Sulit artinya yang tidak mudah. Ide bertemu ide dan ide lagi dan tak mudah dalam satu waktu, bunyi, cahaya, udara, dan suara, tak juga bertemu.
Ada Tuan yang setiap saat tapi tak ada pikiran
Ada Tuan yang ada pikiran tapi tak ada kendali kejalinan.
Ada Tuan yang berontak tapi tak tau keadaan.
Ada Tuan yang sepi tapi menjadi jarak waktu dalam bertemu
Ada Tuan yang baru meninggalkan dunia.
Tuan ini dan Tuan itu berakhir tidak dalam jalinan pikiran kecuali dalam dirinya sendiri. Tak mungkin aku menunjukkan amarah karena sadar segala adalah ditanggung sendiri dan sadar orang tidak ada yang sadari diri. Dan dari diri-diri itu tidak ada yang sadar siapakah bangsanya. Apakah negaranya. Dimana pijakannya.
Tapi apalah maksudnya dorongan ini tak terhingga mencari seorang teman sepikiran, seide, seanggota, sewaktu, secahaya, sepenanggungan, sesedih, seratap, setertawa, setakterhingga dalam perjuangan?
Lalu orang-orang mencari tuhannya sendiri-sendiri, tidak menolong sesamanya sendiri. Orang sibuk dengan riwayatnya sendiri-sendiri, mampusnya sendiri-sendiri.
Dalam larutan hidup tergoyah dengan kedirian yang tak berelasi dengan yang lain.
Apalah yang tertulis ini selain merah di kepala. Kupanggang dagingnya supaya panas di hati. Larutlah semuanya untuk disantap sendiri.
Tergenang yang artinya terkenang. Terkembang segala ejaan pengetahuan, di ladang aku duduk sendirian. Orang-orang tersisa yang meninggal.
Dimanakah jalannya kalian?
Setahun demi setahun yang terkumpul ribuan langkah, jiwa dan pikiran atas upaya dan sedu sedan.
Haruskah dipunahkan dulu, untuk menanam kembali kehidupan baru?
Haruskah dihabiskan dulu, sebelum semuanya habis?
Aku sudah bernafas setengah jalan, masa mau aku habiskan begitu saja? Lalu apa jadinya bagi manusia-manusia yang baru saja memulai perjuangannya?
SEperti cerita yang dimatikan ditengah jalan. Tapi ya, aku tau, ini bukan cerita. Ini sungguhan.
Tuan Tan, Tuan Dur, beginikah dirimu dulu? Lamat-lamat sendiri dan menghilang lalu tak seorangpun tau dimana Tuan dikebumikan?
*Untuk Gus Dur
Dingin, 31 Desember 2009
“If you want to be respected by others the great thing is to respect yourself. Only by that, only by self-respect will you compel others to respect you.” Dostoyevsky
Selasa, 05 Maret 2013
Arti yang Tak Ada Artinya
Akademisi, penulis, dan aktivis perempuan Program Pasca Sarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia (2000-2002). Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan (2008-2013), Komisioner Komnas Perempuan 2015-2025 (dua periode)
Salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru, yang berperan aktif dalam mengadvokasi pelibatan laki-laki dalam gerakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Selain menulis berbagai buku dan esai tentang feminisme, hermeneutika, dan politik tubuh, juga berkontribusi dalam pengembangan wacana gender di Indonesia melalui berbagai publikasi seperti tulisan opini diberbagai surat kabar, cerita pendek, dan esai, novel, dan kolaborasi, termasuk pembuatan video panduan "understanding Gender" bersama GIZ.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar