Oleh Mariana Amiruddin
Apakah anda pernah merasakan setiap harinya
hanya bicara dengan hewan, pohon, televisi, komputer, buku, kertas, pulpen,
piring, kompor, lantai, obat pel dan sapu? Kalaupun anda berbincang dengan manusia, anda hanya perlu
jari yang lincah seperti saya ini. Rasakan betapa dahsyatnya hidup saat mulut
hanya anda gunakan untuk makan, bersiul atau bernyanyi kecil sambil bermain
biola. Pita suara anda akan sangat kurang kerjaan. Rawatlah jari-jari anda
supaya tetap kuat dan lincah untuk
berkomunikasi dengan manusia, untuk menjentik tali-talli senar anda, jangan seperti saya yang terkilir hanya karena mengangkat ember dan
salah meletakkan pisau di rak piring. Anda akan merasakan betapa debu-debu tipis di lantai akan menganggu
anda, bulu-bulu kucing yang masih bertengger di sofa anda, dan anda tak perlu
bicara karena itu, anda tinggal mengambil sapu, lap basah atau mengepel lantai.
Atau saat hewan peliharaan anda berkata miaw, anda tinggal jawab dengan bahasa
yang sama, menggoreng ikan, menanak nasi, dan mencampurnya untuk makanan
mereka, dan rasa bahagia saat mereka makan dengan lahap.
Pernahkan anda
merasakan hidup berhari-hari di dalam rumah dan anda hanya keluar untuk membeli
makanan, membayar listrik, pulsa, internet, pajak, hanya lewat mesin ATM, lalu
kembali pulang? Anda akan merasa aman luar biasa dan tiba-tiba terserang panik
saat orang datang atau sekedar lewat melangkah, atau tukang sayur dan somay
yang melintas di depan rumah anda lalu tiba-tiba meminta air ledeng di halaman
anda dan meminjam sapu lidi? Seperti yang kurasakan, aku lebih senang mendengar
kelelawar atau mahluk lain mengintip aktivitasku daripada rombongan manusia. Ya,
itulah kehidupan yang sunyi tetapi tetap saja ramai dengan benda-benda mati
maupun hidup. Saat menulis kata-kata ini anda bisa mendengar suara kipas angin
kecil dan jari-jari anda terdengar lincah memainkan keyboard komputer sambil
mendengarkan musik klasik. Dan suara kipas angin menjadi seperti suara hujan
yang tidak pernah reda. Atau anak-anak burung yang mencicit manja di lubang
angin rumah anda. Dan tiba-tiba ayam berkokok, burung-burung peliharaan mulai
berkicau, anda segera menyadari bahwa matahari sebentar lagi terbit dan
orang-orang mulai menyalakan mesin kendaraan untuk berangkat bekerja, ibu-ibu
rumah tangga atau pembantu menyiapkan sarapan dan anak-anak menjerit. Menyusul
suara sepeda melintas, dan tukang roti yang datang dari jauh menyambut pembeli.
Pernahkah dalam
kehidupan hari-hari sendiri itu tiba-tiba anda terserang flu, demam, menggigil
dan tak seorangpun ada di situ? Apakah anda akan telpon teman atau keluarga,
atau dokter yang bisa dipanggil misalnya? Tidak. Ternyata daya survive kita
luar biasa, aku segera minum air putih berliter-liter dan menelan obat,
sebelumnya makan makanan yang tersedia di meja dan kuolah sendiri. Anda akan
mampu melakukannya sendiri. Dan ketika anda tidur tak seorangpun
membangunkanmu, dan ketika bangun anda hanya melihat matahari sudah tinggi hampir
menimpa wajahmu dan kucing-kucing tergeletak di lantai kepanasan, tertidur
lelap. Rumahmu akan terlihat bersih dan mengkilat, meskipun lupa kamu akan lupa
membersihkan diri sendiri, dan tiba-tiba melihat kukukumu hitam dan wajah dan
rambutmu serempak berminyak. Tapi rumput-rumput di halaman depan rumah itu
lebih penting karena sudah mulai tinggi perlu segera anda potong dengan tangan
anda sendiri sampai kapalan. Dan ketika kembali ke dalam rumah, anda akan
terganggu melihat jejak kaki anda sendiri, dan segera anda membersihkannya.
Pernahkah anda melihat bahwa betapa pentingnya pakaian bersih? Tumpukan baju
kotor itu kita sendiri yang mencucinya, jumlahnya pastilah sangat sedikit,
termasuk pakaian dalam, dan sebelum matahari datang kita sudah menjemurnya
sambil bersiul, dan kucing-kucing akan bermain-main di bawah kakimu, dan hanya
dalam beberapa jam saja pakaian anda sudah kering.
Bukankah hidup begitu
simpel dan tetek bengek itu tidak membuat kita mengeluh? Bukankah kita tidak
selalu harus menjadikan kata-kata seperti sampah makanan yang tak jelas akan
dibuang kemana? Dan orang-orang yang berebut bicara untuk memperlihatkan diri
masing-masing? Bukankah sunyi itu membuatmu lebih peka mendengar bunyi, bahkan
bunyi jantung dan hatimu sendiri? BIla pita suara di tenggorokanku ini bisa
kuberikan untuk tali-tali senar biolaku untuk menjadikannya lebih nyaring tentu
aku mau, asal aku siap untuk tidak pernah bicara atau presentasi tentang negara.
Kelima kucingku
kadang-kadang bicara cukup dengan sorot matanya saja. Lapar, mengantuk, ingin kencing
atau pup, aku sudah tahu kode-kode mereka. Atau bahkan bilang ingin dimanja,
aku segera menggendong dan memeluk mereka sekaligus dan terdengar suara dengkur
dan merasakan hangat tubuh mereka. Atau anda bisa membayangkan seandainya dunia
ini hancur dan anda hidup sendirian, dalam arti tidak ada orang di sekitar anda
yang selamat, anda sudah terbiasa.
Tentu, hidup dalam
rumah sunyi ini pasti lebih baik dari hidup di penjara. Penjara ataupun di luar
penjara anda hanya menemukan kegaduhan, bising, dan tumpukan bunyi yang saling
beradu, atau orang-orang yang bercakap-cakap tertawa gelak untuk hal yang tidak
perlu. Satu-satunya kebisingan di rumah sunyi ini apabila datang petir dan
badai angin dan hujan. Aku akan menutup seluruh pintu rapat-rapat dan
menyelamatkan kucing-kucingku yang sedang asik bermain di halaman belakang yang
lembab. Aku akan menutup telingaku dan segera mengambil berselimut tebal
bersama kucing-kucingku yang ketakutan, aku akan memeluk mereka dengan sangat
erat hingga mereka mendengkur saling menghangatkan.
Kegaduhan yang
diciptakan manusia lebih mengerikan dari suara petir yang mengantarku pada
tangisan. Kegaduhan yang dihadirkan manusia membuatku pecah berantakan. Aku
yang disana, diantara mereka, akan menangkapnya sebagai bunyi. Aku akan kembali
menyusuri jalan, mengikuti cahaya bulan, menuju pulang sambil meraba satu demi
satu bagaimana kehidupan terlihat hampir seragam, dan aku hidup dengan ritme
yang terbalik. Dalam perjalanan pulang itu, lagi-lagi bunyi musik yang
terdengar dari radio, dan itu sudah cukup menjadi teman perjalanan.
Oh, dunia. Mengapa kau
bernama dunia. Aku tak lagi kenal apa itu kelam, apa itu terang. Apa itu hidup,
apa itu mati. Keduanya adalah kehidupan sekaligus kematian. Aku tak lagi kenal
apa itu sedih apa itu bahagia. Aku menyatukannya sekaligus dalam arti sendiri, dan
dunia menjadi miliku sendiri.
Apakah ini terdengar
egois? Bukankah aku tidak menganggu hidup orang lain? Bukankah aku tidak melakukan
kejahatan? Bukankah aku tidak merebut pacar orang, istri orang? Bukankah aku
tidak ikut-ikutan menggosip kejelekan orang? Tentulah aku tidak egois karena
aku tidak menganggu siapapun. Tetaplah aman bersamaku, meskipun dari jauh. AKu
akan melihat semua dari jauh, sejauh jarak matahari dan bumi yang kita bisa
saling melihat kecuali hujan datang. Dan memang hujan selalu datang sehingga
sekali-sekali aku tak bisa melihatnya.
Satu jam lagi ayam
akan berkokok. Kadang aku ingin ikut berkokok, tetapi suaraku belum separau
ayam-ayam itu. AKu jarang menggunakannya. AKu berkicau saja, tapi aku tidak
bisa setinggi itu bila berkicau, suaraku akan terdengar seperti serigala
melolong.. Tapi katakan sebenarnya, seperti apakah mulut dan suara manusia itu?
Aku hampir saja lupa.
Tambun, 18 Agustus
2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar