Minggu, 17 Agustus 2014

Hari Kemerdekaan dan Lelaki yang Tersesat

Oleh Mariana Amiruddin

Malam menjelang pesta kemerdekaan Indonesia, kami mengadakan rapat kecil bersama teman-teman tentang kondisi pasca pemilu presiden di kediaman seorang aktivis yang jauh dari usia kami, usia berkepala delapan. Hubungan yang sangat awet, tidak ada hambatan apapun dalam hal usia dan latar belakang kami untuk satu tujuan perjuangan yang sama. Lepas dari rapat kecil itu, dengan kepala penat dan rasa lapar, kami mampir ke Blok M, makan ayam bakar Gantari. Setelah kenyang, kami menuju Kota Tua untuk melihat berbagai kegiatan menjelang perayaan kemerdekaan. Tetapi kami lupa ini malam minggu dan pantas saja kami terjebak macet. Melelahkan sekali, bukan ini yang kami mau, sehingga kami berputar balik untuk mencari tempat ruang yang luas terbuka dan sepi untuk sekedar duduk, minum kopi dan melihat langit.

Karena saya yang nyetir, segera saya putuskan menuju ke Lapangan Banteng. Teman-teman sempat terdiam. Mengapa Lapangan Banteng? Barangkali ada hal aneh di pikiran mereka. Saya tidak peduli dan terus menancap gas.  Saya cerita sedikit tentang masa remaja saya yang penuh risiko. Tidur di jalanan berhari-hari, tidur di Mesjid, tidur di TIM Cikini, berlari sejauh mungkin sampai ke puncak gunung atau tertidur di bibir samudra hanya membawa uang limapuluh ribu perak dan segembol tas, mengamen, menelusuri tempat-tempat kumuh dan sesak.  Untuk apa? Untuk merasakan bagaimana menjadi seorang gelandangan, merasakan hidup menjadi orang lain yang tidak seberuntung saya. Dari situlah kepedulian saya pada orang lain mulai muncul. Bagaimana menjadi seorang diri tanpa keluarga atau sanak saudara. Bagaimana menghayati kesusahan, ketidakstabilan ekonomi, ketiadaan tempat untuk tinggal. Banyak orang bilang apa yang saya lakukan itu aneh dan berbahaya, apalagi saya perempuan, orang-orang yang melihat saya bahkan mengatakan, untuk apa orang kaya turun ke bawah, sudah baik hidupnya malah mencari masalah. Dan kata orang, tampang saya tampang orang kota, orang kaya, kelas menengah. Saya terlalu bersih untuk tidur di jalanan dan mengamen mencari uang. Waktu itu saya masih mahasiswa S1. Saya tak mengerti soal kelas-kelas itu dan yang saya inginkan hanya menghayati kehidupan orang lain.

Sampai di Lapangan Banteng, tampak Patung Pembebasan karya era presiden Soekarno menjulang di langit. Kami parkir kendaraan di dekat pedagang kaki lima penjual rokok dan ketoprak. Kami duduk tenang di sana, tempat yang luas dan nyaman. Kami memesan teh panas dan saya lapar segera membeli makanan. Diskusi rupanya belum selesai tentang arsitektur kabinet yang kami inginkan. Memang sulit merancang struktur pemerintahan, memang sulit mengurus organisasi besar bernama negara, tetapi kami memang perlu ambil bagian. Mencari model-model struktur pemerintahan negara yang efektif dan bisa mencapai target-target keadilan dan kesejahteraan, terutama untuk kaum perempuan.
Saat kami berdiskusi, membuka buku dan mencoret-coret rancangan di Lapangan Banteng, di bawah langit dan bulan yang hanya separuh, serta pedagang kaki lima, datang seorang anak muda dengan wajah pucat duduk di dekat kami, memesan segelas kopi dari pedagang. Dia terus menatap kami. Dia bertanya pada pedagang itu tetapi ternyata dia tidak bisa bahasa Indonesia, dan tukang ketoprak meminta kami untuk membantu bicara dalam bahasa Inggris. Saya melihat wajah pucat dingin lelaki itu putus harapan. Ia hanya membawa ransel dan sebuah ponsel di tangannya. Dia orang asing, orang dari negara lain yang terdampar di Jakarta, dan menceritakan pengalamannya bagaimana bisa sampai di Lapangan Banteng. Saya sempat menebak-nebak dari mana asal orang ini, seperti orang dari Eropa Timur tetapi dia mengaku tinggal di Nepal, India. Saya tidak percaya sebab logatnya tidak seperti orang India, tetapi seperti orang Eropa Timur. Kami terus bertanya apa yang hendak dia lakukan disini, dia menjawab, “Saya ingin ikut merayakan hari kemerdekaan Indonesia esok pagi.” Saya terperanjat dan tersenyum, kenapa kamu mau ikut merayakan kemerdekaan bangsa kami? Dari hasil percakapan tersebut kemudian dia mengaku bahwa dia tidak punya keluarga, dia keturunan dari Afghanistan dan ingin mencari pekerjaan di Jakarta, dan ingin menemukan kehidupan di negara ini. Kami melongo dan masih tidak mengerti. Dia seperti orang yang putus asa dan pergi tanpa tujuan. Bola matanya yang coklat menatapku, agak berkaca-kaca dan memerah. Saya berpikir sekilas, wajah lelaki manis seperti ini bagaimana bisa ada disini? Pikir saya dengan penuh stereotipe. Saya agak kasihan, tetapi saya khawatir orang ini sebenarnya imigran gelap, atau ingin melakukan kejahatan pada kami. Teman-teman saya berpikiran sama. Tapi anak muda ini masih terlalu muda dan wajahnya yang manis tampak bukan orang jahat. Tapi kami sebagai orang yang selalu waspada tidak bisa percaya padanya begitu saja.

“Saya naik mobil sewa di bandara Soekarno Hatta dan meminta supir mengantar saya ke pusat kota Jakarta, tetapi kemudian saya diturunkan di tengah jalan besar dan barang-barang saya diambil, termasuk paspor saya dan segala uang saya. Saya tak punya uang untuk kemana-mana, saya tidak ada teman ataupun keluarga disini.” Tetapi kami melihat dompet yang dipegangnya dan juga ponsel, kami makin ragu. Begitu juga ransel di punggungnya. Anak muda tinggi pucat dan kurus ini bicara dalam bahasa Inggris yang lancar dan logat seperti orang Eropa Timur bekas jajahan Rusia, sama sekali tak terdengar logat Nepal, apalagi Afghanistan. Dia bertanya tentang apakah bisa tidur di Lapangan Banteng, apakah aman? Kami bingung sekali karena tentu saja tidak aman. Teman saya mengusulkan dia lapor polisi dan istirahat di sana, tetapi dia tidak mau. Dari perbincangan itu, terlihat sekali kami tidak percaya padanya, dan wajahnya semakin pucat. Akhirnya dia membayar kopinya dan pamit kepada kami, dan mengatakan ingin keliling-keliling di sekitar Lapangan Banteng sampai pagi.

Anak muda berwajah pucat manis itu membuat kami terdiam, kami ingin membantu tetapi kami takut. Apakah kami salah? “Saya hanya ingin ikut hari kemerdekaan Indonesia besok pagi,” katanya. Apakah ia ingin meminta swaka? Apakah dia seorang dari Ukraina, Kroasia, Bosnia, Uzbekistan, Afghanistan atau entahlah, yang datang dengan ilegal dan ingin melanjutkan perjalanan ke Australia? Kami tidak tahu karena kami takut. Setelah pamit dan menaikkan jempolnya pada kami, dia melangkah dengan wajah tertunduk. Kami kasihan tapi kami takut.

Malam semakin larut dan kami pindah tempat menuju taman di tengah Lapangan Banteng di kaki Patung Pembebasan. Tidak ada yang pacaran, semua hanya laki-laki muda yang hilir mudik di sana dengan pakaian yang kumuh dan berwajah manis. Mereka tidak jahat dan sering melempar senyum pada kami yang ketakutan tetapi tetap nakal duduk-duduk di sana. Setelah itu, kami memutuskan pulang, tetapi ada rasa bersalah dalam hati kami. Bagaimana kalau anak muda asing itu orang baik dan betul-betul membutuhkan pertolongan? Tidak ada senyum sedikitpun di ujung bibirnya. Apakah dia berbohong? Apakah dia jahat dan ingin melakukan tindakan kriminal? Apakah dia imigran gelap? Apakah dia putus asa dan ingin pindah dari negaranya yang banyak konflik? Kami tidak tahu. Kami tidak percaya. Tetapi kami terpanggil untuk kembali mencari laki-laki muda asing itu. Saya menancapkan gas memutar kembali seluruh sisi di Lapangan Banteng. Sebab sebelumnya kami juga melihat samar-samar ada lelaki asing duduk di kegelapan dengan wajah putus asa, ya lelaki yang menghampiri kami itu. Tapi kami tidak menemukannya, entah kemana perginya. Laki-laki Uraina, demikian kami sembarangan mengatakannya sambil tersenyum cemas, dan kami lupa bahwa malam itu adalah malam menjelang hari kemerdekaan. Apakah dia iblis atau malaikat yang tiba-tiba menghampiri untuk menguji kami dan sekejap hilang lenyap? Apakah dia benar-benar tersesat dan hidup tanpa tujuan? Apakah dia penjahat yang berbahaya? Bagaimana kalau dia bunuh diri? Seandainya saya percaya, saya akan memberi tumpangan dan mengajaknya tinggal sementara di rumah dan memberinya pekerjaan kecil untuk membantu saya sehari-hari. Tapi saya pernah berpetualang dan menemukan banyak risiko yang membahayakan nyawa saya sehingga saya mengurungkan niat itu.

Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu kami simpan, dan memutuskan berangkat ke Taman Ismail Marzuki lagi-lagi sekedar duduk di bawah langit.

Di malam hari Kemerdekaan itu, kami didatangkan lelaki Ukraina, demikian yang kami sebut dengan cara sembarangan, yang tersesat dan berjalan tanpa tujuan. Apakah kami mengalami cerita fiksi Anton Chekov atau Slavomir atau Dostoyevsky? Atau hidup macam apa yang kami temui? Bukankah setiap orang memiliki motif dan tujuan? Bagaimana kalau tidak? Tidak tahu. Yang saya tahu dan tangkap dari ceritanya, ia hanya ingin ikut merayakan hari kemerdekaan kita. Oh lelaki asing, apakah kamu benar-benar ingin kemerdekaan? Mungkin kamu salah menemui kami yang selalu waspada para orang asing yang tidak jelas asal usulnya. Kami terlalu terbiasa dengan keadaan yang sudah pasti dan jelas. 

Maafkan kami lelaki asing, semoga kamu menemukan kemerdekaan yang dimaksud.

Minggu, 17 Agustus 2014









Tidak ada komentar:

Posting Komentar