Oleh Mariana Amiruddin
Malam menjelang pesta kemerdekaan
Indonesia, kami mengadakan rapat kecil bersama teman-teman tentang kondisi pasca
pemilu presiden di kediaman seorang aktivis yang jauh dari usia kami, usia
berkepala delapan. Hubungan yang sangat awet, tidak ada hambatan apapun dalam
hal usia dan latar belakang kami untuk satu tujuan perjuangan yang sama. Lepas
dari rapat kecil itu, dengan kepala penat dan rasa lapar, kami mampir ke Blok
M, makan ayam bakar Gantari. Setelah kenyang, kami menuju Kota Tua untuk
melihat berbagai kegiatan menjelang perayaan kemerdekaan. Tetapi kami lupa ini
malam minggu dan pantas saja kami terjebak macet. Melelahkan sekali, bukan ini
yang kami mau, sehingga kami berputar balik untuk mencari tempat ruang yang luas
terbuka dan sepi untuk sekedar duduk, minum kopi dan melihat langit.
Karena saya yang nyetir,
segera saya putuskan menuju ke Lapangan Banteng. Teman-teman sempat terdiam. Mengapa
Lapangan Banteng? Barangkali ada hal aneh di pikiran mereka. Saya tidak peduli dan
terus menancap gas. Saya cerita sedikit
tentang masa remaja saya yang penuh risiko. Tidur di jalanan berhari-hari,
tidur di Mesjid, tidur di TIM Cikini, berlari sejauh mungkin sampai ke puncak
gunung atau tertidur di bibir samudra hanya membawa uang limapuluh ribu perak dan segembol tas,
mengamen, menelusuri tempat-tempat kumuh dan sesak. Untuk apa? Untuk merasakan bagaimana menjadi
seorang gelandangan, merasakan hidup menjadi orang lain yang tidak seberuntung
saya. Dari situlah kepedulian saya pada orang lain mulai muncul. Bagaimana
menjadi seorang diri tanpa keluarga atau sanak saudara. Bagaimana menghayati
kesusahan, ketidakstabilan ekonomi, ketiadaan tempat untuk tinggal. Banyak
orang bilang apa yang saya lakukan itu aneh dan berbahaya, apalagi saya
perempuan, orang-orang yang melihat saya bahkan mengatakan, untuk apa orang
kaya turun ke bawah, sudah baik hidupnya malah mencari masalah. Dan kata orang,
tampang saya tampang orang kota, orang kaya, kelas menengah. Saya terlalu
bersih untuk tidur di jalanan dan mengamen mencari uang. Waktu itu saya masih
mahasiswa S1. Saya tak mengerti soal kelas-kelas itu dan yang saya inginkan
hanya menghayati kehidupan orang lain.
Sampai di Lapangan Banteng,
tampak Patung Pembebasan karya era presiden Soekarno menjulang di langit. Kami
parkir kendaraan di dekat pedagang kaki lima penjual rokok dan ketoprak. Kami
duduk tenang di sana, tempat yang luas dan nyaman. Kami memesan teh panas dan
saya lapar segera membeli makanan. Diskusi rupanya belum selesai tentang
arsitektur kabinet yang kami inginkan. Memang sulit merancang struktur
pemerintahan, memang sulit mengurus organisasi besar bernama negara, tetapi
kami memang perlu ambil bagian. Mencari model-model struktur pemerintahan
negara yang efektif dan bisa mencapai target-target keadilan dan kesejahteraan,
terutama untuk kaum perempuan.
Saat kami berdiskusi,
membuka buku dan mencoret-coret rancangan di Lapangan Banteng, di bawah langit
dan bulan yang hanya separuh, serta pedagang kaki lima, datang seorang anak
muda dengan wajah pucat duduk di dekat kami, memesan segelas kopi dari
pedagang. Dia terus menatap kami. Dia bertanya pada pedagang itu tetapi ternyata
dia tidak bisa bahasa Indonesia, dan tukang ketoprak meminta kami untuk
membantu bicara dalam bahasa Inggris. Saya melihat wajah pucat dingin lelaki
itu putus harapan. Ia hanya membawa ransel dan sebuah ponsel di tangannya. Dia
orang asing, orang dari negara lain yang terdampar di Jakarta, dan menceritakan
pengalamannya bagaimana bisa sampai di Lapangan Banteng. Saya sempat menebak-nebak
dari mana asal orang ini, seperti orang dari Eropa Timur tetapi dia mengaku
tinggal di Nepal, India. Saya tidak percaya sebab logatnya tidak seperti orang
India, tetapi seperti orang Eropa Timur. Kami terus bertanya apa yang hendak
dia lakukan disini, dia menjawab, “Saya ingin ikut merayakan hari kemerdekaan
Indonesia esok pagi.” Saya terperanjat dan tersenyum, kenapa kamu mau ikut merayakan
kemerdekaan bangsa kami? Dari hasil percakapan tersebut kemudian dia mengaku
bahwa dia tidak punya keluarga, dia keturunan dari Afghanistan dan ingin
mencari pekerjaan di Jakarta, dan ingin menemukan kehidupan di negara ini. Kami
melongo dan masih tidak mengerti. Dia seperti orang yang putus asa dan pergi tanpa
tujuan. Bola matanya yang coklat menatapku, agak berkaca-kaca dan memerah. Saya
berpikir sekilas, wajah lelaki manis seperti ini bagaimana bisa ada disini?
Pikir saya dengan penuh stereotipe. Saya agak kasihan, tetapi saya khawatir
orang ini sebenarnya imigran gelap, atau ingin melakukan kejahatan pada kami. Teman-teman
saya berpikiran sama. Tapi anak muda ini masih terlalu muda dan wajahnya yang
manis tampak bukan orang jahat. Tapi kami sebagai orang yang selalu waspada
tidak bisa percaya padanya begitu saja.
“Saya naik mobil sewa
di bandara Soekarno Hatta dan meminta supir mengantar saya ke pusat kota
Jakarta, tetapi kemudian saya diturunkan di tengah jalan besar dan
barang-barang saya diambil, termasuk paspor saya dan segala uang saya. Saya tak
punya uang untuk kemana-mana, saya tidak ada teman ataupun keluarga disini.”
Tetapi kami melihat dompet yang dipegangnya dan juga ponsel, kami makin ragu.
Begitu juga ransel di punggungnya. Anak muda tinggi pucat dan kurus ini bicara
dalam bahasa Inggris yang lancar dan logat seperti orang Eropa Timur bekas
jajahan Rusia, sama sekali tak terdengar logat Nepal, apalagi Afghanistan. Dia
bertanya tentang apakah bisa tidur di Lapangan Banteng, apakah aman? Kami
bingung sekali karena tentu saja tidak aman. Teman saya mengusulkan dia lapor
polisi dan istirahat di sana, tetapi dia tidak mau. Dari perbincangan itu,
terlihat sekali kami tidak percaya padanya, dan wajahnya semakin pucat.
Akhirnya dia membayar kopinya dan pamit kepada kami, dan mengatakan ingin
keliling-keliling di sekitar Lapangan Banteng sampai pagi.
Anak muda berwajah
pucat manis itu membuat kami terdiam, kami ingin membantu tetapi kami takut.
Apakah kami salah? “Saya hanya ingin ikut hari kemerdekaan Indonesia besok
pagi,” katanya. Apakah ia ingin meminta swaka? Apakah dia seorang dari Ukraina,
Kroasia, Bosnia, Uzbekistan, Afghanistan atau entahlah, yang datang dengan
ilegal dan ingin melanjutkan perjalanan ke Australia? Kami tidak tahu karena
kami takut. Setelah pamit dan menaikkan jempolnya pada kami, dia melangkah
dengan wajah tertunduk. Kami kasihan tapi kami takut.
Malam semakin larut dan kami pindah tempat menuju taman di tengah
Lapangan Banteng di kaki Patung Pembebasan. Tidak ada yang pacaran, semua hanya
laki-laki muda yang hilir mudik di sana dengan pakaian yang kumuh dan berwajah
manis. Mereka tidak jahat dan sering melempar senyum pada kami yang ketakutan
tetapi tetap nakal duduk-duduk di sana. Setelah itu, kami memutuskan pulang,
tetapi ada rasa bersalah dalam hati kami. Bagaimana kalau anak muda asing itu
orang baik dan betul-betul membutuhkan pertolongan? Tidak ada senyum sedikitpun
di ujung bibirnya. Apakah dia berbohong? Apakah dia jahat dan ingin melakukan
tindakan kriminal? Apakah dia imigran gelap? Apakah dia putus asa dan ingin
pindah dari negaranya yang banyak konflik? Kami tidak tahu. Kami tidak percaya.
Tetapi kami terpanggil untuk kembali mencari laki-laki muda asing itu. Saya menancapkan
gas memutar kembali seluruh sisi di Lapangan Banteng. Sebab sebelumnya kami
juga melihat samar-samar ada lelaki asing duduk di kegelapan dengan wajah putus
asa, ya lelaki yang menghampiri kami itu. Tapi kami tidak menemukannya, entah
kemana perginya. Laki-laki Uraina, demikian kami sembarangan mengatakannya
sambil tersenyum cemas, dan kami lupa bahwa malam itu adalah malam menjelang
hari kemerdekaan. Apakah dia iblis atau malaikat yang tiba-tiba menghampiri untuk
menguji kami dan sekejap hilang lenyap? Apakah dia benar-benar tersesat dan
hidup tanpa tujuan? Apakah dia penjahat yang berbahaya? Bagaimana kalau dia
bunuh diri? Seandainya saya percaya, saya akan memberi tumpangan dan
mengajaknya tinggal sementara di rumah dan memberinya pekerjaan kecil untuk
membantu saya sehari-hari. Tapi saya pernah berpetualang dan menemukan banyak
risiko yang membahayakan nyawa saya sehingga saya mengurungkan niat itu.
Pertanyaan-pertanyaan
tak terjawab itu kami simpan, dan memutuskan berangkat ke Taman Ismail Marzuki lagi-lagi
sekedar duduk di bawah langit.
Di malam hari
Kemerdekaan itu, kami didatangkan lelaki Ukraina, demikian yang kami sebut
dengan cara sembarangan, yang tersesat dan berjalan tanpa tujuan. Apakah kami
mengalami cerita fiksi Anton Chekov atau Slavomir atau Dostoyevsky? Atau hidup
macam apa yang kami temui? Bukankah setiap orang memiliki motif dan tujuan?
Bagaimana kalau tidak? Tidak tahu. Yang saya tahu dan tangkap dari ceritanya,
ia hanya ingin ikut merayakan hari kemerdekaan kita. Oh lelaki asing, apakah
kamu benar-benar ingin kemerdekaan? Mungkin kamu salah menemui kami yang selalu
waspada para orang asing yang tidak jelas asal usulnya. Kami terlalu terbiasa
dengan keadaan yang sudah pasti dan jelas.
Maafkan kami lelaki asing, semoga
kamu menemukan kemerdekaan yang dimaksud.
Minggu, 17 Agustus
2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar