Oleh: Mariana Amiruddin
Pukul
2 sampai 5 pagi adalah jam-jam kreatif, jam-jam imajinasi hadir menggantikan
mimpi. Waktu dimana aku bisa keluar dari realitas yang bertabrakan. Waktu dimana aku
mabuk pada sepi yang begitu aku cintai. Atau waktu bagi para pertapa gagal sepertiku
karena masih mengintip keadaan dunia. Waktu yang tidak pernah
kutempatkan sebagai tidur atau beristirahatnya segala metabolisme. Ini adalah
waktu dimana kepalaku
menyala-nyala untuk menuliskan segala-galanya. Tapi esok adalah terang
benderang dan semua terlihat buruk, waktu yang sangat nyata, dan hingga dini hari ini aku perlu begitu banyak persiapan. Tetapi
persiapan apa yang kulakukan? Tidak ada. Aku ingin imajinasi bisa berlaku untuk sebuah kenyataan.
Tetapi segala yang terstruktur esok menciptakan tembok-tembok penghalang imajinasi. Tetapi realitasku esok
butuh imajinasiku. Tapi mengapa imajinasi dan nyata menjadi tabrak menabrak dan terbelah-belah? Barangkali karena
sebetulnya hatiku tidak mau tapi pikiranku mau. Tapi apa bedanya pikiran dengan
hati, bukankah semuanya ada di dalam kepala?
Pernahkah
anda merasakan segala yang terbelah dalam dirimu. Yang satu berkata berseberangan dengan yang lainnya.
Segala yang terbelah jadi dua ini membuat anda berhenti di tengah waktu. Lalu rasa lapar
datang, lalu anda akan membuka dan menutup kulkas berkali-kali dan akhirnya hanya menemukan wortel, cabai dan sawi. Lalu anda akan mengunyah ketiganya tanpa
sadar sambil
menonton televisi yang penuh dengan urusan-urusan orang lain, yang
tidak ada hubungannya dengan urusan-urusan anda sendiri, ketawa-ketawa,
joget-joget dan jualan produk. Bila anda bosan anda segera beralih menatap berjam-jam dengkur
mahluk berbulu halus dan saat
mereka menguap anda bisa melihat taring-taring tajamnya dan kuku-kuku yang
keluar dari buku-buku jarinya.
Waktu seperti berhenti, tetapi sesungguhnya akulah yang berhenti. Tapi
aku juga gemar bergerak bolak-balik dari ruang kerja ke ruang televisi. Aku
juga duduk dan bangun dan setelah itu duduk lagi. Apakah aku mengalami absurditas,
atau memang absurditas adalah takdir? Apa yang mau aku tuju dan apakah aku punya
sesuatu untuk dituju? Atau sekali-sekali aku ingin menujumu, tetapi aku tidak tahu siapa kamu yang mau aku tuju.
Mungkin bayangan, atau ilalang, atau cermin, atau daun jatuh, atau tikus mati.
Katakanlah aku habis pulang dari pusat kota dalam berjam-jam percakapan
yang begitu bergairah dan semangat, dan selama
perjalanan pulang pikiranku begitu lincah dan meletup-letup mencari celah untuk
keluar dalam bentuk tulisan, tetapi sampai rumah, struktur pikiranku pecah berkeping-keping,
sampai rumah aku hanya ingin menulis segala-galanya yang tidak kurencanakan,
yang tidak aku kerangkakan, yang tidak membuatku mengutip atau menyadur, yang
tidak membuatku kagum pada apapun atau memuja pada siapapun. Atau bahkan kagum dan
memuja diri sendiri, atau tergila-gila pada kekaguman orang padaku, atau pada
nilai-nilai yang anda pegang erat-erat, atau pada cinta khayalan sekalipun.
Lalu dimanakah anda, dimanakah aku? Kita sedang bediri di sebelah mana? Barangkali
di luar angkasa, dimana kita hanya mengambang terbuang, terlempar dan
berputar-putar dalam gerakan yang sangat lamban, diantara bumi dan mars,
diantara venus dan merkurius, atau keluar melesat dari bima sakti, menunggu sampai
grafitasi kembali menarik kita, terdorong oleh dentuman ledakan bintang, atau
sampai lubang hitam menghisap kita pindah pada waktu dan kehidupan yang lain. Dan
setelah itu gravitasi menyadarkan kita, tentang apa yang disebut nyata. Kita?
Bukankah hanya ada aku, atau hanya ada anda? APakah kita pernah bertemu? Anggap
saja tidak. Tidak sekalipun. Tidak ada siapapun. Aku hanya berbicara pada diri
sendiri, atau barangkali nyamuk sedikit mengerti kekacauan pikiranku saat
mereka menghisap darah segarku, darah mengalir dan detak jantung yang
dinyatakan sebagai hidup.
Atau pertanyaan-pertanyaan kecil yang melintas saat anda bolak-balik
membuka kulkas, seperti apa sebetulnya yang membuat anda sedih atau senang? Aku
punya seribu daftar kesedihan dan seribu daftar kesenangan, keduanya seimbang,
tetapi jumlah yang terlalu banyak itu membingungkanku, dan membuatku memutuskan
untuk membuang keduanya, membuang kesedihan dan membuang kesenangan. Titik
apakah yang bisa kita katakan saat tak ada kesedihan ataupun kesenangan?
Titik-titik dalam urat nadimu sendiri, yang terdeteksi alat pengecek tensi, dan
terdengar jantungmu melambat, berdetak menuju berhentinya waktu. Dan nafas
halus, nafas hangatmu akan berganti sesak, dan sebentar lagi hanya seonggok
jasad dengan mata mendelik dan rupa berwarna ungu. Oh anggap saja karena kita sudah
terlalu lama di ruang angkasa dan lupa bahwa bumi berwarna biru dengan sedikit
kue-kue coklat kehijauan mengapung di atasnya. Aku bisa melihat bumi dari sini
dengan wajahku yang ungu, aku tak bernafas, tak ada darah mengalir, tak ada
tatapan yang hangat. Aku bisa melihat bumi tanpa syarat-syarat yang anda bilang
sebagai hidup.
Sampai akhirnya aku tahu bahwa aku menujumu, menuju ruang hampa. Aku dalam
kehidupan tanpa udara, tanpa butir-butir air yang berdesakan di udara. Tanpa lendir
atau kotoran mata dan hidung atau yang keluar dari anusmu. Tidak ada bakteri-bakteri
yang hidup dalam tubuhku, tidak ada anak-anak lalat sebesar butir nasi memakan bangkaiku. Aku akan
terus mengambang tanpa harus menjadi busuk dan berkeliling di ruang angkasa dengan
hitungan kecepatan cahaya, aku tak lagi mengenal satu hari adalah 24 jam. Disitulah
anda akan tahu bahwa kadang kematian adalah indah dalam imajinasimu dan
kehidupan adalah kematian dalam imajinasimu, dan ruang hampa akan
menyelamatkanmu dari segala terjemahan dan penjelasan keduanya.
Tambun, 22 Agustus 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar