Minggu, 31 Agustus 2014

Burung Tanpa Sayap


Oleh: Mariana Amiruddin


Kuletakkan kakiku sore itu di pinggir danau. Kutebar doa dalam tunduk, aku menerjunkan diri ke dasar danau. Gelap gulita dan lembut daun-daun menyentuh jariku. Mata kupejam, doa-doa masih bertutur. Mengambil nafas panjang di udara, tampak wajah seorang lelaki duduk di pinggir danau. Siapakah dia, aku tidak tahu. Aku kembali menyelam, aku tak peduli. Berjam-jam dalam air seperti hidup telah kembali.

Lelaki itu memandangku lekat sekali. Ia duduk dipinggir danau. Aku tak peduli. Aku menyelam kembali. Tetapi siapa yang mengira ia adalah lelaki yang akan hidup bersamaku sebentar lagi. Awalnya ia berkata, ingin kubiarkan gadis ini terus berenang tanpa aku menyentuhnya, dan biarkan aku memandangnya dari jauh. Tapi bukan begitu kenyataannya, sebab beberapa bulan yang lalu kami sudah bertemu tanpa tahu siapa sebenarnya diantara kita. Dan bulan kembali mempertemukan kita di danau itu, apakah benar oleh suatu keinginan, tentang hidup yang sunyi, diantara keramaian orang yang cinta harta dan raga. Kami tak saling kenal, dan tak peduli siapa sebetulnya diantara kami. Kami bukan siapa-siapa kecuali berjam-jam dalam genangan. Kami hanya manusia yang lahir di bumi dan hidup dalam garis takdir yang tak sama lalu berjumpa seolah baru saja bangkit dari kematian.

Sejak itu kubawa laki-laki itu hidup bersamaku. Ia kagum pada kebebasanku. Ia melamarku dengan lembut sekali. Hanya mata dan kulit kami yang mengungkapkan itu, dan nafas hangat berkeringat, seperti api yang berpijar tak pernah mau padam. Sejak itu dunia hanya milik kami, kami tak perlu makan dan minum, tak istirahat, tak pernah pejam. Kami berlari dengan gembira menuju surga, tempat siapapun tidak perlu bertarung dan segalanya hanya diisi dengan cinta. Tetapi belum sampai dua tahun kami terbangun bahwa kami masih hidup di dunia, tempat orang bekerja dan makan, sekolah dan meraih cita-cita, cinta menjadi bentuk yang paling kelabu dalam hidup kami, kemiskinan menjadi layar besar yang kami tonton sepanjang malam, dan kami harus berpisah karenanya. Lelaki itu terserang kemiskinan akut dan ia harus pergi begitu saja, kembali ke dunia, menjadi seorang buruh dengan gaji beberapa perak saja, dangan ibu yang lumpuh, kakak yang gila, dan anak-anak yang kelaparan. Siapakah aku kini, aku tidak tahu karena aku hidup dimana tak seorangpun menggantungkan hidupnya padaku. Aku bukan tulang punggung sepertinya. Aku hanya tulang-tulang berserakan saat ditinggalkannya.

Vincent, namanya. Maria namaku. Menurutnya, nama Vincent adalah nama orang-orang yang sering terkena sial. Mancung sekali hidungnya. Pipih wajahnya, kokoh rahangnya. Aku jadi ingat perbincangan awal kita tentang mimpi dan mitos. Pada sebuah zaman dimana belum ada teknologi yang memanjakan manusia, dimana peradaban masih ditulis dengan tangan dan kendaraan adalah kuda-kuda yang gagah, penjajahan dan perang selalu terjadi demi merebut atau mempertahankan tanah subur dan hasil-hasil bumi.

Kau bilang bahwa pada masa itu namaku adalah Mulan, seorang putri bangsa Mongol, yang gemar berkuda. Aku adalah pemimpin perang yang berkuda memimpin pasukan, dengan senjata pedang, di tangan kananku, dan busur serta panah dipunggungku. Aku adalah Putri Mongol, putri seorang Raja yang berkharisma yang disegani dan tempat tumpuan rakyatnya. Aku pemimpin perang dengan rambut panjang tersapu angin, bermata tajam dan tegar tak tergoyahkan. Dan kau, siapakah kau? Kau adalah putra raja dari Eropa yang menjajah bangsaku, Raja Albert, tetapi kemudian kerajaanmu jatuh miskin karena kalah perang. Raja Albert yang menikah dengan Ratu Tin Yi, perempuan yang pernah lahir di tanah bangsaku. Harta bendamu kami rebut. Kau adalah musuhku, pangeran yang berjalan tanpa kuda dan tanpa pedang. Kau adalah lelaki berdarah biru yang hidup dalam keadaan compang-camping mengais kotoran dan sampah untuk makananmu, mencari gua-gua kosong untuk tempat tinggalmu. Kau adalah lelaki berdarah biru yang miskin dengan nasib yang sangat tak beruntung, dengan kaki bekas luka pertempuran dan jalanmu setengah pincang seperti seorang yang kehilangan daya.

Saat itu kau tahu bahwa aku adalah Putri dari Bangsa Mongolia yang kali ini berlari kencang bersama kudanya dengan berurai air mata. Zaman menetapkan bahwa beberapa orang mengkhianati sang putri dan menyebar berita-berita bohong tentangnya. Raja sudah mati, dan Sang Putri nyaris tak punya kekuatan lagi, ia berlari dan berlari bersama kudanya, dalam perjalanan itu ia membuang pedangnya. Ia memutuskan untuk mundur dan lari dari segalanya. Tangisannya hampir sama dengan amarahnya. Ia tak mau melawan kerajaan dan bangsanya sendiri. Dalam kecepatan diambang batas kematian itu, sang kuda tersandung tali jerat yang dipasang musuh, dan dengan segera sang Putri jatuh berguling bermeter-meter, sampai berhenti di bibir jurang. Ia menemukan kakinya patah dan hampir tak bisa bangun kembali. Ia jalan dengan menyeret tubuhnya menghindar jurang yang dalam sedalam luka di lengan dan kakinya.

Pada saat itulah sang pangeran miskin dan compang-camping mengamati kejatuhan Sang Putri, ia lekas berlari menolong dan cemas yang terlihat di wajahnya. Sang pangeran compang-camping membantu sang putri mengangkat tubuhnya hingga berdiri. Mereka berdua berjalan menjauhi jurang, mendaki bukit batu yang curam, mencari gua-gua aman dengan kaki terseret dan terpincang-pincang. Sejak itulah dalam jatuh dan luka mereka bercinta, berbagi, bersahabat, berdekap. Mereka adalah anak-anak dari kerajaan dan negeri yang saling bertempur. Dan setiap malam mereka menatap bintang yang berserak sambil melempar harapan, menyalakan api unggun mengatasi dingin, tetapi keadaan menjadi lain ketika Sang Putri ditemukan oleh pengawal-pengawal kerajaan yang berpihak padanya, diminta kembali untuk memimpin. Sang Putri menggeleng sambil mengenggengam tangan pangeran compang-camping dan berkata bahwa ia ingin hidup seperti jelata, ia ingin seperti manusia biasa. Sang Putri kehilangan kepercayaan, pengkhianatan adalah luka dalam yang sulit disembuhkan, apalagi oleh bangsanya sendiri. Ia bahkan sudah membuang pedangnya. Tetapi Sang pangeran tidak setuju dengan sikapnya. Ia menoleh padanya, melepaskan genggaman tangan Sang Putri sambil berkata “Aku masih menyimpan pedang itu, pedang yang kau buang. Asahlah kembali pedangmu, kau adalah pemimpin rakyatmu yang sadar bahwa pengkhianat itulah penyebab perpecahan kerajaanmu.” Tapi sang putri menggeleng dengan kencang dan berkata bahwa ia tidak lagi mau hidup sebagai putri, ia mau hidup bersama Vincent, pangeran jelata. Pangeran jelata compang-camping itu menggeleng, kau tak pernah tahu bagaimana menjadi orang miskin dan penderitaan bukan seperti caramu bertempur dalam perang, kau akan menjadi sangat tidak berdaya. Ia berkata lagi bahwa kebangsawanan tidak membuatnya hidup lebih baik. Ia sudah tidak punya keinginan, ia ingin putri pergi kembali dengan kepala tegak memimpin perjuangan.

Pelan-pelan Vincent, pangeran jelata itu melangkah mundur, sambil memberikan pedang itu kepada Sang Putri. Ia pergi hanya dengan menoleh sekali. Ia benar-benar pergi dan Sang Putri kembali menahan tangis. Luka dihatinya tak seluka pengkhianatan yang terjadi di dalam kerajaannya. Ini luka ketiga yang lebih dalam lagi. Ia menjerit panjang, yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Jeritannya terdengar sampai membelah gua. Ia terduduk dan menghempaskan dirinya ke tanah. Pengawal-pengawal masih berdiri di dekatnya dan menepuk lembut punggung putri itu sambil berkata, “Tuan Putri, asah pedangmu, kau harus kembali memimpin perjuangan, demi rakyatmu, demi ayahmu. Kau harus kembali.” Sang putri berjalan lesu dan kakinya masih pincang, ia mengasah pedangnya tanpa semangat, ia mengasahnya pelan-pelan. Ia mengasahnya, dan kemudian menghunuskan pedang itu ke dadanya.

Cerita panjang itu memang seperti keadaan kami. Vincent dan Maria. Dua nama suci yang terjebak pada cinta kelabu. Vincent pergi dalam tangisan dan pelukan erat yang panjang. Perpisahan yang tidak pernah kami inginkan.

Kau tahu, Vincent, aku ingin kembali ke danau itu tetapi kau tahu semua sudah rata dengan tanah, dibangun oleh super-super gedung tempat orang mendulang uang. Vincent sudah menghilang dibalik kabut, aku tak melihatnya lagi. Aku kehilangan tempat sunyiku dan lelaki itu tak mengembalikanku hidup dalam keadaan semula, berenang dalam gelap. Ia menyisakan perangkap-perangkap hidup dimana rindu menjalin tali kematianku dalam sebuah penantian yang takkan pernah mengembalikanmu padaku. Lelaki itu berkata, biarkan gadisku terbang bebas seperti semula, tanpa siapapun disampingnya seperti semula, gadis pintar, berani, yang penuh imaji, yang bisa menentukan kemana arah kebebasannya, mencapai keinginan-keinginannya. Tetapi lelaki itu lupa, burung itu kini tak bersayap. Sebab sayap-sayapku telah kau gantikan dengan cinta, kau ambil keduanya sehingga tak ada lagi di lenganku. Kau lupa bahwa sayap-sayap itu telah kuberikan seluruhnya untukmu saat kita terbang bersama. Kau lupa bahwa tanpamu adalah aku, seekor burung tanpa sayap yang tak akan pernah bisa terbang kemanapun kusuka.

Maria tidak pernah menyukai lelaki manapun kecuali Vincent, lelaki di danau itu. Hanya dengan duduknya yang diam aku terpanggil. Aku keluar dari danau dan menghampirimu seolah kau menarik benang dari hatiku. Aku tak pernah menyukai apapun kecuali diriku sendiri dan sayap yang kupunya, tetapi lelaki yang duduk di pinggir danau itu mematahkan sayapku dan pergi selamanya. Ia takkan pernah kembali padaku karena dunia tidak seindah danau gelap itu.  

Kembalikan sayap-sayapku, Vincent! Kau boleh bilang kemiskinan menjadi hantu yang mengikutimu setiap malam tetapi bagaimana dengan aku, tanpa sayap itu sama saja kau membunuhku. Samar-samar suara Vincent turun dari langit, Maria, kau tidak pernah tahu keadaanku. Aku punya ibu yang lumpuh, saudara yang gila, dengan anak-anak yang kelaparan, kau jauh lebih merdeka dibandingkan keadaanku. Aku harus mengurus mereka semua, sementara kau hanya mengurus dirimu sendiri.

Vincent, kau tidak adil, seharusnya kau tak duduk di danau itu. Penantian panjang ini membuat hidupku sia-sia, penantian tak berakhir, dan tak tergantikan. Aku hidup dalam perangkap, dan aku tak bisa terbang tanpa sayap. Vincent, mengapa kau rebut kembali cinta yang sudah kita tanamkan, dan kini aku tak tahu kepada siapa aku harus memberikan cinta ini. Seharusnya kau kembalikan cinta ini untuk diriku sendiri saja. Bila hidup yang kelabu adalah sang pemilik cinta, sungguh aku menyesal mengapa aku mencicipinya dengan hasrat dan kebahagiaan. Aku menyesal bahwa cinta adalah tipuan, muslihat, bius yang berbahaya dan aku tak siap untuk kehilangan.

Vincent, sayapku sudah tak ada lagi, mengapa tak kau bunuh saja burung tanpa sayap ini sehingga ia tak perlu menjalani hidup lagi. Mengapa tak kau selesaikan saja gadismu ini dengan kematian yang sesungguhnya. Seharusnya kau biarkan saja tubuhku menyelam di danau itu dan tak melihatmu duduk bersandar pohon memandangku. Seharusnya kau biarkan aku mencintai sunyi dan diriku sendiri, seharusnya kau tidak ada dalam hidupku. Seharusnya kau peluk saja kenyataanmu itu dan jangan pernah menyentuhku. Aku luka, luka yang tak pernah kurasakan sepanjang hidup. Aku tak pernah mencintai siapapun sebelumnya, hidupku hanya bertempur dan berlaga. Aku tak pernah jatuh cinta pada siapapun. Aku hidup senang ketika tidak mengenal cinta, aku hidup bahagia saat banyak lelaki mendekatiku tapi aku tak merasakan apa-apa kecuali permainan demi permainan membunuh kesunyian. Aku tak pernah kehilangan mereka. Aku menertawakan mereka. Semua lelaki tampan dan gagah datang satu persatu meminta cintaku tetapi aku tak pernah bisa memberikannya untuk mereka. Aku memegang teguh sayap-sayapku dan tak seorangpun bisa mengambilnya. Saat mereka pergi atau aku yang pergi, tak ada luka sama sekali, mereka hanya bayangan-bayangan kosong.

Tapi lelaki di danau itu, kau satu-satunya yang bisa membuatku hidup sekaligus mati dalam keadaan sesungguhnya. Kau adalah orang paling kejam yang pernah aku temukan sekaligus orang yang paling aku cintai. Kau adalah iblis, yang menukarkan cinta dengan kemiskinan dan mematahkan sayap-sayap kemerdekaanku. Aku membencinya sekaligus merindukannya. Aku tersiksa oleh kombinasi itu.

Tambun, 31 Agustus 2014






Rabu, 27 Agustus 2014

Pasar Uang dan Perkawinan



Oleh: Mariana Amiruddin

Hari ini kami seharian  di kantor perusahaan pengelola investasi, untuk melakukan update  data pribadi. Kami hanya invest beberapa rupiah saja dari ketekunan ayah saya berhemat dan menabung berpuluh-puluh tahun sampai sofanya dan celananya sobek-sobek yang juga tidak pernah ditukar selama puluhan tahun. Zaman orang tua kita dulu yang lahir di era pra kemerdekaan, masih memegang pribahasa “hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai”. Peribahasa itu dipegang kuat-kuat sebagai prinsip hidup ayah saya untuk mencapai kemajuan. Kalau kita hemat, kalau kita menabung, maka kita akan hidup berkecukupan. Kalau kita rajin belajar, maka kita akan pandai. Dan kalau kita pandai, maka hidup kita terjamin.  Ayahku mengajarkan kami untuk tidak pernah berhutang, karena itu dia anti kartu kredit. Tapi ayahku tidak mengikuti zaman bahwa itu tidak berlaku lagi zaman sekarang, dan prinsip hidup itu akan ditertawakan oleh para pedagang pasar modal.

Saya melihat wajah mereka tidak percaya pada kami, dan kami adalah mahluk yang sulit digambarkan. Mereka bisik-bisik ke saya, apakah ayamu seorang mantan TNI? Karena postur ayah saya tidak gemuk, tidak kurus, karena dulu rajin bahkan gila olahraga. Saya bilang bukan, dia orang sipil. Bapak dapat uang dari mana, bukankah dia pensiunan? Saya jawab, dia rajin menabung dan hampir tidak pernah belanja barang kecuali kendaraan, tempat tinggal dan makanan.  Semua yang ditabung kebanyakan diintevtasikannya dan keuntungan dari hasil investasi itu akan dia investasikan lagi. Semua biaya ketekunannya mengelola keuangan keluarga itu membuat anak-anaknya bisa kuliah. Mereka, para pegawai perusahaan itu mengerutkan kening. Tidak percaya bahwa masa kini masih ada yang seperti kami. Barangkali kami hewan langka yang seharusnya sudah punah di abad 21 yang aneh ini.

Kami bukan seperti milyarder tetapi jasa yang kami terima dari perusahaan itu lumayan untuk kebutuhan sehari-hari, untuk biaya rumah sakit ayah saya yang fungsi ginjalnya tinggal 20 persen dan sekarang punya masalah katarak mata, dia tidak bisa menyetir lagi, dia ingin sekali operasi matanya. Atau biaya untuk memberi makan siang saya karena saya kadang harus menemani mereka. Tapi hari itu adalah hari yang buruk bagi saya saat mengisi ulang administrasi insvestasi saya (modal tabungan dari orang tua selama tahunan dari saya kecil) yang cuma berapa perak itu, dan seumur hidup tidak pernah saya gunakan untuk saya cairkan ataupun beli apapun dari jasa investasi itu. Di salah satu kolom administrasi yang harus kami isi, ternyata ada kaitannya soal warisan, soal harta benda saya, penghasilan,  soal kepemilikan rumah, soal kawin, soal pasangan, soal bagaimana kalau saya mati, harta akan jatuh pada siapa. Saya ditanya soal anak, suami, dan semua hal itu saya hanya menggeleng dan saya bilang, hanya ada diri saya sendiri. Rumah atas nama saya sendiri, hidup saya sendiri, semua biaya saya sendiri (kecuali menumpang makan di orang tua sekalian menemani orang tua). Mereka terdiam, dan bertanya yang seolah menyimpulkan dengan sesat asumsi seperti ini: mana ada perempuan punya rumah atas nama sendiri, hidup sendiri,  tidak ada anak, tidak ada suami, padahal sudah menikah, jadi bagaimana mereka menemukan jenis masyarakat seperti saya adalah dianggap tidak mungkin. Saya dipaksa mengisi kolom itu sesuai yang mereka mau. Saya jawab, saya tidak bisa mengisi kolom itu karena tidak bisa saya isi, semua pertanyaannya tidak bisa dijawab. “Mba, katanya. Ini hanya formalitas saja, isi saja seadanya.” Saya langsung jawab, ini perusahaan pengelola investasi masa buat data hanya formalitas saja, saya anggap setiap data itu penting dan akan digunakan.

Dimanakah asal muasal kekacauan ini kalau bukan dari UU Perkawinan tentang keluarga, kepala keluarga dan anggota keluarga? Kalau saya mati duluan, saya memilih penerima warisan dari saya adalah Ibu saya. Saya contreng nama Ibu saya. Mereka bingung. Harusnya suami atau anak, karena menikah berarti orang tua lepas bukan lagi keluarga inti. Saya bilang  mereka masih darah daging saya, bapak menyekolahkan saya dan ibu melahirkan saya. Lagipula bagi mereka investor seharusnya adalah kepala rumah tangga, memiliki gaji lebih dari 25 juta, dan jelas bekerja di perusahaan tertentu. Lalu mereka diam-diam mengorek soal kehidupan pribadi saya, dimana saya bekerja, sudah menikah tapi suaminya kok nggak ada. Soal suami biarlah itu jadi urusan saya, tidak semua orang punya relasi harmoni dan normatif seperti film cinderella, anda tidak perlu ikut campur dan saya bukan penjahat yang patut anda curigai. Saya juga bilang saya tidak bekerja di perusahaan apapun, saya bekerja sendiri part time dan bisa dimana saja, dan kebanyakan membantu orang. Mereka bilang ditulis saja salah satunya. Saya bilang tidak bisa karena saya bukan pegawai mereka. Mereka memaksa, saya tidak mau. Saya jadi kesal, dan saya katakan, tolong berikan saya alternatif! Akhirnya mereka meminta saya membuat pernyataan apa yang ingin saya nyatakan di kolom itu dan saya mengisi semacam deskripsi tentang siapa saya, yang tidak lazim dengan karakter masyarakat umumnya, apa yang disebut “keluarga”.

Percayakah bahwa harta benda perempuan itu akan jatuh pada laki-laki karena dia adalah pengendali dan penguasa uang dan ekonomi? Untungnya ayah saya mau berbagi meski semua dikendalikan olehnya, dia percaya bahwa laki-laki sejati adalah laki-laki yang bertanggungjawab pada keluarganya dan harus dilakukan dengan sangat sempurna. Begitulah dunia masa kini, masih saja keringat dan banting tulang seseorang berjenis kelamin perempuan itu masih tidak dihargai. Perempuan masih harus bergantung 100 persen pada laki-laki dan bila tidak demikian keadaannya, mereka menganggap kita tidak ada. Kolom-kolom dan pertanyaan yang mereka buat dalam hal administrasi menunjukkan hal itu.
Mereka lalu bertanya, kalau mba nanti meninggal, dan harta benda ini ada pada kami, kepada siapa kami harus menghubungi kalau bukan pada suami atau anak? Akhirnya saya jawab, ke rumah sakit jiwa saja mas! Sumbangkan untuk pasien-pasien mereka!
Lalu soal alamat email saya amiruddinmariana@gmail.com, saya ditanya Amiruddin itu suami mbak? Bukan, itu ayah saya. Mereka bingung, lalu siapa AMiruddin itu? Saya bilang lagi itu ayah saya, ituloh di depan matamu, itu nama dia yang punya modal investasi untuk perusahaan tempat anda bekerja. Lalu apa hubungannya antara email dengan urusan perkawinan saya? Lalu dia diam. Oh, mantan suami mbak bekerja dimana sekarang? Saya jawab, tidak ada urusan perkawinan dan perceraian dalam hal investasi, yang ada hanyalah uang ayah saya, saya, dan ibu saya, kami semua punya kartu identitas, NPWP, dan itu yang dibutuhkan, bukan buku kawin. Saya full hidup dan dibesarkan oleh mereka, bukan orang lain. Suasana jadi kaku dan tegang.

Perbincangan soal administrasi investasi itu sempat berhenti beberapa menit. Ayah dan ibu saya ikut diam tapi senyum-senyum, mungkin lihat saya galak sekali itu bagi mereka hal yang lucu, karena sejak kecil saya memang sangat pendiam, melirik dan mentap tajam, ada orang asing dekat akan saya cakar. Saya agresif kalau marah, seperti kucing peliharaan saya. Saya sering menghilang, pernah waktu terjebak di lift sendirian saya menangis sekuat-kuatnya tidak ada yang mendengar, dan seluruh manusia mencari saya. Waktu itu umur saya  baru 3 tahun. Dari keenam anak, saya anak bontot yang sering menghilang sendirian, dengan mata galak dan jarang tersenyum, tetapi entah mengapa bagi mereka justru disitulah letak kelucuan saya dan membuat mereka gemas luar biasa dengan saya sampai sekarang.

Perbincangan kembali soal perkawinan, ayah ibu saya cerita usia perkawinan mereka begitu awet dan panjang, tiba-tiba mereka menyalami bapak ibu saya dan mereka melirik saya sambil bilang “kamu nggak iri sama orangtuamu yang perkawinannya awet mbak?” Saya jengkel dan menjawab, saya bersyukur karena mereka membebaskan saya mau jadi apa, bukan menjadi seperti mereka. Terlintas di pikiranku bahwa mereka, para laki-laki pegawai perusahaan investasi ini terganggu dengan pernyataan-pernyataan saya tentang eksistensi saya sebagai diri, sebagai perempuan, tentang harta yang saya miliki yang tidak ingin saya kaitkan dengan orang lain. Mereka terganggu sekali. Mungkin mereka membayangkan dengan penuh ketakutan, bagaimana kalau istri-istri yang barangkali menurut mereka bakalan “kurang ajar” seperti saya.
Saya juga tidak mengerti mengapa ibu saya betah berjalan berdua dengan saya, karena setiap waktu di ruang-ruang publik itu adalah saya yang protes berkali-kali. Mulai pesan lontong cap gomeh tapi disajikan seperti semur yang belum matang, dengan harga mahal di mall-mall pinggiran Jakarta, sampai struk yang salah hitung belanjaan kami, dan protes saya pada pelayanan tempat saji an makanan dimana saya bertanya “berapa lama makanan siap?” lalu merkea jawab “nggak tahu, memangnya tadi siapa pelayannya?” dan saya memutuskan meninggalkan tempat makan itu meskipun kami kelaparan. Ibu saya selalu menurut dengan saya, dia tidak mengatur saya kecuali hal-hal rumah tangga seperti memasang gas dan kompor, menanak nasi, masakan dan lain-lain dan sekarang saya mulai ahli. Mungkin ayah saya sesekali menimpali saya dengan pernyataan kritik atas kelakuan saya itu, tetapi kami bisa diskusi dan akhirnya ayah saya diam. Ayah saya juga berharap saya jadi pegawai negeri, tapi saya jawab kalau semua orang ingin jadi pegawai negeri, negara ini runtuh karena nggak ada ahli-ahli dibidang lain. Saya berada di jalur pekerja sosial.

Begitulah, saya kadang-kadang putus asa dengan keadaan, bahkan hanya saat saya ingin beli makan, saat kami ingin invest uang, saat kami ingin punya keuntungan kecil dari jerih payah kami. Saat pakaian dan sepatu kami sobek-sobek tapi bisa punya rumah mungil, mobil murah dan dua sepeda keren. Tidak bisakah kita membuat hidup ini lebih sederhana wahai para pedagang pasar uang? Bukankah kami tidak pernah menyakiti dan merugikan hidup anda? Mereka mengangkat bahu dan menjawab “begitulah cara kami bekerja.” Selesai sudah semua data dan dokumen dengan perdebatan yang panjang itu, kami beranjak makan siang dan itupun harus menaiki tangga setinggi-tingginya dimana ayah dan ibu saya sudah sulit melakukannya, saya harus menggandeng ibu saya dan mengawasi ayah saya yang lansia naik dan turun tangga supaya tidak jatuh, hampir 15 menit sendiri karena begitu hati-hatinya.

Sederhana itu tidak lazim, saudara-saudara. Kalau kamu bukan orang kaya, seharusnya kamu orang miskin, atau sebaliknya. Kamu harusnya kawin, atau cerai, atau tidak kawin dan tidak cerai, tidak boleh jadi diri sendiri. Tidak ada yang boleh biasa-biasa saja, cukup-cukup saja, dan kamu salah karenanya, kamu tidak dalam kategori apapun. Kamu harus jadi anak seumur hidup, atau kamu harus punya suami, anak, rumah milik suamimu, kendaraan milik suamimu, dan kalau tidak begitu semua salah. Nah, kemudian mereka mulai menemukan bahwa saya seorang aktivis, lalu mulailah mereka bicara soal politik dan peristiwa 98, ternyata salah satu diantara mereka ada yang angkatan 90-an dan sama-sama mahasiswa pada masa itu. Disitulah kami mulai mencair, dan barangkali itu titik temu yang paling ideal diantara tema-tema lainnya seputar penghasilan dan keluarga. Mereka agak prihatin ketika saya mengisi kolom penghasilan, saya contreng di bawah 5 juta dengan postur orang kaya yang putih bersih dan angkuh dan keras kepala ini, akhirnya bisa tertawa-tawa dengan kami disertai jabat tangan yang hangat.

Tambun, 27 Agustus 2014.





Kamis, 21 Agustus 2014

WAKTU dan UDARA



Oleh: Mariana Amiruddin

Pukul 2 sampai 5 pagi adalah jam-jam kreatif, jam-jam imajinasi hadir menggantikan mimpi. Waktu dimana aku bisa keluar dari realitas yang bertabrakan. Waktu dimana aku mabuk pada sepi yang begitu aku cintai. Atau waktu bagi para pertapa gagal sepertiku karena masih mengintip keadaan dunia. Waktu yang tidak pernah kutempatkan sebagai tidur atau beristirahatnya segala metabolisme. Ini adalah waktu dimana kepalaku menyala-nyala untuk menuliskan segala-galanya. Tapi esok adalah terang benderang dan semua terlihat buruk, waktu yang sangat nyata, dan hingga dini hari ini aku perlu begitu banyak persiapan. Tetapi persiapan apa yang kulakukan? Tidak ada. Aku ingin imajinasi bisa berlaku untuk sebuah kenyataan. Tetapi segala yang terstruktur esok menciptakan tembok-tembok penghalang imajinasi. Tetapi realitasku esok butuh imajinasiku. Tapi mengapa imajinasi dan nyata menjadi tabrak menabrak dan terbelah-belah? Barangkali karena sebetulnya hatiku tidak mau tapi pikiranku mau. Tapi apa bedanya pikiran dengan hati, bukankah semuanya ada di dalam kepala?

Pernahkah anda merasakan segala yang terbelah dalam dirimu. Yang satu berkata berseberangan dengan yang lainnya. Segala yang terbelah jadi dua ini membuat anda berhenti di tengah waktu. Lalu rasa lapar datang, lalu anda akan membuka dan menutup kulkas berkali-kali dan akhirnya hanya menemukan wortel, cabai dan sawi. Lalu anda akan mengunyah ketiganya tanpa sadar sambil menonton televisi yang penuh dengan urusan-urusan orang lain, yang tidak ada hubungannya dengan urusan-urusan anda sendiri, ketawa-ketawa, joget-joget dan jualan produk. Bila anda bosan anda segera beralih menatap berjam-jam dengkur mahluk berbulu halus dan saat mereka menguap anda bisa melihat taring-taring tajamnya dan kuku-kuku yang keluar dari buku-buku jarinya.

Waktu seperti berhenti, tetapi sesungguhnya akulah yang berhenti. Tapi aku juga gemar bergerak bolak-balik dari ruang kerja ke ruang televisi. Aku juga duduk dan bangun dan setelah itu duduk lagi. Apakah aku mengalami absurditas, atau memang absurditas adalah takdir?  Apa yang mau aku tuju dan apakah aku punya sesuatu untuk dituju? Atau sekali-sekali aku ingin menujumu, tetapi  aku tidak tahu siapa kamu yang mau aku tuju. Mungkin bayangan, atau ilalang, atau cermin, atau daun jatuh, atau tikus mati.
Katakanlah aku habis pulang dari pusat kota dalam berjam-jam percakapan yang begitu bergairah dan semangat,  dan selama perjalanan pulang pikiranku begitu lincah dan meletup-letup mencari celah untuk keluar dalam bentuk tulisan, tetapi sampai rumah, struktur pikiranku pecah berkeping-keping, sampai rumah aku hanya ingin menulis segala-galanya yang tidak kurencanakan, yang tidak aku kerangkakan, yang tidak membuatku mengutip atau menyadur, yang tidak membuatku kagum pada apapun atau memuja pada siapapun. Atau bahkan kagum dan memuja diri sendiri, atau tergila-gila pada kekaguman orang padaku, atau pada nilai-nilai yang anda pegang erat-erat, atau pada cinta khayalan sekalipun. Lalu dimanakah anda, dimanakah aku? Kita sedang bediri di sebelah mana? Barangkali di luar angkasa, dimana kita hanya mengambang terbuang, terlempar dan berputar-putar dalam gerakan yang sangat lamban, diantara bumi dan mars, diantara venus dan merkurius, atau keluar melesat dari bima sakti, menunggu sampai grafitasi kembali menarik kita, terdorong oleh dentuman ledakan bintang, atau sampai lubang hitam menghisap kita pindah pada waktu dan kehidupan yang lain. Dan setelah itu gravitasi menyadarkan kita, tentang apa yang disebut nyata. Kita? Bukankah hanya ada aku, atau hanya ada anda? APakah kita pernah bertemu? Anggap saja tidak. Tidak sekalipun. Tidak ada siapapun. Aku hanya berbicara pada diri sendiri, atau barangkali nyamuk sedikit mengerti kekacauan pikiranku saat mereka menghisap darah segarku, darah mengalir dan detak jantung yang dinyatakan sebagai hidup.

Atau pertanyaan-pertanyaan kecil yang melintas saat anda bolak-balik membuka kulkas, seperti apa sebetulnya yang membuat anda sedih atau senang? Aku punya seribu daftar kesedihan dan seribu daftar kesenangan, keduanya seimbang, tetapi jumlah yang terlalu banyak itu membingungkanku, dan membuatku memutuskan untuk membuang keduanya, membuang kesedihan dan membuang kesenangan. Titik apakah yang bisa kita katakan saat tak ada kesedihan ataupun kesenangan? Titik-titik dalam urat nadimu sendiri, yang terdeteksi alat pengecek tensi, dan terdengar jantungmu melambat, berdetak menuju berhentinya waktu. Dan nafas halus, nafas hangatmu akan berganti sesak, dan sebentar lagi hanya seonggok jasad dengan mata mendelik dan rupa berwarna ungu. Oh anggap saja karena kita sudah terlalu lama di ruang angkasa dan lupa bahwa bumi berwarna biru dengan sedikit kue-kue coklat kehijauan mengapung di atasnya. Aku bisa melihat bumi dari sini dengan wajahku yang ungu, aku tak bernafas, tak ada darah mengalir, tak ada tatapan yang hangat. Aku bisa melihat bumi tanpa syarat-syarat yang anda bilang sebagai hidup.

Sampai akhirnya aku tahu bahwa aku menujumu, menuju ruang hampa. Aku dalam kehidupan tanpa udara, tanpa butir-butir air yang berdesakan di udara. Tanpa lendir atau kotoran mata dan hidung atau yang keluar dari anusmu. Tidak ada bakteri-bakteri yang hidup dalam tubuhku, tidak ada anak-anak lalat  sebesar butir nasi memakan bangkaiku. Aku akan terus mengambang tanpa harus menjadi busuk dan berkeliling di ruang angkasa dengan hitungan kecepatan cahaya, aku tak lagi mengenal satu hari adalah 24 jam. Disitulah anda akan tahu bahwa kadang kematian adalah indah dalam imajinasimu dan kehidupan adalah kematian dalam imajinasimu, dan ruang hampa akan menyelamatkanmu dari segala terjemahan dan penjelasan keduanya.

Tambun, 22 Agustus 2014




Minggu, 17 Agustus 2014

Bunyi


Oleh Mariana Amiruddin

Apakah anda pernah merasakan setiap harinya hanya bicara dengan hewan, pohon, televisi, komputer, buku, kertas, pulpen, piring, kompor, lantai, obat pel dan sapu? Kalaupun anda berbincang dengan manusia, anda hanya perlu jari yang lincah seperti saya ini. Rasakan betapa dahsyatnya hidup saat mulut hanya anda gunakan untuk makan, bersiul atau bernyanyi kecil sambil bermain biola. Pita suara anda akan sangat kurang kerjaan. Rawatlah jari-jari anda supaya tetap kuat dan lincah untuk berkomunikasi dengan manusia, untuk menjentik tali-talli senar anda, jangan seperti saya yang terkilir hanya karena mengangkat ember dan salah meletakkan pisau di rak piring. Anda akan merasakan betapa debu-debu tipis di lantai akan menganggu anda, bulu-bulu kucing yang masih bertengger di sofa anda, dan anda tak perlu bicara karena itu, anda tinggal mengambil sapu, lap basah atau mengepel lantai. Atau saat hewan peliharaan anda berkata miaw, anda tinggal jawab dengan bahasa yang sama, menggoreng ikan, menanak nasi, dan mencampurnya untuk makanan mereka, dan rasa bahagia saat mereka makan dengan lahap.

Pernahkan anda merasakan hidup berhari-hari di dalam rumah dan anda hanya keluar untuk membeli makanan, membayar listrik, pulsa, internet, pajak, hanya lewat mesin ATM, lalu kembali pulang? Anda akan merasa aman luar biasa dan tiba-tiba terserang panik saat orang datang atau sekedar lewat melangkah, atau tukang sayur dan somay yang melintas di depan rumah anda lalu tiba-tiba meminta air ledeng di halaman anda dan meminjam sapu lidi? Seperti yang kurasakan, aku lebih senang mendengar kelelawar atau mahluk lain mengintip aktivitasku daripada rombongan manusia. Ya, itulah kehidupan yang sunyi tetapi tetap saja ramai dengan benda-benda mati maupun hidup. Saat menulis kata-kata ini anda bisa mendengar suara kipas angin kecil dan jari-jari anda terdengar lincah memainkan keyboard komputer sambil mendengarkan musik klasik. Dan suara kipas angin menjadi seperti suara hujan yang tidak pernah reda. Atau anak-anak burung yang mencicit manja di lubang angin rumah anda. Dan tiba-tiba ayam berkokok, burung-burung peliharaan mulai berkicau, anda segera menyadari bahwa matahari sebentar lagi terbit dan orang-orang mulai menyalakan mesin kendaraan untuk berangkat bekerja, ibu-ibu rumah tangga atau pembantu menyiapkan sarapan dan anak-anak menjerit. Menyusul suara sepeda melintas, dan tukang roti yang datang dari jauh menyambut pembeli.

Pernahkah dalam kehidupan hari-hari sendiri itu tiba-tiba anda terserang flu, demam, menggigil dan tak seorangpun ada di situ? Apakah anda akan telpon teman atau keluarga, atau dokter yang bisa dipanggil misalnya? Tidak. Ternyata daya survive kita luar biasa, aku segera minum air putih berliter-liter dan menelan obat, sebelumnya makan makanan yang tersedia di meja dan kuolah sendiri. Anda akan mampu melakukannya sendiri. Dan ketika anda tidur tak seorangpun membangunkanmu, dan ketika bangun anda hanya melihat matahari sudah tinggi hampir menimpa wajahmu dan kucing-kucing tergeletak di lantai kepanasan, tertidur lelap. Rumahmu akan terlihat bersih dan mengkilat, meskipun lupa kamu akan lupa membersihkan diri sendiri, dan tiba-tiba melihat kukukumu hitam dan wajah dan rambutmu serempak berminyak. Tapi rumput-rumput di halaman depan rumah itu lebih penting karena sudah mulai tinggi perlu segera anda potong dengan tangan anda sendiri sampai kapalan. Dan ketika kembali ke dalam rumah, anda akan terganggu melihat jejak kaki anda sendiri, dan segera anda membersihkannya. Pernahkah anda melihat bahwa betapa pentingnya pakaian bersih? Tumpukan baju kotor itu kita sendiri yang mencucinya, jumlahnya pastilah sangat sedikit, termasuk pakaian dalam, dan sebelum matahari datang kita sudah menjemurnya sambil bersiul, dan kucing-kucing akan bermain-main di bawah kakimu, dan hanya dalam beberapa jam saja pakaian anda sudah kering.

Bukankah hidup begitu simpel dan tetek bengek itu tidak membuat kita mengeluh? Bukankah kita tidak selalu harus menjadikan kata-kata seperti sampah makanan yang tak jelas akan dibuang kemana? Dan orang-orang yang berebut bicara untuk memperlihatkan diri masing-masing? Bukankah sunyi itu membuatmu lebih peka mendengar bunyi, bahkan bunyi jantung dan hatimu sendiri? BIla pita suara di tenggorokanku ini bisa kuberikan untuk tali-tali senar biolaku untuk menjadikannya lebih nyaring tentu aku mau, asal aku siap untuk tidak pernah bicara atau presentasi tentang negara.

Kelima kucingku kadang-kadang bicara cukup dengan sorot matanya saja. Lapar, mengantuk, ingin kencing atau pup, aku sudah tahu kode-kode mereka. Atau bahkan bilang ingin dimanja, aku segera menggendong dan memeluk mereka sekaligus dan terdengar suara dengkur dan merasakan hangat tubuh mereka. Atau anda bisa membayangkan seandainya dunia ini hancur dan anda hidup sendirian, dalam arti tidak ada orang di sekitar anda yang selamat, anda sudah terbiasa.

Tentu, hidup dalam rumah sunyi ini pasti lebih baik dari hidup di penjara. Penjara ataupun di luar penjara anda hanya menemukan kegaduhan, bising, dan tumpukan bunyi yang saling beradu, atau orang-orang yang bercakap-cakap tertawa gelak untuk hal yang tidak perlu. Satu-satunya kebisingan di rumah sunyi ini apabila datang petir dan badai angin dan hujan. Aku akan menutup seluruh pintu rapat-rapat dan menyelamatkan kucing-kucingku yang sedang asik bermain di halaman belakang yang lembab. Aku akan menutup telingaku dan segera mengambil berselimut tebal bersama kucing-kucingku yang ketakutan, aku akan memeluk mereka dengan sangat erat hingga mereka mendengkur saling menghangatkan.

Kegaduhan yang diciptakan manusia lebih mengerikan dari suara petir yang mengantarku pada tangisan. Kegaduhan yang dihadirkan manusia membuatku pecah berantakan. Aku yang disana, diantara mereka, akan menangkapnya sebagai bunyi. Aku akan kembali menyusuri jalan, mengikuti cahaya bulan, menuju pulang sambil meraba satu demi satu bagaimana kehidupan terlihat hampir seragam, dan aku hidup dengan ritme yang terbalik. Dalam perjalanan pulang itu, lagi-lagi bunyi musik yang terdengar dari radio, dan itu sudah cukup menjadi teman perjalanan.

Oh, dunia. Mengapa kau bernama dunia. Aku tak lagi kenal apa itu kelam, apa itu terang. Apa itu hidup, apa itu mati. Keduanya adalah kehidupan sekaligus kematian. Aku tak lagi kenal apa itu sedih apa itu bahagia. Aku menyatukannya sekaligus dalam arti sendiri, dan dunia menjadi miliku sendiri.  
Apakah ini terdengar egois? Bukankah aku tidak menganggu hidup orang lain? Bukankah aku tidak melakukan kejahatan? Bukankah aku tidak merebut pacar orang, istri orang? Bukankah aku tidak ikut-ikutan menggosip kejelekan orang? Tentulah aku tidak egois karena aku tidak menganggu siapapun. Tetaplah aman bersamaku, meskipun dari jauh. AKu akan melihat semua dari jauh, sejauh jarak matahari dan bumi yang kita bisa saling melihat kecuali hujan datang. Dan memang hujan selalu datang sehingga sekali-sekali aku tak bisa melihatnya.

Satu jam lagi ayam akan berkokok. Kadang aku ingin ikut berkokok, tetapi suaraku belum separau ayam-ayam itu. AKu jarang menggunakannya. AKu berkicau saja, tapi aku tidak bisa setinggi itu bila berkicau, suaraku akan terdengar seperti serigala melolong.. Tapi katakan sebenarnya, seperti apakah mulut dan suara manusia itu? Aku hampir saja lupa.

Tambun, 18 Agustus 2014






Hari Kemerdekaan dan Lelaki yang Tersesat

Oleh Mariana Amiruddin

Malam menjelang pesta kemerdekaan Indonesia, kami mengadakan rapat kecil bersama teman-teman tentang kondisi pasca pemilu presiden di kediaman seorang aktivis yang jauh dari usia kami, usia berkepala delapan. Hubungan yang sangat awet, tidak ada hambatan apapun dalam hal usia dan latar belakang kami untuk satu tujuan perjuangan yang sama. Lepas dari rapat kecil itu, dengan kepala penat dan rasa lapar, kami mampir ke Blok M, makan ayam bakar Gantari. Setelah kenyang, kami menuju Kota Tua untuk melihat berbagai kegiatan menjelang perayaan kemerdekaan. Tetapi kami lupa ini malam minggu dan pantas saja kami terjebak macet. Melelahkan sekali, bukan ini yang kami mau, sehingga kami berputar balik untuk mencari tempat ruang yang luas terbuka dan sepi untuk sekedar duduk, minum kopi dan melihat langit.

Karena saya yang nyetir, segera saya putuskan menuju ke Lapangan Banteng. Teman-teman sempat terdiam. Mengapa Lapangan Banteng? Barangkali ada hal aneh di pikiran mereka. Saya tidak peduli dan terus menancap gas.  Saya cerita sedikit tentang masa remaja saya yang penuh risiko. Tidur di jalanan berhari-hari, tidur di Mesjid, tidur di TIM Cikini, berlari sejauh mungkin sampai ke puncak gunung atau tertidur di bibir samudra hanya membawa uang limapuluh ribu perak dan segembol tas, mengamen, menelusuri tempat-tempat kumuh dan sesak.  Untuk apa? Untuk merasakan bagaimana menjadi seorang gelandangan, merasakan hidup menjadi orang lain yang tidak seberuntung saya. Dari situlah kepedulian saya pada orang lain mulai muncul. Bagaimana menjadi seorang diri tanpa keluarga atau sanak saudara. Bagaimana menghayati kesusahan, ketidakstabilan ekonomi, ketiadaan tempat untuk tinggal. Banyak orang bilang apa yang saya lakukan itu aneh dan berbahaya, apalagi saya perempuan, orang-orang yang melihat saya bahkan mengatakan, untuk apa orang kaya turun ke bawah, sudah baik hidupnya malah mencari masalah. Dan kata orang, tampang saya tampang orang kota, orang kaya, kelas menengah. Saya terlalu bersih untuk tidur di jalanan dan mengamen mencari uang. Waktu itu saya masih mahasiswa S1. Saya tak mengerti soal kelas-kelas itu dan yang saya inginkan hanya menghayati kehidupan orang lain.

Sampai di Lapangan Banteng, tampak Patung Pembebasan karya era presiden Soekarno menjulang di langit. Kami parkir kendaraan di dekat pedagang kaki lima penjual rokok dan ketoprak. Kami duduk tenang di sana, tempat yang luas dan nyaman. Kami memesan teh panas dan saya lapar segera membeli makanan. Diskusi rupanya belum selesai tentang arsitektur kabinet yang kami inginkan. Memang sulit merancang struktur pemerintahan, memang sulit mengurus organisasi besar bernama negara, tetapi kami memang perlu ambil bagian. Mencari model-model struktur pemerintahan negara yang efektif dan bisa mencapai target-target keadilan dan kesejahteraan, terutama untuk kaum perempuan.
Saat kami berdiskusi, membuka buku dan mencoret-coret rancangan di Lapangan Banteng, di bawah langit dan bulan yang hanya separuh, serta pedagang kaki lima, datang seorang anak muda dengan wajah pucat duduk di dekat kami, memesan segelas kopi dari pedagang. Dia terus menatap kami. Dia bertanya pada pedagang itu tetapi ternyata dia tidak bisa bahasa Indonesia, dan tukang ketoprak meminta kami untuk membantu bicara dalam bahasa Inggris. Saya melihat wajah pucat dingin lelaki itu putus harapan. Ia hanya membawa ransel dan sebuah ponsel di tangannya. Dia orang asing, orang dari negara lain yang terdampar di Jakarta, dan menceritakan pengalamannya bagaimana bisa sampai di Lapangan Banteng. Saya sempat menebak-nebak dari mana asal orang ini, seperti orang dari Eropa Timur tetapi dia mengaku tinggal di Nepal, India. Saya tidak percaya sebab logatnya tidak seperti orang India, tetapi seperti orang Eropa Timur. Kami terus bertanya apa yang hendak dia lakukan disini, dia menjawab, “Saya ingin ikut merayakan hari kemerdekaan Indonesia esok pagi.” Saya terperanjat dan tersenyum, kenapa kamu mau ikut merayakan kemerdekaan bangsa kami? Dari hasil percakapan tersebut kemudian dia mengaku bahwa dia tidak punya keluarga, dia keturunan dari Afghanistan dan ingin mencari pekerjaan di Jakarta, dan ingin menemukan kehidupan di negara ini. Kami melongo dan masih tidak mengerti. Dia seperti orang yang putus asa dan pergi tanpa tujuan. Bola matanya yang coklat menatapku, agak berkaca-kaca dan memerah. Saya berpikir sekilas, wajah lelaki manis seperti ini bagaimana bisa ada disini? Pikir saya dengan penuh stereotipe. Saya agak kasihan, tetapi saya khawatir orang ini sebenarnya imigran gelap, atau ingin melakukan kejahatan pada kami. Teman-teman saya berpikiran sama. Tapi anak muda ini masih terlalu muda dan wajahnya yang manis tampak bukan orang jahat. Tapi kami sebagai orang yang selalu waspada tidak bisa percaya padanya begitu saja.

“Saya naik mobil sewa di bandara Soekarno Hatta dan meminta supir mengantar saya ke pusat kota Jakarta, tetapi kemudian saya diturunkan di tengah jalan besar dan barang-barang saya diambil, termasuk paspor saya dan segala uang saya. Saya tak punya uang untuk kemana-mana, saya tidak ada teman ataupun keluarga disini.” Tetapi kami melihat dompet yang dipegangnya dan juga ponsel, kami makin ragu. Begitu juga ransel di punggungnya. Anak muda tinggi pucat dan kurus ini bicara dalam bahasa Inggris yang lancar dan logat seperti orang Eropa Timur bekas jajahan Rusia, sama sekali tak terdengar logat Nepal, apalagi Afghanistan. Dia bertanya tentang apakah bisa tidur di Lapangan Banteng, apakah aman? Kami bingung sekali karena tentu saja tidak aman. Teman saya mengusulkan dia lapor polisi dan istirahat di sana, tetapi dia tidak mau. Dari perbincangan itu, terlihat sekali kami tidak percaya padanya, dan wajahnya semakin pucat. Akhirnya dia membayar kopinya dan pamit kepada kami, dan mengatakan ingin keliling-keliling di sekitar Lapangan Banteng sampai pagi.

Anak muda berwajah pucat manis itu membuat kami terdiam, kami ingin membantu tetapi kami takut. Apakah kami salah? “Saya hanya ingin ikut hari kemerdekaan Indonesia besok pagi,” katanya. Apakah ia ingin meminta swaka? Apakah dia seorang dari Ukraina, Kroasia, Bosnia, Uzbekistan, Afghanistan atau entahlah, yang datang dengan ilegal dan ingin melanjutkan perjalanan ke Australia? Kami tidak tahu karena kami takut. Setelah pamit dan menaikkan jempolnya pada kami, dia melangkah dengan wajah tertunduk. Kami kasihan tapi kami takut.

Malam semakin larut dan kami pindah tempat menuju taman di tengah Lapangan Banteng di kaki Patung Pembebasan. Tidak ada yang pacaran, semua hanya laki-laki muda yang hilir mudik di sana dengan pakaian yang kumuh dan berwajah manis. Mereka tidak jahat dan sering melempar senyum pada kami yang ketakutan tetapi tetap nakal duduk-duduk di sana. Setelah itu, kami memutuskan pulang, tetapi ada rasa bersalah dalam hati kami. Bagaimana kalau anak muda asing itu orang baik dan betul-betul membutuhkan pertolongan? Tidak ada senyum sedikitpun di ujung bibirnya. Apakah dia berbohong? Apakah dia jahat dan ingin melakukan tindakan kriminal? Apakah dia imigran gelap? Apakah dia putus asa dan ingin pindah dari negaranya yang banyak konflik? Kami tidak tahu. Kami tidak percaya. Tetapi kami terpanggil untuk kembali mencari laki-laki muda asing itu. Saya menancapkan gas memutar kembali seluruh sisi di Lapangan Banteng. Sebab sebelumnya kami juga melihat samar-samar ada lelaki asing duduk di kegelapan dengan wajah putus asa, ya lelaki yang menghampiri kami itu. Tapi kami tidak menemukannya, entah kemana perginya. Laki-laki Uraina, demikian kami sembarangan mengatakannya sambil tersenyum cemas, dan kami lupa bahwa malam itu adalah malam menjelang hari kemerdekaan. Apakah dia iblis atau malaikat yang tiba-tiba menghampiri untuk menguji kami dan sekejap hilang lenyap? Apakah dia benar-benar tersesat dan hidup tanpa tujuan? Apakah dia penjahat yang berbahaya? Bagaimana kalau dia bunuh diri? Seandainya saya percaya, saya akan memberi tumpangan dan mengajaknya tinggal sementara di rumah dan memberinya pekerjaan kecil untuk membantu saya sehari-hari. Tapi saya pernah berpetualang dan menemukan banyak risiko yang membahayakan nyawa saya sehingga saya mengurungkan niat itu.

Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu kami simpan, dan memutuskan berangkat ke Taman Ismail Marzuki lagi-lagi sekedar duduk di bawah langit.

Di malam hari Kemerdekaan itu, kami didatangkan lelaki Ukraina, demikian yang kami sebut dengan cara sembarangan, yang tersesat dan berjalan tanpa tujuan. Apakah kami mengalami cerita fiksi Anton Chekov atau Slavomir atau Dostoyevsky? Atau hidup macam apa yang kami temui? Bukankah setiap orang memiliki motif dan tujuan? Bagaimana kalau tidak? Tidak tahu. Yang saya tahu dan tangkap dari ceritanya, ia hanya ingin ikut merayakan hari kemerdekaan kita. Oh lelaki asing, apakah kamu benar-benar ingin kemerdekaan? Mungkin kamu salah menemui kami yang selalu waspada para orang asing yang tidak jelas asal usulnya. Kami terlalu terbiasa dengan keadaan yang sudah pasti dan jelas. 

Maafkan kami lelaki asing, semoga kamu menemukan kemerdekaan yang dimaksud.

Minggu, 17 Agustus 2014









Rabu, 02 Juli 2014

Memoar “Jokowi adalah KITA”



Oleh: Mariana Amiruddin


Jokowi adalah saya. Maksudnya bukan saya seperti Jokowi, tetapi representasi Jokowi sebagai nilai, telah ada dalam memoar hidup saya. Bagaimana mengatakannya? Saya ingin bercerita panjang sekali tentang masa kecil saya, semoga tidak bosan membacanya.

Saya lahir di Jakarta, Indonesia, dan tinggal di Indonesia sampai sekarang. Saya tidak pernah tinggal di luar negeri, dan merasakan langsung sepanjang hidup saya tentang bagaimana menjadi orang Indonesia, sejak kecil hingga dewasa, pindah dari daerah ke daerah, merasakan langsung dampak-dampak kebijakan pemerintah dan kondisi sosial masyarakat atas kehidupan saya sampai saat ini.

Saya anak dari keluarga mampu (bukan keluarga kaya), namun Ayah dan Ibu saya dulu sempat mengalami kesulitan hidup (biasanya disebut miskin), membeli pakaian saja sulit, apalagi membayar biaya sekolah. Nenek dari Ayah saya hanya seorang guru, dan Kakek dari ayah hanya seorang pegawai negeri bidang keuangan pada waktu itu gajinya kecil sekali. Ayah dan Ibu saya ingin nasibnya berubah. Waktu muda, Ayah sering melihat ke tetangganya yang kebetulan keturunan Tionghoa, mendengarkan anak-anak mereka bermain piano. Denting piano yang terdengar dari dalam rumah keluarga keturunan Tionghoa menggugah Ayah saya untuk mencapai cita-cita, kalau orang lain bisa sukses, mengapa kita tidak bisa sukses? Ayah berikrar ingin keluar dari hidup susah dan serba sulit. Dan prinsipnya, bagi orang tidak mampu sepertinya, untuk menjadi sukses jalan satu-satunya adalah belajar sungguh-sungguh, bekerja keras, berhemat dan tidak hidup berlebihan.

Sejak itu Ayah menghabiskan masa mudanya dengan belajar keras dan berhasil membiayai sendiri sekolahnya, hidupnya sangat hemat, ia mengelola uangnya sendiri dengan sangat ketat, sampai akhirnya hidupnya mulai maju sedikit demi sedikit, dan bertemu dengan Ibuku, anak pertama dari delapan bersaudara dan semuanya perempuan. Sebagai anak pertama Ibu harus sering mengalah demi adik-adiknya. Karena tidak mampu membeli baju, ia menjahitkan baju adik-adiknya, kadang-kadang diambilnya dari kain gordyn rumahnya dan disulapnya menjadi gaun yang bagus untuk adik-adiknya. Kakek dari Ibu saya hanya pegawai negeri bidang keuangan di Institut Pertanian Bogor, gajinya tidak begitu bisa menjanjikan pemasukan yang banyak untuk kedelapan anaknya. Nenek dari Ibu saya, adalah perempuan yang terkena penyakit gondok karena kurang gizi, dan Ibuku waktu kecilnya tidak minum ASI, nenek tidak mengeluarkan ASI karena kondisi kesehatannya. Nenek hanya bisa menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Sunda dan bahasa Belanda. Bahasa Indonesianya terbata-bata. Ketika beranjak dewasa, Ibu sempat bekerja di perpustakaan IPB waktu itu, dan gaji yang dia dapatkan digunakannya untuk membelikan tas untuk ibunya, dan hatinya puas bisa membahagiakan orangtuanya yang tidak mampu. Sampai akhirnya Ibu bertemu dengan Ayah saya, bertemu di Bogor saat Ayah masih tinggal di asrama tempatnya belajar, kota yang masih sejuk waktu itu.

Karena ayah sering dinas pindah dari kota ke kota, saya termasuk anak yang pendiam, sering mengkhayal dan mengamati orang. Sering mencatat dan merekam diam-diam dalam pikiran. Saya adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Saya dibentuk sebagai anak yang serius dan harus cepat beradaptasi, mandiri, bergaul dengan orang-orang berbahasa yang berbeda suku, dan saya sering menjadi orang asing di antara mereka. Saya dikenal sebagai anak Jakarta yang kadang ceria, kadang pendiam. Ada yang membenci saya, ada yang menyukai saya. Sepanjang masa kanak-kanak, saya tidak banyak teman karena keterasingan. Banyak bertemu berbagai suku dan agama. Waktu tinggal di Makassar selama 5 tahun sejak taman kanak-kanak saya di sekolah Katolik, saya banyak bertemu anak-anak daerah, maupun anak orang luar negeri yang tinggal di Indonesia seperti dari Jepang, Amerika dan Eropa. Saya sangat pendiam dan begitu asing dengan anak-anak di sekitar saya. Tapi guru-guru menyukai saya, dan rata-rata mereka orang Ambon dan berbahasa Belanda. Keberagaman itu mendamaikan saya, saya senang sekolah di sana. Tapi di rumah, hidup saya lebih banyak dengan saudara-saudara dan hewan-hewan seperti kucing dan anjing yang kebetulan datang ke rumah saya, rumah dinas Ayah saya yang luas halamannya. Hewan-hewan itu kami pelihara. Setelah itu saya ikut keluarga pindah ke Madiun, Jawa Timur. Tidak semua cerita bahagia dalam masa kanak-kanak saya.

Waktu di Jawa Timur, tepatnya di Madiun, saya masuk Sekolah Dasar Negeri kelas 4 dan kelas 5, meskipun rumah begitu nyaman dan banyak sekali pohon buah-buahan yang kami santap gratis setiap hari, sekolah tidak begitu ramah pada saya, baik guru-guru maupun teman-teman. Mereka berbahasa Jawa, sering diam-diam menggunjing saya dan mereka tahu saya tidak mengerti. Saya diajak ikut arisan oleh teman-teman waktu SD, saya tidak mengerti apa itu arisan, lalu ketika dikocok gulungan kertas arisan, nama saya keluar duluan, dan saya diberikan uang arisan. Saya tidak mengerti mengapa uang teman-teman diberikan kepada saya, itukan bukan uang saya? Lalu saya kembalikan. Teman-teman saya bilang saya bodoh, kata mereka, sudah beruntung dapat uang arisan malah dikembalikan. Lalu saya pergi dan mereka mengulang mengocok arisan. Saya tidak mengerti dan tak ada yang menjelaskan. Saya tidak mau bertanya karena saya tidak bisa bahasa Jawa. Waktu saya ikut teman-teman membuat masakan, saya dilarang keras oleh teman-teman ikut serta di dapur. Mereka bilang, nanti tangan saya jadi kasar. Saya dibilang orang kaya, orang Jakarta, seharusnya tidak melakukan hal-hal yang hanya dilakukan orang miskin dan orang desa. Saya tidak mengerti. Saya pergi dari mereka, saya pulang.

Di Madiun saya suka sekali bersepeda, masa kecil saya banyak bersepeda, berenang dan bermain layang-layang, atau berpetualangan ke tempat-tempat terpencil bersama keluarga. Jauh-jauh saya kayuh sepeda berkeranjang. Saya tidak punya teman, apalagi sahabat. Semua menganggap saya orang asing yang aneh. Tapi saya tidak terganggu dan menemukan apa yang saya suka. Saya menyukai tempat sepi, bahkan lahan kuburan dekat rumah dan Masjid yang membuat saya sangat tenang dan damai. Saya sering mengayuh sepeda ke sana. Waktu saya ikut Pramuka, saya tidak pernah takut dengan kuburan. Saya dibilang aneh karena tak ada rasa takut.

Kejadian-kejadian tidak enak kemudian datang ketika belum setahun saya sekolah di sana, beberapa teman memanggilku “Cino Londo”. Saya bingung, lalu bercermin apa yang membuat mereka bilang begitu ke saya. Saya melihat di cermin, kulit saya putih, mata saya sipit, dan rambut saya tampak kemerahan (cokelat muda). Selanjutnya, saya dibilang Cina Singkek. Katanya singkek itu pelit. Kadang mereka bilang saya Wong Sugih, yang artinya orang kaya karena saya dianggap orang Jakarta. Waktu pulang sekolah, saya menuju ke parkiran sepeda di belakang sekolah ternyata ban sepeda saya dikempiskan. Saya menuntun sepeda sampai rumah tanpa ada rasa marah dan lelah. Saya hanya tidak mengerti. Esoknya lagi, ketika saya bersepeda, saya ditendang dari belakang oleh seorang murid sekolah laki-laki yang tidak saya kenal, dia memanggil-manggil saya “Cina Singkek, Cina Singkek” dengan matanya yang dendam. Saya jatuh, dan kakak laki-laki saya, yang kebetulan di sekolah yang sama melawan anak itu, tetapi saya diam saja dan masih saja tidak mengerti.

Kelas 6 SD, pindah ke Jakarta. Betapa ruwetnya kota ini. Saya tidak suka. Saya harus berlarian naik bus metro mini, dan mikrolet, kaki saya yang satu belum naik, bus sudah jalan kencang. Suatu hari saya mengetuk atap bus sebagai tanda berhenti, saya mau turun, tetapi supir tetap melaju kencang. Saya bahkan pernah hampir terjepit diantara bus PPD, mungkin sedikit lagi saya mati. Karena ketukan tanda berhenti saya tidak dipedulikan, saya nekat mengancam ke kondektur bus, bila terus melaju kencang saya akan melompat. Kondektur bus tidak peduli. Dalam hitungan tiga detik saya melompat keluar dari bus yang sedang melaju kencang, dan saya terlempar ke udara sampai akhirnya mendarat di aspal, sepertinya lutut dan siku saya terseret jauh dan terasa sekali betapa kasarnya permukaan aspal jalanan. Dan saat terbang di udara itu, saya mendengar orang-orang malah berteriak eaaaaa…. Lalu mereka tertawa-tawa melihat tindakan saya yang dianggap bodoh. Saya sadar bahwa saya sudah mendarat di aspal dalam posisi telungkup, dan saya tidak merasakan sakit secara fisik, tetapi saya merasakan kecewa dan sakit hati. Saya merasa harus tegar dan tidak boleh tampak lemah. Saya sadar ini Jakarta, jangan harap ada yang membantu dan mengasihani saya. Saya langsung berdiri tegap seperti tidak ada apa-apa. Ternyata bus yang saya naiki tadi berhenti, mungkin punya rasa takut juga kalau saya mati kena geger otak. Kondektur bus berlarian ke arah saya sambil bertanya “kamu tidak apa-apa?” tapi saya tidak menoleh sedikitpun. Saya berdiri dan berjalan dengan gagah sambil meninggalkan kondektur dan orang-orang yang menertawakan saya. Banyak dari mereka adalah laki-laki dewasa. Saya berjalan dengan seragam saya yang kotor terseret aspal. Saat berjalan gagah begitu, ternyata darah banyak mengucur dari siku dan lutut saya. Luka yang dalam. Tapi lebih dalam luka hati saya. Saya berjalan terus sekuat tenaga, sampai akhirnya saya masuk ke jalan kecil menuju rumah. Orang-orang memperhatikan saya yang berlumuran darah, tapi mereka tidak peduli, sayapun mulai belajar tidak peduli. Sampai pagar rumah saya terisak menahan tangis. Saya buka pintu rumah, dan saya langsung roboh dan menangis menjadi-jadi. Orang-orang rumah menyambut saya dengan sangat terkejut… saya dipeluk. Rumah menjadi tempat saya menangis. Saya tak akan tunjukkan tangisan saya di luar rumah.

Saat sekolah di Jakarta teman-teman saya di SD bahkan sampai SMP melihat saya seperti orang desa. Benar, saya lama hidup di daerah, orang daerah bagi mereka seperti orang desa. Bahasa mereka berbeda, kalau memanggil pakai kata lu-gue. Kelas 6 SD, teman-teman perempuan saya sudah tertarik dengan laki-laki, begitu pula sebaliknya, di antara mereka sudah banyak yang pacaran. Saya tidak mengerti, sebab saya pikir kelas 6 SD itu masih kecil, dan saya belum puas dengan masa saya bermain-main. Bagi saya pacaran itu hanya untuk orang dewasa. Barangkali karena keluarga saya sangat protektif, sehingga orang asing bagi saya tidak bisa dipercaya, di luar sana bukan tempat yang aman, apalagi pacaran. Selain karena hidup berpindah-pindah membuat mental saya jadi pendiam dan penuh waspada dengan orang-orang baru. Teman-teman kelas 6 SD saya di sekolah waktu itu sudah berpakaian modis-modis, sudah tahu fashion, sudah tahu mana cantik mana jelek. Saya merasa saya orang jelek karena tidak pandai berdandan seperti mereka. Laki-laki teman sekolah saya juga sering mellihat saya aneh karena saya katanya tomboy sekali, rambut saya pendek sekali, karena memang potongan saya sangat kelaki-lakian, maksudnya biar praktis jadi tidak merepotkan orang tua dan tidak perlu banyak belanja, atau mungkin karena saya tidak punya selera apa-apa selain merasa saya masih anak-anak.

Lalu dari cerita panjang di atas, apa hubungannya dengan Jokowi?

Pertama, saya pernah hidup di daerah, dan orang Jakarta menyebut saya orang desa, orang kampung. Sementara, orang daerah menyebut saya orang kota, orang Jakarta, orang kaya. Kedua, saya pernah dijuluki “Cino Londo”, “Cino Singkek” dan saya mendapat perlakuan keji karena panggilan ini, karena mata saya sipit dan kulit saya putih. Saya tahu betul rasanya diolok-olok karena kulit dan mata saya yang berbeda dengan mereka. Mereka begitu benci dengan Cina, dengan kulit saya. Ketiga, sikap polos dan jujur saya dianggap bodoh. Saya menolak uang arisan, saya melompat dari bus karena tidak mau berhenti. Tetapi, karena kekecewaan-kekecewaan dan sakit hati saya itulah saya menjadi siap mental bila mendapatkan olok-olok.

Ketika dewasa, saya baru tahu bahwa satu-satunya yang membuat kita percaya diri adalah menjadi orang yang berpengetahuan, berkarya, dan memiliki pendapat sendiri, serta tidak terpengaruh dengan orang lain. Menjadi diri sendiri akhirnya keputusan saya saat dewasa, karena saya merasa tak mungkin mengikuti gaya orang lain. Bahkan tidak jarang saya kena fitnah di sekolah waktu di daerah, hanya karena saya dianggap orang Cina. Kertas ulangan saya ditukar, dan nama saya dicoret. Bahkan guru saya membiarkan. Nilai saya sembilan, dan teman saya lima. Ditukar nama saya jadi nama teman saya, jadinya nilai saya yang lima, nilai teman saya yang sembilan. Guru saya malah mengolok-olok mengatakan saya bodoh. Orang Jakarta katanya sombong, kaya dan bodoh, apalagi orang Cina, pantas diperlakukan demikian. Saya tidak menangis. Saya diam saja, saya tidak mengerti. Kata Cina sampai sekarang masih terdengar dalam alam bawah sadar saya sebagai kata olok-olok dan penuh kebencian.

Dari pengalaman kecil itu, saya tumbuh menjadi orang yang tidak bisa membiarkan sesuatu bekerja dengan tidak adil. Saya lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang dipinggirkan. Saya banyak turun ke bawah, ke kamar-kamar buruh, ke keluarga miskin yang hampir meninggal karena tidak punya uang. Ke tempat teman-teman sekolah saya yang tidak mampu. Saya jarang melihat ke atas. Saya bahkan tidak tahu apa yang ada di atas. Saya banyak menemukan jawaban dari banyak pertanyaan masa kecil saya, tentang sikap orang-orang pada orang desa, orang Jakarta, dan Cina. Saya tumbuh mulai berani berkompetisi dalam pendidikan. Cara saya berkompetisi adalah saya tidak menjatuhkan lawan, dan tidak terlalu terusik dengan olok-olok dan fitnah dari lawan untuk menjatuhkan saya, melainkan saya menunjukkan prestasi saya, kesungguhan saya, karya-karya saya, dan untuk melakukannya saya bekerja keras. Tidak sedikit orang yang meremehkan saya karena tidak terlalu bagus dalam penampilan, saya terlalu sederhana, dan dianggap terlalu muda. Seperti biasa, wibawa dan kematangan bagi masyarakat adlaha usia, cara berpenampilan, menarik secara visual, bukan intelektual. Tetapi keremehan ini saya abaikan, saya ganti menjadi kekuatan. Sebab saya adalah saya, dan tak akan ada yang bisa mengubah karakter saya. Dari sinilah saya sering mengambil kemenangan. Kemenangan itu mulai terlihat hari demi hari.

Beberapa pengalaman saya, rasanya ada pada Jokowi. Olok-olok orang pada Jokowi bisa saya rasakan pedihnya. Tapi mungkin Jokowi seperti saya, semakin orang meremehkan saya, semakin saya tunjukkan prestasi saya. Kalah atau menang, saya harus terima, asal saya konsisten dengan niat saya. Tapi kenyataannya saya lebih sering menang.


Selain itu, saya tumbuh bukan sebagai masyarakat kelas menengah atas. Gaji saya kecil, pekerjaan saya pekerjaan sosial. Saya tak mampu beli rumah ataupun mobil. Apalagi untuk foya-foya saya tidak sanggup. Saya juga tidak ada ambisi jadi pemimpin, meski akhirnya saya sempat dipercaya menjadi pemimpin. Saya hanya punya kemauan dan pengetahuan. Karena saya orang biasa, saya tahu betul saya bukan siapa-siapa. Saya hanya mengemukakan apa yang saya ketahui dan tak akan saya ucapkan apa yang saya tidak ketahui. Lalu saya banyak menulis, dan ternyata orang-orang suka dengan tulisan saya, yang bagi saya biasa-biasa saja.
Karena saya orang biasa dan bukan siapa-siapa, dan ketika mengalami kesulitan, saya ternyata sangat dibantu oleh kepemimpinan Jokowi sebagai Gubernur yang baru sebentar itu. Karya-karya Jokowi yang berdampak pada hidup saya adalah, pertama, saat saya tidak punya banyak uang, saya bisa ke puskesmas gratis untuk periksa gigi hanya dengan memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk. 

Kedua, sebagai perempuan, saya bisa dengan mudah mengurus Kartu Keluarga dan pindah KTP tanpa pertanyaan-pertanyaan aneh mengenai jenis kelamin dan status perkawinan saya, juga tidak perlu lagi ada suap, dan birokrasi yang berbelit-belit. Saya mengurusnya hanya dalam dua hari. Sebagaimana kita ketahui, dalam hal administrasi negara, tidak mudah bagi anak perempuan untuk menjadi dirinya sendiri sebagai warga negara karena UU Perkawinan. 

Ketiga, saya senang saat dilakukan lelang jabatan, Jokowi merekrut lurah-lurah perempuan dan memberi kepercayaan kepada mereka sebagai pemimpin yang punya pengabdian pada rakyat, tidak melihat suku dan agama mereka.
Saya pernah dibenci karena saya dianggap orang Cina dan dianggap Kristen.

Keempat, saya menyukai cara kerja dia bersama Ahok sebagai tim, bukan sebagai atasan dan bawahan, memberi kepercayaan penuh dan membela Ahok ditengah serangan FPI dan isu tentang ras dan agama.
Saya menyukai kepemimpinan yang melibatkan orang lain sebagai tim, bukan sebagai bos. 

Kelima, Jokowi langsung menandatangani kontrak dengan KPK saat menjabat Gubernur supaya pegawai-pegawainya tidak lagi terlibat korupsi dan tunduk pada hukum.
Waktu saya kecil, saya sudah menganggap bahwa uang orang lain bukanlah hak saya.

Keenam, sejak menjabat Gubernur, Jokowi bersama AHok membangun keterbukaan informasi mengenai program kerja dan proses kerja mereka.
Atas hal ini, saya melihat adanya upaya keterbukaan dan kepercayaan pada masyarakat bahwa pekerjaan kita memang perlu diketahui orang lain, terutama yang bermanfaat bagi banyak orang.
Ketujuh, karena saya aktif menyuarakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender, saya sangat ingin mengetahui dan mengawasi bagaimana program aksi dalam visi dan misi Jokowi, apakah peduli dengan kondisi perempuan Indonesia, dan saya membacanya, program aksi Jokowi untuk perempuan begitu lengkap, menempatkan perempuan sebagai warga negara yang sama. Perlindungan negara terhadap perempuan langsung dalam berbagai kebijakan, bukan hanya kebijakan yang biasanya hanya dianggap urusan perempuan.

Betul bahwa Jokowi adalah kita. Kita yang mana? Kita yang hidupnya tidak mudah dan tidak semulus orang-orang yang beruntung. Kita yang bisa beruntung karena kita mau jujur, belajar dan bekerja. Kita yang pernah putus asa dan sakit hati karena perlakuan yang diskriminatif. Kita yang ingin keadilan berlaku bagi semua orang baik kelas, ras, gender, dan agama.

Tambun, 3 Juli 2014


Saya di usia 3 tahun