Selasa, 05 Maret 2013

Mar Menggali Kubur Tuan

Tuan, bangunlah sekarang juga dari kuburmu.Katakan seperti apa sekarang negerimu. Atau bolehlah kalau aku yang mengganti kuburmu dan kau mengganti hidupku. Aku telah menerimanya dengan lapang. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.

Tuan, tak seorangpun bisa menjawab bagaimana kita melakukannya.
Tak satupun bisa diajak bicara. Laut, lembah, gunung dan sungaipun hanya menjawab dengan badai.

Tak ada gerak secepat kilat seperti yang kau bilang soal gerilya politik dan ekonomi.
Jauh sekali dari itu semua tuan. Apalagi aksi massa? Tak ada massa yang seperti itu, massa yang kau bilang itu. Dimanakah? Dikuburmu pun tak ada!

Kini zaman sudah terbuka lebar, semua dari dalam tanah keluar dan saling perang. Orang baik dan orang jahat bisa duduk bersama di layar kaca. 

Betapa rongga waktu yang kita punya kini kosong melompong tak diisi dengan keinginan menang. Kemenangan atas perjuangan. Terlalu banyak orang berlindung dibalik keyakinan. Maaf Tuan, akal sehat sudah dikubur dalam-dalam, sedalam kuburmu yang kini terbongkar. Seperti mengangkat Jasadmu kalau itu benar jasadmu.

Aku rindu Tuan, aku hanya ingin berbincang. Menuang kopi atau teh di serambi sambil makan ubi bakar, menghadap petani yang bersawah. Duduk bersama bicara tentang peradaban, kalaupun masih ada peradaban itu setelah dunia dimenangkan kembali oleh kegelapan. Ini zaman persis zaman ketika Hypatia filsuf perempuan terakhir dari Alexandria yang diseret, dikuliti dan dibakar yang kini secara metafor, aku merasakan itu, isi kepala kita dikerdilkan dengan perlahan. Bila hypatia berpikir soal kosmos dan menolak percaya tuhan sebelum pengetahuan itu datang, maka sekarang untuk menyatakan pengetahuan dan perjuangan akal sehat saja kami dicibir dan diteriaki "tobatlah, lebih baik berjuang untuk Allah!". Jadi mahluk apakah kita ini? Dimana akal kita tuan? Dikemanakan akal kita? Cepat katakan!


Tuan, kemana lagikah saya harus lari. Semua sudah saya arungi. Sudah banyak yang aku temui, tapi dimana kunci pengetahuan dan pencerahan itu tak pernah kutemui. Berilah kunci itu kalau kau simpan, sekalipun dikuburmu. Barangkali terselip di balik jasadmu?

Tuan Tan, aku masih bisa mendengar suara lantang yang keluar dari kerongkonganmu. AKu masih bisa melihat jelas mata tajammu dan sikap diammu, sikap waspadamu, diantara banyak orang. Tapi yang paling tidak bisa aku lupakan adalah PIKIRAN-mu. Ketika hujan dan petir kau sebut Jendral. Jendral Hujan dan Jendral Kabut, telah membantu rakyat Indonesia untuk melakukan perang gerilya, mampuslah penjajah-penjajah modern itu yang biasa dengan lampu terang dan tanah berlantai porselen. Rakyat kita dulu sudah biasa hidup sederhana, dalam ruang gelap, dalam kabut dan hujan, mereka punya banyak mata. Sekarang bagaimana Tuan? Idemu itu telah dipakai saudara kita di Vietnam, dan kini mereka sudah jauh lebih maju! Di sini, rakyat pun ingin kaya. Tanahnya telah dibabat, hutan diganti ladang, ladang harus diluaskan lagi, menjadi budak-budak bangsa sendiri, longsor menimbun banyak rumah mereka yang berbedeng-bedeng. Gerilya macam apalagi Tuan yang bisa kau katakan?

Kalaupun aku bisa bertemu Tuan dalam mimpi malam ini juga. Biarkan aku terus bermimpi dan jangan sampai bangun lagi!


Menteng, 3 Maret 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar