Selasa, 05 Maret 2013

Malam Sudah Lain

Serangga malam memang hebat. Kaki kecilnya digesek, keluar suara pedih dari sela-sela pohon sampai ke telinga. Mungkin karena sepi. Cuma mereka yang bunyi. Tapi malam memang sudah lain. 

Malam sebelumnya aku berangkat ke tepi samudera Indonesia. Menemui Ratu yang sudah menunggu di atas ombak tinggi yang berhenti. Aku berjalan ke tengah, tapi tak jadi, aku mundur lagi ke tepi. Aku tak bisa menyapa Ratu karena bahasa yang lain. Kali itu akan menjadi malam yang lengket dan dingin. Aku ditampar angin sampai-sampai pasir berhamburan ke wajahku. Tubuhku dipenuhi garam. Aku terduduk dan menunggu ombak-ombak itu tumpah di atasku. Tapi Ratu sulit sekali menyapa. 

Aku ditemani Tuan yang bertongkat bambu. Dipukul-pukulnya tongkat itu ke pasir. Berubah jadi abu dan aku memungutnya lalu mengusapnya perlahan ke wajahku. Kulihat Ratu sudah semakin dekat. Aku tak tau harus bicara apa. Aku meminjam tongkat bambu dari Tuan, untuk menulis di pasir. Huruf-huruf kubuat besar-besar, supaya Ratu mengerti. Tapi tiap kali menulis ombak jatuh keras diatasnya. Terhapus jadinya. Susah payah kutulis dan kutulis lagi. Ratu terlihat mulai tidak sabar. Kutulis lagi dan Tuan menunggu. Akhirnya berhasil. 

Kutulis Tuhan. Ratu menggeleng. Kutulis huruf-huruf lain, s, b, dan y. Wajah ratu memerah seperti marah. Kutulis t, a, dan n dalam huruf besar. Ratu mulai diam. 

Tapi Tuan mengambil tongkatku dengan cepat, dan di tulisnya m, a dan r dalam huruf besar. Ratu tertawa, Tuan dan akupun begitu.

Obor mulai dinyalakan, orang-orang membakar jagung, susah payah terterpa angin laut. Ratu pelan-pelan tenggelam di balik ombak besar, wajahnya bersinar padat seperti bulan di atasnya. Aku pulang, berjalan mundur meninggalkan tapak-tapak. Seekor anjing menjejak tapakku. Seekor kuda meringkik mengayuh kedua kaki depannya di udara. 

Malam ini jadi lain. Aku ingin malam lagi, tapi hanya mau di pinggir samudera itu..


Parangtritis, 16 Januari 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar