Minggu, 25 Agustus 2013

Mencari Jejakku Sendiri

Tak juga beranjak.
Begitu banyak jalan, tapi tak pernah tahu tujuan.
Lupa jalan pulang, atau jalan pergi.
Aku tak tahu apa pulang dan pergi.

Bertahun lamanya aku mencari jalan pulang, tapi mengapa orang harus pulang?
Aku hanya tahu pergi. Pergi kemana saja. Pulangku adalah berkelana. Tapi kini aku lelah.
Aku ingin pulang yang sebenar-benarnya pulang. Tapi setiap kali pulang, selalu ingin pergi dan setiap kali pergi aku ingin pulang. Pergi dan pulang bagiku adalah menyatu, dan aku berada terhimpit di tengahnya. Mungkin yang kuinginkan adalah pulang dan pergi. Karena itu tak mengenal kembali. Kalaupun kukatakan kembali, ketika itu pula aku harus pergi.

Tapi kali ini aku berjuang mengejar pulang. Aku mencari jejakku kembali, tempatku berkelana pulang dan pergi. Barangkali itulah yang disebut pulang. Kuayunkan kaki mencari jejak-jejakku sendiri, ke tempat yang bisa menjelaskan aku apa itu pulang. Sampai suatu waktu, aku haus dan letih, dan terantuk batu sampai tubuhku terjatuh di atas tubuh bumi. Terhirup bau tanah lembab pekat. Yang di depannya ternyata ada jalan lurus tanpa ujung. Seperti melihat samudera, yang ujungnya ditandai oleh bulatan bumi. Atau fajar yang ditelan langit, dan senja yang ditelan laut, lalu sinar bulat bernama matahari itu mengingatkan aku pada hidup yang terbit dan terbenam.

Tapi aku sudah lupa apakah alam memang terbatas, atau aku yang terbatas? Apakah aku ingin menembus batas, atau aku yang membatasi diri? Bukan, barangkali aku ingin bebas. Tapi apa itu kebebasan? Seluas apa arti kebebasan? Seterbatas apakah sehingga menembusnya bisa dikatakan bebas? Perjalanan. Aku selalu ingin perjalanan. Tapi mungkin sudah terlalu jauh perjalananku, sehingga aku mulai mengatakan kebebasan itu adalah diam di tempat. Aku ingin duduk diam dan hanya melihat. Tapi lagi-lagi aku berontak. Aku ingin jalan pulangku segera.



Dalam kebingungan, aku memaksa melanjutkan jalan. Aku tak perlu petunjuk. Karena petunjuk bagiku adalah batasan. Aku memuja keberuntungan. Kuikat mataku dengan kain selendang yang kupakai. Melangkah pasrah, aku siap sekalipun tiba di kubangan. Aku rela sekalipun tiba di jeratan. Nyatanya memang selalu ada kubangan dan jeratan. Kadang kaki terkunci di celah batu, dan menggelinding di tempat curam. Tangan kananku sempat terkilir dan kaki kiriku lebam. Aku terus berjalan dengan mata tertutup. Tercium bau wangi pinus dan lembab tanah, bau humus dan kotoran hewan, sekilas terhirup wangi sejuk hutan tropis, yang sesekali tanpa cahaya. Terdengar jerit pilu satwa saling berlomba atau gesekan kaki serangga memecah gendang telinga. Aku senang sekaligus khawatir, apakah aku ancaman bagi mereka, apakah aku disambut mereka. Kusingkirkan rasa takut, aku bangkit pada niatku semula. Sampai pada rasa kulitku terkena udara yang menyengat, aku berhenti. Kubuka ikatan selendang yang menutupi mataku. Ternyata aku sudah keluar dari hutan lembab, sudah sampai di bibirnya, dimana aku bisa memandang jauh lahan terbuka hijau yang lembut.

Tampak rumah kecil di ujung lahan. Aku mendekat. Burung-burung bertengger bergantian di celah-celah jendela. Aku makin mendekat, burung-burung semakin liar bercicitan menghampiriku. Aku masih berjalan perlahan, memasuki halaman tanpa pagar. Rumah tanpa penghuni itu tampak terawat. Meski dinding-dindingnya sudah mulai retak. Burung-burung kembali bercicitan, berisik sekali, dan diantara mereka berani sesekali bertengger di pundakku. AKu terkejut karena salah satunya membawakan seikat kunci mungil dan menjatuhkannya di depan kakiku. Aku langsung mengambilnya tanpa bertanya lagi. Aku sangat fokus dengan rumah itu. Kuberanikan diri membuka pintu dengan kunci itu. Pintu yang ringan dan langsung tampak ruangan mungil, wangi melati, tenang dan hening. Di sudut ruangan tampak meja tulis lengkap dengan kursi dan buku-buku tersimpan rapi di dalam rak. Aku segera duduk di depan meja yang menghadap jendela, tempat mataku tertumbuk pada hijau pohon dan rumput halaman belakang. Tercium bau gairah dan bahagia. Tercium bau rumput, daun dan tanah basah. Di atas meja ada kertas dan alat tulis. Ada kuas dan cat. Ada pinsil dan serutan. Di pojok ruang ini, terlihat sebingkai kanvas disandarkan.

Aku mulai merasa memiliki rumah ini. Dan perasaanku yang paling aneh adalah aku merasa aku pernah tinggal di sini. Aku menarik nafas panjang, memejamkan mata, menikmati suasana. Aku bangkit keluar dari ruang itu, menuju ruang yang lain. Seperti ruang masak memasak. Ada bahan-bahan sayur daging dan bumbu di situ. Ada peralatan memasak dan meramu. Kendi berisi air sejuk. Aku menenggaknya. Aku lapar dan langsung memasak bahan-bahan itu. "Apakah ini pulang?" jerit keciku dalam hati. Aku melahap segalanya. Terasa angin lembut melintas di punggungku. Aku menoleh menuju ruang tengah. Ada bangku besar yang terlihat empuk. Aku menuju bangku itu dan merebahkan diri di atasnya. Rasa kantuk menyerang. Aku tak bisa melawan. Lelap, aku tidak tahu lagi dimanakah aku sebenarnya.


Tambun, 1 September 2013

Selasa, 12 Maret 2013


Bulan

Apakah malam ini ada bulan? Langkahku tertinggal semalam, setapak menuju danau. Kupijak jejak kakiku sendiri. Seperti hidup yang diulang-ulang. Menuju danau itu. Aku ingin menyelam. Bertahun lamanya. Aku tak lagi ingin bertemu manusia. Aku tidak mengerti bahasa mereka. Aku hanya  mengerti angin, hujan, lambaian daun, dan nyanyian satwa.

Malam itu aku menghadap bulan. Bulan yang biasa menggantung di atas danau. Danau dan bulan serasi dan tenang. Serupa hati yang damai. Tapi siapa yang tahu milyaran tahun, telah dilaluinya. Peristiwa lalu-lalang,  kadang tersangkut di persimpangan, kadang pecah berantakan teronggok sendirian.

Tiba di danau. Aku melompat, menyelam berjam-jam. Saat menyelam aku berdoa diam-diam. Gelap dan dingin. Menyelam sampai ke dasar. Semakin dalam semakin tenang. Jiwa yang dingin dan gelap, sepanjang tahun. Dingin menusuk ngilu tulangku, aku tetap berenang kencang, dari dasar ke permukaan. Bagai mahluk yang ber insang. Sesampai di permukaan, bulan pun kelihatan. Aku tersengal haus udara sambil menantang sang bulan. Aku naik ke daratan tanpa lepas menatap bulan. Aku lupa daratan memerlukan kaki untuk berjalan, bukan untuk berenang. Aku tersungkur jatuh, rapuh, menggigil diam. Pecah disambut suara satwa malam. Kelelawar menjerit berpencar, terbang merendah. Bulan suram menatap diam. Dari redupnya, awan terlihat tersenyum tipis. Senyum kelabu. Senyum kecemasan. Dan angin melintas dingin, menambah gigil. Menyusul rintik datang, jatuh bulir-bulir tajam.

Malam tak pernah sempurna. Aku meringkuk memeluk tubuhku sendiri. Mengatasi kedinginan. Mengutuk dua tiga kata dalam hati. Mimpi buruk setiap malam. Tertahan untuk diteriakkan. Tak seorangpun akan mendengar. Hujan dan angin lalu menderu berkejaran, berarak seperti menghantam bumi, memecah segala keheningan. Aku meracau. 

Bulan suram segera hilang. Sisa hujan masih menyiramku telanjang. Merintih gigil campur lebam. Meneriakkan harapan diam-diam;

Bila aku harus menghabiskan waktu sendirian, katakan dengan terang. Aku siap kesepian. Bila jiwaku telah terbelah, temukan belahan jiwaku sekarang.

Awan menyingkir perlahan. Bulan muncul kembali dan menggantung terang. Hujan berhenti jatuh. Kilat riak danau kembali terlihat, dengan gelombang yang lebih pekat.  Aku tak lagi meringkuk diam. Aku menatap ke depan. Aku mulai menangkap keceriaan alam. Kepak sayap burung pun lanjut terdengar.


Tambun, Bekasi., 12 Maret 2013: 00:00

Selasa, 05 Maret 2013

Angin


Malam ini saya ditemani angin. 
Yang membisikkan tentang masa lalu.
Tapi angin berbisik tentang debu.
Kota ini sudah bau, tak ada lagi masa lalu.
Kubilang, tolong bawa saya angin yang lain.

Angin bilang, debu yang menamparku adalah masa lalu.
Kubilang, mataku pedih dan aku tidak mau debu.
Angin berhenti sejenak, menatapku dalam.
"Inilah masa lalu yang kubawa kini." 
Tapi aku tidak mau debu! Kataku lebih keras.

Siapakah angin, siapakah debu?
Aku ingin kesegaran, bukan kepenatan.
Aku ingin kemerdekaan, bukan kata dendam.
Aku ingin angin perubahan, bukan kekalahan!
Aku ingin ketenangan, bukan keributan!

Angin berhenti.
Kenapa berhenti?
Angin: akulah temanmu
Aku: Teman untuk apa?
Angin: untuk membawa kabar.
Aku: Kabar apa?

"Tinggalkan masa lalumu. Juga bangsamu!"

Aku berlari kencang. Aku ingin lebih cepat dari angin. Tapi tubuhku hanya beban merusak kecepatan. Aku disusul angin yang teramat kencang. Ia mengangkatku ke angkasa. Tempat gelap tak ada manusia. Lalu menghempaskanku dengan sangat keras, kembali ke tempat semula. Tempat yang setiap jengkalnya ada manusia.

Aku menyerah.
Tinggalkan masa lalu. Juga bangsaku.

6 Februari 2011
Untuk Ibu Umi Sardjono

Mati


Vincent Willem Van Gogh Paint
Aku pernah bermimpi tentangmu ketika kau pergi dan dunia ini kau tinggalkan selamanya. Katamu "aku sudah punya rumah kecil di sini". Kulihat di depanmu meja besar dan kertas lebar tempatmu menggambar dan melukis hidup yang sederhana. Kau mati, tapi visimu tetap hidup di dadaku. 

Begitulah kau pergi dengan mengunci diri dalam kamarmu, kau terduduk bersila, dan tubuhmu terjatuh menyender pada lemari tua itu dengan darah bertumpah dari hidung dan telingamu. Kau yang sudah tak bernyawa dalam duduk sila dan kesendirianmu. Orang-orang menangisi jasadmu, aku menangisi visi dan semangatmu. Hidupmu sudah di batas itu, dengan penyakit yang kau pendam sepanjang tahun, hati yang luka sepanjang hidup. Politik dan kebudayaan ini yang terus mundur dan musnah, menghentikan sekejap aliran darah dan nafasmu, satu persatu.

Betapa keadaan itu kurasa kini, dan rasa sakit menusuk saat hijau dan bau tanah tempatku duduk dan memandang sirna sudah. Dalam waktu bersamaan semua merenggut kekuatanku satu persatu. 

Apakah aku akan sepertimu. Semoga tidak. Aku ada jalan lain yang harus kucapai. Biar sisa-sisa hidupku mampu melanjutkan dan menyembuhkan lukamu atas bangsa ini yang sudah merasuk sampai kamar bisu dan kematian menanti terduduk di situ.

Agustus 2011

Hanya Saya


Aku hanya seorang Mar, yang mungkin masih terlalu dini untuk memikul beban berat ini sendiri. Tapi aku siap jadi seorang pemikul, lalu menjadi bungkuk, ingin seperti padi yang merunduk. Menyepi, membaca dan bekerja keras sambil berencana sekolah lagi. Itu sudah cukup membuat saya bahagia dan setelah itu mati.

Aku hanya seorang Mar. Yang hidup ditengah orang-orang dewasa yang pintar dan berusia matang. Aku generasi yang sendirian. Karena pada sebaya, aku sudah terlalu tua dan sulit dimengerti buah pikirnya. Pada yang dewasa, aku tetaplah anak kecil. AKu tua sebelum saatnya. Punggungku semakin membungkuk, tanda hormat pada kehidupan. Suatu saat aKu ingin kembali menjadi anak-anak dan menghabiskan waktu di taman, pantai, sungai, bermain kunang-kuang. Tempat yang baik untuk mati sendirian.


Waktu masih mahasiswa S1, tulisan saya pernah dimuat di koran dengan judul "Mahasiswa 90-an, Quo Vadis?" Itu tulisan pertama saya yang dimuat di koran publik. Setelah itu saya bangga reformasi menaikkan kepercayaan masyarakat pada mahasiswa. Tapi sampai sekarang saya juga masih merasa quo vadis. Seperti generasi yang tanggung: antara idealisme sampai mati, atau pilihan lain, yaitu mati sesungguhnya.

Aku cuma seorang anak kecil. Aku bukan doktor, aku bukan lulusan luar negeri, aku hanya anak kecil yang terbawa arus kematangan usia orang lain. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin memeluk kucing-kucingku.

Jatuh cinta pada pohon yang hanya merunduk setelah hujan deras merubuhkan segalanya.

Aku bukan orang pintar nan cerdas. Aku cuma pekerja keras. Mulai dari memaku dinding, mencuci baju, dan menata ruang, sampai meneliti tulisan. Aku masih hidup dengan caraku, sampai punggungku membungkuk.

Hari ini aku bahkan masih belajar menghitung, menambah, mengurang, mengeja bahasa, mana laba, mana rugi, mana hutang, mana indah, mana tenang. Aku senang, karena aku hidup selalu ingin tahu sampai aku benar-benar tahu maka aku akan bahagia.

AKu tidak mengerti filsafat, apalagi politik. Aku cuma mengerti hidup. Hidup sebagai seorang perempuan berusia tigapuluh lima tahun.

Aku bukan aktivis, karena tampaknya aku tidak seperti seorang aktivis. Aku lebih banyak di kamar. Membaca, menulis, menyelesaikan pekerjaan, membenahi ini-itu sebagaimana ibu-ibu rumah tangga. AKu hanya seorang yang rajin, bukan analis, dan cukup mendengarkan orang-orang pintar dan tenar. Aku dalam masa diam yang paling akut. Seperti masa kecilku yang penakut pada keterasingan.

Aku tidak kenal Tan Malaka, mengapa DNA-nya diperiksa. Dimasa keterbukaan ini, aku tak bisa menangkap ideologi kiri atau kanan setiap kali belanja bulanan. Aku cuma kenal Tuan Tan dalam imajiku, itupun setelah mengenal keterasingan hidup. Aku buta sejarah manusia, apalagi Indonesia.

Aku memang sudah jadi arang. Tapi sebentar lagi aku akan jadi bara!

Bukan seorang ibu, bukan seorang anak lagi, bukan seorang tokoh, bukan seorang pengamat, bukan seperti pemimpin. Itulah aku yang selalu dalam wilayah BUKAN. Aku cuma bisa membungkuk, seperti pohon yang hanya merunduk teduh bertetes-tetes air jatuh, setelah hujan menumbangkan segalanya.

Aku tidak sedang membuat disertasi ataupun novel. Aku bukan kreator. Aku hanya penulis di facebook.

Aku dulu seorang remaja yang pendiam, semua pertanyaan aku simpan dan mencari jawabanya diam-diam. Aku terlalu asing sejak kecil, terlalu tidak ingin berteman. Kini aku sudah banyak teman, tapi lagi-lagi aku pergi diam-diam. Kini aku ada di surat kabar dan televisi, tulisanku dibaca banyak orang, tapi aku tidak pernah merasa apakah betul ada aku di sana. Aku hanya sebuah fragmen yang terpotong-potong. Mengertikah maksudku?

Mengertikah yang aku maksud? Akupun tidak.

Januari 2012

Cerita Tentang Kaki Kanan

Kota yang sok sibuk ini menelanku bulat-bulat, yang setiap dini hari berseliweran mobil-mobil patroli yang mencari orang-orang mabuk dan orang-orang tidak punya surat-surat. Hari itu aku tak lagi menemukan jiwa tenang dan wajah-wajah damai. Semua orang mengumpat, berteriak, menjerit, dan memaki di depan mukaku. Aku ingin menutup telingaku rapat-rapat. 

Aku menekan gas dalam-dalam, sudah capek dengan makian dan erangan orang-orang. Suasana yang bikin aku frustasi, aku nyetir sendirian, memandang lampu-lampu jalanan dengan mata nanar. Embun sudah turun, tapi di kota itu embun tidak membuat sejuk, ia membuatku ketakutan. Mataku yang semakin cekung, dan wajahku yang semakin pucat. Gas kutekan dalam-dalam meski kaki kananku dipenuhi urat-urat yang mengusut, sakit sekali rasanya. Aku paksa kakiku bekerja dengan baik mengendalikan mobil yang membawaku pulang.

Aspal basah terlindas mobil-mobil yang lewat di depanku. Ku buka jendela lebar-lebar. Dan ku raba dadaku, ada jantung yang berdetak keras sekali. Aku ketakutan sendiri, aku sendirian saja. Aku tak ada teman, aku meraba kakiku saat mobil berhenti menunggu lampu merah. Astaga! Ia tak bisa digunakan lagi... mati aku! Lampu jalan menunjukkan hijau, kaki kananku tak juga mau gerak. Mati aku! Untungnya suasana masih sepi sekali. Aku terduduk dan keringat dingin mulai membulir, satu persatu jatuh dari keningku. 

Aku cari akal, ku setel radio kuat-kuat dan kupukul kakiku keras-keras, dan akhirnya... sampai aku kesakitan sendiri. Dan dari rasa sakit itu kakiku mau bekerja lagi. Aku jadi bersumpah serapah, hari itu aku kena imbas amarah orang-orang yang kini gantian aku marah-marah pada diriku sendiri. ANjiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!! teriakku sampai ke jalanan. beberapa pedagang sayur yang kebetulan lewat membawa gerobak menatapku.

Entahlah hari itu aku ingin sekali ketenangan. Rasa nyaman dan damai. Yang lama sekali tidak kutemukan. Tiba-tiba aku rindu dengan hewan-hewan. Rindu dengan si hitam dan si putih. Mereka ternyata sudah menunggu di depan pintu. Aku terpincang-pincang menapaki halaman rumah. Kubanting pintu mobil sebelumnya. Mereka menyambutku. Dan astaga! ada mahluk yang lebih mungil berbunyi dari pintu belakang. Mahluk lucu dengan bentuk serba segitiga. Kucing mungil berbulu hitam-putih, kusambut dia dengan kasih sayang, kubelai kepalanya, oh lucunya bibir segitiga, telinga segitiga dan wajahnya yang segitiga. Lembut hangat aku dipeluknya. Alam memang memberi kedamaian. 

Masih terpincang-pincang kutapaki bebatuan menuju kamarku, kucing-kucing mengikutiku dari belakang seperti biasanya. Sampai kamar kulihat biolaku bergantung di dinding. Kuraih biola itu, dan segera kumainkan. Suaranya menyapu jiwaku yang redup. Cahayanya hampir mati. Sama dengan matinya nyala jiwaku. Matinya nyala semangatku. Kakiku yang malang, sakitnya tak mau hilang juga. Kumainkan terus biolaku sampai melengking-lengking. Kugesek kuat-kuat talinya, sampai terdengar menjerit suaranya. Tak sadar aku menangis. Tak sadar pula matahari telah mengintip. 

Aku berhenti. Kuhentikan permainan biola. Kucing-kucingku tertidur lelap. Aku hendak berdiri menggantungkan biolaku lagi. Tapi ya Tuhan! aku terjatuh... bersama biola di tanganku. Kepalaku membentur lantai... dan aku tak sadar lagi.


Untuk Mendiang Marianne Katoppo yang ketika hidup selalu menjadi orang yang sendiri.

Jakarta, 8 Maret 2009

Celana Dalam

MANUSIA yang kulihat dari sudut kota ini seperti remah-remah yang ingin kukunyah. Mata mereka aneh. Memelototi aku terus-menerus. Kuludahi mata mereka satu per satu. Aku mengerang. Mata-mata itu semakin melotot padaku. Aku meludah lagi. Kali ini ke tanah.

Begitulah setiap hari. Kerjaku meludahi orang-orang melotot. Aku memang tidak suka mata melotot. Kenapa memangnya? Kenapa memangnya kalau aku begini? Lalu aku melempar celana dalamku ke wajah mereka. Celana dalam terbuat dari besi berikut gemboknya. Aku lemparkan ke mereka, juga beha-beha ukuran kecil dan besar yang kupakai berlapis, berkawat-kawat untuk menopang daging. Seperti melempar jala-jala yang menjaring ikan besar. "Ambillah! Buatlah monumen celana dalam tolol itu di tengah kota!" Aku pergi meninggalkan mereka dengan tubuh menggigil. Aku telanjang.

***

Aku melangkah hati-hati. Jari-jari kakiku mulai koyak. Kulit di punggungku terkelupas dan ditumbuhi jamur-jamur mini, seperti pulau-pulau yang dihidupi hutan-hutan kelam. Gatal. Itulah hal terunik di tubuhku, juga payudaraku. Payudaraku rata. Lalu orang-orang membenci payudaraku. Aneh. Setiap hal yang aku suka, mereka malah membencinya. Padahal waktu kecil aku senang menekannya dengan bantal. Kupikir biar tidak tumbuh terus. Tapi ternyata tetap tumbuh, sakit pula ketika putingnya membesar. Apa enaknya. Lalu aku takut bila tumbuh terus, takut akan pecah terburai. Tapi ternyata tidak. Ia tumbuh segitu saja, kecil. Syukurlah. Aku bisa berlari cepat, tak ada daging bergelantungan di dadaku.

Tapi akhir-akhir ini aku putus asa, hidup dengan orang-orang itu. Mereka seperti remah-remah yang ingin kukunyah. Lalu aku memilih untuk pergi. Tak hanya meninggalkan mereka, tetapi juga pamanku yang sudah mati. Bahkan sebelum kutinggalkan, orang-orang itu membuat larangan-larangan aneh. Aku bahkan tak boleh punya bisul di pantatku. Entah bisulnya atau pantatnya yang mereka benci. Juga tak boleh berjalan maju-mundur. Entah gerakannya atau maju-mundurnya yang mereka benci. Jalanku memang begitu, memajukan dan memundurkan pantat supaya tidak sakit. Habis bagaimana, bisulku terus membesar. Sudah lama pantatku terbebas dari celana dalam besi itu. Ternyata memang bisul-bisul besar sudah lama tumbuh di sana, juga jamur-jamur berwarna kuning.

Pernah suatu hari aku biarkan bisul di pantatku terlihat semua orang. Kulubangi celanaku hingga hampir separuh pantatku kelihatan. Lega rasanya, karena tidak tergesek bahan pakaian. Kalau tidak begitu sakitnya luar biasa. Habis bagaimana, aku harus belanja kebutuhan makan dalam keadaan begitu. Tapi orang-orang meludahiku. Mereka bilang itu pelanggaran. Tapi bagaimana, aku suka begitu karena sakitnya hilang. Aku kesal karena mereka tidak pernah mau mengerti. Aku biarkan bisul besarku memandangi mereka satu per satu. Mereka tampak semakin marah.

Begitulah selama seminggu ternyata bisul di pantatku tak juga sembuh, dan di hari-hari itu pula orang-orang melemparku dengan bebatuan dan tanah. "Perempuan binal! Perempuan binal!" teriak mereka.

Aku sudah biasa mendengar teriakan itu. Untung saja batu-batu itu tidak mengenai aku. Aku memang pelari cepat. Selain payudaraku rata, aku bisa berlari cepat karena sejak kecil sering diusir orang. Banyak hal yang aku langgar, biasanya hal-hal yang aku inginkan tetapi tak mereka inginkan.

Pernah aku memukuli lelaki dewasa yang memaksa memasukkan kelaminnya ke kelaminku. Lalu aku cerita ke paman apa adanya. Pamanku marah besar. Begitu pula orang-orang banyak memarahi aku. Sejak itu aku tidak boleh keluar rumah, tak boleh pula bermain di halaman. Tapi aku tidak mau, aku tetap ingin bermain di luar, dan lagi-lagi lelaki dewasa yang tak kukenal coba-coba memainkan kelaminku ketika aku sedang bermain tanah basah di seberang jalan. Aku menangis keras dan berlarian pulang ke rumah, mengadu pada paman. Pamanku malah bertambah marah, dan segera membuatkanku celana dalam terbuat dari besi berikut gemboknya. "Biar kamu tidak binal!" katanya.

Pamanku seorang pandai besi setelah sebelumnya ia bertani dan membajak tanah dengan kudanya di pekarangan belakang yang luas. Kini ia membuatkanku celana dalam besi supaya aku tidak binal dan supaya aku tidak meninggalkan cap merah di mana-mana. Paman bilang itu namanya menstruasi. Dan menstruasi adalah hal yang paling menjijikkan baginya. Aku disuruh menghentikannya. Tetapi darah terus mengucur dari kelaminku sedikit demi sedikit selama tujuh hari. Aku bingung melihatnya. Aku takut paman marah, apalagi bila darah itu membekas di sofa dan kursi-kursi paman, juga kain dipan tempat alas tidurku. Aku tak punya orang dekat yang mengenalkan proses kerja tubuhku. Aku pun tidak pernah merasakan sekolah dan jarang bermain dengan teman-teman sebaya. Paman, tempatku menyandarkan hidup selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan bermain kartu serta minum-minuman keras setiap malam bersama teman-temannya. Aku sering mengintip mereka dari balik dinding kamar.

Tapi tulang pinggulku sakit rasanya karena harus menopang celana besi itu. Aku takut. Aku meringis kesakitan dan tawa paman keras sekali bila memenangi permainan. Giginya tampak kuning dan besar-besar. Aku merasakan bau mulutnya yang busuk. Aku takut melihatnya. Dan aku tak berani mengadu kalau aku sakit. Aku takut paman akan membuatkan celana dalam yang lebih menyiksa lagi.

Sejak itu aku merasa ada yang salah dengan tubuhku. Terutama kelaminku. Terutama pahaku. Juga lenganku. Punggungku, ketiakku, betisku, pantatku, payudaraku. Banyak sekali orang yang tidak suka tubuhku. Mereka membalut semua tubuhnya dengan kain. Seperti mayat yang akan dikubur. Dan wanita-wanitanya berjalan lambat. Konon mereka dibuatkan pakaian besi di dalamnya. Untuk melindungi tubuh-tubuh mereka. Supaya tidak tampak. Dan kain-kain lebar yang menyelubunginya. Supaya tak teraih. Dan para lelaki yang sering kali melotot bila anak-anak perempuan bermain-main mengibaskan kainnya. Tampak betis-betis mereka berlari-lari kecil. Dan setelah itu para orang tua membuatkan mereka pakaian besi.

Menjadi anak perempuan di sini memang selalu resah. Mereka yang keluar malam sering tak ada yang kembali ke rumah. Mereka hilang begitu saja, aku mengatakan malam telah menelannya. Padahal aku menyukai malam dan ingin sekali aku menyatu dalam kegelapannya.

Namun, aku langsung berhenti menyalahkan malam. Ternyata orang-oranglah yang memusuhi malam. Dan membenci tubuh-tubuh perempuan. Pada akhirnya sering aku disekap karena ketahuan jalan-jalan sendirian di malam hari. "Dasar binal!" teriak mereka bergegas menghampiri sambil menjambak rambutku. Mereka menarik-narik lenganku dan menggiringku seperti kerbau. "Aku bukan kerbau!" kataku gusar. "Kamu memang bukan kerbau! Kau perempuan binal!" Aku merintih dan hatiku penuh dengan risau. Apa yang salah denganku. Apa yang salah dengan malam. Berulang-ulang kejadian itu berlangsung. Aku tak pernah jera. Aku ingin tahu apa yang terjadi di kepala mereka. Namun pada akhirnya aku diam. Sering hanya menatap pagi di balik jeruji. Sejak itu pagi menjadi hari yang menjemukan. Dan malam yang menyimpan luka. Dan tubuh yang hangus. Lalu bertanya pada Tuhan, "Lantas mengapa Kau ciptakan ini semua?"

Hari demi hari aku semakin dewasa dan ternyata sudah lama aku menimbun luka. Luka yang kemudian tumbuh dendam. Aku dendam pada mereka yang tak pernah bisa memakai otaknya. Aku tahu apa itu otak manusia. Bahwa aku mengenal hidup yang tak hanya berlangsung dengan tubuh, tetapi juga pikiran. Mataku menyorot nyala setiap kali melihat mereka. Lalu mereka bilang aku gila.

***

Sehari saja aku lalu dibebaskan dari bui. Meninggalkan jeruji-jeruji tempatku menatap pagi. Paman tak menjemputku bahkan menengokku sebentar seperti biasanya. Ia seperti membiarkan aku merasakan akibatnya. Aku pulang dengan tubuh lelah dan wajah limbung. Tetapi aku tak menemukan paman di sana. Aku melihat rumahnya berantakan. "Paman!" teriakku dan menemukan ia terbujur kaku di atas sofanya. Aku menangis.

***

Satu jam aku menangis di atas tubuh paman. Lalu kubiarkan paman di situ. Aku bangkit dan melewati cerminnya. Kulihat wajahku di sana. Dan tubuhku. Aku tak mengerti, bahwa tubuhku semakin melekuk. Sejak darah-darah itu keluar dari kelaminku dan semua orang membenci malam, tubuhku melekuk seperti dahan pohon yang menari. Lekukan-lekukan ini yang menurut mereka tidak boleh terjadi. Atau tidak boleh tampak. Mereka akan menyebutnya binal. Dan aku tidak tahu apa itu binal. Bagiku kata itu hanya untuk binatang yang kusayangi waktu aku kecil dulu. Kuda paman yang sering kutunggangi. Paman dulu membiarkan aku menemani kudanya berhari-hari. Aku menyukai kuda karena larinya, dan tubuh liat berlekuknya, gagah sekali. Tak sedikit pun aku membenci binatang itu. Binatang binal yang kemudian mati. Aku sangat kehilangan. Paman telah menembaknya. "Kuda pincang. Tak ada gunanya lagi," katanya.

***

Kedewasaan menjadi sesuatu yang mengerikan bagiku. Paman mati. Orang-orang bilang ia mengalami serangan jantung atau dibunuh temannya. Aku melihat darah kental mengering di keningnya dan busa mengalir dari mulutnya. Aku sudah lupa apa yang telah terjadi padanya. Sejak itu aku punya kebiasaan baru. Berulang-ulang kupandangi tubuhku di cermin. Aku telanjang. Tampaklah celana dalam besi itu. Sisi-sisinya berkarat. Aku jadi ingat dulu paman mengingatkanku untuk tidak sekali-kali membukanya. Ada lubang sedikit untuk saluran kencing di bawahnya. Dan saluran tahi di belakangnya. "Jangan sekali-kali kau buka!" katanya bernada mengancam. "Kamu akan tahu akibatnya! Akibat yang menjijikkan seumur hidupmu." Tapi apa? Mengapa hanya aku? Pamanku tak perlu besi-besi di tubuhnya. Aku sering melihat paman telanjang kalau sedang memukuli bara-bara besi di bengkelnya. Kadang aku kagum dengan tubuh paman yang kokoh. Tampak garis tengah dadanya berlekuk. Tempat bulir-bulir keringat mengalir dan jatuh di perutnya yang petak-petak. Ia sering menyekanya dengan baju yang menggantung di pundaknya.

Tapi sebenarnya aku juga membenci paman, sama dengan membenci orang-orang itu. Tapi tak ada orang lain selain paman. Bagiku paman sama seperti orang-orang lainnya. Membenci tubuhku. Apalagi ketika aku dewasa. Suatu hari ia memaksa membuka gembok celana dalamku. Aku malu. Aku merasa hina. Aku melawan dan meludahi matanya berkali-kali. Wajahnya meringis, dan matanya mengerjap, tampak air matanya beruraian. Ludahku memang pedas, karena sering mengunyah cabai dan bawang karena tak ada makanan lain yang dapat kukunyah.

Dengan sepenuh tenaga kulepaskan sendiri celana besi itu, yang sebagian melekat di kulit kelaminku. Aku merasakan gatal luar biasa tetapi situasi membuatku ingin membenturkan celana besi itu ke kepala pamanku. Tampaklah darah mengucur. Waktu itu malam hari, dan aku berlarian ke jalan dengan setengah telanjang. Lariku tak secepat waktu kecil dulu, aku tertatih-tatih menahan sakit tulang pinggulku yang terasa lebam. Dan jemari kaki yang koyak. Aku tak kuasa menahan sakit, dan datanglah kerumunan lelaki yang memelototi aku, sebagian lagi berdatangan menatap sinis padaku. Itulah malam terakhirku meninggalkan paman dan untuk kesekian kalinya aku digiring orang-orang keparat itu karena ketahuan di tempat umum di malam hari.

***

Dan aku pergi. Dengan membawa lelah aku berjalan berkilometer-kilometer mencapai satu kota ke kota lainnya. Dengan perut lapar aku bergumam, semua kota ternyata sama: memelototi aku. Aku muntah. Muntahannya kulemparkan pula pada mereka. Muak rasanya.

Sampai pada sebuah tempat lapang. Jauh menuju pantai. Seperti di ujung sebuah pulau. Aku tak melihat orang di sana. Aku melihat rimbunan pohon dari jauh. Aku melanjutkan langkah, masuk rimbunan itu. Ternyata hutan. Dan hanya hewan-hewan. Ada yang menghampiri, ada yang berlari. Dan sinar matahari yang meredup, tak bisa menembus ke tanah. Tanah yang lembap dan serangga berbagai bentuk. Kera-kera bergelantungan memanggilku. Aku merasakan sejuk. Aku menghirup segar. Aku tak mendengar kata benci. Burung berwarna-warni bertengger di pundakku. Di bawah rindang, tampak tumpukan dedaun yang empuk dan serabut akar di sekelilingnya. Aku berbaring. Menatap langit yang sembunyi di balik dedaunan tinggi. Seekor kucing hutan menghampiri, menjilat keningku lembut sekali. Lalu tupai-tupai sibuk menyelimuti tubuh telanjangku dengan daun-daun kering. Aku tertidur.

Percetakan Negara, 5 Maret 2006