambil bilang
“kamu nggak iri sama orangtuamu yang perkawinannya awet mbak?” Saya jengkel dan
menjawab, saya bersyukur karena mereka membebaskan saya mau jadi apa, bukan
menjadi seperti mereka. Terlintas di pikiranku bahwa mereka, para laki-laki
pegawai perusahaan investasi ini terganggu dengan pernyataan-pernyataan saya
tentang eksistensi saya sebagai diri, sebagai perempuan, tentang harta yang
saya miliki yang tidak ingin saya kaitkan dengan orang lain. Mereka terganggu
sekali. Mungkin mereka membayangkan dengan penuh ketakutan, bagaimana kalau
istri-istri yang barangkali menurut mereka bakalan “kurang ajar” seperti saya.
Saya juga tidak mengerti
mengapa ibu saya betah berjalan berdua dengan saya, karena setiap waktu di
ruang-ruang publik itu adalah saya yang protes berkali-kali. Mulai pesan
lontong cap gomeh tapi disajikan seperti semur yang belum matang, dengan harga
mahal di mall-mall pinggiran Jakarta, sampai struk yang salah hitung belanjaan
kami, dan protes saya pada pelayanan tempat saji an makanan dimana saya bertanya
“berapa lama makanan siap?” lalu merkea jawab “nggak tahu, memangnya tadi siapa
pelayannya?” dan saya memutuskan meninggalkan tempat makan itu meskipun kami
kelaparan. Ibu saya selalu menurut dengan saya, dia tidak mengatur saya kecuali
hal-hal rumah tangga seperti memasang gas dan kompor, menanak nasi, masakan dan
lain-lain dan sekarang saya mulai ahli. Mungkin ayah saya sesekali menimpali
saya dengan pernyataan kritik atas kelakuan saya itu, tetapi kami bisa diskusi
dan akhirnya ayah saya diam. Ayah saya juga berharap saya jadi pegawai negeri,
tapi saya jawab kalau semua orang ingin jadi pegawai negeri, negara ini runtuh
karena nggak ada ahli-ahli dibidang lain. Saya berada di jalur pekerja sosial.
Begitulah, saya
kadang-kadang putus asa dengan keadaan, bahkan hanya saat saya ingin beli makan,
saat kami ingin invest uang, saat kami ingin punya keuntungan kecil dari jerih
payah kami. Saat pakaian dan sepatu kami sobek-sobek tapi bisa punya rumah
mungil, mobil murah dan dua sepeda keren. Tidak bisakah kita membuat hidup ini
lebih sederhana wahai para pedagang pasar uang? Bukankah kami tidak pernah menyakiti
dan merugikan hidup anda? Mereka mengangkat bahu dan menjawab “begitulah cara
kami bekerja.” Selesai sudah semua data dan dokumen dengan perdebatan yang
panjang itu, kami beranjak makan siang dan itupun harus menaiki tangga
setinggi-tingginya dimana ayah dan ibu saya sudah sulit melakukannya, saya
harus menggandeng ibu saya dan mengawasi ayah saya yang lansia naik dan turun
tangga supaya tidak jatuh, hampir 15 menit sendiri karena begitu hati-hatinya.
Sederhana itu tidak lazim,
saudara-saudara. Kalau kamu bukan orang kaya, seharusnya kamu orang miskin,
atau sebaliknya. Kamu harusnya kawin, atau cerai, atau tidak kawin dan tidak
cerai, tidak boleh jadi diri sendiri. Tidak ada yang boleh biasa-biasa saja,
cukup-cukup saja, dan kamu salah karenanya, kamu tidak dalam kategori apapun.
Kamu harus jadi anak seumur hidup, atau kamu harus punya suami, anak, rumah
milik suamimu, kendaraan milik suamimu, dan kalau tidak begitu semua salah.
Nah, kemudian mereka mulai menemukan bahwa saya seorang aktivis, lalu mulailah mereka
bicara soal politik dan peristiwa 98, ternyata salah satu diantara mereka ada
yang angkatan 90-an dan sama-sama mahasiswa pada masa itu. Disitulah kami mulai
mencair, dan barangkali itu titik temu yang paling ideal diantara tema-tema
lainnya seputar penghasilan dan keluarga. Mereka agak prihatin ketika saya
mengisi kolom penghasilan, saya contreng di bawah 5 juta dengan postur orang
kaya yang putih bersih dan angkuh dan keras kepala ini, akhirnya bisa
tertawa-tawa dengan kami disertai jabat tangan yang hangat.
Tambun, 27 Agustus 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar