Kamis, 21 Agustus 2014

WAKTU dan UDARA



Oleh: Mariana Amiruddin

Pukul 2 sampai 5 pagi adalah jam-jam kreatif, jam-jam imajinasi hadir menggantikan mimpi. Waktu dimana aku bisa keluar dari realitas yang bertabrakan. Waktu dimana aku mabuk pada sepi yang begitu aku cintai. Atau waktu bagi para pertapa gagal sepertiku karena masih mengintip keadaan dunia. Waktu yang tidak pernah kutempatkan sebagai tidur atau beristirahatnya segala metabolisme. Ini adalah waktu dimana kepalaku menyala-nyala untuk menuliskan segala-galanya. Tapi esok adalah terang benderang dan semua terlihat buruk, waktu yang sangat nyata, dan hingga dini hari ini aku perlu begitu banyak persiapan. Tetapi persiapan apa yang kulakukan? Tidak ada. Aku ingin imajinasi bisa berlaku untuk sebuah kenyataan. Tetapi segala yang terstruktur esok menciptakan tembok-tembok penghalang imajinasi. Tetapi realitasku esok butuh imajinasiku. Tapi mengapa imajinasi dan nyata menjadi tabrak menabrak dan terbelah-belah? Barangkali karena sebetulnya hatiku tidak mau tapi pikiranku mau. Tapi apa bedanya pikiran dengan hati, bukankah semuanya ada di dalam kepala?

Pernahkah anda merasakan segala yang terbelah dalam dirimu. Yang satu berkata berseberangan dengan yang lainnya. Segala yang terbelah jadi dua ini membuat anda berhenti di tengah waktu. Lalu rasa lapar datang, lalu anda akan membuka dan menutup kulkas berkali-kali dan akhirnya hanya menemukan wortel, cabai dan sawi. Lalu anda akan mengunyah ketiganya tanpa sadar sambil menonton televisi yang penuh dengan urusan-urusan orang lain, yang tidak ada hubungannya dengan urusan-urusan anda sendiri, ketawa-ketawa, joget-joget dan jualan produk. Bila anda bosan anda segera beralih menatap berjam-jam dengkur mahluk berbulu halus dan saat mereka menguap anda bisa melihat taring-taring tajamnya dan kuku-kuku yang keluar dari buku-buku jarinya.

Waktu seperti berhenti, tetapi sesungguhnya akulah yang berhenti. Tapi aku juga gemar bergerak bolak-balik dari ruang kerja ke ruang televisi. Aku juga duduk dan bangun dan setelah itu duduk lagi. Apakah aku mengalami absurditas, atau memang absurditas adalah takdir?  Apa yang mau aku tuju dan apakah aku punya sesuatu untuk dituju? Atau sekali-sekali aku ingin menujumu, tetapi  aku tidak tahu siapa kamu yang mau aku tuju. Mungkin bayangan, atau ilalang, atau cermin, atau daun jatuh, atau tikus mati.
Katakanlah aku habis pulang dari pusat kota dalam berjam-jam percakapan yang begitu bergairah dan semangat,  dan selama perjalanan pulang pikiranku begitu lincah dan meletup-letup mencari celah untuk keluar dalam bentuk tulisan, tetapi sampai rumah, struktur pikiranku pecah berkeping-keping, sampai rumah aku hanya ingin menulis segala-galanya yang tidak kurencanakan, yang tidak aku kerangkakan, yang tidak membuatku mengutip atau menyadur, yang tidak membuatku kagum pada apapun atau memuja pada siapapun. Atau bahkan kagum dan memuja diri sendiri, atau tergila-gila pada kekaguman orang padaku, atau pada nilai-nilai yang anda pegang erat-erat, atau pada cinta khayalan sekalipun. Lalu dimanakah anda, dimanakah aku? Kita sedang bediri di sebelah mana? Barangkali di luar angkasa, dimana kita hanya mengambang terbuang, terlempar dan berputar-putar dalam gerakan yang sangat lamban, diantara bumi dan mars, diantara venus dan merkurius, atau keluar melesat dari bima sakti, menunggu sampai grafitasi kembali menarik kita, terdorong oleh dentuman ledakan bintang, atau sampai lubang hitam menghisap kita pindah pada waktu dan kehidupan yang lain. Dan setelah itu gravitasi menyadarkan kita, tentang apa yang disebut nyata. Kita? Bukankah hanya ada aku, atau hanya ada anda? APakah kita pernah bertemu? Anggap saja tidak. Tidak sekalipun. Tidak ada siapapun. Aku hanya berbicara pada diri sendiri, atau barangkali nyamuk sedikit mengerti kekacauan pikiranku saat mereka menghisap darah segarku, darah mengalir dan detak jantung yang dinyatakan sebagai hidup.

Atau pertanyaan-pertanyaan kecil yang melintas saat anda bolak-balik membuka kulkas, seperti apa sebetulnya yang membuat anda sedih atau senang? Aku punya seribu daftar kesedihan dan seribu daftar kesenangan, keduanya seimbang, tetapi jumlah yang terlalu banyak itu membingungkanku, dan membuatku memutuskan untuk membuang keduanya, membuang kesedihan dan membuang kesenangan. Titik apakah yang bisa kita katakan saat tak ada kesedihan ataupun kesenangan? Titik-titik dalam urat nadimu sendiri, yang terdeteksi alat pengecek tensi, dan terdengar jantungmu melambat, berdetak menuju berhentinya waktu. Dan nafas halus, nafas hangatmu akan berganti sesak, dan sebentar lagi hanya seonggok jasad dengan mata mendelik dan rupa berwarna ungu. Oh anggap saja karena kita sudah terlalu lama di ruang angkasa dan lupa bahwa bumi berwarna biru dengan sedikit kue-kue coklat kehijauan mengapung di atasnya. Aku bisa melihat bumi dari sini dengan wajahku yang ungu, aku tak bernafas, tak ada darah mengalir, tak ada tatapan yang hangat. Aku bisa melihat bumi tanpa syarat-syarat yang anda bilang sebagai hidup.

Sampai akhirnya aku tahu bahwa aku menujumu, menuju ruang hampa. Aku dalam kehidupan tanpa udara, tanpa butir-butir air yang berdesakan di udara. Tanpa lendir atau kotoran mata dan hidung atau yang keluar dari anusmu. Tidak ada bakteri-bakteri yang hidup dalam tubuhku, tidak ada anak-anak lalat  sebesar butir nasi memakan bangkaiku. Aku akan terus mengambang tanpa harus menjadi busuk dan berkeliling di ruang angkasa dengan hitungan kecepatan cahaya, aku tak lagi mengenal satu hari adalah 24 jam. Disitulah anda akan tahu bahwa kadang kematian adalah indah dalam imajinasimu dan kehidupan adalah kematian dalam imajinasimu, dan ruang hampa akan menyelamatkanmu dari segala terjemahan dan penjelasan keduanya.

Tambun, 22 Agustus 2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar