Minggu, 17 Agustus 2014

Bunyi


Oleh Mariana Amiruddin

Apakah anda pernah merasakan setiap harinya hanya bicara dengan hewan, pohon, televisi, komputer, buku, kertas, pulpen, piring, kompor, lantai, obat pel dan sapu? Kalaupun anda berbincang dengan manusia, anda hanya perlu jari yang lincah seperti saya ini. Rasakan betapa dahsyatnya hidup saat mulut hanya anda gunakan untuk makan, bersiul atau bernyanyi kecil sambil bermain biola. Pita suara anda akan sangat kurang kerjaan. Rawatlah jari-jari anda supaya tetap kuat dan lincah untuk berkomunikasi dengan manusia, untuk menjentik tali-talli senar anda, jangan seperti saya yang terkilir hanya karena mengangkat ember dan salah meletakkan pisau di rak piring. Anda akan merasakan betapa debu-debu tipis di lantai akan menganggu anda, bulu-bulu kucing yang masih bertengger di sofa anda, dan anda tak perlu bicara karena itu, anda tinggal mengambil sapu, lap basah atau mengepel lantai. Atau saat hewan peliharaan anda berkata miaw, anda tinggal jawab dengan bahasa yang sama, menggoreng ikan, menanak nasi, dan mencampurnya untuk makanan mereka, dan rasa bahagia saat mereka makan dengan lahap.

Pernahkan anda merasakan hidup berhari-hari di dalam rumah dan anda hanya keluar untuk membeli makanan, membayar listrik, pulsa, internet, pajak, hanya lewat mesin ATM, lalu kembali pulang? Anda akan merasa aman luar biasa dan tiba-tiba terserang panik saat orang datang atau sekedar lewat melangkah, atau tukang sayur dan somay yang melintas di depan rumah anda lalu tiba-tiba meminta air ledeng di halaman anda dan meminjam sapu lidi? Seperti yang kurasakan, aku lebih senang mendengar kelelawar atau mahluk lain mengintip aktivitasku daripada rombongan manusia. Ya, itulah kehidupan yang sunyi tetapi tetap saja ramai dengan benda-benda mati maupun hidup. Saat menulis kata-kata ini anda bisa mendengar suara kipas angin kecil dan jari-jari anda terdengar lincah memainkan keyboard komputer sambil mendengarkan musik klasik. Dan suara kipas angin menjadi seperti suara hujan yang tidak pernah reda. Atau anak-anak burung yang mencicit manja di lubang angin rumah anda. Dan tiba-tiba ayam berkokok, burung-burung peliharaan mulai berkicau, anda segera menyadari bahwa matahari sebentar lagi terbit dan orang-orang mulai menyalakan mesin kendaraan untuk berangkat bekerja, ibu-ibu rumah tangga atau pembantu menyiapkan sarapan dan anak-anak menjerit. Menyusul suara sepeda melintas, dan tukang roti yang datang dari jauh menyambut pembeli.

Pernahkah dalam kehidupan hari-hari sendiri itu tiba-tiba anda terserang flu, demam, menggigil dan tak seorangpun ada di situ? Apakah anda akan telpon teman atau keluarga, atau dokter yang bisa dipanggil misalnya? Tidak. Ternyata daya survive kita luar biasa, aku segera minum air putih berliter-liter dan menelan obat, sebelumnya makan makanan yang tersedia di meja dan kuolah sendiri. Anda akan mampu melakukannya sendiri. Dan ketika anda tidur tak seorangpun membangunkanmu, dan ketika bangun anda hanya melihat matahari sudah tinggi hampir menimpa wajahmu dan kucing-kucing tergeletak di lantai kepanasan, tertidur lelap. Rumahmu akan terlihat bersih dan mengkilat, meskipun lupa kamu akan lupa membersihkan diri sendiri, dan tiba-tiba melihat kukukumu hitam dan wajah dan rambutmu serempak berminyak. Tapi rumput-rumput di halaman depan rumah itu lebih penting karena sudah mulai tinggi perlu segera anda potong dengan tangan anda sendiri sampai kapalan. Dan ketika kembali ke dalam rumah, anda akan terganggu melihat jejak kaki anda sendiri, dan segera anda membersihkannya. Pernahkah anda melihat bahwa betapa pentingnya pakaian bersih? Tumpukan baju kotor itu kita sendiri yang mencucinya, jumlahnya pastilah sangat sedikit, termasuk pakaian dalam, dan sebelum matahari datang kita sudah menjemurnya sambil bersiul, dan kucing-kucing akan bermain-main di bawah kakimu, dan hanya dalam beberapa jam saja pakaian anda sudah kering.

Bukankah hidup begitu simpel dan tetek bengek itu tidak membuat kita mengeluh? Bukankah kita tidak selalu harus menjadikan kata-kata seperti sampah makanan yang tak jelas akan dibuang kemana? Dan orang-orang yang berebut bicara untuk memperlihatkan diri masing-masing? Bukankah sunyi itu membuatmu lebih peka mendengar bunyi, bahkan bunyi jantung dan hatimu sendiri? BIla pita suara di tenggorokanku ini bisa kuberikan untuk tali-tali senar biolaku untuk menjadikannya lebih nyaring tentu aku mau, asal aku siap untuk tidak pernah bicara atau presentasi tentang negara.

Kelima kucingku kadang-kadang bicara cukup dengan sorot matanya saja. Lapar, mengantuk, ingin kencing atau pup, aku sudah tahu kode-kode mereka. Atau bahkan bilang ingin dimanja, aku segera menggendong dan memeluk mereka sekaligus dan terdengar suara dengkur dan merasakan hangat tubuh mereka. Atau anda bisa membayangkan seandainya dunia ini hancur dan anda hidup sendirian, dalam arti tidak ada orang di sekitar anda yang selamat, anda sudah terbiasa.

Tentu, hidup dalam rumah sunyi ini pasti lebih baik dari hidup di penjara. Penjara ataupun di luar penjara anda hanya menemukan kegaduhan, bising, dan tumpukan bunyi yang saling beradu, atau orang-orang yang bercakap-cakap tertawa gelak untuk hal yang tidak perlu. Satu-satunya kebisingan di rumah sunyi ini apabila datang petir dan badai angin dan hujan. Aku akan menutup seluruh pintu rapat-rapat dan menyelamatkan kucing-kucingku yang sedang asik bermain di halaman belakang yang lembab. Aku akan menutup telingaku dan segera mengambil berselimut tebal bersama kucing-kucingku yang ketakutan, aku akan memeluk mereka dengan sangat erat hingga mereka mendengkur saling menghangatkan.

Kegaduhan yang diciptakan manusia lebih mengerikan dari suara petir yang mengantarku pada tangisan. Kegaduhan yang dihadirkan manusia membuatku pecah berantakan. Aku yang disana, diantara mereka, akan menangkapnya sebagai bunyi. Aku akan kembali menyusuri jalan, mengikuti cahaya bulan, menuju pulang sambil meraba satu demi satu bagaimana kehidupan terlihat hampir seragam, dan aku hidup dengan ritme yang terbalik. Dalam perjalanan pulang itu, lagi-lagi bunyi musik yang terdengar dari radio, dan itu sudah cukup menjadi teman perjalanan.

Oh, dunia. Mengapa kau bernama dunia. Aku tak lagi kenal apa itu kelam, apa itu terang. Apa itu hidup, apa itu mati. Keduanya adalah kehidupan sekaligus kematian. Aku tak lagi kenal apa itu sedih apa itu bahagia. Aku menyatukannya sekaligus dalam arti sendiri, dan dunia menjadi miliku sendiri.  
Apakah ini terdengar egois? Bukankah aku tidak menganggu hidup orang lain? Bukankah aku tidak melakukan kejahatan? Bukankah aku tidak merebut pacar orang, istri orang? Bukankah aku tidak ikut-ikutan menggosip kejelekan orang? Tentulah aku tidak egois karena aku tidak menganggu siapapun. Tetaplah aman bersamaku, meskipun dari jauh. AKu akan melihat semua dari jauh, sejauh jarak matahari dan bumi yang kita bisa saling melihat kecuali hujan datang. Dan memang hujan selalu datang sehingga sekali-sekali aku tak bisa melihatnya.

Satu jam lagi ayam akan berkokok. Kadang aku ingin ikut berkokok, tetapi suaraku belum separau ayam-ayam itu. AKu jarang menggunakannya. AKu berkicau saja, tapi aku tidak bisa setinggi itu bila berkicau, suaraku akan terdengar seperti serigala melolong.. Tapi katakan sebenarnya, seperti apakah mulut dan suara manusia itu? Aku hampir saja lupa.

Tambun, 18 Agustus 2014






Tidak ada komentar:

Posting Komentar