Senin, 02 September 2013

Topeng

Trend manusia sekarang, hidup harus bertopeng. Manusia tidak boleh menampakkan keasliannya. Apa yang dia ungkapkan, haruslah tidak sama dengan apa yang ia pikirkan. Kalau perlu, ia bicara sebaliknya. Seolah dia tidak setuju, atau seolah dia setuju. Kalau dahulu manusia diajari menunjukkan belas kasih pada yang kekurangan. Kalau sekarang, untuk menjadi kaya, kita harus menyerupai pengemis, lalu bila kita sudah menumpuk banyak harta, jadilah kita tukang pamer dan menyatakan diri, bahwa kita adalah jutawan. Kalaupun kita jutawan ataupun pengemis, tetap bukan merupakan keaslian kita.

Apa itu keaslian? Kita sudah tidak tahu lagi. Kita tidak bisa membedakan mana diri sendiri, mana diri yang lain. Topeng itu dibuat melekat selekat kulit wajah kita. Mata dan hidung kita sudah bukan mata dan hidung kita sebelumnya. Kita tidak boleh jadi kita sendiri. Jadi kita yang benar-benar kita, nantinya akan dibenci orang lain. Menampakkan apa yang ada di hati dan pikiran, sama dengan menelanjangi diri. Kita harus memakai topeng, dan jangan lupa bangunlah tembok besar dan tebal, supaya orang tidak bisa mengintip keaslian kita. Apakah kita yang aslinya bangkai busuk, ataupun yang aslinya intan permata. Keduanya tidak boleh terlihat. Kita harus tidak merasa tersiksa untuk hidup yang demikian. Atau kelihatan agak berbeda karena sekali-sekali kita tidak memakai topeng, lantas semua orang menoleh pada kita, seperti melihat sapi liar yang kabur dari kandang. Hidup kita seperti dikelilingi oleh mata-mata, atau kalau kita berani sedikit melawan mereka, hidup kita akan disabotase.

Lihatlah semua manusia di sini berseragam. Mulai pakaiannya, tempat tinggalnya, mobilnya, anak-anak mereka. Tidak sama banget, tetapi manusia sudah diformat untuk memenuhi standar, yang akhirnya menjadi seragam. Bila tetangga sebelah membeli mobil Pajero Sport putih setelah lebaran usai, maka tetangga sebelah lainnya harus punya Pajero Sport Hitam. Paling murah Toyota Rush atau paling bikin tetangga lain cemburu adalah peugeot bercat ungu. Bila kita melintas di jalan bebas hambatan (yang kini setiap meternya adalah hambatan), kita akan menyaksikan perlombaan itu. Itulah topeng-topeng yang menghiasi hidup mereka, kalau perlu mereka tidak perlu memikirkan apa fungsinya. Yang penting punya dan pamer. Sekalipun tempat tinggalnya tidak ada garasi, atau tak ada atap yang melindungi harta bendanya.

Lalu siapakah yang setia pada keaslian? Adalah orang-orang yang mau mati. Dulu nenek moyang kita selalu memberikan pepatah "hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai." Sekarang jangan harap kita dengar lagi pepatah itu. "Tipu daya pangkal kaya, penjilat pangkal kuasa." Ya, ya! Dan memang pepatah yang terakhir sangat jitu. Kalau dulu kita menabung bertahun-tahun untuk memiliki seekor mobil, kalau sekarang, tidak perlu. Kita bisa membeli apa saja, semahal apapun harganya, kita anggap semuanya hanya kacang goreng. Luar biasa!


Tak hanya itu, jangan lupa, supaya topeng-topeng kita tak tercium bau busuk karena dibalik topeng adalah wajah kita yang telah menjadi mayat dan kumpulan belatung, maka tempelkan simbol-simbol yang seolah-olah Tuhan ada di sana. Pakailah simbol-simbol di topeng itu, yang seolah-olah kita adalah orang paling suci di bumi ini. Pastinya, kita tak perlu khawatir lagi, bahwa menjilat dan tipu daya bukanlah suatu perbuatan yang tidak baik, melainkan suatu pertahanan hidup. Bahwa tanpa itu, kita akan menjadi mayat lebih cepat dari yang kita kira!

Saat ini topeng-topeng yang dijejali simbol Tuhan begitu ramai di pasar. Manusia-manusia perempuan dipakaikan kain bermeter-meter, sampai melilit leher dan kepalanya. Bukan cuma itu, kainnya haruslah yang berlapis-lapis, sampai siang terik mencucurkan keringat mereka dan kain-kain itu akan menyerapnya, sampai tercium aroma tak sedap dari kelenjar kulit mereka. Ini benar-benar topeng paling mahal, karena meski kulit lengan, paha, betis dan leher kita tak terlihat, kita harus tetap terlihat anggun dan cantik. Kita harus beri warna-warni, atau kalau perlu, kain-kain yang mengikat kepala kita itu kita andaikan rambut panjang yang menjuntai sampai pinggang. Ah, kain yang sangat mahal, bahkan untuk merajutnya saja kita harus menunggu sang perancang berak dulu di kakusnya.

Sesungguhnya, kehidupan manusia topeng, bagi saya adalah kehidupan yang absurd. Saya salut dengan orang-orang yang bertaruh untuk kebertopengan itu. Karena sesungguhnya, kemanusiaan bukan lagi diartikan perjalanan kita sejak masa kecil hingga dewasa. Kita harus memutusnya ditengah jalan, dan sampai pada waktunya, lupa sama sekali dengan wajah kita sebenarnya. Kita tak lagi tahu apa hakikat manusia, apa kehendak bebasnya, dan apa yang menjadi daya pikirnya atas suatu kehidupan yang nyata. Maka yang nyata haruslah didongengkan, dan yang dongeng haruslah diartikan sebagia kenyataan.

Tambun, Senin 2 September 2013

Minggu, 25 Agustus 2013

Mencari Jejakku Sendiri

Tak juga beranjak.
Begitu banyak jalan, tapi tak pernah tahu tujuan.
Lupa jalan pulang, atau jalan pergi.
Aku tak tahu apa pulang dan pergi.

Bertahun lamanya aku mencari jalan pulang, tapi mengapa orang harus pulang?
Aku hanya tahu pergi. Pergi kemana saja. Pulangku adalah berkelana. Tapi kini aku lelah.
Aku ingin pulang yang sebenar-benarnya pulang. Tapi setiap kali pulang, selalu ingin pergi dan setiap kali pergi aku ingin pulang. Pergi dan pulang bagiku adalah menyatu, dan aku berada terhimpit di tengahnya. Mungkin yang kuinginkan adalah pulang dan pergi. Karena itu tak mengenal kembali. Kalaupun kukatakan kembali, ketika itu pula aku harus pergi.

Tapi kali ini aku berjuang mengejar pulang. Aku mencari jejakku kembali, tempatku berkelana pulang dan pergi. Barangkali itulah yang disebut pulang. Kuayunkan kaki mencari jejak-jejakku sendiri, ke tempat yang bisa menjelaskan aku apa itu pulang. Sampai suatu waktu, aku haus dan letih, dan terantuk batu sampai tubuhku terjatuh di atas tubuh bumi. Terhirup bau tanah lembab pekat. Yang di depannya ternyata ada jalan lurus tanpa ujung. Seperti melihat samudera, yang ujungnya ditandai oleh bulatan bumi. Atau fajar yang ditelan langit, dan senja yang ditelan laut, lalu sinar bulat bernama matahari itu mengingatkan aku pada hidup yang terbit dan terbenam.

Tapi aku sudah lupa apakah alam memang terbatas, atau aku yang terbatas? Apakah aku ingin menembus batas, atau aku yang membatasi diri? Bukan, barangkali aku ingin bebas. Tapi apa itu kebebasan? Seluas apa arti kebebasan? Seterbatas apakah sehingga menembusnya bisa dikatakan bebas? Perjalanan. Aku selalu ingin perjalanan. Tapi mungkin sudah terlalu jauh perjalananku, sehingga aku mulai mengatakan kebebasan itu adalah diam di tempat. Aku ingin duduk diam dan hanya melihat. Tapi lagi-lagi aku berontak. Aku ingin jalan pulangku segera.



Dalam kebingungan, aku memaksa melanjutkan jalan. Aku tak perlu petunjuk. Karena petunjuk bagiku adalah batasan. Aku memuja keberuntungan. Kuikat mataku dengan kain selendang yang kupakai. Melangkah pasrah, aku siap sekalipun tiba di kubangan. Aku rela sekalipun tiba di jeratan. Nyatanya memang selalu ada kubangan dan jeratan. Kadang kaki terkunci di celah batu, dan menggelinding di tempat curam. Tangan kananku sempat terkilir dan kaki kiriku lebam. Aku terus berjalan dengan mata tertutup. Tercium bau wangi pinus dan lembab tanah, bau humus dan kotoran hewan, sekilas terhirup wangi sejuk hutan tropis, yang sesekali tanpa cahaya. Terdengar jerit pilu satwa saling berlomba atau gesekan kaki serangga memecah gendang telinga. Aku senang sekaligus khawatir, apakah aku ancaman bagi mereka, apakah aku disambut mereka. Kusingkirkan rasa takut, aku bangkit pada niatku semula. Sampai pada rasa kulitku terkena udara yang menyengat, aku berhenti. Kubuka ikatan selendang yang menutupi mataku. Ternyata aku sudah keluar dari hutan lembab, sudah sampai di bibirnya, dimana aku bisa memandang jauh lahan terbuka hijau yang lembut.

Tampak rumah kecil di ujung lahan. Aku mendekat. Burung-burung bertengger bergantian di celah-celah jendela. Aku makin mendekat, burung-burung semakin liar bercicitan menghampiriku. Aku masih berjalan perlahan, memasuki halaman tanpa pagar. Rumah tanpa penghuni itu tampak terawat. Meski dinding-dindingnya sudah mulai retak. Burung-burung kembali bercicitan, berisik sekali, dan diantara mereka berani sesekali bertengger di pundakku. AKu terkejut karena salah satunya membawakan seikat kunci mungil dan menjatuhkannya di depan kakiku. Aku langsung mengambilnya tanpa bertanya lagi. Aku sangat fokus dengan rumah itu. Kuberanikan diri membuka pintu dengan kunci itu. Pintu yang ringan dan langsung tampak ruangan mungil, wangi melati, tenang dan hening. Di sudut ruangan tampak meja tulis lengkap dengan kursi dan buku-buku tersimpan rapi di dalam rak. Aku segera duduk di depan meja yang menghadap jendela, tempat mataku tertumbuk pada hijau pohon dan rumput halaman belakang. Tercium bau gairah dan bahagia. Tercium bau rumput, daun dan tanah basah. Di atas meja ada kertas dan alat tulis. Ada kuas dan cat. Ada pinsil dan serutan. Di pojok ruang ini, terlihat sebingkai kanvas disandarkan.

Aku mulai merasa memiliki rumah ini. Dan perasaanku yang paling aneh adalah aku merasa aku pernah tinggal di sini. Aku menarik nafas panjang, memejamkan mata, menikmati suasana. Aku bangkit keluar dari ruang itu, menuju ruang yang lain. Seperti ruang masak memasak. Ada bahan-bahan sayur daging dan bumbu di situ. Ada peralatan memasak dan meramu. Kendi berisi air sejuk. Aku menenggaknya. Aku lapar dan langsung memasak bahan-bahan itu. "Apakah ini pulang?" jerit keciku dalam hati. Aku melahap segalanya. Terasa angin lembut melintas di punggungku. Aku menoleh menuju ruang tengah. Ada bangku besar yang terlihat empuk. Aku menuju bangku itu dan merebahkan diri di atasnya. Rasa kantuk menyerang. Aku tak bisa melawan. Lelap, aku tidak tahu lagi dimanakah aku sebenarnya.


Tambun, 1 September 2013

Selasa, 12 Maret 2013


Bulan

Apakah malam ini ada bulan? Langkahku tertinggal semalam, setapak menuju danau. Kupijak jejak kakiku sendiri. Seperti hidup yang diulang-ulang. Menuju danau itu. Aku ingin menyelam. Bertahun lamanya. Aku tak lagi ingin bertemu manusia. Aku tidak mengerti bahasa mereka. Aku hanya  mengerti angin, hujan, lambaian daun, dan nyanyian satwa.

Malam itu aku menghadap bulan. Bulan yang biasa menggantung di atas danau. Danau dan bulan serasi dan tenang. Serupa hati yang damai. Tapi siapa yang tahu milyaran tahun, telah dilaluinya. Peristiwa lalu-lalang,  kadang tersangkut di persimpangan, kadang pecah berantakan teronggok sendirian.

Tiba di danau. Aku melompat, menyelam berjam-jam. Saat menyelam aku berdoa diam-diam. Gelap dan dingin. Menyelam sampai ke dasar. Semakin dalam semakin tenang. Jiwa yang dingin dan gelap, sepanjang tahun. Dingin menusuk ngilu tulangku, aku tetap berenang kencang, dari dasar ke permukaan. Bagai mahluk yang ber insang. Sesampai di permukaan, bulan pun kelihatan. Aku tersengal haus udara sambil menantang sang bulan. Aku naik ke daratan tanpa lepas menatap bulan. Aku lupa daratan memerlukan kaki untuk berjalan, bukan untuk berenang. Aku tersungkur jatuh, rapuh, menggigil diam. Pecah disambut suara satwa malam. Kelelawar menjerit berpencar, terbang merendah. Bulan suram menatap diam. Dari redupnya, awan terlihat tersenyum tipis. Senyum kelabu. Senyum kecemasan. Dan angin melintas dingin, menambah gigil. Menyusul rintik datang, jatuh bulir-bulir tajam.

Malam tak pernah sempurna. Aku meringkuk memeluk tubuhku sendiri. Mengatasi kedinginan. Mengutuk dua tiga kata dalam hati. Mimpi buruk setiap malam. Tertahan untuk diteriakkan. Tak seorangpun akan mendengar. Hujan dan angin lalu menderu berkejaran, berarak seperti menghantam bumi, memecah segala keheningan. Aku meracau. 

Bulan suram segera hilang. Sisa hujan masih menyiramku telanjang. Merintih gigil campur lebam. Meneriakkan harapan diam-diam;

Bila aku harus menghabiskan waktu sendirian, katakan dengan terang. Aku siap kesepian. Bila jiwaku telah terbelah, temukan belahan jiwaku sekarang.

Awan menyingkir perlahan. Bulan muncul kembali dan menggantung terang. Hujan berhenti jatuh. Kilat riak danau kembali terlihat, dengan gelombang yang lebih pekat.  Aku tak lagi meringkuk diam. Aku menatap ke depan. Aku mulai menangkap keceriaan alam. Kepak sayap burung pun lanjut terdengar.


Tambun, Bekasi., 12 Maret 2013: 00:00

Selasa, 05 Maret 2013

Angin


Malam ini saya ditemani angin. 
Yang membisikkan tentang masa lalu.
Tapi angin berbisik tentang debu.
Kota ini sudah bau, tak ada lagi masa lalu.
Kubilang, tolong bawa saya angin yang lain.

Angin bilang, debu yang menamparku adalah masa lalu.
Kubilang, mataku pedih dan aku tidak mau debu.
Angin berhenti sejenak, menatapku dalam.
"Inilah masa lalu yang kubawa kini." 
Tapi aku tidak mau debu! Kataku lebih keras.

Siapakah angin, siapakah debu?
Aku ingin kesegaran, bukan kepenatan.
Aku ingin kemerdekaan, bukan kata dendam.
Aku ingin angin perubahan, bukan kekalahan!
Aku ingin ketenangan, bukan keributan!

Angin berhenti.
Kenapa berhenti?
Angin: akulah temanmu
Aku: Teman untuk apa?
Angin: untuk membawa kabar.
Aku: Kabar apa?

"Tinggalkan masa lalumu. Juga bangsamu!"

Aku berlari kencang. Aku ingin lebih cepat dari angin. Tapi tubuhku hanya beban merusak kecepatan. Aku disusul angin yang teramat kencang. Ia mengangkatku ke angkasa. Tempat gelap tak ada manusia. Lalu menghempaskanku dengan sangat keras, kembali ke tempat semula. Tempat yang setiap jengkalnya ada manusia.

Aku menyerah.
Tinggalkan masa lalu. Juga bangsaku.

6 Februari 2011
Untuk Ibu Umi Sardjono

Mati


Vincent Willem Van Gogh Paint
Aku pernah bermimpi tentangmu ketika kau pergi dan dunia ini kau tinggalkan selamanya. Katamu "aku sudah punya rumah kecil di sini". Kulihat di depanmu meja besar dan kertas lebar tempatmu menggambar dan melukis hidup yang sederhana. Kau mati, tapi visimu tetap hidup di dadaku. 

Begitulah kau pergi dengan mengunci diri dalam kamarmu, kau terduduk bersila, dan tubuhmu terjatuh menyender pada lemari tua itu dengan darah bertumpah dari hidung dan telingamu. Kau yang sudah tak bernyawa dalam duduk sila dan kesendirianmu. Orang-orang menangisi jasadmu, aku menangisi visi dan semangatmu. Hidupmu sudah di batas itu, dengan penyakit yang kau pendam sepanjang tahun, hati yang luka sepanjang hidup. Politik dan kebudayaan ini yang terus mundur dan musnah, menghentikan sekejap aliran darah dan nafasmu, satu persatu.

Betapa keadaan itu kurasa kini, dan rasa sakit menusuk saat hijau dan bau tanah tempatku duduk dan memandang sirna sudah. Dalam waktu bersamaan semua merenggut kekuatanku satu persatu. 

Apakah aku akan sepertimu. Semoga tidak. Aku ada jalan lain yang harus kucapai. Biar sisa-sisa hidupku mampu melanjutkan dan menyembuhkan lukamu atas bangsa ini yang sudah merasuk sampai kamar bisu dan kematian menanti terduduk di situ.

Agustus 2011

Hanya Saya


Aku hanya seorang Mar, yang mungkin masih terlalu dini untuk memikul beban berat ini sendiri. Tapi aku siap jadi seorang pemikul, lalu menjadi bungkuk, ingin seperti padi yang merunduk. Menyepi, membaca dan bekerja keras sambil berencana sekolah lagi. Itu sudah cukup membuat saya bahagia dan setelah itu mati.

Aku hanya seorang Mar. Yang hidup ditengah orang-orang dewasa yang pintar dan berusia matang. Aku generasi yang sendirian. Karena pada sebaya, aku sudah terlalu tua dan sulit dimengerti buah pikirnya. Pada yang dewasa, aku tetaplah anak kecil. AKu tua sebelum saatnya. Punggungku semakin membungkuk, tanda hormat pada kehidupan. Suatu saat aKu ingin kembali menjadi anak-anak dan menghabiskan waktu di taman, pantai, sungai, bermain kunang-kuang. Tempat yang baik untuk mati sendirian.


Waktu masih mahasiswa S1, tulisan saya pernah dimuat di koran dengan judul "Mahasiswa 90-an, Quo Vadis?" Itu tulisan pertama saya yang dimuat di koran publik. Setelah itu saya bangga reformasi menaikkan kepercayaan masyarakat pada mahasiswa. Tapi sampai sekarang saya juga masih merasa quo vadis. Seperti generasi yang tanggung: antara idealisme sampai mati, atau pilihan lain, yaitu mati sesungguhnya.

Aku cuma seorang anak kecil. Aku bukan doktor, aku bukan lulusan luar negeri, aku hanya anak kecil yang terbawa arus kematangan usia orang lain. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin memeluk kucing-kucingku.

Jatuh cinta pada pohon yang hanya merunduk setelah hujan deras merubuhkan segalanya.

Aku bukan orang pintar nan cerdas. Aku cuma pekerja keras. Mulai dari memaku dinding, mencuci baju, dan menata ruang, sampai meneliti tulisan. Aku masih hidup dengan caraku, sampai punggungku membungkuk.

Hari ini aku bahkan masih belajar menghitung, menambah, mengurang, mengeja bahasa, mana laba, mana rugi, mana hutang, mana indah, mana tenang. Aku senang, karena aku hidup selalu ingin tahu sampai aku benar-benar tahu maka aku akan bahagia.

AKu tidak mengerti filsafat, apalagi politik. Aku cuma mengerti hidup. Hidup sebagai seorang perempuan berusia tigapuluh lima tahun.

Aku bukan aktivis, karena tampaknya aku tidak seperti seorang aktivis. Aku lebih banyak di kamar. Membaca, menulis, menyelesaikan pekerjaan, membenahi ini-itu sebagaimana ibu-ibu rumah tangga. AKu hanya seorang yang rajin, bukan analis, dan cukup mendengarkan orang-orang pintar dan tenar. Aku dalam masa diam yang paling akut. Seperti masa kecilku yang penakut pada keterasingan.

Aku tidak kenal Tan Malaka, mengapa DNA-nya diperiksa. Dimasa keterbukaan ini, aku tak bisa menangkap ideologi kiri atau kanan setiap kali belanja bulanan. Aku cuma kenal Tuan Tan dalam imajiku, itupun setelah mengenal keterasingan hidup. Aku buta sejarah manusia, apalagi Indonesia.

Aku memang sudah jadi arang. Tapi sebentar lagi aku akan jadi bara!

Bukan seorang ibu, bukan seorang anak lagi, bukan seorang tokoh, bukan seorang pengamat, bukan seperti pemimpin. Itulah aku yang selalu dalam wilayah BUKAN. Aku cuma bisa membungkuk, seperti pohon yang hanya merunduk teduh bertetes-tetes air jatuh, setelah hujan menumbangkan segalanya.

Aku tidak sedang membuat disertasi ataupun novel. Aku bukan kreator. Aku hanya penulis di facebook.

Aku dulu seorang remaja yang pendiam, semua pertanyaan aku simpan dan mencari jawabanya diam-diam. Aku terlalu asing sejak kecil, terlalu tidak ingin berteman. Kini aku sudah banyak teman, tapi lagi-lagi aku pergi diam-diam. Kini aku ada di surat kabar dan televisi, tulisanku dibaca banyak orang, tapi aku tidak pernah merasa apakah betul ada aku di sana. Aku hanya sebuah fragmen yang terpotong-potong. Mengertikah maksudku?

Mengertikah yang aku maksud? Akupun tidak.

Januari 2012

Cerita Tentang Kaki Kanan

Kota yang sok sibuk ini menelanku bulat-bulat, yang setiap dini hari berseliweran mobil-mobil patroli yang mencari orang-orang mabuk dan orang-orang tidak punya surat-surat. Hari itu aku tak lagi menemukan jiwa tenang dan wajah-wajah damai. Semua orang mengumpat, berteriak, menjerit, dan memaki di depan mukaku. Aku ingin menutup telingaku rapat-rapat. 

Aku menekan gas dalam-dalam, sudah capek dengan makian dan erangan orang-orang. Suasana yang bikin aku frustasi, aku nyetir sendirian, memandang lampu-lampu jalanan dengan mata nanar. Embun sudah turun, tapi di kota itu embun tidak membuat sejuk, ia membuatku ketakutan. Mataku yang semakin cekung, dan wajahku yang semakin pucat. Gas kutekan dalam-dalam meski kaki kananku dipenuhi urat-urat yang mengusut, sakit sekali rasanya. Aku paksa kakiku bekerja dengan baik mengendalikan mobil yang membawaku pulang.

Aspal basah terlindas mobil-mobil yang lewat di depanku. Ku buka jendela lebar-lebar. Dan ku raba dadaku, ada jantung yang berdetak keras sekali. Aku ketakutan sendiri, aku sendirian saja. Aku tak ada teman, aku meraba kakiku saat mobil berhenti menunggu lampu merah. Astaga! Ia tak bisa digunakan lagi... mati aku! Lampu jalan menunjukkan hijau, kaki kananku tak juga mau gerak. Mati aku! Untungnya suasana masih sepi sekali. Aku terduduk dan keringat dingin mulai membulir, satu persatu jatuh dari keningku. 

Aku cari akal, ku setel radio kuat-kuat dan kupukul kakiku keras-keras, dan akhirnya... sampai aku kesakitan sendiri. Dan dari rasa sakit itu kakiku mau bekerja lagi. Aku jadi bersumpah serapah, hari itu aku kena imbas amarah orang-orang yang kini gantian aku marah-marah pada diriku sendiri. ANjiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!! teriakku sampai ke jalanan. beberapa pedagang sayur yang kebetulan lewat membawa gerobak menatapku.

Entahlah hari itu aku ingin sekali ketenangan. Rasa nyaman dan damai. Yang lama sekali tidak kutemukan. Tiba-tiba aku rindu dengan hewan-hewan. Rindu dengan si hitam dan si putih. Mereka ternyata sudah menunggu di depan pintu. Aku terpincang-pincang menapaki halaman rumah. Kubanting pintu mobil sebelumnya. Mereka menyambutku. Dan astaga! ada mahluk yang lebih mungil berbunyi dari pintu belakang. Mahluk lucu dengan bentuk serba segitiga. Kucing mungil berbulu hitam-putih, kusambut dia dengan kasih sayang, kubelai kepalanya, oh lucunya bibir segitiga, telinga segitiga dan wajahnya yang segitiga. Lembut hangat aku dipeluknya. Alam memang memberi kedamaian. 

Masih terpincang-pincang kutapaki bebatuan menuju kamarku, kucing-kucing mengikutiku dari belakang seperti biasanya. Sampai kamar kulihat biolaku bergantung di dinding. Kuraih biola itu, dan segera kumainkan. Suaranya menyapu jiwaku yang redup. Cahayanya hampir mati. Sama dengan matinya nyala jiwaku. Matinya nyala semangatku. Kakiku yang malang, sakitnya tak mau hilang juga. Kumainkan terus biolaku sampai melengking-lengking. Kugesek kuat-kuat talinya, sampai terdengar menjerit suaranya. Tak sadar aku menangis. Tak sadar pula matahari telah mengintip. 

Aku berhenti. Kuhentikan permainan biola. Kucing-kucingku tertidur lelap. Aku hendak berdiri menggantungkan biolaku lagi. Tapi ya Tuhan! aku terjatuh... bersama biola di tanganku. Kepalaku membentur lantai... dan aku tak sadar lagi.


Untuk Mendiang Marianne Katoppo yang ketika hidup selalu menjadi orang yang sendiri.

Jakarta, 8 Maret 2009